memprihatinkan sekali.

salam

maifil



-- In [EMAIL PROTECTED], "Muzirman --" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> (MOHON DI POSTING KAN ARTIKEL (1).
> Membuka Topeng "Negara Gagal" [2]
> 
> Rabu, 23 April 2008
> 
> Indonesia dinyatakan sebagai negara gagal (failed state). Rakyat
> tambah miskin dan terancam kelaparan, konglomerat tambah kaya. 
Kenapa?
> [terakhir]
> 
> Oleh Amran Nasution *
> 
> Pengantar:
> 
> Hidayatullah.com--Tulisan sebelumnya menjelaskan banyaknya "musibah"
> ?baik fisik dan moral?terjadi di Indonesia. Musibah gempa, penyakit
> (mulai HIV hingga flu burung). Budaya korupsi pada para pejabat dan
> DPR. Juga kemiskinan dan rawan pangan. Majalah Foreign Policy
> memasukkan Indonesia dalam indeks 60 negara gagal tahun 2007 (failed
> state index 2007).  Masikah kita memakai system "demokrasi liberal"
> yang faktanya "menghancurkan" ini?
> 
> Adalah pemandangan sehari-hari menyaksikan antrean panjang di 
pelbagai
> pelosok Tanah Air. Beras, minyak tanah, minyak goreng, gas, bagi
> rakyat miskin harus diperoleh dengan antrean berjam-jam. Itu 
indikator
> bahwa Pemerintah tak lagi mampu menyediakan barang kebutuhan pokok
> yang cukup untuk rakyatnya.
> 
> Tapi di tengah kemiskinan dan kelaparan itu ada berita bagus: orang
> kaya Indonesia justru bertambah kaya. Seperti ditulis majalah bisnis
> Forbes, 13 Desember 2007, pada tahun lalu, kekayaan para konglomerat
> Indonesia melompat dua kali lipat. Majalah itu menyebutkan kini
> Indonesia memiliki 40 konglomerat ?- dengan kekayaan minimal 120 
juta
> dollar atau lebih Rp 1 trilyun ?- dan yang paling kaya adalah Menko
> Kesra Aburizal Bakrie.
> 
> Sepanjang 2007, kekayaan bersih Aburizal meningkat lebih empat kali
> lipat, menjadi 5,4 milyar dollar. Sungguh menakjubkan. Dengan itu ia
> menyalib Sukanto Tanoto, pemilik pabrik pulp dan produsen minyak
> kelapa sawit terbesar, dengan kekayaan 4,7 milyar dollar.
> 
> Rakyat tambah miskin, kenapa konglomerat tambah kaya? Terlalu 
panjang
> bila itu dijelaskan dengan rinci di sini. Yang pasti, sistem ekonomi
> liberal di mana pun di dunia ini ? termasuk di Amerika Serikat ?
> menjadikan orang kaya yang segelintir jumlahnya selalu bertambah 
kaya.
> 
> Sejatinya sistem ini memang untuk memanjakan orang kaya. Contoh
> konkret, lihatlah Amerika Serikat  yang sedang dilanda resesi.
> Pemerintah mau pun The Federal Reserve (biasa disebut The Fed, 
semacam
> BI di sini) sibuk membantu, menjamin, atau melobi, agar perusahaan
> besar selamat dari kebangkrutan. Sementara 2 juta pemilik rumah yang
> kreditnya macet dan dimiliki orang menengah tak dipedulikan. Mereka
> harus pindah karena rumahnya akan disita.
> 
> Itulah persis yang terjadi ketika krisis ekonomi melanda Indonesia 
di
> tahun 1998. Para konglomerat diselamatkan Pemerintah atas perintah
> Bank Dunia dan IMF.  BI mengucurkan BLBI lebih Rp 600 trilyun. 
Umumnya
> dana ini dikemplang para konglomerat. Sementara itu berapa banyak
> pengusaha kecil dan menengah yang bangkrut oleh krisis tak sedikit 
pun
> dipedulikan Pemerintah.
> 
> Banyak perlakuan lain yang mengistimewakan para konglomerat. 
Misalnya,
> sejak dibentuk KPK sibuk menangkap dan menjebak para koruptor kelas
> teri ? semacam Mulyana W.Kusumah atau Rochmin Dahuri ? tapi tak satu
> konglomerat pun yang terjerat.
> 
> Dua konglomerat penerima BLBI paling besar, Syamsul Nursalim dan
> Anthony Salim, dinyatakan Kejaksaan Agung tak bisa dituntut karena 
tak
> cukup bukti. Beberapa hari kemudian KPK  menangkap Jaksa Urip,
> penyidik kasus itu. Ia tertangkap tangan menerima Rp 6 milyar dari
> Artalyta Suryani, pembantu Syamsul Nursalim. Tapi konglomerat itu
> tetap aman-aman saja. Keputusan membebaskannya, sekali pun sudah
> terbukti ada suap di baliknya, tak pernah diralat. Masih kurang 
jelas?
> 
> Lihat kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur. Ratusan rakyat
> menjadi korban. Rumah tenggelam, mata pencarian hilang, tapi sampai
> kini tak seorang pun yang diseret menjadi terdakwa karenanya.
> 
> Malah belakangan Pemerintah menetapkan sejumlah korban akan mendapat
> ganti rugi dari APBN, bukan dari PT Lapindo Brantas. Padahal sudah
> terungkap sebelumnya, ada tuduhan kesalahan teknis dalam pengeboran
> sumur minyak dan gas. Pelan-pelan cerita itu kini menghilang. Semua
> orang tahu, pemilik Lapindo adalah salah satu orang terkaya 
Indonesia.
> 
> Tulisan ini tentu saja tak ingin mempertentangkan kelas kaya dan
> miskin. Yang hendak dikatakan bahwa semua gejala yang terjadi adalah
> konsekuensi dari sistem politik dan ekonomi yang digunakan sejak
> Indonesia memasuki era reformasi 1998.
> 
> DPR Cukup Efektif
> 
> Marilah membicarakannya dengan jujur, tanpa dusta atau kepura-
puraan.
> Mari melepaskan topeng-topeng yang kita pakai selama ini. Sistem
> demokrasi kita sekarang, jelas sebuah sistem yang amat mahal, dan
> sebagaimana studi Profesor Huntington tadi, terbukti sukses di 
negeri
> dengan penduduk berpenghasilan tinggi, bukan negeri miskin semacam
> Indonesia.
> 
> Siapa pun setuju, proses pemilihan Presiden Amerika sangat atraktif
> dan ideal, menjadi panggung hiburan bagi dunia. Tapi berapa banyak
> sudah dollar yang dihabiskan para nominator calon presiden Barack
> Obama, Hillary Clinton, mau pun John McCain, selama satu tahun ini.
> Padahal pemilihan yang sesungguhnya baru November 2008, masih 7 
bulan
> lagi.
> 
> Semua biaya itu bisa diongkosi rakyatnya karena pendapatan perkapita
> Amerika Serikat 50.000 dollar. Jelas tak bisa dibandingkan dengan
> Indonesia yang hanya 1000 dollar lebih sedikit. Sebagai pengumpul 
dana
> kampanye terbesar, misalnya, sampai akhir Maret lalu, Senator Barack
> Obama telah memperoleh 234 juta dollar atau Rp 2,1 trilyun. Dalam
> bulan Maret saja Obama mendapat dana lebih 40 juta dollar, dengan
> 218.000 penyumbang baru.
> 
> Jumlah fantastis itu tak sulit dihimpun, karena Obama memiliki 1,3
> juta penyumbang. Berarti, tiap donator rata-rata tak sampai 200 
dollar
> atau Rp 1,8 juta, masih jauh dari batas maksimal sumbangan 
perorangan
> yang diperbolehkan undang-undang, 2300 dollar (sekitar Rp 20 juta).
> Jumlah itu tentu tak memberatkan bagi para Obamania, termasuk untuk
> membiayai kampanye pemilihan presiden nanti yang jumlahnya pasti 
lebih
> besar, bila Obama lolos ke babak final.
> 
> Dana kampanye Hillary Clinton memang kalah dari Obama. Begitu pun
> sampai sekarang ia sudah memperoleh 175 juta dollar atau hampir Rp 
1,6
> trilyun. Lihatlah konser musik penyanyi Inggris Elton John, untuk
> mengumpulkan dana bagi Hillary, di Radio City Music Hall, New York, 
9
> April lalu. Malam itu saja dari penjualan tiket terkumpul 2,5 juta
> dollar (Rp 22,5 milyar).
> 
> Itulah yang tak mungkin terjadi di sini. Sungguh mustahil negeri ini
> bisa mengongkosi perhelatan politik yang begitu luks, kalau dengan
> cara yang jujur. Mana ada rakyat yang mampu menyumbang jutaan rupiah
> kepada calonnya, sementara untuk hidup sehari-hari saja sudah
> ngos-ngosan. Padahal sekali pun tak sebesar di Amerika Serikat, 
proses
> rekrutmen politik di Indonesia tetap butuh biaya yang sangat besar.
> 
> Berbagai perhitungan menyebutkan, untuk kampanye menjadi anggota DPR
> dibutuhkan dana sedikitnya Rp 1 milyar sampai Rp 3 milyar. Untuk
> bupati Rp 5 milyar sampai Rp 20 milyar, dan gubernur bisa sampai Rp
> 100 milyar. Apalagi untuk kursi Presiden, jumlahnya bisa
> berlipat-lipat. Dari mana dana begitu besar diperoleh?
> 
> Karena tak ada sumbangan rakyat ? prakteknya rakyatlah yang 
disumbang
> politisi -- mereka mencari dana politik melalui para konglomerat. 
Itu
> sudah menjadi rahasia umum. Hal tersebut dimungkinkan untuk politisi
> dengan posisi tertentu.  Tak heran bila konglomerat menempati posisi
> istimewa. Mungkin ada pula politisi yang mendapat dana dari negara
> asing, seperti dituduhkan Amien Rais waktu itu.
> 
> Pada prakteknya, sumbangan itu nanti dibagi-bagi dalam jumlah kecil,
> disesuaikan dengan batasan undang-undang. Lalu dicarikan alamat 
untuk
> diatas-namakan sebagai penyumbang. Ini jelas penipuan atau praktek
> korupsi yang lain. Pada Pilpres 2004, misalnya, KPU menemukan alamat
> penyumbang yang tak jelas. Tapi mana mau KPU mengusutnya.  Tampaknya
> semua sudah tahu sama tahu.
> 
> Sumber dana yang lain adalah lembaga negara, apakah departemen, 
BUMN,
> atau DPR. Bank BUMN kabarnya termasuk institusi yang efektif dalam
> mengumpulkan dana kampanye. Begitu pula jabatan penting di daerah.
> Semakin bergigi sebuah lembaga, semakin efektif ia sebagai kolektor
> dana politik.
> 
> Dengan wewenang yang cukup besar dalam sistem ini, DPR cukup ampuh
> sebagai mesin pengumpul uang. Apakah melalui pembuatan undang-
undang,
> pengawasan, penyusunan anggaran, atau berbagai aktivitas lain.
> Buktinya adalah Al Amin Nur Nasution dan kasus yayasan BI. Jadi
> sebenarnya Al Amin-Al Amin yang lain yang berada di luar penjara
> jumlahnya lebih banyak lagi. Apalagi sebentar lagi ada Pemilu.
> 
> Sesungguhnya apa yang dialami Indonesia, sudah terjadi di Rusia di
> tahun 1990-an. Sistem politik dan ekonomi liberal disyaratkan IMF 
dan
> Bank Dunia untuk Rusia setelah tumbangnya rezim komunis Uni Soviet.
> Ternyata itu bukan resep yang pas tapi Boris Yeltsin, pemimpin Rusia
> waktu itu, melaksanakannya dengan patuh.
> 
> Kenyataan yang terjadi, politik menjadi kacau-balau dan ekonomi
> hancur-hancuran. Pada masa itulah bisa dilihat di layar televisi
> rakyat mengikuti antrean berkilometer di tengah hutan salju, hanya
> demi sepotong roti. Semua berubah setelah Vladimir Putin 
menggantikan
> Yeltsin, akhir 1999.
> 
> Belum setahun, April 2000, Carnegie Endowment, sebuah lembaga
> think-tank dari Washington, melaporkan sejumlah indikator yang
> mebiarawatijukkan tanda-tanda kebangkitan ekonomi Rusia. ''Minyak 
dan
> gas tak menonjol dalam pemulihan ekonomi ini,'' begitu laporan
> Carnegie Endowment yang dirilis 4 April 2000 (lihat
> www.hidayatullah.com, 8 November 2007: Indonesia Menunggu Putin).
> 
> Sulap apa yang dilakukan Putin? Ia campakkan sistem liberal yang 
dulu
> dipakai Yeltsin, termasuk hiruk-pikuk pemilihan langsung yang mahal
> itu. Sejumlah konglomerat nakal yang menangguk untung dari keruhnya
> kondisi Rusia pada waktu peralihan  ? dijuluki kaum oligarki ?
> dihadapi Putin. Dan rakyat mendukungnya.
> 
> Beberapa di antara mereka lari ke luar negeri. Michail Khodorkovsky,
> orang terkaya Rusia,  harus menjalani hukuman 10 tahun penjara di
> Siberia. Kini Rusia merupakan salah satu negara dengan perekonomian
> paling kuat di dunia. Apalagi setelah harga minyak dunia melambung.
> [habis]
> 
> Amran Nasution, Direktur Institute for Policy Studies
> 
> >



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke