fyi, dari JURNALNASIONAL 
 
 OASE BUDAYA 
jakarta | Minggu, 20 Jan 2008
Menggali Potensi Cendekia Minang
by : Veby Mega Indah
Ikut memelopori perkembangan dunia intelektual Indonesia, nilai-nilai 
tradisional menjadi bekal penting.
Arena politik, ekonomi-sosial dan budaya nusantara sempat ramai berimbuh 
tokoh-tokoh cendekia Minang. Mohammad Hatta dengan sosok sederhana berhasil 
menyusun konsep ekonomi kerakyataan berbasis koperasi. Sutan Takdir Alisyahbana 
menjadi panutan jurnalisme Indonesia era 1930-an. Karya-karya sastra terbaik 
Angkatan 20 semacam Siti Nurbaya dan Sengsara Membawa Nikmat,juga lahir dari 
tangan putra Minang. Para pendiri bangsa ini turut diisi tokoh-tokoh cendekia 
berlatar etnis Minang. 

Budaya Minang sebenarnya memiliki landasan filosofi yang mendasari munculnya 
tokoh-tokoh cendekia Minang di Indonesia. Berlaku di segala bidang, etnis 
Minang bahkan punya dasar demokrasi dalam tradisi asli mereka: Raja alim rakyat 
turut, Raja lalim rakyat sanggah. 

"Orang Minang tidak akan diam saja jika pemimpinnya berbuat salah," kata Mesti 
ka Z, Budayawan Minang. Rakyat Minang telah mengerti secara tradisi mereka 
dapat menentukan hidupnya sendiri. Keyakinan ini telah tumbuh bahkan dalam masa 
kolonial sekalipun. 

Belanda sendiri malah kerap berkiblat pada ide-ide Sutan Takdir Alisyahbana. 
Mohammad Hatta juga sanggup berdiri di depan forum Belanda menentang upaya 
kolonial yang mempertanyakan kesiapan Indonesia untuk merdeka. "Saya lebih suka 
melihat kepulauan Indonesia tenggelam daripada tidak merdeka," menjadi salah 
satu ucapan Hatta yang terkenal. Sosok yang sama pula mendampingi Soekarno 
menentukan fondasi dasar bangsa ini. Konflik ideologi tak membuat Hatta 
khawatir kehilangan kekuasaan. Proklamator Indonesia ini lebih memilih pecahnya 
dwi tunggal ketimbang bersikap kompromi. 

Sikap yang sama juga tercitra dalam etnis Minang secara umum saat konflik 
politik terus bermunculan di Indonesia. Etnis Minang berbekal filosofi auto 
kritik berusaha memimpin gerakan reformasi era 1958. Etnis Minang tercatat 
sebagai penggalang PRRI/Permesta dengan etnis-etnis lainnya di nusantara. 

"PRRI/Permesta sebenarnya semacam upaya reformasi Minang terhadap otoriter isme 
pusat," kata Mestika Z. Menurutnya kejadian PRRI/Permesta mewakili sikap Minang 
yang ingin memperbaiki kondisi Indonesia. Rakyat Minang sedang berusaha 
menyanggah "raja" mereka. 

Modal tradisi yang mampu menerbitkan tokoh-tokoh cendekia ini tetap terpelihara 
di perantauan sekalipun. Meski rakyat Minang perantauan tersebar secara 
sporadis. Filosofi di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung berlaku di 
sini. Masyarakat Minang tak berusaha menjadi sektarian di perantauan. Tetap 
terbuka pada kritik dan perubahan tanpa harus menjadi chauvinist. Tak pernah 
ada Kampung Minang perantauan di sudut dunia manapun. Sekalipun Jakarta 
mengenal Kampung Melayu dan Bali menghadirkan Kampung Jawa. 

Filosofi Minang perantauan paling mudah terlihat di bidang niaga dan 
perekonomian. Pasca PRRI/Permesta etnis ini sempat mengalami inferioritas 
bersuara kritis di bidang politik, sastra dan sosial. Dorongan inferior yang 
sama menjadikan etnis Minang mengalihkan energi mereka di bidang yang aman: 
ekonomi. Tak ada kucing putih dan kucing hitam di sana. Semuanya hijau memegang 
laba. Tak ada pula stigmata etnis pemicu pemberontakan di sana. 

Hingga kini etnis Minang lebih dikenal sebagai saudagar-saudagar yang mahir 
berdagang. Dari 14 pucuk pimpinan BUMN sekarang tercatat 9 orang di antaranya 
berasal dari etnis Minang. Sementara dalam masyarakat umum, ekspansi dagang 
Minang sangat mudah terlihat. Sudut-sudut Sabang hingga Merauke tak lepas 
dihiasi rumah makan Padang. 

Lewat kehadiran rumah-rumah makan Padang, sebenarnya etnis Minang berusaha 
menghilangkan inferioritas pasca PRRI/Permesta yang melanda etnis mereka. 
Tatanan rumah makan Padang menjadi alat guna menunjukkan identitas etnis ini 
pada dunia luar. Sebuah rumah makan di pinggir jalan sekalipun mampu mewakili 
filosofi hidup masyarakat Minang. 

"Prinsip dagang rumah makan Padang sebenarnya didasari sikap orang Minang yang 
terbuka," kata Mestika Z. Etnis Minang biasa menyusun sajian menu mereka di 
depan etalase rumah makan. Bersusun-susun dan terbuka sehingga konsumen bebas 
melihat isi dapur mereka. Jumlah menu ini pula menjadi tolak ukur sejauh mana 
usaha dagang itu berkembang. Mulai dari yang sederhana hingga beragam limpah, 
menunjukkan kemajuan usaha dagang tersebut. 

"Orang Minang punya sikap terbuka bahkan atas kondisi dagang mereka. Mulai 
dengan menu sederhana saat baru mulai atau sampai yang sudah berhasil. Cara 
pajangannya tetap sama," kata Mestika Z. Lewat ekspansi dagang ini pula orang 
Minang menerapkan tradisi merantau mereka. Tradisi yang telah mengental dalam 
mitologi Malin Kundang. 

Ada beberapa nilai penting yang dapat ditarik dalam kisah rakyat tersebut. Tak 
hanya menegaskan posisi matrilineal, mitos Malin Kundang juga memaparkan 
semangat merantau Minang. Kisah Malin Kundang yang berangkat ke tanah Melayu 
melambangkan tradisi merantau tak perlu dilakukan beramai-ramai. Keputusan 
Malin merantau melambangkan adanya sikap mencari solusi dalam masyarakat 
Minang. Malin yang menghadapi kesulitan ekonomi akibat ibu yang menjanda, 
memutuskan merantau. Tak ada filosofi mangan ora mangan asal kumpul di sini. 
Ibu Malin pun lebih rela menanggung rindu pada anak satu-satunya ketimbang 
pasrah pada nasib. Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Lebih baik 
bersakit-sakit dahulu barulah bersenang-senang kemudian. 

Di tanah rantau tradisi Minang tak menyiratkan ketakutan melebur dengan 
masyarakat setempat. Kondisi tersebut diwakilkan lewat sosok istri Malin yang 
berasal dari Tanah Melayu. Malin yang pulang kampung sebagai saudagar kaya 
dikisahkan membawa satu kapal berarmada orang-orang Melayu. Menunjukkan nilai 
keterbukaan etnis Minang bermitra dengan masyarkat setempat. 

Di dunia nyata nilai tersebut tercermin dari pintu rumah makan padang yang 
umumnya selalu terbuka. Atau terbuat dari kaca tembus pandang. Interior rumah 
makan ini menurut Mestika Z mencerminkan keterbukaan Minang bermitra dengan 
etnis apa pun. Tradisi yang sama pula membawa Hatta mampu bermitra dengan 
Soekarno. 

Dalam tradisi dagang Minang, para pelayan rumah makan Padang terbuka bermitra 
sebagai pemilik. Mereka umumnya menstandarisasi harga makanan dan membagi rata 
laba sehari. Semakin banyak laba semakin banyak pula penghasilan. Tradisi ini 
umumnya dilakukan pada tingkat niaga yang masih baru. Sikap memiliki membuat 
para pelayan cum pemilik tanpa diminta akan berusaha melayani konsumen 
sebaik-baiknya. Kepatuhan pada kesepakatan bersama dan kejujuran tradisi Minang 
ini tergambar lewat pembagian laba sehari-hari. 

Kepatuhan yang sama juga terlihat lewat pilar agama Islam dalam budaya Minang. 
Etnis ini terkenal paling mudah menyumbangkan uang guna pembangunan mesjid dan 
zakat. "Orang Minang selalu setia menyumbang pembangunan mesjid meski mesjidnya 
sendiri sudah selesai berdiri," kata Mestika Z. Kondisi ini sebenarnya 
menyiratkan potensi agama sebagai alat yang efisien guna mengentaskan 
kemiskinan. Meski hingga kini masih alpa dimanfaatkan. 

Potensi-potensi tradisi tersebut kini terbatas di bidang ekonomi-niaga. 
Tertimbun sikap inferior pasca PRRI/Permesta, hingga Minang masih belum lagi 
mampu menerbitkan cendekia-cendekia puncak mereka lagi. 

Kaum akademisi Minang kini ingin melihat etnis mereka kembali bangkit menggali 
akar tradisi. Mengembalikan potensi etnis yang kritis berperan dalam 
perkembangan nasional dan internasional. Boleh jadi, saatnya Minang butuh 
Hatta-Hatta yang baru. 


   <http://jurnalnasional.com/?med=about us> www.jurnalnasional.com © 2008 PT. 
Media Nusa Pradana 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke