Nan iko sangat menarik 🐼

https://indoprogress.com/2017/04/setelah-kemenangan-kritik-seorang-cina-peranakan-atas-tulisan-made-supriatma/

Setelah Kemenangan: Kritik Seorang Cina Peranakan atas Tulisan Made
Supriatma

25 April 2017

 Evi Mariani

 Harian IndoPROGRESS

SEBELUMNYA izinkan saya menjelaskan latar belakang saya dan posisi saya
dalam pilkada DKI ini.

Saya Evi Mariani, wartawan Cina peranakan yang mendukung Tionghoa untuk
keluar dari beban sejarah kami yang pergerakannya dibatasi di ekonomi dan
dagang sejak zaman Belanda. Tahun 1998 saya telah membuat satu buletin
bernama Langkah Bergerak (unduh PDF) yang mendorong partisipasi Tionghoa di
politik Indonesia. Politik dalam hal ini tidak hanya politik elektoral
tetapi juga “Politik” yang lebih luas, termasuk menjadi aktivis lingkungan,
HAM, demokrasi, menjadi pengacara publik, dosen, guru, atau wartawan
seperti saya.

Dalam pilkada ini saya dikenal sebagai salah satu pengkritik Gubernur
Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok karena saya menolak penggusuran paksa dan
reklamasi, yang dilakukan bukan demi kepentingan publik. Dengan data dan
pengetahuan yang saya dapatkan setelah hampir dua tahun menjadi
redaktur deskperkotaan (Jabodetabek) di sebuah harian nasional, saya
termasuk golongan yang cukup vokal. Belakangan, saya juga dikenal sebagai
pengkritik “Ahoker” yang cukup keras, terutama Ahoker yang mendukung
penggusuran dan reklamasi.

Apakah dengan mengkritik Ahok maka saya serta merta menjadi pendukung Agus
Harimurti atau belakangan Anies Baswedan? Tidak. Mengapa? Karena yang saya
anggap menjadi masalah dari pilkada ini adalah sikap-sikap mengidolakan
politisi dan polarisasi antar pendukung yang menjauh dan mengeras. Saya
tidak ingin mengkritik Ahok dan Ahoker dengan menjadi “Ahoker” yang lain.
Saya tegas menolak penggusuran paksa dan reklamasi yang bukan untuk
kepentingan publik. Saya mendukung keadilan ruang dan partisipasi publik
yang tulus di Jakarta dan di mana saja. Lagipula KTP saya Tangerang Selatan.

Terakhir, sebelum masuk ke substansi kritik atas tulisan bliMade Supriatma,
seorang penulis terpandang dan teman diskusi yang baik di Facebook, saya
hendak mengatakan pada orang-orang yang menolak Ahok karena dia Cina dan
Kristen untuk tidak memanfaatkan tulisan saya ini sebagai pembenaran dari
kecupetan kalian. Tidak ada sedikitpun kesamaan ideologi antara saya dan
kalian—saya tidak akan mau nongkrong minum kopi dengan kalian. Kalau saja
saya masih berdoa, saya akan berdoa setiap hari agar hakim memutuskan Ahok
tidak bersalah baik dalam dakwaan penistaan agama maupun dalam tuduhan
menimbulkan keresahan di masyarakat. Saya harap dia bebas karena dia telah
meminta maaf beberapa kali.

Kritik pertama saya pada tulisan tersebut, juga pada redaksi IndoPROGRESS,
sebuah situs yang saya hormati karena perspektif kirinya, adalah penggunaan
foto seorang perempuan memegang “Kita tidak lupa perkosaan Mei 98”. Tentu
saya juga tidak lupa, tidak akan pernah lupa. Tapi ketika foto itu
diletakkan dalam konteks pilkada, maka ia menjadi penyederhanaan yang
hampir-hampir bisa dikatakan fearmongering atau menakut-nakuti. Maksudnya?
Saya harus diam di rumah saja selepas pilkada ini? Mencurigai semua orang
yang tampak garis keras pembenci Ahok sebagai pelaku kekerasan? Sebagai
perempuan Tionghoa, itu reaksi pertama saya ketika melihat fotonya. Kaget.

Lalu masuk ke serentetan argumen tentang betapa buruknya kampanye tim
lawan-lawan Ahok, terutama Anies. Terlalu dramatis dan emosional meski saya
setuju banyak hal terutama meningkatnya sentimen anti-Cina. Namun bagian
itu menjadi masalah karena kritik terhadap cara-cara kotor tersebut secara
“convenient” menutup mata pada fakta bahwa kedua belah pihak memainkan isu
sektarian, keduanya menyeret masuk agama ke politik elektoral terpanas
sepanjang sejarah. Ini problematik karena dengan menghilangkan Ahok dan
timnya dari gambaran besar kekacauan pilkada sama dengan mengatakan
kampanye Ahok baik-baik saja.

Di luar kartu ras dan agama yang terus menerus dimainkan oleh tim Ahok
(resmi ataupun tidak), kampanye Ahok mengandung propaganda bahwa
penggusuran adalah manusiawi dan reklamasi akan menjadi penyelamat
lingkungan. Kampanye Ahok, termasuk menuduh warga Jakarta yang tidak
menyukainya sebagai orang yang tidak rasional, bodoh, dan anti-kebhinekaan.
Belum lagi video tim resmi Ahok yang juga menggunakan kerusuhan dalam
imajinasi visual warga Jakarta dan meromantisir peran serta Tionghoa di
masyarakat dalam bentuknya yang kelewat sederhana dan stereotyping (atlet,
anak SD hormat bendera).

Saya berharap ada Alldo Felix Januardy di sana, seorang pengacara Tionghoa
di Lembaga Bantuan Hukum Jakarta yang leher dan kepalanya diserang aparat
karena membela warga tergusur. Saya berharap ada Veronica Koman di sana,
seorang Tionghoa dan pengacara publik yang setia membela hak-hak rakyat
Papua juga buruh pabrik Bekasi. Saya berharap ada akademisi perkotaan
Tionghoa Rita Padawangi yang rela bolak-balik Singapura-Jakarta untuk ikut
dalam suka-duka warga Bukit Duri yang tergusur dari Jakarta Selatan. Saya
berharap premis negara Pancasila dalam video ini diwujudkan dalam
imaji-imaji yang tidak dominan Tionghoa.

Made dan IndoPROGRESS menemukan alasan untuk menyeret memori kerusuhan Mei
1998 pada kekalahan Ahok karena ada ancaman pendukung Ahok diperkosa dan
banyak sentimen anti Cina di jalanan. Saya sepakat dengan penelitian CSIS
Christine Tjhin dalam wawancaranya denganThe Guardian tahun lalu. Christine
mengatakan bahwa meski fenomena Ahok menunjukkan bahwa orang Tionghoa masih
jadi korban kambing hitam dan “stereotyping”, terlalu dini untuk mengatakan
kerusuhan Mei 1998 akan berulang.

“Keadaan sekarang sangat berbeda dengan Mei ’98. Perekonomian masih tumbuh
dan berada di jalur yang benar, dengan fokus utama pada pembangunan
infrastruktur, terutama di daerah yang sebelumnya terbengkalai. Situasi
politik pada dasarnya masih stabil meski terjadi drama-drama pra-pemilu.
Kehadiran aparat keamanan lebih terasa dan mudah diakses. Dan yang lebih
penting lagi, masyarakat sekarang lebih sulit dipancing oleh agenda-agenda
[politik] rasial,” kata Christine dalam wawancaranya di bulan November
2016, setelah aksi Bela Islam besar-besaran yang pertama pada 4 November
mendatang.

Saya setuju ada banyak faktor yang mengarah ke kerusuhan Mei 1998 dan
menyederhanakan faktor-faktor itu hanya akan membuat warga  Tionghoa
semakin takut dan curiga. Sentimen anti-Cina saja tidak cukup membuat
kerusuhan dengan skala semengerikan itu. Saya masih optimis bahwa adasilent
majority yang belajar dari kerusuhan Mei 1998 di Jakarta dan kota lain,
juga belajar dari kerusuhan lain seperti di Tanjungbalai, Poso, Ambon.
Dalam skala optimisme 1 hingga 10, optimisme saya mungkin 8, dan saya sadar
dalam situasi ini banyak yang mungkin ada di kisaran skala 4.

Namun sebagai Cina peranakan saya tidak naif, saya sadar betul setiap hari
saya hidup dengan virus sentimen anti-Cina yang tidak pernah mati-mati.
Apakah setiap hari saya harus hidup dalam ketakutan dan kalau saya menolak
takut maka artinya saya tidak menghormati ketakutan warga Tionghoa yang
lain? Tidak. Saya lebih optimis saja.

Mengenai ancaman perkosaan, urbanis Elisa Sutanudjaja, seorang Tionghoa
yang juga vokal mengkritik penggusuran, reklamasi dan banyak kebijakan
gubernur lainnya, telah diancam diperkosa di media sosial oleh seseorang
yang tidak suka ia mengkritik Ahok.

Saya kira ancaman-ancaman ini adalah bukti bahwa perempuan di Indonesia
yang vokal dan berani masih rawan diancam dengan kekerasan seksual.
Alih-alih mengatakan ini tanda-tanda akan ada perkosaan seperti bulan Mei
1998, bukankah lebih baik memikirkan bagaimana caranya agar laki-laki
Indonesia yang misoginis mendapat hukuman? Dan jangan lupa, laporan-laporan
tim pencari fakta kerusuhan Mei (termasuk Sandyawan Sumardi dan Sri Palupi
yang bersama saya melawan penggusuran) menunjukkan ada kekuatan besar
sistematis dan pengorganisasian yang sangat rapi dalam kasus pemerkosaan
tersebut.

Kritik yang lain adalah mengenai pernyataan Made berikut ini:

Namun di sisi yang lain, saya juga melihat ada kebanggaan di kalangan
masyarakat keturunan Cina. Paling tidak ada satu yang mewakili mereka untuk
menduduki jabatan publik di negeri ini. Pejabat ini, Ahok, bekerja dengan
baik. Mayoritas rakyat yang dilayani mengatakan bahwa mereka puas dengan
kerja gubernurnya.

Dan ini:

Pemilihan gubernur DKI Jakarta tidak sekedar tentang Ahok. Untuk golongan
etnis Cina, pemilihan ini merupakan ujian terhadap persepsi bahwa suku Cina
adalah penduduk asing di negeri ini. Ahok, dengan segala kekurangannya yang
patut dikritik, sudah membuktikan bahwa dia mampu menjadi pelayan publik.
Dia memiliki ketrampilan manajerial yang selama ini sudah terbukti berhasil
membangun bisnis di kalangan orang Cina.

Dua pernyataan tersebut, yang tidak disertai oleh argumen lain mengenai
mengapa kawan-kawan Tionghoanya Made atau Tionghoa lain yang dia kenal
mendukung Ahok, hanya menyederhanakan keturunan Cina menjadi satu suara,
bahwa mereka mendukung Ahok karena Ahok Cina dan bagi kepentingan mereka
sendiri, “pejabat yang baik”. Made menyederhanakan kelompok Tionghoa
sebagai bagian dari statistik yang menganggap Ahok sebagai gubernur
baik-baik saja. Made mengakui bahwa Ahok juga bermasalah, namun sekaligus
mengatakan Ahok terbukti menjadi pelayan publik. Publik yang mana? Publik
yang saya temui di Kampung Pulo, di Bukit Duri, Pasar Ikan, Kampung
Tongkol, Muara Angke dan bahkan beberapa orang Tionghoa di Pluit yang
memprotes jalan layang Podomoro, tidak merasa terlayani dengan baik.

Mereka merasa tidak didengarkan bahkan mereka semua difitnah dan tentu saja
saya sebut fitnah karena tidak ada buktinya (saya hafal semua fitnahan Ahok
bagi masing-masing kelompok tersebut, mulai dari pereklamasi sungai, maling
tanah negara, sarang TBC, hingga percaya feng shui).

Maka dengan tulisan ini Made menyederhanakan kelompok Tionghoa sebagai
suatu kelompok seragam yang menaruh harapan besar pada satu orang saja,
yaitu Ahok, sebagai tokoh Tionghoa terbaik masa kini. Dan Ahok dinilai
tokoh yang baik karena kemampuan manajerial selayaknya banyak pengusaha
Tionghoa.

Dengan memberi porsi kecil pada kesalahan Ahok (mulai dari ideologi
pembangunannya yang mirip Soeharto, sifatnya yang luar biasa self-centered,
hingga program-programnya yang tidak menyentuh isu-isu substansial
kebhinekaan meski dia sadar betul besar sekali harapan orang pada dirinya)
maka Made telah meramalkan kiamat partisipasi politik Tionghoa-Kristen,
karena menurut Made , “Ahok yang adalah kader terbaik politik Tionghoa saja
gagal karena dia Cina dan Kristen” apalagi kader lain.

Saya punya beberapa kenalan Tionghoa yang kritis terhadap Ahok. Mereka
sendiri adalah tokoh politik yang berkomentar begitu Ahok kalah: Kita harus
banyak melahirkan pemimpin yang lebih baik dari Ahok. Saya sepakat dengan
pernyataan ini.

Sebagai penutup saya hendak kembali ke awal tulisan, pada cita-cita saya
mengenai partisipasi politik Tionghoa di Indonesia. Bagi saya pribadi
“pemimpin Tionghoa yang lebih baik dari Ahok” adalah seorang pemimpin,
apapun sukunya, yang bukan saja bekerja untuk “publik” terpilih saja tapi
juga melindungi yang lemah.

Bagi saya Ahok tidak banyak berbeda dari Sutiyoso. Identitas Tionghoa serta
kekristenan Ahok tidak bisa membuatnya jadi jauh lebih baik dari Sutiyoso,
yang juga adalah raja gusur dan menerbitkan izin prinsip reklamasi. Seperti
Sutiyoso, Ahok juga dekat dengan Agung Sedayu dan Agung Podomoro, dua
raksasa properti di Jakarta. Bahkan Ahok pernah menjadi staf ahli Sutiyoso
ketika ia menjadi gubernur.

Selepas pilkada Jakarta putaran pertama, saya telah menulis untukThe
Jakarta Post bahwa partisipasi politik Tionghoa harus lebih dari datang ke
TPS untuk mencoblos Ahok. Mereka harus juga membela yang lemah apapun
rasnya.

Di halaman belakang buletin sederhana yang terbit pasca-kerusuhan 1998,
saya menyerukan pada sesama Tionghoa: Berhenti Jadi Korban! Tidak ada orang
bebas selama ada penindasan. Terhadap siapapun, Cina atau bukan. Agitasi
ini adalah penyikapan Langkah Bergerak atas semua bentuk politik rasial.

Saya menaruh harapan pada golongan Tionghoa muda untuk keluar dari jebakan
sindrom korban. Saya optimis karena saya melihat semakin banyak orang
Tionghoa yang bekerja bagi sesama. Dalam menekuni pekerjaannya mereka tidak
terus menerus mengingat dan mengingatkan semua orang bahwa dirinya adalah
Tionghoa. Jadilah bagian dari masyarakat yang berempati bukan karena kita
Tionghoa dan punya beban pembuktian, tetapi karena kita memang percaya
sebagai manusia membela yang lemah adalah syarat bagi dunia yang lebih
baik.***



Evi Mariani, editor The Conversation Indonesia. Tulisan-tulisannya dapat
dibaca dihttps://medium.com/@evimariani

On Apr 25, 2017 16:16, "muhammad syahreza" <[email protected]>
wrote:

> Kurang labiah bantuak triomacan waktu zaman sby dulu.
>
> On Tuesday, April 25, 2017, Tasrilmoeis <[email protected]>
> wrote:
>
>> Seword.com itu isino opini2 pribadi, malah banyak nan manulis disitu
>> anonym.
>>
>>
>>
>> Tan Ameh
>>
>>
>>
>> *From:* [email protected] [mailto:[email protected]] *On
>> Behalf Of *Fashridjal M. Noor
>> *Sent:* Tuesday, April 25, 2017 2:16 PM
>> *To:* Rantaunet
>> *Subject:* Re: [R@ntau-Net] Eep Syaifullah Fatah
>>
>>
>>
>> Cuplikan
>>
>> Anies-Sandi juga diduga melanggar Peraturan KPU Nomor 12 Tahun 2016 yang
>> merupakan perubahan atas PKPU Nomor 7 Tahun 2015 tentang Kampanye Pilkada
>> terkait larangan kampanye di tempat ibadah.
>>
>> Hal itu disampaikan oleh Panitia Pengawas Pemilu Kecamatan (Panwascam)
>> Senen, Leli. Ia menemukan dugaan pelanggaran kampanye itu saat Anies
>> menghadiri deklarasi dukungan dari Forum Ustadzah Bela Negeri di Gedung
>> Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.
>>
>> Lokasi deklarasi Forum Ustazah mendukung Anies-Sandi berada di lantai 2,
>> Aula Gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Aula itu bertempat di bawah
>> masjid yang berada di lantai 3 dalam gedung tersebut.
>>
>> Boleh saja tim Anies-Sandi berkelit dengan mengatakan itu bukan tempat
>> ibadah karena kegiatan tidak di area untuk sholat. Alasan seperti itu jelas
>> menunjukkan kegagalan memahami arti sebuah rumah. Jika ada orang yang
>> mencuri sandal di halaman dari sebuah rumah, apakah orang itu dapat
>> dikatakan mencuri di rumah si A atau tidak? Karena ruangan yang berada di
>> dalam dan halaman maupun teras itu secara makna sudah dapat dikatakan
>> bagian dari rumah.
>>
>> Secara hukum fiqh dalam Islam, kegiatan Anies-Sandi di atas sudah
>> melanggar hukum Islam itu sendiri. Karena yang dikatakan masjid itu adalah
>> lingkungan yang masih berada di dalam pagar masjid. Jadi lantai dua itu
>> termasuk bagian masjid atau di luar masjid? Para ulama telah menggariskan
>> satu kaidah yang menyatakan,“Sekelilingnya sesuatu memiliki hukum yang sama
>> dengan hukum yang berlaku pada sesuatu tersebut.”
>>
>> Ada baiknya dicermati argumentasi Roni Risdianto yang menulis untuk
>> Seword itu katimbang mengabaikan Seword secara keseluruhan. Karena kalau
>> tidak ada yang membantah bisa saja dikira mereka semua orang setuju
>> Padahal judul tulisannya saja.sudah provokatif dan menyesatkan. Hanya
>> Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang berhak menentukan hukum halal dan haram.
>> Tindakan Roni itu justru telah mengambil alih hak Allah tersebut.
>>
>> Pertimbangan Roni bahwa penggunaan aula Gedung Dakwah Islamiah yang
>> menjadi tempat kampanye melanggar larangan berkampanye di tempat ibadah
>> sebetulnya salah kaprah. Aula itu bukanlah bagian dari masjid karena juga
>> difungsikan untuk berbagai keperluan organisasi dan sosial seperti rapat2,
>> pesta nikahan, reuni dan lain-lain.
>> Sekarang mal2 baru di Jakarta dan kota2 lain dilengkapi dengan masjid
>> pada salah satu lantainya. Dan terlihat selalu penuh dengan pengunjung
>> untuk shalat berjama'ah yang dilakukan bergiliran karena kapasitas luas
>> terbatas.
>> Tentu saja mal-mal itu bukanlah bagian dari masjid yang berada didalamnya
>> sehingga bisa jadi ajang kampanye
>>
>>
>>
>> On Apr 25, 2017 13:13, "Darwin Chalidi" <[email protected]> wrote:
>>
>> Maaf Seword ini selalu berseberangan dengan gerakan ummat. Nggak perlu
>> didengarkan.
>>
>> On Apr 25, 2017 9:58 AM, "Isna Huriati" <[email protected]> wrote:
>>
>> Assalamu'alaiku wr wb.Sebuah tulisan yang menurut saya menarik untuk
>> direnungkan.
>>
>> https://seword.com/politik/sebuah-kemenangan-haram-ala-eep-saefulloh/
>>
>> wass. Isna
>>
>> --
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email,
>> menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>> * DILARANG:
>>  1. Email besar dari 200KB;
>>  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;  3. Email
>> One Liner.
>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
>> mengirimkan biodata!
>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet"
>> dari Google Grup.
>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>> kirim email ke [email protected].
>> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>>
>> --
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>> * DILARANG:
>> 1. Email besar dari 200KB;
>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>> 3. Email One Liner.
>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
>> mengirimkan biodata!
>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> ---
>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
>> Grup.
>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>> kirim email ke [email protected].
>> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>>
>> --
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>> * DILARANG:
>> 1. Email besar dari 200KB;
>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>> 3. Email One Liner.
>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
>> mengirimkan biodata!
>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> ---
>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
>> Grup.
>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>> kirim email ke [email protected].
>> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>>
>> --
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>> * DILARANG:
>> 1. Email besar dari 200KB;
>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>> 3. Email One Liner.
>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
>> mengirimkan biodata!
>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> ---
>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
>> Grup.
>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>> kirim email ke [email protected].
>> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
> Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke