Memudakan Pemimpin Oleh: Jeffrie Geovanie
GAGASAN perlunya menampilkan pemimpin-pemimpin yang berusia di bawah 60 tahun pada Pemilu Presiden 2009 mendatang terus bergulir ibarat bola panas. Gagasan itu mulanya dimunculkan Amien Rais yang merasa diri "sudah terlalu tua" untuk maju kembali sebagai calon presiden. Lalu ditanggapi elite-elite partai besar, terutama PDIP, Partai Golkar, dan Partai Demokrat. Sudah bisa ditebak kemana arah dari tanggapan-tanggapan itu. Gagasan ini pun berkembang menjadi tidak proporsional karena umumnya para penanggap berdiri di atas kepentingan politik kelompknya masing- masing. "Kalau Amien Rais tidak mau menjadi capres karena merasa sudah terlalu tua ya boleh-boleh saja, tapi sebaiknya tak perlu mengajak orang lain karena hal itu melanggar HAM!" demikian kata mereka. Artinya, kalau logika ini diteruskan, mempertahankan para pemimpin lanjut usia, sama dengan memperjuangkan HAM. Begitukah? Saya kira bukan di situ persoalannya. Benar bahwa siapa pun punya hak untuk menjadi presiden. Namun karena tidak semua orang mampu dan layak menjadi presiden maka bagaimana merealisasikan hak itu, banyak hal harus dipertimbangkan, di antaranya faktor usia Secara pribadi saya mendukung upaya memudakan pemimpin karena dua alasan: pertama, para pemimpin yang sekarang berusia di atas 60 tahun, pada umumnya, adalah mereka yang terlibat dalam pemerintahan rezim lama. Tentu, mereka akan kesulitan untuk menangani kasus-kasus besar --terutama korupsi dan pelanggaran HAM--yang pernah dilakukan rezim dimana mereka pernah menjadi bagian dari rezim itu. Padahal, penuntasan kasus-kasus korupsi dan pelanggaran HAM yang pernah dilakukan rezim sebelumnya merupakan opsi penting dalam membersihkan sistem pemerintahan (terutama birokrasi) dan dalam memperbaiki citra bangsa di mata dunia internasional. Kedua, sekuat apa pun tenaga dan kekuasaan seseorang, pasti tidak akan mampu menahan laju umurnya. "Apa pun bisa saya lawan, kecuali usia," kata penulis yang juga aktivis perempuan Mesin, Nawal El Saadawi. Artinya, regenerasi merupakan keniscayaan sejarah. Menghambat regenerasi sama artinya dengan membuang potensi satu, dua, atau tiga generasi berikutnya, tergantung berapa lama proses penghambatan itu berjalan. Satu hal yang perlu digarisbawahi bahwa melakukan regenerasi bukan berarti sama dengan mengabaikan atau membuang mereka-mereka yang sudah menua. Namun, ibarat matahari, jika berhenti lama pada posisi persis di atas kepala, selain akan membosankan juga pasti akan menyusahkan semua orang. Adakalanya seorang pemimpin harus beralih fungsi, dari seorang administrator yang mengatur sistem dan mekanisme pemerintahan, menjadi seorang guru bangsa. Seorang pemimpin sejati, meskipun tak lagi menduduki jabatan formal, akan tetap dianggap sebagai pemimpin yang dibutuhkan masyarakat. Matahari tetap dibutuhkan meskipun sudah mulai condong ke barat. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet. - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting. - Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi. - Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku. =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
