Satu lagi dari JURNALNASIONAL
 
...................................................
OASE BUDAYA 
Jakarta | Minggu, 20 Jan 2008
Semangat Menjaga Keseimbangan
by : Siagian Priska Cesillia

Tan Malaka, Hatta, Sutan Sjahrir, Buya Hamka adalah orang-orang Minangkabau 
yang kemudian dikenal sebagai intelektual Indonesia. Intelektualitas mereka, 
sedikit banyak dipengaruhi oleh filosofi orang Minangkabau (baca: Minang) yang 
menjunjung tinggi semangat egaliter dan demokrasi. Setidaknya itulah yang 
tertangkap dari pesan sistem matrineal yang kuat mengakar. 

Tapi saat ini, di kala ilmu pengetahuan terus berkembang di Indonesia, justru 
sedikit sulit mencari pemikir bangsa yang berasal dari Minang. Mereka terlanjur 
diidentikan sebagai pengusaha rumah makan dan usaha garmen, ketimbang sebagai 
cerdik cendikiawan. Adakah yang hilang dari nilai-nilai filosofi masyarakat 
Minang saat ini? Di manakah pesan duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi, 
disisipkan oleh penganut matrineal sebagai sistem kekeluargaannya? 

Di tengah krisis kepemimpinan yang terjadi pada awal 1950-an, sejumlah daerah 
memproklamirkan berdirinya suatu pemerintahan tandingan yang diberi nama PRRI 
atau Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia. PRRI berdiri pada 1958 dan 
berpusat di Padang, bahkan sudah menguasai sebagai Sumatera serta Sulawesi 
Utara. Pergolakan diawali ketika, konflik politik berujung pada pengeboman dan 
penyerbuan wilayah Minang oleh pemerintah pusat. 

"Peristiwa tersebut sangat meninggalkan bekas traumatik yang dalam bagi orang 
Minang. Bahkan dalam perkembangannya, peristiwa PRRI dikaitkan dengan 
pergolakan PKI (Partai Komunis Indonesi-red). Sehingga semakin membatasi ruang 
gerak dan pemikiran orang Minang yang kritis," ucap budayawan Minang Darman 
Moenir, ketika dihubungi penulis beberapa waktu lalu. 

Padahal menurut Darman, pergolakan PRRI terjadi karena orang Minang merasa ada 
ketidakadilan pembangunan ekonomi antara Jakarta dengan Padang. "Jauh sebelum 
otonomi daerah dikembangkan, orang Minang sudah memiliki semangat itu. Yang 
menyemangati kami hanyalah keadilan dan demokratis." 

Dan hal lain yang turut memotong rantai pemikiran kritis orang Minang, menurut 
pemikir muda kebudayaan Minang, Drs. Fadillah Malin Sutan Kayo, MHum, sistem 
pendidikan yang dikembangkan pemerintah sulit melahirkan pemikir baru. "Sekolah 
negeri versi pemerintah hanya menjadikan murid sebagai pendengar dan guru 
sebagai guide. Sehingga proses dialektikanya sangat terbatas." 

Dosen Sastra Indonesia Universitas Andalas ini juga menyebutkan bahwa sebelum 
didirikan sekolah negeri, masyarakat Padang sudah memiliki sistem pendidikan 
sendiri melalui pesantren-pesantren. Di mana yang diajarkan bukan hanya 
pengetahuan agama, tapi juga rasionalitas, kebangsaan dan akar-akar kebudayaan. 
"Alam terkembang jadi guru, adat bersandi syarak, syarak bersandi kitabullah. 
Filosofi inilah yang mengarisbawahi setiap sendi kehidupan orang Minang." 

Setali tiga uang dengan Fadillah, Darman menegaskan filosofi tersebut membuat 
orang Minang selalu haus untuk menerapkan keseimbangan. Karena alam mengajarkan 
keseimbangan dalam mencipta harmonisasi. Maka jangan heran jika, nenek moyang 
orang Minang sudah menerapkan sistem matrineal jauh sebelum studi gender 
berkembang. "Dan yang mendapat bagian menguasai harta pusaka tinggi seperti 
warisan turun temurun adalah perempuan. Merekalah yang dipercaya untuk menjaga, 
mengelola, dan mengatur warisan kebudayaan leluhur," imbuh Darman. 

Tapi peristiwa traumatik dan akulturasi kebudayaan yang semakin cair, telah 
membuat orang Minang semakin kehilangan taring. Karena pengalaman merantau 
mereka tidak didukung dengan infrastruktur yang mengakar pada kebudayaan asli. 
Sehingga ketika mereka kembali ke kampung halaman, banyak keengganan untuk 
mengembangkan kebudayaan asli. "Bisa dikatakan, generasi muda Minang sekarang 
menjadi sangat pragmatis, tidak punya ciri dan cenderung kosmopolit," Fadillah 
mengkritisi. 

Budaya penyeragaman yang menyentuh hingga batas tapal pendidikan, diyakini 
Fadillah telah mencabut akar-akar kebudayaan lokal. Berbeda ketika masyarakat 
masih mengantarkan anak laki-lakinya belajar di surau atau pesantren, semangat 
pergerakan untuk kemajuan bersama tanpa keluar dari kebudayaan asli, telah 
membuat tradisi merantau merupakan media untuk mengembangkan diri. 

"Merantau bisa dikatakan wajib hukumnya bagi anak laki-laki, karena itu 
semenjak usia tujuh tahun sudah disuruh belajar ke pesantren atau keluar dari 
rumah. Di mana kelak dewasa nanti, mereka akan kembali merantau dan belajar 
dari dunia luar untuk mengembangkan desa. Dan dimasa tua, mereka akan kembali 
ke surau menerapkan hidup asketik." 

Namun kini, nilai-nilai kepemimpinan dan kebudayaan bersifat serimonial belaka. 
Sehingga generasi Minang saat ini sudah terlanjur puas dengan keadaan sekarang 
yang selalu digelayuti traumatik pergolakan PRRI. "Semangat belajar yang 
dipotong habis-habisan oleh pergolakan itu, ditambah pembangunan yang 
berukurkan materi, telah membuat generasi muda Minang menjadi money oriented." 

Dan pecutan pembangunan kembali percaya diri orang Minang yang sudah dimulai 
semenjak Harun Zain menjadi Gubernur Padang (periode 1967-1977-red), menurut 
Fadillah harus disertai dengan desain politik yang memungkinkan tumbuhnya 
pemikir di daerah. Untuk itu, fasilitas otonomi daerah yang sedang dirintis 
juga harus menyertakan pembangunan kebudayaan menggunakan filosofi daerah. 

"Toh dengan filosofi daerah tersebut, Minang mampu menghasilkan pemikir 
berkelas internasional seperti Tan Malaka. Dan dengan semangat egaliter yang 
berlandaskan pemahaman keseimbangan alam, nenek moyang Minang sudah mampu 
menciptakan sistem matrilineal." 

Melengkapi semangat untuk menghidupkan optimisme orang Minang dalam menciptakan 
pemikir besar, Darman meminta generasi muda berpikir kreatif. Proses belajar 
adalah cara untuk menemukan kembali sesuatu yang baru bagi Minang dan Indonesia 
secara luas. "Anak muda harus berhenti menjadi generasi mediocre." Karena 
proses pembelajaran yang didapat dari merantau akan mengembalikan sosok mapan 
untuk membangun daerah. Layaknya filosofi yang dipakai untuk membekali anak 
muda Minang untuk mencari penghidupan di negeri seberang. 

Karatau madang dihulu 

Babuah babungo balun 

Marantau bujang dahulu 

Di rumah paguno balun 

 

www.jurnalnasional.com <http://jurnalnasional.com/?med=about us>  © 2008 PT. 
Media Nusa Pradana


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke