Mari kita simak pidato Presiden Jokowi didepan KTT Arab - Amerika. Hati
hati lah umat Islam di Indonesia, karena trump gang akan makin menjadi
dalam adu domba umat terutama sekali untuk membenci presiden dengan
berbagai macam fitnah. Siapa yang berani bicara blak blak an didepan
Trump seperti ini?
Di Depan Trump, Jokowi: Atasi Terorisme dengan Pendekatan Agama
Ray Jordan - detikNews
<https://news.detik.com/berita/d-3507578/di-depan-trump-jokowi-atasi-terorisme-dengan-pendekatan-agama#><https://news.detik.com/berita/d-3507578/di-depan-trump-jokowi-atasi-terorisme-dengan-pendekatan-agama#><https://news.detik.com/berita/d-3507578/di-depan-trump-jokowi-atasi-terorisme-dengan-pendekatan-agama#><https://news.detik.com/berita/d-3507578/di-depan-trump-jokowi-atasi-terorisme-dengan-pendekatan-agama#>
*Riyadh* - Dalam KTT Arab Islam Amerika Serikat yang digelar di Arab
Saudi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) bicara soal upaya mengatasi
radikalisme dan terorisme. Jokowi menyarankan untuk mengatasi paham
tersebut dengan pendekatan agama.
Dalam pidatonya, Jokowi mengatakan sejarah mengajarkan bahwa senjata dan
kekuatan militer saja tidak akan mampu mengatasi terorisme.
"Pemikiran yang keliru hanya dapat diubah dengan cara berpikir yang
benar," ujar Jokowi ketika berbicara di KTT Arab Islam Amerika di
Conference Hall King Abdulaziz Convention Center, Riyadh Arab Saudi,
Minggu (21/5/2017) lewat keterangan tertulis yang disampaikan Kepala
Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Presiden Bey Machmudin.
Oleh karenanya, lanjut Jokowi, Indonesia meyakini pentingnya
menyeimbangkan pendekatan hard-power dengan pendekatan soft-power.
Selain pendekatan hard-power, Indonesia juga mengutamakan pendekatan
soft-power melalui pendekatan agama dan budaya.
"Untuk program deradikalisasi, misalnya, otoritas Indonesia melibatkan
masyarakat, keluarga, termasuk keluarga mantan nara pidana terorisme
yang sudah sadar; dan organisasi masyarakat," kata Jokowi.
Untuk kontra radikalisasi, lanjut Presiden, antara lain Indonesia
merekrut para netizen muda dengan follower yang banyak untuk menyebarkan
pesan-pesan damai.
"Kita juga melibatkan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu
Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama untuk terus mensyiarkan Islam yang
damai dan toleran," kata Jokowi.
"Pesan-pesan damailah yang harus diperbanyak bukan pesan-pesan
kekerasan. Setiap kekerasan akan melahirkan kekerasan baru," tambah
mantan Gubernur DKI Jakarta itu.
Dalam kesempatan itu, Jokowi juga mengatakan bahwa pertemuan ini
memiliki makna yang penting untuk mengirimkan pesan kemitraan dunia
Islam dengan Amerika Serikat. Serta menghilangkan persepsi bahwa Amerika
Serikat melihat Islam sebagai musuh.
"Yang lebih penting lagi pertemuan ini harus mampu meningkatkan kerja
sama pemberantasan terorisme dan sekaligus mengirimkan pesan perdamaian
kepada dunia," ujar Presiden.
Jokowi menjelaskan bahwa ancaman radikalisme dan terorisme terjadi di
mana-mana. Indonesia adalah salah satu korban aksi terorisme, serangan
di Bali terjadi tahun 2002 dan 2005 dan serangan di Jakarta terjadi
Januari 2016.
"Dunia marah dan berduka melihat jatuhnya korban serangan terorisme di
berbagai belahan dunia di Perancis, Belgia, Inggris, Australia dan
lain-lain," ucap Jokowi.
Dunia seharusnya juga sangat prihatin terhadap jatuhnya lebih banyak
korban jiwa akibat konflik dan aksi terorisme di beberapa negara seperti
Irak, Yaman, Suriah, Libya.
"Umat Islam adalah korban terbanyak dari konflik dan radikalisme
terorisme," kata Jokowi.
Lebih lanjut, Jokowi mengatakan jutaan orang harus keluar dari negaranya
untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Jutaan generasi muda kehilangan
harapan masa depannya.
"Kondisi ini membuat anak-anak muda frustasi dan marah. Rasa marah dan
frustasi ini dapat berakhir dengan muculnya bibit-bibit baru ektremisme
dan radikalisme," kata Presiden.
Acara ini, dihadiri oleh para pemimpin dunia, di antaranya Raja Arab
Saudi Salman bin Abdul Aziz dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Sebelum KTT dimulai, dilakukam sesi foto bersama. Dalam sesi foto ini,
tampak Raja Salman bin Abdul Aziz Al-Saud, Presiden Amerika Serikat
Donald Trump, tampak pula Sultan Brunei Sultan Hassanal Bolkiah, Raja
Jordan Raja Abdullah II, Presiden Mesir Abdelfattah Said Al-Sisi,
Presiden Tunisia Beji Caid Essebsi, Presiden Palestina Mahmoud Abbas,
Presiden Afghanistan Ashraf Ghani.
*(rjo/ams)*
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.