Satu lagi tulisan dari Yerri S Putra dosen sastra Unand http://jumpayerri.wordpress.com
Salam Is St Marajo 39+ www.cimbuak.net Kampuang nan jauah dimato dakek dijari GENERASI MINANGKABAU: PROSES PENGIKISAN IDENTITAS Januari 26, 2008 oleh yerri Sesaat, cobalah kita mengana-ngana sedikit tentang masa lalu, masa di mana belum ada teve, handphone, atau juga komputer plus akses internetnya. Kenangan apa yang terlintas dalam benak kita. "Keriangan", canda-tawa, alunan suara bangsi, saluang plus ratok dari pedendang, atau mungkin juga celoteh-celoteh bijak dari Tuanku-Tuanku guru di surau, mamak, mandeh kanduang, atau juga lainnya. Selanjutnya, marilah kita lihat kondisi sosial masyarakat Minangkabau sekarang, adakah yang kita alami dulu dapat juga dirasakan oleh generasi sekarang? Mungkin ada, tapi yang pasti tidak semuanya. Oleh sebab itu, bolehlah kita berhiba hati melihat kondisi dan pola (pongah) laku generasi Minangkabau (baca Minang) saat ini, yang liar, seperti kehilangan identitasnya, yang entah disadari atau tidak, sebagai generasi dari sebuah kebuadaayan dengan berperadaban besar, yakni Minangkabau. Walau tak dapat dipungkiri, di pelosok-pelosok wilayah di Sumatra Barat, masih terdapat sekelompok masyarakat yang masih setia menjalani nilai-nilai tradisi dalam adat dan budaya Minangkabau, akan tetapi, kelompok-kelompok tersebut adalah kelompok generasi-generasi tua, yang tidak lagi punya waktu banyak untuk menjalankan nilai-nilai adat istiadat yang tak lapuak dek hujan, tak lekang dek paneh ini. Sementara generasi mudanya disibukkan dengan berbagai pembekalan untuk kelangsungan hidup mereka di kemudian hari, yang bekal-bekal tersebut tidak bakal mereka peroleh dari pemahaman adat, budaya dan tradisi semata. Berangkat dari pemahaman ini, maka tidaklah patut kita saling salah menyalahkan, yang tua disalahkan karena ogah memberikan pemahaman akan nilai-nilai dan pandangan hidup yang dikandung dalam adat dan budaya Minangkabau kepada generasinya, dan yang muda disalahkan karena enggan belajar masalah adat dan budaya Minangkabau. Namun, semuanya itu juga tak terlepas dari gejolak dan tututan zaman, terutama semenjak gelombang modernitas yang datang tanpa sekat, yang meng(h)ajar generasi-generasi Minang tentang nilai baru, pandangan baru, gaya baru, sehingga mengikis nilai-nilai, pandangan hidup, dan falsafah lama, yang dikandung dalam adat istiadat Minangkabau. Namun, walau sedikit, ada juga perasaan ingin tahu, bagaimana semua perubahan itu terjadi, karena pepatah mengatakan, tidak ada asap jika tidak ada api, tidaklah mungkin ada akibat jika tidak ada yang sebab. Karena itu, secara sederhana di dalam tulisan ini akan dipaparkan peroses terjadinya perubahan tersebut, yang tak lain adalah hasil dari proses asimilasi budaya, yang akhirnya mempengaruhi eksistensi budaya Minangkabau, bahkan di negerinya sendiri. Banyak ahli, telah mencoba, memetakan periodesasi masa yang diyakini memiliki pengaruh yang besar terhadap eksistensi budaya Minangkabau. Seperti, Navis, dalam makalahnya "Perkisaran Orientasi Masyarakat Minangkabau dari Masa ke Masa", membaginya berdasarkan tiga masa, yakni masa reformasi, masa kemerdekaan, dan masa dipinggirkan sejarah. Tidak jauh berbeda sifatnya, tulisan ini memetakan kondisi-kondisi itu ke dalam tiga periode, yakni Periode Kolonial Belanda, Periode Revolusi Plus Orde Lama, dan ketiga Periode Orde Baru. Periode Kolonial Belanda; akibat kegagalan menguasai dan merebut pelabuhan-pelabuhan utama Aceh dari Portugis, Belanda memutuskan untuk melakukan penyisiran ke bagian Timur Sumatera, dan pada akhirnya berlabuh di Minangkabau. Di Minangkabau, Belanda yang awalnya hanya berperan sebagai rekan dagang, lama-kelamaan malah ingin menguasai wilayah Minangkabau. Keberadaan bangsa Belanda di tanah Minangkabau, tidak hanya berpengaruh terhadap sistem sosial masyarakat Minang, namun juga berpengaruh pada corak kebudayaan Minangkabau selanjutnya. Belanda mendirikan lembaga-lembaga pendidikan, yang lama-kelamaan, popularitas mampu menyaingi eksistensi Surau. Pola pendidikan modern yang diperkenalkan Belanda, membentuk masyarakat (generasi) Minang sebagai generasi yang haus akan pendidikan. Akibatnya, banyak generasi Minang yang berlomba-lomba memperoleh pendidikan sampai ke tingkat yang lebih tinggi, sehingga menurunkan minat generasi Minangkabau untuk bekerja setelah mereka memutuskan untuk merantau, karena sebagian besar dari generasi Minangkabau yang pergi merantau adalah bertujuan untuk melanjutkan sekolahnya. Juga banyak generasi muda Minangkabau yang enggan belajar ke Surau, karena mereka menganggap bahwa pendidikan di surau terbelakang. Selain di bidang pendidikan, Belanda juga sangat aktif berperan di bidang-bidang sosial politik, bahkan ekonomi. Dalam hal pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat (ekonomi), Belanda menawarkan banyak bidang pekerjaan, sehingga orang Minang tidak lagi bergantung di bidang pertanian dan perdagangan saja, namun juga di bidang lainnya, seperti pegawai pemerintahan; (pekerjaan sebagai pegawai pemerintahan ini juga semakin populer, seiring meningkatnya agresifitas Belanda menguasai tanah ulayat dan menerapkan rodi, sudah tentu memancu semangat anak pribumi untuk menjadi pegawai pemerintahan). Intervensi yang dilakukan oleh Belanda, dalam tatanan adat Minagkabau, seperti "penghulu basurek", pengangkatan dan pemberhentian seorang penghulu adalah hak Belanda, menurunkan tingkat kepercayaan banyak masyarakat Minang terhadap sistem adatnya, bahkan sebagian besar masyarakat cenderung bersikap skeptis, hingga sekarang, seorang penghulu tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang disegani, kecuali jika penghulu itu menjabat. Laki-laki Minangkabau tidak lagi berminat mengikuti sistem matrilinial, terutama yang berpendidikan modern, sehingga lama-kelamaan, mereka, apalagi yang bekerja sebagai pegawai pemerintahan Belanda, merasa berkuasa atas harta, rumah dan tanah mereka, karena mereka telah mampu membelinya, dan akhirnya tidak sedikit pula perempuan Minangkabau mengikuti suaminya. Periode Revolusi Plus Orde Lama; Setelah Belanda, dan masyarakat Minang (artinya budaya Minangkabau) berintegrasi dan berperan aktif dalam perkembangan politik dan ekonomi Indonesia. Peran akif tersebut, ternyata turut pula menyeret masyarakat Minang, baik secara langsung maupun tak langsung, ke dalam aksi-aksi masa revolusi. Sebut saja, PDRI, konflik politik di masa orde lama, PRRI, gerakan revolusi 66, hingga tumbangnya orde lama, digantikan dengan orde baru, serta berbagai gejolak politik selanjutnya yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Catatan kelam terjadi usai gerakan PRRI, seperti yang di jelaskan Sairin, banyak orang Minang yang melakukan migrasi besar-besaran ke daerah-daerah lain di Indonesia, terutama pulau jawa. Peristiwa itu, menjadi sebuah tamparan hebat dan karenanya untuk menutupi rasa malu, sehingga mereka melakukan aksi "walkout" dari kampung halamannya. Akibat yang ditimbulkan dari aksi tersebut adalah banyak Nagari di Minangkabau kekurangan mamak dan penghulu, hingga akhirnya, sistem adat tidak lagi dapat dijalankan sebagaimana mestinya, yang pasti, kemenakan baraja ka mamak, mamak baraja ka panghulu, panghulu baraja ka alua nan patuik, yang merupakan proses pembinaan generasi Minangkabau jadi tidak berfungsi. Di Periode Orde Baru; dengan sistem pemerintahannya yang sentralistik, dan kebijakan pembangunan yang tidak berorientasi pada akar budaya daerah, terjadi perubahan yang luar biasa dari berbagai masyarakat dan budaya daerah di Indonesia, tidak hanya Minangkabau namun juga seluruh budaya daerah di Indonesia. Yang paling menyesakkan bagi orang Minang adalah ketika diberlakukannya UU No. 5/1974 dan akhirnya disempurnakan dengan UU No. 5/1979, tentang pemerintahan desa. Masyarakat Minang mau tidak mau harus rela "meninggalkan" Nagari yang mereka cintai, dan beralih ke tatanan kehidupan masyarakat pedesaan. Kehilangan Nagari bagi orang Minang, berpedoman kepada pandangan hidup mereka, sama saja dengan kehilangan tujuan hidup mereka, sehingga mulai saat itupula banyak perantau Minang yang tidak lagi peduli dengan pembangunan Nagarinya, sayang ka kampuang (Nagari) ditinggakan! "Seperti masyarakat yang berbasis tradisi lainnya, masyarakat Minangkabau juga mengalami goncangan sosio-kultural sebagai akibat diberlakukannya Undang-Undang no.5 tahun 1979 tentang pemerintahan desa. Suku yang menjadi basis utama bagi berlangsungnya sistem nagari mengalami masalah kepemimpinan yang cukup berat. Migrasi besar-besaran yang terjadi paska pergolakan, telah membuat langkanya jumlah mamak yang memiliki jiwa kepemimpinan yang memadai untuk memimpin suku dan nagari. Sementara itu mamak yang telah dikukuhkan menjadi Penghulu telah larut dengan kehidupannya di rantau, dan akibatnya jarang yang mampu menjalankan fungsi kepemimpinannya menurut adat Minangkabau. Gelar penghulu akhirnya merubah dari fungsional menjadi simbolik. Karena itu tidak heran jika sejumlah laki-laki Minangkabau yang sukses hidup di rantau lalu berupaya pula untuk dapat menyandang jabatan adat itu, untuk kemudian membawanya kembali ke rantau. Akibatnya, suku kehilangan kepemimpinan seperti yang diamanatkan oleh adat. Fungsi mamak sebagai batang baringin di tangah padang tidak lagi berjalan sebagaimana seharusnya." (Lihat Sairin. Minangkabau yang Gelisah: Sebuah Catatan Singkat) Demikianlah, ketiga periode tersebut, yang besar pengaruhnya bagi perkembangan generasi Minangkabau selanjutnya. Hingga akhirnya, banyak generasi-generasi Minangkabau saat ini tidak lagi "mengetahui" siapa mamaknya? Siapa penghulunya? Dan yang paling parah "apa sukunya?". Mereka hanya mengenal ayah dan ibunya sebagai orang tua, dan orang yang mereka anggap dapat melindunginya, mereka hanya mengenal sekolah sebagai satu-satunya tempat untuk menimba ilmu, dan yang lebih parahnya lagi, mereka tidak lagi dapat mengerti bahasa ibunya. Penghulu yang dianggap sebagai urang nan didahulukan salangkah, ditinggikan sarantiang, hanya dijadikan sebagai sebuah simbol/arca, atau mungkin "alat" oleh orang-orang yang memiliki kepentingan politik, yang membutuhkan legitimasi dan dukungan dari masyarakat Minang, namun pada akhirnya pun dilupakan. Sekarang "Apa yang harus dilakukan untuk, setidaknya, memberikan pemahaman dan pengetahuan adat dan budaya Minangkabau kepada generasi muda Minangkabau? Apakah cukup hanya dengan kurikulum muatan lokal Budaya Alam Minangkabau, yang diterapkan dan diperuntukkan di sekolah-sekolah bagi tingkatan siswa yang terbatas, hanya mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga sekolah lanjutan pertama (SLTP)? Saya rasa hal itu belum cukup, mengingat situasi dan kondisi yang berkembang saat ini, telah mengikis habis nilai-nilai adat dan Budaya Minangkabau. Di lain hal, kurikulum muatan lokal itu sendiri saat ini masih menyisakan banyak masalah, seperti ketersediaan guru yang megajar, kurikulum yang tidak sesuai, dan tingkat kesadaran pihak-pihak yang terkait di wilayah itu saat ini masih kurang, mulai dari guru, Kepala Sekolah, Kepala Diknas, hingga Gubernur sekalipun baru sebatas ucapan, bahwa "sadar hal itu itu penting", namun dalam hal realitas kebijakannya tetap saja mereka beranggapan bahwa itu tidak perlu dipenting-pentingkan, "toh kita juga orang Minang, jadi tidak akan sulit mengajarkannya." sayang ka anak patangihan, sayang ka nagari tinggakan. Wallahu a'lam bishawab http://jumpayerri.wordpress.com/2008/01/26/generasi-minangkabau-proses-pengikisan-identitas/ --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet. - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting. - Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi. - Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku. =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
