Untuak dunsanak nan mambaco KOran Kompas hari Sabtu
patang tantu alah mambaco hasia survey LItbang KOMPAS
tantang Calon Presiden pilihan akademisi, LSM sarato
saudagar.
Salah surang nan masuak 6 besar pilihan itu adolah Ajo
kito Indra Jaya Piliang (IJP). Beliau ko masuak
etongan karano dinilai punyo integritas, kejujuran dan
kapasitas nan indak diragukan lai. SUatu prestasi nan
sangaik membanggakan kito urang Minang, apolai ajo IJP
ko masih mudo dan potensial bana untuak maju manjadi
urnag nomor satu di republik ko.
Nah, untuak nan mudo2 ayo kito basamo-samo tagak di
balakang Ajo kito ko, kito usuang basamo-samo untuak
tampil labiah kamuko. Dukungan kitolah nan dibutuhkan
untuak mangapai cito2 kito untuak mampaeloki
kesejahteraan sarato marwah urang Minang.
Bravo IJP !!!
************
Yang Tahu Masalah, Malas Terjun ke Politik
Sabtu, 19 April 2008 | 02:13 WIB
Harapan yang pernah menyingsing akan adanya perbaikan
dalam pembangunan dan demokrasi sesudah keruntuhan
Orde Baru begitu sulit menjadi kenyataan. Perbaikan
ekonomi berjalan dengan langkah berat dan
tersandung-sandung. Demokrasi, menurut sebagian orang,
berlangsung salah kaprah dan kebablasan. Masalahnya,
kata pendapat yang lain, Indonesia tidak punya
pemimpin.
Pada peringatan ke-79 Hari Sumpah Pemuda bertajuk
"Saatnya Kaum Muda Memimpin" di Gedung Arsip Nasional,
Jakarta, 28 Oktober 2007, berkumpul sekitar 600 tokoh
muda. Meski membawa atribut organisasi masing-masing
dan datang dari berbagai latar belakang--akademisi,
aktivis lembaga swadaya masyarakat, elemen lain dengan
beragam latar belakang profesi, agama dan aliran
pemikiran--mereka mengumandangkan Ikrar Kaum Muda
Indonesia.
Bersamaan dengan itu, kaum muda di 25 provinsi juga
mengikrarkan hal yang sama. Ikrar itu bisa "dibaca"
sebagai bersatunya kaum muda Indonesia untuk mendorong
terjadinya alih generasi kepemimpinan.
Apa yang salah dengan generasi yang lebih tua? Untuk
sebagian, mereka dinilai tidak terlepas dari cacat
masa lalu. Sebagian yang lain dianggap sebagai
generasi yang sudah aus, kehilangan kreativitas dalam
memimpin bangsa dan negara. Orde Baru dinilai telah
mematikan potensi dan bakat kepemimpinan yang muncul
sebagai oposan pada masanya. Entah itu benar, entah
tidak, masalah kepemimpinan di Indonesia sekarang
muncul sebagai persoalan yang mengundang diskusi
publik.
Ketika kepada 173 aktivis LSM ditanyakan--melalui
survei yang diselenggarakan Litbang Kompas--apa tiga
masalah utama bangsa ini yang selayaknya
diprioritaskan untuk diatasi, 76,3 persen dari semua
responden menyebut problem politik sebagai soal yang
paling berat saat ini. Proses demokrasi yang tak jelas
arahnya, hilangnya kepercayaan kepada pemerintah,
desentralisasi yang tidak sukses, birokrasi yang
berbelit, mencuatnya banyak kepentingan golongan,
ketiadaan arah tujuan yang jelas, ketidakkonsistenan
kebijakan, lemahnya fungsi lembaga-lembaga politik,
dan lunturnya rasa nasionalisme hanyalah sebagian dari
sejumlah alasan mengapa problem politik demikian
ruwet.
Problem hukum menempati urutan kedua sebagai masalah
pelik yang membelit bangsa ini. Respons terhadap
problem ini berjumlah 49,1 persen. Korupsi yang
demikian mengakar bahkan hingga ke lembaga-lembaga
penegak hukum, ketidakadilan hukum, banyaknya tindak
kekerasan, dan tidak tuntasnya sejumlah kasus HAM,
menjadi ciri melekat yang mewarnai wajah hukum
Indonesia.
Bagi para responden ini tidak sulit mengidentifikasi
masalah yang sebaiknya mendapatkan prioritas untuk
diatasi. Tetapi tidak demikian halnya manakala kepada
mereka ditanyakan, dari kalangan mana sebaiknya
pemimpin baru itu berasal.
Kelompok responden yang menyatakan tidak tahu atau
tidak dapat memberikan jawaban, dari golongan mana
sebaiknya pemimpin baru itu, mencapai 59,5 persen.
Hanya 9,8 persen yang menyatakan bahwa figur pemimpin
itu hendaknya dari kalangan birokrat, 8,1 persen
mengatakan dari partai politik, 6,4 persen mengusulkan
dari pemuka agama. Sisanya, 16,2 persen, adalah
responden yang memilih jawaban "lain-lain" (pengusaha,
ilmuwan, budayawan). Apakah ini mengisyaratkan bahwa
sekarang begitu sulit menentukan latar belakang yang
sesuai untuk memimpin bangsa ini?
Pertanyaan itu tentu tak mudah untuk dijawab. Boleh
jadi, itu ada kaitannya dengan syarat yang dituntut
dari seorang pemimpin. Syarat yang dituntut para
responden itu adalah integritas (66,7 persen), sifat
yang menunjukkan semangat kesatuan yang utuh sehingga
memiliki potensi dan kemampuan, serta memancarkan
kewibawaan dan kejujuran. Syarat lainnya adalah
mengerti kebutuhan masyarakat (16,8 persen) serta
memiliki visi dan konsep yang jelas (13,3 persen).
Persyaratan itu, bisa jadi, muncul karena kondisi
negara dan bangsa dewasa ini yang tidak menggembirakan
hampir di segala sektor kehidupan. Desentralisasi
dengan otonomi daerah cenderung berlangsung dalam
semangat yang mengabaikan kesatuan nasional.
Pembentukan provinsi dan kabupaten baru lebih banyak
terjadi sekadar untuk memuaskan keinginan mendapatkan
kekuasaan dan penguasaan atas sumber daya daerah
ketimbang buat membangun wilayah. Semangat primordial
pun sering "merusak" pluralisme yang menjadi syarat
mutlak demokrasi.
Untuk bidang lain, data Badan Pusat Statistik Juli
2007 menyebutkan, 37,17 juta orang atau sekitar 16,58
persen dari total penduduk Indonesia hidup di bawah
garis kemiskinan. Pengangguran tak kunjung berkurang,
masih sekitar 10 juta orang. Lapangan kerja baru tidak
berkembang karena investasi bagaikan jalan di tempat.
Kerusakan gedung sekolah dasar di berbagai daerah yang
hingga kini begitu berat untuk direhabilitasi adalah
salah satu indikator kemunduran bidang pendidikan.
Bidang kesehatan setali tiga uang dengan itu. Wabah
penyakit dan angka korbannya bercerita banyak tentang
ini. Prestasi Indonesia di bidang olahraga untuk
kawasan Asia Tenggara saja "tak ada apa-apanya"
seperti ditunjukkan hasil SEA Games yang lalu.
Ketertiban sosial dan keamanan sering meniupkan rasa
cemas ke tengah masyarakat.
Pemberantasan korupsi dan penegakan hukum pada umumnya
tetap berada dalam kondisi yang tidak menjanjikan akan
datangnya era yang lebih baik.
Problem kepemimpinan
Sayangnya, kalangan LSM yang biasa bergelut dengan
masalah-masalah sosial, politik, hukum dan sebagainya
itu kurang tertarik untuk masuk ke jantung sistem
politik. Mereka, 74,6 persen responden, menyatakan
tidak tertarik masuk ke dalam partai politik.
Meski demikian, ketika para aktivis LSM itu diminta
untuk menyebut siapakah di antara mereka yang layak
tampil untuk memimpin bangsa ini, tersebutlah beberapa
nama, di antaranya: Chalid Muhammad, Direktur
Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi);
Anies Baswedan, Direktur Eksekutif The Indonesian
Institute yang juga Rektor Universitas Paramadina;
Bambang Widjojanto, praktisi hukum dan konsultan
Partnership for Governance Reform; Indra Jaya Piliang,
Peneliti CSIS sekaligus Board of Advisor The
Indonesian Institute serta Binny Buchori, Direktur
Eksekutif Perkumpulan Prakarsa, Center for Welfare
Studies. Oleh sejumlah aktivis LSM yang menjadi
responden, mereka termasuk sosok yang cocok untuk
menjadi pemimpin nasional karena dinilai memenuhi
ketiga syarat itu tadi.
Akan tetapi, apakah memang persoalan Indonesia
sekarang adalah mencari pemimpin muda yang fresh
(segar), yang dapat menggantikan orangtua yang dililit
cacat begitu banyak? Diskusi tentang ini dapat
berlangsung panjang lebar. Hanya saja, agaknya masalah
kepemimpinan di Indonesia bukan sekadar muda atau tua.
Pikiran seperti itu terasa bagaikan menggampangkan
masalah. Persoalan leader dan leadership di Indonesia
adalah tak ada orang yang punya ide atau konsep
tentang Indonesia hari ini dan esok. Umur tidak
menjadi urusan dalam hal ini. Dikotomi orang lama atau
orang baru tampaknya tidak relevan.
Masalah Indonesia adalah tidak ada seorang tokoh pun
yang dapat membawa bangsa ini berjalan dalam cita-cita
bersama--ini artinya ideologi--dalam pluralisme yang
berkecenderungan mempertajam perbedaan satu sama lain,
pada masa situasi ekonomi yang sulit, berbarengan
dengan perilaku sosial yang buruk.
Soekarno punya ideologi serta karisma, dan piawai
mengomunikasikan gagasannya kepada rakyat. Karena itu,
dia dapat mempersatukan orang yang berbeda-beda (walau
diam-diam tetap dalam perbedaannya) untuk ikut di
belakang dia. Kendati keadaan ekonomi buruk, orang
ikut apa yang dikatakan Soekarno, mengganyang
imperialisme dan neokolonialisme ketika hiperinflasi
membuat kehidupan begitu sulit, misalnya.
Soeharto punya kekuatan (militer, Golkar, dan juga
pengusaha) yang menggiring orang masuk wadah persatuan
dan kesatuan nasional (walau diam-diam tetap dalam
perbedaannya) dan membawa semua orang berjalan dengan
"ideologi" pembangunan yang harus berlangsung dalam
stabilitas politik dan ekonomi. Satu-satunya ideologi
adalah Pancasila. Semuanya seragam: monolitik. UUD 45
adalah landasan konstitusional pembangunan, walau juga
dilanggar, termasuk dalam hal membungkamkan semua
pengkritik.
Setelah Soeharto, semua pemimpin negeri ini habis
"dikeroyok". MPR menolak pertanggungjawaban BJ
Habibie. Abdurrahman Wahid dijatuhkan sendiri oleh
Poros Tengah yang mendudukkan dia di kursi
kepresidenan. Penggantinya, Megawati Soekarnoputri,
bermandikan kritik. Presiden yang sekarang, Susilo
Bambang Yudhoyono, pun "babak belur" didera pernyataan
tidak puas. Kini, begitu banyak orang merasa "saya
tahu, saya bisa, dan--mungkin juga--saya layak".
Padahal, pada saat dia duduk di posisi yang sama, bisa
jadi dia tidak memiliki ide yang dapat ditawarkan
untuk mempersatukan Indonesia. Peristiwa yang sama
dapat terulang: dia "dikeroyok".
Para tokoh muda yang muncul saat ini memang pintar dan
well-educated. Tapi untuk menjadi presiden atau
pemimpin bangsa tidaklah sesederhana yang dibayangkan.
"Modal" pendidikan yang tinggi tidaklah cukup. Yang
harus dia miliki adalah konsep tentang Indonesia
seperti apa yang dia kehendaki.
Kepada rakyat Amerika Serikat yang sudah begitu maju,
seorang calon presiden selalu harus dapat merumuskan
Amerika Serikat seperti apa yang dia inginkan. Itu
yang akan menjadi dasar orang mendukung dan
memilihnya. Di Indonesia? Tampaknya, tidak mudah
menemukan manusia yang sanggup merumuskan itu
sekarang, tidak dari mereka yang tua, tidak dari
mereka yang merasa belum tua, dan juga tidak dari
mereka yang memang masih muda.
(BE Julianery/ Litbang Kompas)
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---