alah ambo upload juo di blog http://urangminang.wordpress.com
Salam
Is St Marajo 39+

Kartini atau Rohana 
Ditulis oleh Asmanidar, Pemerhati sosial dan Perempuan
Besok, kita akan memperingati hari Kartini. Hari tersebut merupakan 
tanggal lahir perempuan pada 21 April 1879, yang selama ini dijadikan 
sebagai titik tolak untuk inspirasi dan kekuatan moral bagi kaum perempuan 
di Indonesia. Lahirnya Raden Ajeng Kartini yang dijadikan sebagai srikandi 
Indonesia yang begitu dipuja. Sungguh luarbiasa, seorang Kartini melalui 
kumpulan surat-menyuratnya "Habis Gelap Terbitlah Terang" menjadi 
inspirasi dan ilham bagi jutaan perempuan Indonesia untuk dapat sejajar 
dengan kaum pria. Namun dalam tulisan ini, saya ingin sedikit memberikan 
penyadaran bahwa kita harus mengakui sebuah pepatah, "Tungau di seberang 
lautan nampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak". Begitu mengagungkan 
Kartini, kita seakan lupa akan sebuah mutiara Ranah Minang sendiri. Dia 
Rohana Kudus, seorang srikandi Ranah Minang yang di kampungnya sendiri 
(Sumbar) malah juga tak begitu dikenal. Tidak banyak dari kita yang tahu 
siapa gerangan Rohana Kudus. Menyebut namanya, di tingkat lokal saja, kita 
mungkin cuma tahu, itu adalah nama jalan, nama gedung, nama usaha kripik 
balado di Kota Padang, dan sebagainya. Tapi soal kiprahnya? Hanya 
segelintir yang tahu, itupun mungkin tidak persis detilnya.
Perempuan yang lahir di Kotogadang, Bukittinggi 20 Desember 1884, adalah 
anak sulung dari pasangan Moehammad Rasjad Maharadja Soetan dan Kiam ini 
adalah wanita multi intelegensi. Bukan saja tercatat sebagai wartawan 
perempuan pertama Indonesia saja dengan mendirikan surat kabar Sunting 
Melayu, dia juga menjadi pelopor pendidikan dengan mendirikan sekolah 
keterampilan Kerajinan Amai Setia (KAS) yang merupakan permulaan industri 
rumah tangga (home industry) di Minangkabau dan penggerak politik 
perempuan pertama di ranah Minang.
Bagaimana dengan Kartini, ternyata orang yang selama ini dipuja-puja 
sebagai perintis emansipasi wanita di tanah air, ternyata kalah start dari 
Rohana. Jauh sebelum Kartini menuntut ilmu di sekolah perempuan Rembang, 
Rohana Kudus dan teman-temannya telah merintis 'komunitas' perempuan Koto 
Gadang untuk melek huruf! Tapi Kartini, malah rela dipingit, lalu menikah 
dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, yang sudah pernah 
memiliki tiga istri.
Tapi bayangkan betapa hebatnya kakak tiri Sutan Syahrir (perdana menteri 
pertama RI) ini, di saat yang lain belum melek membaca, alias buta aksara, 
dia sudah tampil sebagai "guru kecil" di usianya yang masih 8 tahun di 
tahun 1892. Kepadanya, rekan-rekan sebayanya belajar bermain sambil 
membaca.
Di usianya yang matang, sebelum dan setelah menikah dengan Abdul Kuddus, 
melalui perjuangan hidup yang jatuh bangun, mengalami berbagai benturan 
sosial dengan pemuka agama, adat, dan masyarakat umum, Rohana dipuji dan 
dikagumi, tetapi sekaligus difitnah dan dicaci maki, sehingga terpaksa 
meninggalkan kampung halamannya. Dia tetap berjuang, malah mendirikan 
Rohana School, sekolah kepandaian perempuan di Bukittinggi.
Saat Belanda meningkatkan tekanan dan serangannya terhadap kaum pribumi, 
Rohana bahkan turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang 
membakar semangat juang para pemuda. Rohana pun mempelopori berdirinya 
dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan. Dia juga 
mencetuskan ide bernas dalam penyelundupan senjata dari Kotogadang ke 
Bukiktinggi melalui Ngaraik Sianok dengan cara menyembunyikannya dalam 
sayuran dan buah-buahan yang kemudian dibawa ke Payokumbuah dengan kereta 
api.
Hingga ajalnya menjemput, dia masih terus berjuang. Termasuk ketika 
merantau ke Lubuak Pakam dan Kota Medan. Di sana dia mengajar dan memimpin 
surat kabar Perempuan Bergerak. Kembali ke Padang, ia menjadi redaktur 
surat kabar Radio yang diterbitkan Cina Melayu di Padang dan surat kabar 
Cahaya Sumatra. Perempuan yang wafat pada 17 Agustus 1972 itu mengabdikan 
dirinya kepada bangsa dan negara, serta menjadi kebanggaan bagi kaum hawa 
yang diperjuangkannya.
Penghargaan dari Pemprov Sumbar juga pernah didapatkannya, yaitu pada 17 
Agustus 1974 sebagai wartawati pertama. Dan pada Hari Pers Nasional ke-3, 
9 Februari 1987, Menteri Penerangan, Harmoko telah pula menganugerahinya 
sebagai Perintis Pers Indonesia. Bagaimana dengan Kartini, kumpulan 
surat-menyuratnya yang keasliannya sampai saat ini sulit ditunjukkan 
menjadi pahlawan perempuan sampai menjadi salah satu hari besar Indonesia. 
Sedangkan Rohana.... (***)
http://www.padangekspres.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=3604&Itemid=55
Rohana Kuddus
22 04 2008 
Rohana Kuddus lahir di Koto Gadang, Bukit Tinggi pada tanggal 20 Desember 
1884 dan meninggal dunia pada tanggal 17 Agustus 1972. Rohana Kuddus 
adalah anak pertama pasangan Moehammad Rasjad Maharadja Soetan dan Kiam. 
Rohana Kuddus adalah kakak tiri dari Sutan Syahrir.
Perjuangan Rohana Kuddus dalam memajukan kaum wanita sangatlah nyata, 
tidak seperti wanita lain yang hanya berani bicara dan menulis tentang 
persamaan hak wanita dan perluasan kesempatan bagi kaum wanita tetapi 
menyerah dan menjadi korban (kalau tidak bisa dibilang pelestari) tradisi 
dan adat yang ditentangnya itu. Rohana Kuddus harus pergi dari kampung 
halamannya ke Medan untuk meneruskan perjuangannya bagi kaum wanita karena 
banyaknya ketidaksetujuan orang sekampungnya akan tujuan perjuangannya.
Selama mengungsi ke Lubuk Pakam dan Medan, Rohana Kuddus aktif mengajar 
dan menjadi pemimpin redaksi surat kabar Perempuan Bergerak. Tiga tahun 
kemudian, Rohana Kuddus pindah ke Padang dan menjadi redaktur surat kabar 
Radio yang diterbitkan Cina Melayu di Padang dan surat kabar Cahaja 
Sumatera.
Semangat Rohana Kuddus untuk memajukan pendidikan sudah terlihat sejak 
usia yang sangat dini yaitu 8 tahun dimana ia sudah mulai mengajar 
teman-teman sebayanya membaca. Rohana Kuddus juga menjadi pelopor 
pendidikan dengan mendirikan sekolah keterampilan Kerajinan Amai Setia 
yang merupakan permulaan industri rumah tangga di Minangkabau.
Pada tahun 1912, Rohana Kuddus mendirikan Surat Kabar Soenting Melayu, 
setahun setelah Dja Endar Muda mendirikan surat kabar pertama di Padang. 
Soenting Melayu tidak hanya membahas mengenai masalah wanita tetapi juga 
masalah politik dan kriminal yang terjadi di ranah Minang. Usia dari 
Soenting Melayu ini hanya 9 tahun, sebuah usia yang cukup panjang buat 
surat kabar pada tahun itu yang rata-rata hanya bertahan 3 bulan.
Perjuangan Rohana Kuddus tidak hanya sebatas tulis menulis, selain 
mendirikan sekolah keterampilan, Rohana Kuddus juga ikut mendirikan dapur 
umum dan badan sosial untuk membantu gerilyawan dalam melawan Belanda. 
Rohana Kuddus juga menemukan cara penyelundupan senjata dari Koto Gadang 
ke Payakumbuh melalui Bukit Tinggi dan Ngarai Sianok.
Penghargaan yang pernah diterima
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menganugrahi Rohana Kuddus dengan 
Wartawati Pertama Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1974 (Dua tahun 
setelah beliau meninggal dunia).
Menteri Penerangan Harmoko pada Hari Pers Nasional ke 3 tanggal 9 Februari 
1987 menganugrahi Rohana Kuddus dengan Perintis Pers Indonesia.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply. 
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke