Uda Edy Utama,
Pandangan anda sangat mencerahkan. Merevitalisasi dan meredefinisi hubungan
ranah dan rantau menjadi langkah awal yang penting. Stereotype terhadap pihak
lain yang tertanam kuat di masing2 pihak hingga saat ini harus dikalibrasi.
Rantau sebaiknya lebih humble, ranah sebaiknya lebih open minded. Kedua pihak
ini sebenarnya saling mencintai, saling merindukan, tetapi masing2 malu
mengakui. Hampir setiap orang di ranah punya saudara di rantau, dan sebaliknya.
Ini adalah fakta keras Minangkabau.
Betul, inilah adalah domain civil society. Tetapi, bukan berarti pemerintah
daerah berada diluar pagar. Pemda harus mampu menangkap dinamika ini. Era
konfrontasi state-civil society sudah merupakan lagu lama.
Walau di bumi satitiak tido, selagi di langik masih ado gemuruh, masih ado
harapan hujan ka tibo. Nan bedo adolah jiko guruah pun lah tabang ambua.
Salam
Zulfan Tadjoeddin (35)
Edy Utama <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Ass.w.w
Dunsanak di rantau, mungkin alah cukuik awak maratok tantang kampung awak ko,
yang memang sedang mengalami kekusutan struktural. Ada konflik internal
dimana-mana. Ada wilayah nagari yang sudah berpuluh-puluh tahun berjuang ingin
lepas dari induknya. Ada pula tercabik-cabik karena sengketa tanah. Kata Pak
Sjaf, ada anak-anak kurang gizi dan ada keterbelakangan di Sumbar. Ada masalah
pariwisata yang tak pernah beres, karena orang kampung tak mau senyum dan tak
ramah dengan orang luar. Banyak lagi daftar masalah yang dapat kita susun
mengenai kampung kita, termasuk juga daftar yang begitu panjang dengan masalah
kita di Indonesia.
Ambo baru sekitar 2 bulan manjadi anggota milis palatan ko. Ado sekitar 50
email yang masuk setiap hari. Memang tak semuanya saya baca. Kalau email yang
isinya sekedar taragak palai rinuk, yo bacaliak sepintas sajo.
Ada masalah yang selalu terjadi antara urang rantau jo urang kampung, terutama
setelah tahun 1980-an. Kemesraan ("kencan")antara urang rantau dan urang
kampung puncaknya hanya sampai tahun 1983, ketika Sumbar mendapat Anugerah
Prasamya Purna Karya Nugraha (propinsi terbaik dalam pelaksanaan pembangunan
selama Pelita III), dan dilanjutkan dengan suksesnya pelaksanaan MTQ-Nasional
ke 13 di Padang. Peristiwa ini menjadi momentum bagi silaturahmi urang Minang
(di kampung dan di rantau)dalam melihat posisinya sebagai sebuah etnik dalam
perspektif Indonesia. Peristiwa PRRI yang meluluhlantakan Minangkabau, dan
menimbulkan krisis kepercayaan diri yang cukup dalam, seperti hapus ketika
Presiden Soeharto memberikan penghargaan pada tahun 1983 tersebut.
Nah di sinilah ironinya dimulai. Urang Minang berubah. Menurut Taufik Abdullah,
urang Minangkabau telah mengunakan ukuran "orang luar" (Pusat) untuk menakar
keberhasilannya, dan tidak lagi mendasarinya pada dinamika dan sistem nilai
yang ada di dalam kebudayaan Minangkabau itu sendiri (baju urang nan bapakai).
Segala sesuatu yang bersifat "PUSAT" adalah baik, dan harus didukung sepenuhnya
oleh daerah. Itu pula sebabnya ketika Presiden Soeharto berdialog dengan petani
di Aripan Solok, menggugah orang Minang di rantau untuk membantu kampung dengan
mengirimkan sumbangan seribu, sehingga lahirlah Gerakan Seribu Minang (Gebu
Minang). Secara kelembagaan (Lembaga Gebu Minang-Yayasan Gebu Minang) terbentuk
melalui mandat Mubes Gebu Minang di Bukittinggi tahun 1989. (semua dokumen ada
pada saya).
Gagasan awal yang tercetus di dalam Mubes begitu bagus dan seakan-akan dapat
menyelesaikan banyak masalah orang Minang. Tapi yg terjadi kemudian, Gebu
Minang mendirikan Bank Perkreditan Rakyat (BPR)di sejumlah kecamatan di Sumbar.
Sayang, dari informasi di lapangan bunga pinjamannya lebih tinggi dari Bank
Umum, sehingga tidak layak untuk usaha di pedesaan atau manapun. Apa lagi untuk
petani. Harapan orang kampung yang begitu besar pada Gebu Minang dihembus angin
begitu saja. Pada hal waktu itu, Gebu Minang adalah Top Organisasi Urang Rantau.
Maaf, ini bukan untuk mendiskriditkan Gebu Minang, karena saya sendiri sekarang
adalah orang kampung yang ditarik menjadi pengurus Gebu Minang di Jakarta.
Dalam rapat dengan pengurus Gebu Minang di Jakarta akhir tahun lalu, di kantor
Pak Sjaf di Komnas HAM, untuk kesekian kalinya saya mendengar keluhan
(tudingan) kenapa urang kampung tidak responsif terhadap Gebu Minang. Tidak
menanggapi niat baik orang rantau yang ingin membantu kesulitan rakyat di
Sumatera Barat. Karena masih merasa sebagai orang kampung. Saya langsung
merespon dan saya katakan, persoalan utama antara urang kampung dengan orang
rantau adalah ketidakseimbangan komunikasi dan informasi, termasuk masalah
pemahaman tentang karakter dari masyarakat Minang di kampung. Banyak tokoh
rantau yang datang ke Sumatera Barat lebih suka bertemu pejabat dibandingkan
dengan rakyat, sehingga realitas dan perasaan yang sesungguhnya dialami orang
kampung tidak pernah terungkap secara mendalam. Selalu yang muncul adalah sisi
negatif kampung, diperbincangkan dengan begitu bersemangat. Hal ini bukan tidak
diketahui orang kampung, sehingga dunsanak-dunsanak di
kampung yang masih memiliki sedikit harga diri dan masih ingin mempertahankan
martabat yang ada sebagai manusia, tentu saja melihat dari jauh saja. Mereka
tak ingin berbenturan, karena ini juga bagian dari keyakinan mereka memang
potensi rantau diperlukan untuk kemajuan kampung halaman.
Banyak lagi program orang rantau yang diapungkan di Sumatera Barat. Terakhir
adalah Silaturahmi Saudagar Minang (SSM) yang begitu gemuruh, tapi sekrang kita
tidak tahu kelanjutannya. Saya pernah berbicara di telepon deng bung Nofrins.
Saya hormat dengan apa yg dikerjakannya bung Nofrin untuk Sumatera Barat
(kereta api, website, dll), tapi saya katakan kenapa kita generasi baru paska
PRRI ini tidak mau mengambil posisi yang lebih strategis untuk menjadi kekuatan
pembaruan di Sumatera Barat? Bukan berarti pariwisata dengan segala
instrimennya tidak penting, tetapi menurut saya perlu ada sebuah jembatan
komunikasi yang dialogis antar kampung dan rantau, yang diharapkan dapat
melahirkan sebuah gerakan sosial yang bermakna dan mendorong tumbuhnya
paradigma baru tentang perkembangan dunia sekarang. Teman saya di Unand Prof
Syafruddin Karimi, pernah melontorkan sebuah kata kunci yang menarik
"Nagari-Rantau Networking". Saya tidak tahu persis apa yang
dimaksudkan beliau, dan bagaimana cara mengoperasional kata kunci ini, namun
yang pasti "Nagari-Rantau Networking" adalah sebuah gerakan non-pemerintah,
tapi lebih merupakan sebuah gerakan sosio-kultural, dengan berupaya menjalin
sinergi yang bersifat langsung antar rantau dan kampung (nagari). Dari sinilah
kita membantu masyarakat dan pemerintah untuk menyusun agenda-agenda strategis
Sumatera Barat yang bersifat aplikatif, visioner dan realitis, baik dalam
bidang ekonomi, politik, sosial dll.
Ambo cukuikan sagitu dulu, dan ambo ingin mengulang sebuah pantun yang muncul
menjelang Peristiwa PRRI akhir tahun 1950-an.
"Panjaik pancucuak bulan
Tibo di bulan patah tigo
Di langik hari lah hujan
Di bumi satitiak tido"
Wassalam,
Edy Utama
-- On Sat, 5/3/08, Yulnofrins Napilus wrote:
> From: Yulnofrins Napilus
> Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Cakak Antarnagari - PRIHATIN ---> Lantas Apa ?
> To: [email protected]
> Cc: "Edy UTAMA" , "Ilhamdi TAUFIK" , "masoedabidin748 abidin" , "MH Bachtiar
> Abna SH" , "Dra. Adriyetti AMIR, SU" , "Warni DARWIS" , "Prof Dr Taufik
> ABDULLAH" , "ismailtaufiq Taufiqismail" , "Prof Dr Djohermansyah DJOHAN"
, "Dr Mochtar NAIM" , "Nuraini prapdanu" , "Indra J Piliang"
> Date: Saturday, May 3, 2008, 4:01 PM
> Alaikumsalam ww
>
> Pak Saaf, kalau kesal saja, tidak akan menyelesaikan
> masalah. Sekiranya masih bisa, mungkin perlu dirubah
> "iramanya" supaya jangan seperti batu jatuh ke
> lubuk... Entah bagaimana caranya...? Jadi mari sama-sama
> kita jaga aja dulu endurance kita bersama, kok lai masih
> bisa...:)
>
> Rasanya isu PENDIDIKAN sudah perlu diangkat dan ditelaah
> juga. Bgmn melahirkan BUDAYA MALU satu sama lain. Walaupun
> saya bukan ahli agama, tetapi rasanya yg diterjemahkan sbg
> malu itu tidaklah hanya "aurat". Tetapi juga
> sikap dan tata cara kita... Malulah kito kalau panyalasaian
> berbagai hal jo bacakak...! Maaf ka nan ahli kalau ambo
> salah pulo interpretasinyo... Saya khawatir kalau porsi
> adat, budaya, pariwisata, dll saja, sedangkan yg pokok
> permasalahan utk menuju kearah itu semua malah belum
> tersentuh, yaitu pendidikan...
>
> Saya setuju dg bbrp pendapat yg mempertanyakan: "Apa
> hasil diskusi kita disini secara nyata dan yang bisa
> dilaksanakan utk meningkatkan ekonomi Sumbar...?".
> Saya juga belum bisa menjawab secara gamblang. Sejauh
> diskusi bisa kita jaga dalam kerangka etika yang bisa
> diterima semua pihak, tidak saling menghujat dan tidak
> membebani, kita lakukan saja lah dulu. Cepat atau lambat,
> mudah-mudahan ada hasil positifnya. Minimal silaturrahmi
> terbentuk dulu...
>
> Setidaknya anggota pasif di milis ini, rasanya banyak yg
> punya akses ke pusat-pusat kekuasaan... Kalau dulu banyak
> dindiang nan batalingo, kini banyak komputer nan indak
> batali nan ka manyampaikan...:) Sudah banyak Wi-Fi atau
> Blackberry soalnyo kini...:)) Mohon maaf sebelumnya, terima
> kasih.
>
> Wassalam,
> Nofrins/47+
>
>
> ----- Original Message ----
> From: Dr.Saafroedin BAHAR
> To: [email protected]
> Cc: Edy UTAMA ; Ilhamdi TAUFIK
> ; masoedabidin748 abidin
> ; MH Bachtiar Abna SH
> ; "Dra. Adriyetti
> AMIR, SU" ;
> Warni DARWIS ; Prof Dr Taufik
> ABDULLAH ; ismailtaufiq
> Taufiqismail ; Prof Dr
> Djohermansyah DJOHAN
; Dr Mochtar
> NAIM ; Nuraini prapdanu
> ; Ir. Yulnofrins NAPILUS
> ; Indra J Piliang
>
> Sent: Saturday, May 3, 2008 2:22:47 PM
> Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Cakak Antarnagari - PRIHATIN
> ---> Lantas Apa ?
>
>
> Assalamualaikum w.w Bung Zulfan,
>
> Welcome aboard ! Tak ada yang dapat -- atau perlu-- saya
> bantah dari pandangan Bung Zulfan tentang Ranah. Memang
> demikianlah keadaannya.
>
> Seperti Bung juga, saya sudah kadung tertarik dengan
> kompleksitas masalah Ranah ini, yang akarnya saya lihat,
> antara lain, pada suatu sisi terletak pada konservatisme
> dan ketidakmampuan para pemimpinnya untuk menyerap dan
> mengkonsolidasikan secara jernih demikian banyak gelombang
> perubahan yang menghantam daerah ini sejak tahun 1275, pada
> sisi yang lain pada ketidakacuhan dan rasa puas diri
> terhadap urgensi mempersiapkan masyarakat untuk menghadapi
> masa depan. Dengan kata lain, masyarakat kita di Ranah belum
> terbiasa 'berfikir strategis'. Semuanya dibiarkan
> mengambang, dan kata-kata indah. dipandang sebagai suatu
> solusi. Hentakan Bung IJP dan data Bung Zulfan saya harap
> dapat menyadarkan kita semua bahwa 'penyakit
> Minang' ini sesungguhnya sudak kronis.
>
> Rekan saya, Yulnofrins Napilus, yang selama ini demikian
> bersemangat ''berminang-minang' kelihatannya
> sudah mulai kesal. Saya khawatir cepat atau lambat saya
> sendiri juga akan 'ketularan' pula. Masalahnya
> adalah : sampai berapa lama kita, orang Rantau ini, bisa
> tahan jika segala ataupun sebagian besar yang kita
> sampaikan terkesan 'bagaikan batu jatuh di lubuk'
> belaka ? NATO ( No Action, Talk Only).
>
> Namun, kita jangan putus asa. Justru ketidakacuhan itu
> perlu kita anggap sebagai suatu tantangan. Bagaimana kalau
> kita yang [masih] berpeduli terhadap masalah kronis Ranah
> ini, dan mempunyai sedikit bekal ilmu dan pengalaman,
> mengadakan 'strategic sessions' untuk membahas SWOT
> serta merumuskan suatu solusi alternatif bagi Ranah ?
> Temanya 'political economy'. Soal diterima atau
> tidak diterima -- atau soal didukung atau 'ditubo'
> -- itu soal nanti saja. Itung-itung sebagai amal jariah.
>
> Bagaimana kalau Gebu Minang kita jadikan forumnya ?
> Kebetulan saya masih menjadi Ketua Dewan Penasehat [ walau
> pernah menyatakan ingin meletakkan 'jabatan' tetapi
> ditolak. ].
>
>
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar
> (L, 71 th, Jakarta)
> --- On Sat, 5/3/08, Zulfan Tadjoeddin
> wrote:
>
> From: Zulfan Tadjoeddin
> Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Cakak Antarnagari - PRIHATIN
> To: [email protected]
> Date: Saturday, May 3, 2008, 9:56 AM
>
>
> Bung Indra, Pak Saaf, Pak Jamal dan sanak sapalanta,
>
> Kasus Cakak antar nagari di Solok seharusnya menjadi
> 'wake-up call' untuk Minangkabau, terutama yg di
> ranah. Menurut literatur konflik yg saya baca, ini adalah
> salah satu ciri keterbelakangan atau langkah menuju
> keterbelakangan (involusi). Ada yang salah dalam tubuh kita
> (Minangkabau secara umum, ranah dan rantau). Saya kuatir,
> nasib 'Minangkabau di Indonesia' akan mengarah
> seperti keadaan 'Bangladesh di dunia
> internasional', yaitu: 'diasporanya santiang2,
> tetapi di kampuang kacau-balau'. Ini tidak berarti saya
> pesimis, harapan harus tetap ada.
>
> Ada paradox yang cukup kasat mata. Disatu sisi Minangkabau
> boleh bangga dengan budanya-nya yg adi-luhung, kiprah
> orang2nya di perantauan dan, yg terakhir, Pilkada Sumbar
> adalah salah satu yg terbaik di Indonesia (artinya cukup
> matang dalam berdemokrasi di tingkat lokal). Tetapi disisi
> lain: (1) ekonomi lokal sumbar stagnant (tdk kompetitif
> walau tingkat regional, lihat sektor industri, pendidikan,
> pariwisata dll), (2) secara traditional bergantung pada
> remintance (ini tidak sehat, lihat Phillipines), (3) di
> dalam terbelah (lihat dikotomi ranah-rantau, saling
> cemeeh), (4) memiliki banyak dimensi negative atau
> ambivalence dari budayanya yg perlu di reformasi (kalau
> memang mau maju), (5) berbagai dimesi kemiskinan semakin
> tampak (busung lapar, putus sekolah, pengangguran, dll),
> dan (6) DLL. Semuanya saling terkait. Dan jangan lupa,
> ekonomi Sumbar sangat tergantung pada sektor pemerintah
> (APBD) yg sebagian besar berasal dari kasihan ombak
> Jakarta, ini diukur
> dengan rasio APBD terdapat PDRB. Sumbar sangat gamang
> menghadapi desentralisasi.
>
> Ini memang bukan pengamatan yg up-to-date, hanya sebatas
> ota-ota palanta. Tetapi seperti yg Indra katakan, ini
> persoalan serius. Sayangnya, sejauh ini, persoalan serius
> ini hanya sebatas ota-ota palanta saja, ini tidak cukup.
> Belum kelihatan upaya2 serius yg memadai untuk memikirnya.
> Saya belum pernah membaca semacam kajian political economy
> of Minangkabau yang mampu membaca persoalan2 ini dari
> perspektif yang lebih luas (atau mungkin sudah ada?).
> Pertanyaannya adalah mengapa tidak ada? Bukankah disporanya
> bertebaran dimana-mana? Bukankah di ranah sendiri banyak
> profesor dan doktor? Mungkin ada yg bisa memberi
> pencerahan.
>
> Salam
> Zulfan Tadjoeddin (35)
>
> ________________________________
> Be a better friend, newshound, and
> know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
>
>
>
> ____________________________________________________________________________________
> Be a better friend, newshound, and
> know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
> http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
>
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---