Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu
 
PERTEMUAN
 
Sekitar setahun yang lalu aku mendapatkan nomor telepon (hp) seorang keturunan 
Syekh Ahmad Khatib yang bermukim di Jeddah. Dari perkenalannya dengan angku 
Ridwan Sirin, dia menyatakan keinginannya untuk menelusuri jejak keturunannya 
di Tanah Minangkabau. Keinginannya itu disampaikan angku Ridwan ke ustad 
Zulharbi yang secara tidak disengaja sampai kepadaku, ketika kami sedang pergi 
mengantarkan sumbangan untuk korban gempa di Sumatera Barat.
 
Ringkas cerita, aku mencoba mengontaknya melalui pesan singkat sms, yang 
berlanjut dengan pembicaraan kami di telepon. Dari awal aku katakan bahwa aku 
bukanlah orang yang dicarinya, dan aku menjelaskan hubunganku dengan kakek 
buyutnya yang bersangkut paut secara kekerabatan Minangkabau sedangkan orang 
yang dicarinya adalah kakek buyut secara nasab.
 
‘Bagaimanapun juga, kita masih karib kerabat. Akan aku beritahukan kepada 
saudaraku  yang biasa bepergian ke Jakarta, agar menghubungimu kalau kebetulan 
dia ke Jakarta,’ katanya.
 
‘Akupun insya Allah akan menelponmu seandainya aku berkunjung kesana,’ kataku 
waktu itu.
 
Sayangnya, sejak kontak telepon sekali itu tidak pernah lagi kami berbagi 
berita.
 
Waktu aku berkesempatan mengunjungi Tanah Suci beberapa hari yang lalu, aku 
kembali mengontaknya. Mula-mula aku kirim sms, dari nomor lokal yang aku beli 
disana. Nomor yang ternyata bermasalah di hari-hari pertama, karena tidak bisa 
menerima panggilan dan tidak bisa menerima sms. Akhirnya aku telepon dia. Kami 
berbicara lagi di telepon. Aku utarakan keinginanku untuk bertemu dengannya. 
Dia menolaknya karena dalam keadaan sakit yang cukup serius dan tidak 
diperkenalkan menerima tamu. 
 
‘Aku akan memberi tahu kakakku agar menghubungimu. Kapan kau akan berada di 
Makkah?’ tanyanya.
 
Aku memberikan jadwal perjalananku dan juga waktu aku akan berada di Makkah.
 
Ketika kami sampai di Makkah, aku menerima telepon dari seorang wanita yang 
memperkenalkan dirinya sebagai keturunan Al Khatib.
 
‘Aku adalah kakak dari A yang sebelumnya sudah berbicara denganmu. Aku ingin 
mengundangmu datang ke rumah kami,’ katanya. ‘Tapi sebaiknya kau lanjutkan 
pembicaraan dengan suamiku,’ tambahnya. 
 
Kudengar suara laki-laki yang menyapaku dengan panggilan brother Muhammad. 
Diulanginya undangan yang sudah disampaikan istrinya.
 
‘Insya Allah,’ jawabku. ‘Dimana kalian tinggal dan bagaimana caranya aku datang 
ke tempatmu?’ tanyaku pula.
 
‘Aku akan mengirim orang menjemputmu. Jam berapa kau bisa datang?’ tanyanya.
 
‘Setiap saat sesudah shalat isya,’ jawabku.
 
‘Baiklah. Kau tunggu jam setengah sepuluh malam hari Senin, di hotelmu,’ 
ujarnya.
 
Jam setengah sepuluh malam memang agak sedikit kemalaman, tapi itulah waktu 
yang lebih mudah berkendaraan di jalan-jalan kota ini. Karena usai shalat isya 
adalah jam setengah sembilan malam dan saat itu jalanan tumpah ruah dengan 
manusia yang baru keluar dari mesjid.
 
Aku dan istriku menunggunya di lobby hotel. Seorang berpakaian maghribi 
ditemani petugas hotel mendekatiku dan bertanya sambil menyebut namaku. 
Laki-laki berpakaian maghribi itu mengatakan sesuatu, yang aku tangkap 
maksudnya bahwa dia utusan Dr. Obeid untuk menjemputku.
 
Kami segera berangkat menuju tempat kediamannya yang tidak terlalu jauh. 
Mobilnya disupiri orang Jawa Timur. Dia dan istrinya bekerja di rumah Dr. 
Obeid. Ditambahkannya lagi bahwa sopir ada dua orang dan keduanya bersama istri 
mereka bekerja di rumah itu. Laki-laki berpakaian maghribi itu adalah orang 
senegara Dr Obeid, orang Mesir dan juga bekerja di rumah yang sama sebagai 
penjaga merangkap orang kepercayaan.
 
Hampir tengah malam itu jalan masih agak macet. Sudah lebih jam sepuluh malam 
ketika kami sampai disana. Sebuah rumah yang cukup besar. Si laki-laki Mesir 
(namanya Ibrahim) mengantarkan kami ke sebuah ruangan tamu besar dan 
mempersilahkan kami duduk menunggu sebentar. 
 
Beberapa saat kemudian datang F, wanita tuan rumah yang sebelumnya sudah 
berbicara denganku di telepon. Penampilannya agak sedikit formal mula-mula. Dia 
bersalaman dengan istriku dan mengangguk kepadaku. Aku balas mengangguk.
 
‘Anda kakaknya A?’ tanyaku agak sedikit asal-asalan.
 
‘Ya, kakaknya yang paling tua. A adalah adik bungsuku,’ jawabnya.
 
‘Berapa orang kalian bersaudara?’ tanyaku.
 
‘Delapan orang,’ jawabnya.
 
‘Dan salah satunya pilot Saudia Arabia?’ tanyaku pula.
 
‘Bukan. Tidak ada saudaraku yang pilot,’ jawabnya.
 
Mungkin aku salah dengar dari A.
 
‘Kenapa kau katakan A tidak bisa dikunjungi? Apakah dia dirawat di rumah 
sakit?’ tanyaku.
 
‘Dia di rumahnya di Jeddah. Atas saran dokter dia harus meminimalisir menerima 
tamu. Sebenarnya dia juga sangat ingin bertemu denganmu,’ jawabnya.
 
‘Apakah dia sudah bercerita tentang obrolan kami di telepon ?’ tanyaku 
lagi-lagi agak bodoh.
 
‘Ya. Dia sudah menceritakannya,’ jawabnya.
 
Kami melanjutkan obrolan basa basi. Dia menanyakan berapa lama aku  akan berada 
di Makkah. Yang agak aku herankan, sudah lebih lima menit, dia masih tetap 
sendirian saja. Aku tidak tahan untuk tidak menanyakan dimana suaminya.
 
‘Dia masih ada pekerjaan sedikit. Sebentar lagi dia akan hadir disini,’ 
jawabnya.
 
Betul saja. Tidak berapa lama kemudian, suaminya, Dr. Obeid masuk ke ruangan 
tamu besar ini. Kami bersalaman dan dia memelukku. Usianya sudah sekitar 65 
tahun, terlihat sehat. Ternyata dia lawan berbicara yang sangat baik. Orangnya 
ramah dan humoris.
 
Aku ulangi lagi pembicaraan mengenai bagaimana awalnya aku berkenalan dengan A, 
melalui teman-teman di internet, pembicaraan di telepon dengannya dan 
sebagainya. Dia menanyakan bagaimana hubungan kekeluargaanku dengan Syekh Ahmad 
Khatib. Aku beritahu dia bahwa aku membawa ‘pohon keluarga’ versi Minangkabau 
dan akan aku perlihatkan kalau dia berminat. Ternyata dia sangat berminat. Aku 
menjelaskan bahwa budaya Minangkabau membuat ranji ini melalui jalur ibu, dan 
setiap laki-laki hanya dicatat istri dan anak-anaknya saja.
 
‘Kalau begitu, tentu kau punya catatan tentang istri dan anak-anak Syekh Ahmad 
Khatib ?’ tanyanya.
 
‘Ya, jawabku. Beliau mula-mula kawin dengan X, punya anak dua orang laki-laki. 
Waktu X meninggal beliau menikahi adiknya Y dan darinya beliau punya anak satu 
laki-laki dan satu perempuan,’ aku menjelaskan sambil menunjukkan nama-nama itu 
di dalam ranji.
 
‘Sahih,’ katanya.
 
‘Siapa nama anak laki-laki beliau yang paling muda?’ tanyanya mengujiku.
 
‘Abdul Hamid. Menurut catatan beliau pernah datang dua kali ke Minangkabau. 
Yang pertama ketika beliau masih sangat muda. Menurut cerita yang aku dapat, 
beliau hampir menikah dengan wanita di kampungku waktu itu. Tapi tidak jadi dan 
aku tidak tahu kenapa. Yang kedua di tahun 50an. Aku dengar beliau jadi duta 
besar Arab Saudi ketika itu. Aku tidak tahu apakah beliau jadi duta besar di 
Indonesia atau di negara lain,’ jawabku.
 
‘Sahih,’ katanya. ‘Abdul Hamid adalah ayah dari Fouad. Dan Fouad adalah 
mertuaku, ayah F he..he..he..’ dia menjelaskan sambil tertawa.
 
‘Tahun 50an beliau jadi duta besar di Pakistan. Dan berkunjung ke Indonesia 
dalam kunjungan kerja,’ F menambahkan.
 
‘Apakah kamu punya catatan tentang nama ayah Syekh Ahmad Khatib?’
 
‘Ayah beliau beliau bernama Abdul Latief Khatib bin Syekh Tuanku Imam Abdullah 
bin Abdul Aziz. Hanya sejauh itu yang ada catatannya padaku,’ jawabku.
 
‘Catatan kami memperkirakan kakek beliau berasal dari Makkah juga,’ F 
menambahkan.
 
‘Wallahu a’lam, aku tidak tahu,’ jawabku. Meski dalam hati aku menyangkalnya. 
Kecuali jika yang dimaksud bahwa kakek beliau juga seorang haji.
Selanjutnya perbincangan kami berjalan akrab. Aku dan istriku diperlakukan 
sangat baik seperti saudara kandung rasanya. Kami dijamu makan malam. Menunya 
makanan ala Mesir dan ada juga makanan Indonesia yang sengaja disiapkan untuk 
kami.
 
‘Just in case you do not like this Egiptian cuisine,’ katanya.
 
‘Aku tidak ada masalah dengan makanan. Aku bisa makan apa saja, insya Allah,’ 
jawabku. 
 
Dan kami makan sambil terus melanjutkan obrolan. Dia sudah beberapa kali datang 
ke Jakarta dan katanya dia sangat menyukai durian. Kami makan berlima, termasuk 
anak bungsunya yang sebaya dengan anak bungsuku, seorang dokter yang baru saja 
menamatkan pendidikannya.
 
Sesudah makan kami masih melanjutkan lagi perbincangan. Dr. Obeid seorang 
sarjana Ph.D dari Virginia Univ di Amerika. Terakhir dia menjabat sebagai dekan 
Fakultas Elektro di Universitas Raja Saud di Riadh.
 
Dia menyenangi politik dan sepertinya dia adalah seorang pengamat politik yang 
baik. Dia kenal dengan almarhum Muhammad Natsir personally, katanya. 
 
 
Aku terpancing juga untuk sedikit berkomentar tentang politik dunia dengannya. 
Inilah kelemahan kita sebagai umat Islam, katanya. Kita dipecah belah oleh 
barat dan kita seperti tidak mau menyadarinya, katanya.
 
Panjang cerita kami sampai lebih jam satu malam. Istriku sudah sangat 
terkantuk-kantuk sebenarnya. Aku menceritakan bahwa kami sedang membangun 
sebuah lembaga pendidikan dengan melekatkan nama Syekh Ahmad Khatib di kampung, 
insya Allah tempat mendidik calon ulama, diawali dengan pendidikan penghafal al 
Quran. Dia sangat antusias pula menyambutnya. 
 
F menanyakan apakah aku tidak tahu tentang pertemuan dengan gubernur Sumatera 
yang juga akan dihadiri oleh saudaranya di Jeddah. Maksudnya, apakah ada 
kaitannya dengan lembaga pendidikan yang aku maksudkan. Aku jelaskan bahwa 
kedatangan gubernur Sumatera barat sangat boleh jadi menyangkut rencana 
pembangunan sebuah mesjid di Padang yang uga akan mengabadikan nama beliau. 
 
Sudah hampir jam setengah dua malam waktu kami diantarkan kembali ke hotel oleh 
supirnya ditemani Ibrahim yang menjemput kami tadi. Tapi kali ini dengan 
supirnya yang satu lagi.
 
 
                                                                        *****
 
 
di http://lembangalam.multiply.com dan www.palantalembangalam.blogspot.com 


      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke