V : Perjalanan anak harimau menuju ibukota Kita ikuti perjalanan Burhan terlebih dahulu, Masnan dan Burhan berangkat terlebih dahulu dibandingkan dengan Basri dan Saiful, pagi-pagi sekali mereka sudah siap untuk berangkat dengan dibekali makanan dan obat-obatan oleh Siti agar bisa digunakan selama dalam perjalanan panjang mereka.
Masnan datang ke nagari Batang Kapeh menggunakan kuda kesayangannya si Tunggul Item yang merupakan keturunan kuda yang hebat sekali anak dari kuda kesayangan raja yaitu kuda Petir Biru yang berasal dari negeri seberang, hadiah upeti dari saudagar negeri Tar-tar. Kuda yang sangat elok sekali dan mempunyai daya tahan tubuh yang hebat sekali bisa berlari terus menerus selama 2 hari tanpa makan dan minum dengan kecepatan yang tetap stabil. Karena ingin cepat sampai di rumah, maka Masnan mengajak Burhan untuk naik kuda bersamanya. Burhan yang tidak pernah naik kuda sebelumnya, dalam hati merasa takut melihat kuda besar berbadan hitam pekat ini. Bagi dia, kuda ini terlihat tinggi dan besar sekali, tapi dia memang anak yang spesial sekali ketakutannya tidak diperlihatkannya di depan orang-orang dengan menggertakan giginya dia berusaha mengatasi rasa takutnya itu. Ketika Masnan yang dari atas kuda mengulurkan tangannya kepada Burhan untuk mengangkat anak ini duduk di belakangnya, sempat Burhan ragu sejenak dan Masnan yang mengetahui ketakutan Burhan berusaha membujuk anak itu untuk tidak takut naik kuda ini. Dia tidak sempat mengajarkan kepada Burhan cara mendekatkan diri pada kuda ini, agar Burhan tidak takut lagi pada Tunggul Item. Akhirnya siaplah berangkat mereka berdua, setelah berpamitan dengan yang lain, segera Masnan memacu kudanya ke arah Barat menuju Pagaruyuang. Selama di perjalanan Burhan memeluk pinggang Masnan erat-erat karena selain dia takut pada kuda tersebut, dia juga takut jatuh. Belum pernah seumur hidupnya naik kuda, selama ini dia hanya tahu naik gerobak yang ditarik kuda saja tapi benar-benar naik kuda ini merupakan pengalaman pertama baginya. Pengalaman ini sangat tidak enak sekali, pantatnya sampai sakit duduk di atas kuda, dan punggungnya pegal sekali karena harus duduk tegak terus, tapi tidak pernah dimulutnya terdengar keluhan. Setelah setengah hari mereka berkuda, Masnan menghentikan kudanya untuk beristirahat, karena dia merasakan perut Burhan yang menempel di punggungnya berbunyi minta diisi, baru dia sadar dia tidak sendirian naik kuda tapi bersama seorang anak kecil yang tidak mempunyai daya tahan tubuh seperti dia. Dekat sebuah sungai, Masnan menghentikan kudanya untuk istirahat, dia membiarkan kudanya merumput dan minum air dari sungai tersebut, sementara itu Masnan membuka perbekalan untuk dimakan bersama Burhan. Sebenarnya Masnan sudah melihat wajah Burhan yang terlihat menahan sakit akibat menunggang kuda, tapi sengaja dia tidak menanyakan kepada anak itu karena dia melihat anak itu tidak mengeluarkan keluhan apapun atas penderitaannya. Dia jadi ingin menguji daya tahan ini sampai mana, Masnan tahu betapa sakit dan pegal-pegalnya semua urat di paha atas, punggung dan pantat anak itu belum ditambah teriknya matahari yang menyorot mereka, benar-benar penderitaan yang tidak mengenakkan sekali bagi seorang anak kecil seperti Burhan. Setelah mereka memakan roti untuk mengganjal perut segera Masnan berdiri mengajak Burhan untuk melanjutkan perjalanan. Burhan yang belum pernah mengalami hal seperti ini, berusaha bangkit dari duduknya, langsung rasa sakit karena pegalnya menghajar paha dan pinggangnya, ingin dia berteriak tapi dengan keras hati dia mengunci rapat mulutnya. Dengan tertatih-tatih dia berjalan menghampiri Masnan yang sudah menunggu dia di dekat kuda mereka. “Burhan, apa kamu kesakitan ?” tanya Masnan. “Iya, paman.”sahut Burhan. “Apa kita istirahat lagi sampai kamu memulihkan kondisi kamu?” “Tidak perlu paman, aku masih bisa dan kuat untuk meneruskan perjalanan kita.” “Kamu yakin?” tanya Masnan. “Yakin, paman” dengan tegas Burhan menjawab pertanyaan Masnan. Sebenarnya Masnan tidak tega melihat penderitaan Burhan, tapi dia tidak ingin mempunyai murid cengeng dan dia juga tahu Burhan merupakan seorang anak yang tidak suka dikasihani, dia akan berusaha sekuatnya sampai titik darah penghabisan baru dia minta tolong. Segera Masnan dan Burhan melanjutkan perjalanan mereka, kuda terus berlari cepat dan semakin lama semakin cepat sehingga Burhan hanya melihat kelabatan daun-daun di sepanjang jalan saking kencangnya kuda terebut berlari. Kesakitan dan pegal yang dirasakan oleh Burhan tambah lama tambah parah tapi tetap dia tidak mengeluhkannya sedikitpun. Bagi dia, ini adalah sebuah ujian hidup yang harus dilalui dan dia mengeraskan hatinya untuk bisa melalui semua ini. Lama kelamaan dia merasa mengantuk sekali, akhirnya dia tertidur di punggung Masnan, dengan tidak mengendorkan pegangan tangan kanannya pada pelana kuda, Masnan menggunakan tangan kirinya untuk memegang tangan Burhan agar dia tidak jatuh akibat goncangan dari lari kudanya. Menjelang tengah malam sampailah Masnan di pinggiran sebuah desa, dia megurangi kecepatan kudanya agar tidak menganggu penduduk desa tersebut. Pelan-pelan dia menjalankan kudanya, baru dia masuk masuk wilayah desa tersebut, tiba-tiba dia mendengar suara keributan di ujung desa sebelah sana, terdengar teriakan dan jeritan yang menyayat hati. Segera dia memacu kudanya menuju arah suara keributan tersebut, sementara itu Burhan sudah terbangun dari lelapnya, seluruh badanya terasa remuk sekali tapi tidak keluar keluhan dari mulutnya. Dia juga mendengar jeritan yang mengiriskan hati, jantungnya berdebar-debar kencang, dia mempererat pelukannya pada pinggang Masnan. Masnan mengetahui ketakutan Burhan, tapi dia ingin mendidik muridnya itu untuk melihat di lapangan secara langsung situasi apa yang sedang terjadi dan bagaimana mengatasinya. Mereka sudah mendekati tempat asal jeritan tadi, pemandangan di situ benar-benar mengejutkan hati Masnan, di lapangan luas itu dia melihat ada beberapa laki-laki kasar sedang memperkosa wanita-wanita kampung secara terbuka seperti binatang saja, dan para laki-lakinya sedang diikat di tiang dan sedang dilecuti. DI sudut kanan terlihat beberapa mayat bergelimpangan, keadaan ini sungguh mengerikan sekali dan yang terlebih menjijikan lagi hal ini disaksikan oleh 3 orang laki-laki yang berbentuk aneh sedang duduk di tengah-tengah kekacauan ini sambil menikmati santapan ayam panggangnya dan minum tuak. Mereka seolah-olah melihat sebuah pertunjukan yang memang disajikan untuk menambah selera makan mereka Bersambung………… No virus found in this outgoing message. Checked by AVG. Version: 7.5.519 / Virus Database: 269.23.0/1379 - Release Date: 15/04/2008 18:10 --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet. - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting. - Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi. - Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku. =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
