Kamis, 24 April 2008 di Padang Ekpres OnLine Membina Iman dan Kecerdasan dalam Era Pembangunan Oleh : H Effendy Koesnar (Dt Bagindo Said), Penulis, mantan Wapimred SKH SEMANAGAT, Sekarang Dosen Luar Biasa Fak.Dakwah IAIN. SKH SEMANGAT yang lahir 17 April 1965, dalam suasana sulit, pasca pergolakan daerah PRRI. PKI merasa mendapat kemenangan, dengan anggapannya PRRI bersama pengikutnya berada di pihak yang kalah. Namun mereka melupakan, masih ada pendiri republik ini yang mencatat di tahun 1948 di Madiun PKI menusuk RI dari belakang. Pada saat itu RI mempertahankan kemerdekaan melawan Belanda. Pencatat itulah yang berusaha menolak keberadaan PKI di Bumi Indonesia, termasuk Suratkabar Haria SEMANGAT. Kehadiran pada hari lahirnya, dengan nama pertamanya Tri Ubaya Cakti (baca Tri Ubaya Sakti), tak terlepas dari keberadaan SKH Aman Makmur, yang disenangi masyarakat daerah ini. Empat orang pemuda Minang, Moh, Darmalis (Alm), Marthias Doeski Pandoe. Syaifullah Alimin dan Moh. Hamidi, yang selama pergolakan daerah, PRRI berada di Jakarta berusaha pulang kampung. Keempatnya berusaha merangkul beberapa orang mahasiswa dan pemuda mendirikan media massa cetak bernama Surat Kabar Harian Aman Makmur. MDP Pandoe mencatatkan, edisi pertamanya tanggal 15 Februari1963. Beberapa orang Mahasiswa yang polos dunia jurnalistik diajak MDP Pandoe dan kawan-kawan menjadi wartawan. Antaranya Zuiyen Rais (Mantan Walikota Padang), Radjalis Kamil (Mantan Humas PT Semen Padang). Keduanya mahasiswa IKIP Padang diikuti oleh Boneh St. Mantari (Alm), Chairul Harun (Alm), Marwan Zen, MS Sukma Jaya, Pasni Sata, Syafri Segeh, serta beberapa orang pemuda lainnya, sebagai reporter kota Padang dan koresponden. Membangkitkan harga diri masyarakat Harga diri masyarakat Sumatera Barat waktu itu betul-betul terpuruk, serba ketakutan. Bertemu dengan seseorang berpakaian loreng saja masyarakat jongkok-jongkoi. Cemas kalau dihardik, apalagi ditampar, walau tanpa tentu ujung pangkalnya. Paling-paling karena tidak hafal kepanjangan USDEK. Adakalanya si penanya sendiri tak tahu kelengkapan dari U, yang berarti Undang Undang Dasar 45. Malah dengan kemenakan sendiri yang pernah menjadi OPR (Organisasi Perlawanan Rakyat) masyarakat juga cemas. SKH Aman Makmur menyadari, keterpurukan itu harus dibangkitkan. Berbeda dengan SKH Suara Persatuan (Pengganti Harian Panarangan) yang mempertakut rakyat, kehadiran SKH Aman Makmur berusaha membangkitkan rasa rendah diri masyarakat. SKH Aman Makmur dicetak pada Percetakan PENDAMAG, milik HALUAN yang dikuasai PEPELRADA (Penguasa Pelaksana Dwikora Daerah) KODAM III. M Darmalis dan MDP Pandoe yang telah lama bergelimang di dunia pers, memanfaatkan media massa sebagai sosial kontrol yang konstruktif. Penghidangan berita dan pendapat umum yang aktual dan faktual di halaman SKH Aman Makmur melegakan hati masyarakat. Ditambah dengan dukungan Gubernur Harun Zain sebagai Kepala Daerah Provinsi Sumatera Barat , SKH Aman Makmur semakin yakin dengan kehadirannya di tengah masyarakat Sumbar, Riau dan Jambi. Sehingga tirasnya jauh melebihi SKH Panarangan. MDP Pandoe dalam bukunya, "A Nan Takana" (Apa yang Teringat) menuliskan, Pernah mencapai tiras 27.000 lembar/hari, dibanding Res Publika 8.000 dan Panarangan yang hanya 3.500 lembar. Suatu angka yang lumayan memuaskan, sesuai keadaan waktu itu. Selain SKH Aman Makmur, dan SKH Panarangan, (kemudian beralih nama menjadi SKH Suara Persatuan) milik PKI, SKH Res Publika milik PNI, juga ada SKH Fakta Minggu dan SKH Duta Masyarakat milik Nahdatul Ulama (NU). Namun nyaris tak berdaya mengkounter pemberitaan milik PKI itu. Kelabakan juga SKH Suara Persatuan menghadapi kehadiran SKH Aman Makmur, sehingga berbagai usaha dilakukannya untuk menjatuhkan Aman Makmur. Terakhir secara nasional, beberapa suratkabar di Jakarta dan kota-kota lain, tercatat sebagai pengikut Badan Pendukung Sukarnoisme (BPS) dengan Manifest Kebudayaan (MANIKEBU) disponsori Adam Malik. Media Massa pendukung BPS, memuat tulisan Yuti Melik berjudul Pendukung Soekarnoisme. PKI yang dapat angin dari Pemerintah waktu itu menilai, BPS dengan MANIKEBU bukannya mendukung dan berpihak kepada pemerintahan Sukarno, tetapi berusaha merongrong secara tak langsung. Informasi yang diperdapat PKI dijadikan alasan mengusulkan kepada Pemerintah, dalam hal ini Deperteman Penerangan, supaya media massa cetak simpatisan MANIKEBU dengan BPS nya dan pemuat tulisan Pendukung Sukarnoismen tulisan Yuti Melik dicabut Surat Izin Terbitnya. Pencabutan SIT tersebut diberlakukan terhadap beberapa penerbit di Indonesia terhitung Maret 1965. Termasuk juga Surat Kabar Aman Makmur yang disenangi masyarakat Sumbar, Riau dan Jambi. Akibatnya terjadilah pengangguran para wartawan Aman Makmur. Namun gaji serta honoraium yang biasa diterima tetap dibayarkan penuh. Menjadi perhatian pihak Kodam III/17 Agustus. Terhentinya penerbitan SKH Aman Makmur juga menjadikan kerisauan pihak Komando yang menempatkan media yang satu itu menjadi mitra Kodam dalam pembinaan teritorial. Beberapa perwira Kodam antaranya Iman Soeparto, SH dan Wardjono berusaha menjadikan wartawan yang menganggur itu dapat bekerja kembali. Pengangguran menimpa para wartawan, maka pekerjaan yang akan disediakan tentunya pkerjaan yang biasa dilakukan karyawan penerbit dan wartawan. Sebagai surat kabar daerah yang layak menjadi mitra komando seperti Kodam V/Jaya menjadikan Berita Buana sebagai media Kodam dengan nama Berita Yudha. Kodam VI/Siliwangi menjadikan SKH Pikiran Rakyat sebagai mitra Kodam. Kodam VII/Diponegoro menjadikan SKH Suara Merdeka dengan nama Kartika, Ka PUSPEN HANKAM Brigjen H Soegandhi menerbitkan surat kabar bernama SKH ANGKATAN BERSENJATA. Selayaknya pulalah Kodam III/17 Agustus menjadikan karyawan SKH Aman Makmur dimanfaatkan menerbitkan media massa pembawa missi Kodam dan Pemda Sumbar. Namun melalui jalan panjang sesuai ketentuan yang berlaku, UU Pokok Pers No. 11/1966. Pihak komando dalam hal ini Pendam III/17 Agustus merasa kelahiran Kodam III/17 Agustus, tanggal 17 April 1959 layak diperingati. Beberapa hari menjelang 17 April 1965, Kapten Wardjono selaku Ka Pendam III/17 Agustus mengusulkan kepada Panglima Panoedjoe untuk menerbitkan Edisi Khusus, peingatan HUT-VI Kodam III/17 Agustus, bernama "Tri Ubaya Cakti". Sejalan dengan pengusulan edisi khusus tersebut Kapten Wardjono mengusulkan karyawan SKH Aman Makmur sebagai tenaga pengelolanya. (bersambung) --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet. - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting. - Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi. - Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku. =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
