FYI, semoga bisa mengingatkan kita untuk selalu bertawadhu'.
Mohon maaf kalau kurang berkenan.

TAWADHU' DALAM BERPAKAIAN
Satu contoh ketawadhu'an yang paling melekat dalam kehidupan kita,
mulailah dalam masalah pakaian. Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah
SAW dan berkata, "Wahai Rasulullah, saya ingin bajuku bagusjuga,
sandalku bagus. Apakah hal ini termasuk kesombongan? " Nabi SAW
menjawab, "Tidak, karena sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai
keindahan". (HR. Muslim dan At-Tirmidzi)

Sebagian orang beranggapan bahwa tawadhu' dalam berpakaian berarti ia
memakai pakaian yang usang. Anda jangan terpengaruh dengan anggapan
orang bahwa orang beragama itu tidak mempunyai selera dalam berpakaian,
dan tidak mengikuti mode. Ia akan tetap berpakaian dengan baik, rapi,
dan bersih. Itu yang harus dilakuka. Teapi jangan takabur!
Sebaliknya, katakanlah kepada orang bahwa orang-orang yang taat beragama
itu adalah orang yang paling baik, termasuk dalam hal berpakaian.

Jangan lakukan hal itu!

Nabi SAW bersabda, "Diantara orang yang berjalan berlenggak-lenggok
dalam pakaiannya, kemudian Allah menenggelamkannya ke dalam bumi, dan ia
akan berteriak-teriak sampai hari kiamat." (HR. Muslim dan Ahmad)

Tidaklah Anda takut dibenamkan oleh Allah keperut bumi?

Bersikaplah tawadhu' kepada Allah dan ingatlah: Barangsiapa yang
bersikap tawadhu' kepada Allah pasti Allah meninggikan derajatnya.

Pakaian iman bagaimanakah yang Anda kehendaki?

Nabi SAW bersabda, "Barangsiapa yang menghindari pakaian (yang
disukainya) semata-mata karena tawadhu' kepada Allah, padahal ia mampu
untuk mendapatkannya, maka pada hari kiamat Allah akan memanggilnya di
atas seluruh kepala makhluk sampai Allah memelihkannya pakaian iman
manakah yang ia hendak ia pakai." (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

Pahamilah, bahwa hadits tersebut tidak menimbulkan kontradiksi pada
sebagian yang lain sebagaimana yang Anda duga. Anda lebih mengetahui
diri Anda sendiri dibandingkan orang lain. Anda dapat juga memakai
pakaian yang sederhana, harganya tapi indah. Niatkanlah tawadhu' kepada
Allah.

Pahamilah potongan kalimat hadits tersebut, "padahal ia mampu untuk
mendapatkannya. "

TAWADHU' KEPADA PEMBANTU.
Nabi SAW bersabda: Allah menjadikan saudara-saudaramu dibawah duri
tanganmu; maka berilah makan mereka apa yang engkau makan, berilah
pakaian dari apa yang engkau pakai, pekerjakanlah mereka sesuai dengan
kemampuannya. Jika engkau memperkerjakannya di luar kemampuannya, maka
bantulah mereka." (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad)

Nabi SAW juga bersabda, "Jika seorang pembantu datang kepada salah satu
dari kalian sambil membawa makanan maka hendaklah ia duduk bersamanya,
Jika ia tidak duduk bersamanya maka hendaklah ia memberikan makanan
padanya sesuap ataupun dua suapan." 

Hadits serupa dengan lafal yang sedikit berbeda diriwayatkan oleh
Al-Bukhari (Kitab Al-`Itqu, 2370): "Jika seorang diantara kalian
didatangi oleh pembantunya sambil membawa makanan, kemudian ia tidak
menyuruh si pembantu tadi untuk duduk bersamanya (menikmati makanan
tersebut), hendaklah ia memberinya makanan barang satu atau dua suap
sebagai gantinya."

Saya dengar Anda bergumam, "Hal itu sulit sekali." Tidakkah hati Anda
tersentuh dengan kalimat hadits sebelumnya: "saudara kamu"?

Saya amat khawatir Anda menganggap mereka sebagai budak, bukan saudara.

Fakta berbicara : 
Seorang isteri mendatangi pembantunya seraya berkata, "Kita akan
membersihkan rumah ini dari pangkal sampai ujung." Seketika itu,
pembantu tersebut membersihkannya sepanjang hari sampai ia mengalami
keletihan yang luar biasa. Kemudian ia diserahi pekerjaan lainnya yang
ia tidak sanggup lagi mengerjakannya.

Memang ada sebagian tuan rumah yang tidak memberikan toleransi sedikit
pun. Ketika pembantunya melakukan kesalahan dalam pekerjaannya, nyonya
tadi mendampratnya dengan segala sumpah serapahnya.

Demi Allah, Anda jangan melakukan hal itu. Mereka adalah saudara Anda,
yang Allah menjadikan mereka di bawah duri tangan Anda.

"Bersikaplah tawadhu' terhadap pembantumu, ikhlas karena Allah."

TAWADHU' DALAM MEMBANGUN RUMAH
Ali bin Abi Thalib ra., berkata, "Fathimah, putri Nabi SAW melengkapi
isi rumahnya untukku. Aku memasuki rumah tersebut bersamanya. Demi
Allah, seharian penuh tidak ada yang disuguhkan padaku kecuali kulit
domba yang terbentang diatas lantai dan bantal berisikan serabut."

Kami menceritakan hal ini, jangan sampai ditiru ataupun dijadikan
sebagai patokan yang paten. Sebenarnya rumah Ali ra., adalah potret
rumah ideal yang penuh dengan limpahan rezeki dari Allah SWT. Meski
kisah ini begitu indah, jangan sampai Anda terlalu hemat. Maksud kami
menyampaikan kisah ini, supaya Anda melengkapi rumah sesuai dengan
kebutuhan.

Fakta berbicara: 
Sering terjadi kehancuran rumah tangga karena masing-masing pasangan
suami istri tersebut membandingkan keluarga satu dengan keluarga yang
lainnya. Saya harap, Anda tidak mengambil kesimpulan perkataan tersebut
secara serampangan! Lengkapilah rumah Anda sebagaimana yang Anda sukai
dan bentuklah rumah Anda sesuai dengan selera Anda juga, tetapi jangan
berlebih-lebihan. Bersikaplah tawadhu' dalam membangun rumah.

TAWADHU' TERHADAP PARA KERABAT, TERUTAMA YANG MISKIN Bersikaplah
tawadhu' kepada para kerabat, terutama yang miskin.
Pikirkanlah mulai sekarang dan berbuat baiklah serta tanyailah mereka.
Kunjungilah uga, dan jangan lupa membantu mereka.

Anda jangan berbuat baik kepada para kerabat yang kaya saja. Tidakkah
Anda takut kepada Allah? Apakah Anda enggan berkunjung kepada kerabatmu
sebab mereka miskin? Dimanakah akhlak tawadhu' yang telah Anda pelejari?

TAWADHU' TERHADAP ORANG DI BAWAH ANDA
Bersikaplah tawadhu' terhadap orang yang tingkatannya di bawah Anda.
Anda jangan lihat manusia dengan pandangan yang sinis. Sekali-kali Anda
jangan mengatakan, "Saya anak si Fulan dan si Fulan."

Jangan terlalu bangga dengan ilmu, maupun dengan pikiran-pikiran Anda
yang brilian. Bersikaplah tawadhu' karena Allah, sebab jika tidak...

TAWADHU' TERHADAP GURU
Bersikaplah tawadhu' kepada guru Anda. Janganlah Anda merendahkannya
palagi mencacinya. Bercita-citalah meniru jejak Ustadz Fulan.

Belajarlah tawadhu' dari para anak khalifah. Mereka membawakan sepatu
gurunya.

Saya dengar Anda bergumam, "Anda tidak tahu tentang hal ihwal guru
kami." Wahai Saudaraku, bertawadhu'lah kepada Allah terlebih dahulu,
kemudian berinteraksilah kepada-Nya secara vertikal. Niatkanlah secara
tulus.

TAWADHU TERHADAP ORANG YANG ANDA AJAR.
Yang kami maksud disini adalah berdakwah di jalan Allah. Maka,
barangsiapa yang berdakwah di jalan Allah hendaklah bersikap tawadhu'.
Wahai para dai, jangan Anda menertawakan apalagi mengejek orang yang
melakukan kesalahan, kemudian Anda ungkap kejelekannya di depan orang
lain.

Anda pasti menyesal setelah itu, karena denga metode tersebut otomatis
Anda menjauhkan manusia dari agama. Bersikaplah tawadhu', pasti Allah
akan memberikan hidayah serta mengampuni Anda. Demi Allah, sesungguhnya
tawadhu' dapat mendorong manusia untuk mencintai agama Allah ini.

TAWADHU' KEPADA ORANG TUA
Allah SWT berfirman, "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua
dengan penuh kesayangan." (QS. Al-israa: 24)

Itu jika keduanya masih hidup. Namu jika keduanya telah meninggal dunia,
maka mintakanlah pengampunan untuk keduanya. Kerjakanlah amal shalih
sebagai tambahan amal dalam timbangan keduanya, dan berbuat baiklah
terhadap teman keduanya.

Pelajaran aplikatif
Anda mengatakan, "Saya ingin menerapkan sikap tawadhu' terhadap kedua
orang tua saya, tetapi saya tidak tahu (harus bagaimana)."

Wahai saudaraku tercinta, hendaklah Anda mencium kedua tangan orang tua
Anda.

Apakah Anda mampu mencium tangan kedua orang tuamu di depan orang
banyak, kerabat, dan tamu lainnya?jika Anda ingin belajar bertawadhu'
maka ciumlah tangan kedua orang tua Anda selama sebulan. Pasti diri Anda
akan berubah.

Anda mengatakan, "Saya dapat mencium tangan ibu saya, tetapi dengan ayah
saya tidak bisa."

Jika begitu, mulailah dengan ayah Anda, walaupun kondisinya amat berat.
Ketahuilah, sesungguhnya itulah maksud dari tawadhu'.

"Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang
lebih banyak." (QS. Al-Mudatsir: 6)

Janganlah terlalu mengharapkan balasan pahala dari shalatmu... Tahajud
Anda... puasa Anda... haji Anda... ketahuilah, Allah SWT berfirman, "Dan
adakah karunia Allah sangat besar atasmu." (QS. An-Nisa': 113)

Bersikaplah tawadhu' terhadap Rabbmu, dan janganlah Anda mengharapkan
balasan lebih besar dari Allah, karena hal itu dapat menyeret Anda ke
jurang kehancuran,

die *Semulia Akhlak Nabi*
Amru Khalid
------------ --------- --------- --------- --------- --------- ---------
----

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke