Minggu, 27 Apr 2008, ( Jawa Pos )

DurianKetan 

              Cerpen Zelfeni Wimra

Palanta yang terkenal dengan ketan durian itu terletak di dekat terowongan 
kereta api di sebelah timur kota tempat saya bekerja. Sejak diterima bekerja di 
kota ini delapan tahun lalu, palanta itulah yang paling sering saya kunjungi 
bila sedang ingin bersantai. 

Selalu ada durian di sana, sekalipun tidak sedang musim. Kalau tak sempat pagi 
hari, saya ke sana malam hari sepulang bekerja. Bukan hanya karena saya gemar 
sekali dengan ketan durian. Bukan. Tetapi, kebiasaan ini sesungguhnya karena 
pengaruh bapak saya. 

Selalu bapak berpesan: "Kalau kau tak bisa pulang, biar Bapak yang ke sana. 
Tidak usah kirimi ongkos. Selain rindu kamu, Bapak rindu ketan durian di 
palanta bawah jembatan itu." 

Kata bapak pula, menikmati ketan goreng sembari menyeruput segelas teh pahit 
membawa ingatannya pada bulan-bulan awal setelah PRRI dikalahkan, sekitar tahun 
1961. 

Bapak kerap terkenang, dirinya sudah dianggap gugur oleh orang kampungnya. Pada 
pertempuran dengan tentara pusat di Kamang, pasukan bapak terdesak ke hutan 
yang berbatasan dengan Limapuluh Kota dan bapak dikabarkan tertembak. Padahal 
bapak berhasil menyelamatkan diri dengan lima orang temannya ke pedalaman 
Suliki, bergerilya sepanjang Bukitbarisan dan terdampar di Tapanuli Selatan. 

Bapak dan teman-temannya menyamar jadi penduduk biasa dan mengubur senjata 
mereka di dekat hulu sungai Batang Maek. Bapak dapat kabar sudah ada himbauan 
untuk menghentikan perlawanan. Tapi, ternyata di Tapanuli masih ada perlawanan. 
Kenalan bapak di sana menunjukkan tempat penyimpanan senjata. Pertempuran pun 
tak terelakkan. 

Tiga teman bapak tewas pada pertempuran itu. Hingga akhirnya, bendera putih 
benar-benar dikibarkan. Bapak ditarik lagi ke daerah asalnya, sebuah nagari di 
pelosok Limapuluh Kota. Kepada bapak diberi pilihan, bergabung dengan tentara 
nasional, jadi masyarakat sipil biasa, atau kembali melanjutkan sekolah ke 
tingkat SLTA. Setahun kemudian bapak memilih sekolah di Bukittinggi, tapi tidak 
sampai tamat, hanya sekitar dua setengah tahun. 

Keadaan kembali tidak aman. Ini menjelang tahun 1965. Keluarga bapak terancam 
dengan tuduhan "terlibat". Bapak terpaksa pulang ke kampungnya. Sembari 
menemani kedua orang tuanya dalam kondisi yang sewaktu-waktu mencekam itu, 
bapak membuka kedai kopi dengan menu kebanggaannya: ketan durian. 

Setelah itu bapak menikah. Lahirlah kedua kakak seibu saya. Bapak menikah lagi. 
Lahirlah keempat kakak kandung saya, kemudian saya, di tahun 1974. Karena 
beristri dua, bapak menutup kedai ketan duriannya. Ia beralih profesi menjadi 
toke kerbau hingga sekarang.

Begitulah cerita yang sering diulang-ulang bapak. Makanya, setiap kali 
berpesan, palanta ketan durian di bawah jembatan dekat terowongan kereta api 
selalu disebut-sebutnya. Katanya, bapak merasa tenteram duduk di palanta itu. 
Pernah tersebut oleh bapak, kalau selama perang dulu, bapak pernah menetap di 
pingiran banda bakali yang tidak jauh dari terowongan itu. Tapi, bapak tidak 
mau menceritakan seluruhnya. Mungkin itu menjadi rahasia paling indah bapak di 
masa mudanya dulu. Saya pun tidak mau membahasnya lebih jauh. 

Bagi saya, di usianya yang semakin ke ujung, biarlah bapak menuntaskan gejolak 
masa tuanya dengan kenangan-kenangan masa lalu. Ini menjadi keinginan saya. 
Makanya, setiap kali ia mengunjungi saya, selalu saya sempatkan mengantar dia 
berjalan-jalan keliling kota pakai sepeda motor. Kadang-kadang saya ajak bapak 
ke kantor gunernur. Kadang ke kantor DPRD. Ke kantor wali kota juga pernah.

Dalam dugaan saya, bapak mungkin saja merahasiakan sesuatu yang sangat berarti 
dalam perjalanan hidupnya. Ini terlihat dari cara bapak yang kerap tercenung 
sendiri. Bisa jadi bapak punya cita-cita dalam urusan kepemimpinan di negeri 
ini, tetapi tidak kesampaian. Sebab, dari cerita-ceritanya, ia pernah kenalan 
dengan Rosihan, seorang tukang tulis berita yang selalu jadi teman diskusi 
bapak dalam banyak hal. Beliau juga tinggal di sekitar banda bakali dekat 
terowongan itu. Bapak pernah bercerita, sahabatnya itu pernah bertemu Tan 
Malaka menyamar jadi kusir bendi dari Pauh. Padahal sepengetahuan orang banyak 
Tan Malaka waktu itu sedang di luar negeri. Sebagian lagi ada pula yang 
mengatakan Tan Malaka sudah dibunuh di Jawa Timur.

Karena itulah saya menduga, barangkali ada cita-cita bapak yang tidak 
kesampaian. Hanya menjadi angan-angan. Biarlah, saya, anaknya yang hanya 
sekolah sampai tamat SMA dan satu-satunya yang bekerja di kota, mengantar bapak 
mengunjungi tempat-tempat yang dulu permah membuat hidupnya disemangati oleh 
cita-cita.

Sesungguhnya, tidak banyak yang dapat saya lakukan untuk menyenangkan pikiran 
bapak setelah ibu tiada. Apalagi akhir-akhir ini, menjelang pilkada, jam dinas 
saya bertambah padat. Kalau bapak berkunjung, saya paling hanya bisa 
mengantarnya ke palanta ketan durian. Tidak bisa lagi mengantarnya 
keliling-keliling kota. Saya sesungguhnya sangat mau mengantar bapak ke mana 
saja ia mau pergi di kota ini. Bahkan, pada kunjungannya yang terakhir, ia 
meminta saya mencari informasi tentang sahabatnya yang tukang tulis berita itu. 
Bapak rindu berbagi cerita dengannya.

Sungguh sayang, jam dinas saya makin padat saja. Seandainya bapak berkunjung 
lagi, saya paling bisa mengantarnya ke palanta ketan durian itu. Yah, sembari 
mendengar petuah beliau mengenai saya yang seharusnya segera menikah. 

Suasana di palanta ketan durian itu, apalagi malam hari, bagi saya sendiri 
memang sangat berbeda dari tempat-tempat lain. Di sana saya merasa dapat 
semangat untuk berbagi cerita dengan bapak. Kalau di rumah, itu tidak pernah 
terjadi. Banyak rahasia yang kami bongkar di palanta itu. Banyak pula 
rencana-rencana yang terungkap. Mungkin tidak hanya karena aroma ketan 
duriannya, tetapi pemandangan malam hari di sana sungguh unik kesannya. 

 Dari cerita yang saya dengar, sebelum ada air mancur, pemandangan dari bawah 
jembatan ini dulu sangat terkenal dengan tikungannya. Ada yang menyebut dengan 
tikungan maut, sebab di sini sering terjadi kecelakaan lalu lintas yang 
berakibat kematian.

 Tikungan menjelang jembatan itu tidak begitu tajam. Membujur dari arah timur 
ke barat yang sepanjang hari digunakan tidak hanya oleh masyarakat sekitar 
jembatan saja. Pengguna jalan raya yang datang dari luar kota sering pula 
mengambil jalur ini karena ujungnya bertemu dengan jalan negara penghubung 
antarkota (sekarang disebut dengan jalan by pass). Dari arah selatan ke utara 
ada lintasan kereta api barang pengangkut batu bara yang sudah ada sejak zaman 
penjajahan Belanda. Pelintasan ini menyilang ujung jembatan. 

Selain untuk keindahan tata kota, barangkali, karena sering menelan korban, 
pemerintah kota merenovasi jembatan dari bentuk semula menjadi bentuk sekarang. 
Tikungan maut itu ditimbun setinggi lebih kurang sepuluh meter, sehingga rel 
kereta api berada di bawah jembatan dengan sebuah terowongan yang oleh banyak 
penduduk kota dianggap sudut kota paling cantik.

Terutama dari sore hingga malam hari, terowongan itu akan ramai oleh 
orang-orang yang ingin bersantai melihat arus sungai yang dikenal dengan 
sebutan Banda Bakali. Entah dari mana saja orang berdatangan. Tempat ini jadi 
sedemikian digemari. Mungkin karena sejak tambang batu bara ditutup, jalur 
kereta api tidak digunakan lagi. Sekarang, kereta api barang tidak beroperasi 
lagi, hanya kereta api wisata dan tidak melintas di sana. 

Sebuah mushala yang dulu kecil sekarang diperbesar menjadi masjid (belum lama 
ini diresmikan Bapak Wali Kota). Keramaian tidak hanya menjelang magrib. Pada 
jam-jam sesudah shalat subuh, apalagi hari Minggu, terowongan di bawah jembatan 
itu memutih oleh ibu-ibu yang memakai mukena. Para ibu lebih banyak memilih 
pulang ke rumah setelah shalat subuh, tidak bagi remaja yang setiap Minggu pagi 
mengadakan didikan subuh. Tempat ini menjadi pilihan tempat bercengkerama. 
Akibatnya, ada yang mengumbar lelucon, mengubah "tikungan maut" menjadi 
"tikungan jodoh". 

Diperindah lagi ketika di kedua sisi tikungan dibuat tugu pahlawan yang 
dikelilingi air mancur. Kabarnya, tidak lama lagi salah satu tugu pahlawan akan 
diganti dengan replika Siti Nurbaya sebagai simbol kebanggaan kota menuju tahun 
wisata. Karena jalur ini makin padat, akan dibangun jembatan satu lagi agar 
arus lalu lintas teratur menjadi dua arah.

***

 Benar dugaan saya. Bapak berkunjung lagi di saat jam dinas saya bertambah 
padat. Ya, apa boleh buat. Saya hanya bisa mengantarnya ke palanta langganannya 
sambil memandangi arus Banda Bakali yang membesar lantaran hujan deras tak 
henti-henti mengguyur kota. Beberapa tempat sudah direndam banjir.

"Sayang sekali, kita sudah tidak punya durian. Sudah Bapak tebang dan batangnya 
dijadikan papan untuk lantai rumah. Mahoni dan surian yang tumbuh di sekitar 
pohon durian itu membuat tupai-tupai mudah melompat dan memakan buahnya. 
Sebelum matang, buah durian itu sudah berlubang. Bapak sudah memburunya dengan 
senapan angin. Tapi, tidak mungkin pula Bapak menjaganya seharian. Siapa pula 
yang akan menggembalakan kerbau," kisah bapak. Begitulah kalau ia sudah 
bercerita. Ujung pangkalnya kadang-kadang tidak sama.

"Kenapa tidak surian dan mahoni itu saja yang Bapak tebang untuk dijadikan 
papan?" Saya menimpali, agar ceritanya semakin menggebu. Saya berharap 
kunjungan kami ke palanta kali itu merupakan kunjungan paling berkesan bagi 
bapak. Ada sebuah rahasia yang belum boleh bapak ketahui. Saya belum berani 
memberitahukannya. 

"Surian dan mahoni masih masih kecil. Ada juga yang sudah besar, tapi kata 
orang kecamatan, sekarang tidak boleh menebang pohon sembarangan. Harus ada 
izin. Ada beberapa pohon yang dilindungi pemerintah. Kalau tidak salah, durian 
tidak termasuk yang dilindungi. Ketimbang repot-repot, lebih baik durian itu 
saja yang Bapak tebang." Bapak menyeruput teh pahitnya. 

Berikutnya kepada pemilik palanta, seorang ibu sebaya dengannya, bapak kembali 
mengumbar cerita tentang masa-masa sulit sebelum dan sesudah perang saudara 
dulu. Selalu tentang kesulitan-kesulitan. Tentang sembako yang mahal dan yang 
paling sering tentang kepiluan beberapa perempuan yang harus melahirkan anak 
tanpa bapak. Seakan menekankan bahwa perang di mana-mana selalu begitu, 
meninggalkan bekas yang menyakitkan. Sekalipun ada yang berprinsip bahwa untuk 
damai orang harus berperang dulu. 

Kata bapak, sekalipun sekarang tidak berperang dengan peluru lagi, tetapi 
lihatlah, kerumitan hidup masih juga menyisakan keprihatinan. Di daerah-daerah 
pelosok, kerumitan itu lebih nyata. Misalnya tentang anak-anak yang secara 
halus telah diracun dengan makanan kaleng. 

"Dibanding anak-anak sekarang, sesungguhnya kami dulu hidup dalam kelaparan. 
Pergi sekolah tidak ada bawa uang belanja. Sehingga kalau lonceng tanda pulang 
berkeleneng yang terbayang adalah periuk nasi induk di rumah. Kami bergegas 
pulang, ganti pakaian, dan langsung ambil piring untuk makan siang.

"Yang membuat kami terlambat pulang, paling kalau di jalan bertemu jambu 
perawas yang sedang berbuah. Kalau batangnya tinggi, akan kami lempari dengan 
batu. Kalau batangnya bisa kami panjat, kami akan berebut memanjat. Tak jarang 
ini menimbulkan perselisihan sampai berkelahi. Bisa juga, ada ambacang atau 
mangga yang sedang berbuah. Kami kelilingi pangkal batangnya, kalau-kalau ada 
buahnya yang jatuh.

"Penyebab kami terlambat pulang yang lain, misalnya, kalau sedang musim main 
peda dama. Waktu istirahat di sekolah biasanya tidak pernah cukup untuk 
menuntaskan permainan kami. Sehingga ketika pulang, permainan itu dituntaskan 
dulu. 

"Sekarang tidak begitu. Anak yang masih dalam gendongan saja sudah diberi susu 
kaleng. Apalagi yang sudah sekolah. Harga-harga kebutuhan menanjak, tetapi 
ibu-ibu seperti tidak bisa keluar dari biaya kebutuhan membesarkan anak 
merekaâEURO|"

Banyak lagi bualan bapak yang tak semuanya bisa saya ceritakan ulang. Sebab 
perpisahan saya dengan bapak sebelum ia kembali ke kampung meninggalkan kesan 
yang tidak membahagiakan.

Pagi itu, saat saya antar ke terminal bus antarkota, bapak tidak berbicara 
sepatah kata pun pada saya. Saya perhatikan keriput bibirnya membentuk garis 
cembung. Ini karena semalam menjelang bapak pulang, saya tak bisa mengantarnya 
ke palanta ketan durian itu lagi.

Bukan tidak bisa. Tepatnya, tidak mau. Saya pasti tidak akan kuat menghadapi 
respons bapak kalau ia tahu palanta itu sudah tidak ada lagi. Siang harinya, 
satuan saya yang diberi wewenang sebagai pelayan ketertiban kota oleh pemkot 
diperintahkan untuk menertibkan palanta ketan durian dan beberapa lapak penjual 
buah-buahan di sekitar jembatan itu. Sebab, di sana akan dibangun sebuah 
jembatan lagi agar jalur lalu lintas tidak mudah macet. Ditambah salah satu 
tugu pahlawan akan diganti dengan replika Siti Nurbaya sebagai ikon wisata. 

Wajar bapak kecewa dan marah pada saya. Alasan saya tidak bisa mengantarnya ke 
palanta ketan durian itu terlalu mengada-ada. Saya katakan, pedagangnya pulang 
kampung karena takut mendengar isu gempa berpotensi tsunami.

Di atas bus yang akan membawanya pulang ke kampung, baru bapak berbicara.  

"Pangkatmu di satuan penjaga wali kota itu kabarnya disegani, tapi bagi Bapak, 
tidak ada maknanya sama sekali," ucap bapak sembari mengeluarkan koran yang 
memuat berita penertiban PKL itu dari tasnya dan melemparkannya pada saya lewat 
jendela bus. Sudut bibirnya seperti ditarik ke samping dan matanya 
mengedip-kedip.

"Ataukah kau menyesal terlahir dari seorang pemberontak?!" suara bapak 
tercekik. Jakunnya menggondok seperti tertelan biji durian. ***

                                                        Payakumbuh, 2008

       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke