Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu
 

BANDA ACEH
 
Akhirnya aku mengunjungi Banda Aceh pekan yang lalu. Dalam perjalanan menjemput 
puteri kami kedua yang baru saja menyelesaikan tugas PTTnya di kabupaten Gayo 
Luwes. Tadinya ada keinginanku untuk menjemputnya ke Blangkajeuren, menemui ibu 
dan bapak angkatnya dan orang-orang yang telah banyak membantunya selama 
bertugas disana. Sayang istriku sudah menyerah duluan, trauma dengan kondisi 
perjalanan dengan mobil travel melalui jalan rusak, yang kami alami waktu 
mengunjungi kota itu sekitar setahun yang lalu. Kami akhirnya sepakat untuk 
menjemput puteri kami di Banda Aceh saja.
 
Pesawat Sriwijaya Air yang kami tompangi mendarat di Bandara Sultan Iskandar 
Muda jam 2 siang pada hari Kamis tanggal 1 Mai yang lalu, terlambat hampir satu 
jam dari jadwal. Cuaca cerah. Bahkan cukup panas. Kami dijemput puteri kami 
yang ditemani sejawatnya sesama dokter gigi yang adalah orang Aceh asli. Anakku 
telah menyewa sebuah mobil Kijang untuk kami gunakan selama kunjungan ini. 
Tujuan pertama kami, atas permintaanku adalah mesjid raya Banda Aceh. Aku sudah 
berniat akan shalat disana. Mesjid besar yang bersih, rapi dan menyejukkan. Aku 
menjamak dan mengqasar shalatku.
 
Sesudah makan siang, kami langsung menjelajahi kota, melihat sisa kerusakan 
akibat tsunami tanggal 26 Desember 2004. Melalui jalan dengan bangunan baru, 
entah rumah atau mesjid atau pertokoan. Melalui tempat pemakaman massal. Kami 
dibawa mengunjungi lokasi kapal PLTD yang didamparkan air pasang tsunami. 
Sebuah kapal yang puluhan meter panjangnya, lebih sepuluh meter tingginya 
dipindahkan dari tempat bersandarnya semula sejauh lebih kurang sepuluh 
kilometer ke daratan. Masya Allah. Aku melihat peringatan Allah yang sangat 
nyata. Kapal yang ribuan ton bobotnya itu ‘diletakkan’ dengan sangat ‘rapi’ 
memotong tegak lurus sebuah jalan, menghimpit rumah-rumah dikiri dan kanan 
jalan itu. Kapal itu ‘duduk’ dengan sangat eloknya disana, tidak miring, tidak 
oleng. Daerah sekitar kapal itu akan dijadikan sebuah taman tempat mengenang 
bencana tsunami. Banyak pengunjung naik ke atas kapal itu. Tapi aku tidak 
tertarik melakukannya. Aku benar-benar terkesima
 membayangkan dahsyatnya pukulan ombak tsunami yang terjadi pada hari itu, 
melalui keberadaan kapal PLTD ini, ditempat ini.
 
Kami kunjungi pula dermaga (pelabuhan) yang sedang dibangun. Supir merangkap 
pemandu kami memberi tahu bahwa kapal PLTD yang baru kami lihat sebelumnya dulu 
tertambat dekat pelabuhan itu. Di lepas pantai terlihat pulau-pulau kecil di 
ujung Sumatera. Pemandangan yang cantik.
 
Pagi hari di hari kedua kami beristirahat di penginapan karena puteri kami 
harus pergi mengurus surat-surat dinasnya sekalian berpamitan ke Dinas 
Kesehatan Propinsi. Siang itu aku shalat Jumat di mesjid raya ditemani teman 
anakku sesama dokter gigi. Khatib Jumat adalah bapak Profesor Jimly As Siddiqi. 
 
Sesudah makan siang kami pergi mengunjungi musium. Sebenarnya bangunan musium 
ini sedang direnovasi dan diperbesar, tapi ada bagian yang dapat dikunjungi. 
Aku sangat senang mendapatkan informasi tentang perang Aceh yang dipajang dalam 
bentuk foto dengan catatan serta keterangan di dalam musium ini. Keterangan 
tentang perang Aceh melawan Belanda, dalam sebuah peperangan terpanjang yang 
dihadapi pemerintah kolonial Hindia Belanda. Tentang korban dari fihak Belanda, 
diantaranya Jenderal Kohler, pemimpin tentara Belanda yang tertembak dekat  
sebuah pohon di halaman mesjid raya. Dicatatkan pula perkataan terakhir 
jenderal malang itu, ‘Oh Tuhan, aku tertembak.’ Dan jenderal Belanda itu mati 
disitu. Pohon dekat dia tertembak oleh orang Belanda dinamai pohon Kohler.
 
Tentang kebrutalan serdadu-serdadu Kumpeni dalam perang itu. Tentang kegigihan 
pemimpin-pemimpin dan rakyat Aceh dalam melawan Belanda. Seandainya saja rakyat 
Aceh mendapat bantuan dana atau senjata ketika itu, belum tentu Belanda akan 
memenangkan peperangan.
 
Tidak lupa pula pemandu kami menunjukkan komplek kuburan serdadu Belanda di 
tengah-tengah kota yang dibiarkan dan dipelihara untuk bukti sejarah. Belanda 
memang telah membayar sangat mahal biaya perang menaklukkan semangat jihad 
masyarakat Aceh.
 
Kami kunjungi Lok Nga, tempat berdirinya pabrik semen di pinggir pantai yang 
juga rusak parah diterjang tsunami. Dan mesjid yang meskipun selamat di tengah 
perumahan penduduk yang hancur, sekarang juga direnovasi dan diperbesar dengan 
bantuan dari pemerintah Turki. Di kampung ini terlihat rumah-rumah baru yang 
juga dibangun atas bantuan Turki, diberi lambang bulan bintang seperti yang 
terdapat pada bendera Turki.
 
Aku menemani istriku shalat asar di mesjid kampung itu. Seorang ibu yang 
kehilangan suami, anak-anak dan cucunya ketika musibah tsunami menimpa, 
bercerita dengan berurai air mata kepada istriku. Derita yang dialami 
keluarganya tidak mungkin dilupakan.
 
Pemandu kami membawa kami ke lokasi lain yang juga dibangun atas bantuan 
pemerintah Turki. Aku sangat terkesan di tempat kedua ini, dimana terdapat 
komplek pemakaman orang-orang Turki (batu nisannya dihiasi bulan bintang). 
Kebetulan sore itu ada pula serombongan orang-orang Turki sedang berkunjung. 
Salah satu diantara mereka adalah seorang anak muda yang jadi mahasiswa di 
Unsyiah. Dia fasih berbahasa Indonesia.
 
Kekagumanku bertambah setelah mengetahui bahwa yang dikuburkan disitu adalah 
tentara Turki yang dulu datang menolong Aceh ketika perang melawan Portugis. 
Jadi mereka datang disekitar tahun 1500 an. Ketika aku bertanya sambil setengah 
tidak percaya (karena belum pernah mendengar cerita ini) aku dikenalkan kepada 
seorang bapak tua penjaga komplek makam ini. Nama orang tua itu Abdul Aziz. 
Beliau adalah keturunan Turki. 
 
Beliau bercerita bahwa raja Aceh mengirim utusan meminta bantuan kepada Sultan 
Ottoman (sultan Selim)  untuk mengusir penjajah Portugis. Utusan itu membawa 
lada (hasil bumi Sumatera) sebagai cendera mata. Ketika sudah mendekati 
pelabuhan laut kesultanan Ottoman, kapal mereka diserang badai. Lada, buah 
tangan yang mereka bawa tumpah ke laut. Waktu utusan itu datang menghadap 
Sultan, mulanya mereka ditolak karena mereka tidak membawa cendera mata. Salah 
seorang anggota rombongan kembali ke kapal di dermaga dan berhasil mengumpulkan 
secupak lada yang tertinggal. Lada secupak itu dibawa kembali menghadap Sultan 
sebagai bukti bahwa sebenarnya mereka ada membawa barang seserahan namun sudah 
terbuang ke laut.
 
Ringkas cerita, dengan bukti secupak lada itu, Sultan Ottoman percaya. Beliau 
bersedia mengirimkan bala bantuan ke Aceh. Maka datanglah rombongan tentara dan 
insinyur (ahli membuat meriam) ke kerajaan Aceh. Jumlah mereka 317 orang 
(wallahu a’lam) datang dengan beberapa buah kapal. Mereka membantu kerajaan 
Aceh memerangi Portugis dan berhasil mengalahkannya.  Seusai perang, rupanya 
tentara Ottoman itu tidak kembali pulang tapi menetap dan menikah dengan 
penduduk setempat. Salah seorang anggota rombongan itu yang rupanya seorang 
ulama bernama Selahaddin (demikian tertulis di makamnya, mungkin  menurut ejaan 
kita Salahuddin) yang oleh masyarakat Aceh dijuluki Tengku Di Bitay. Beliau 
mengajarkan agama Islam di mesjid di kampung itu. Bitay adalah nama kampung 
tersebut. Menurut cerita puteri dari bapak Abdul Aziz (yang lebih banyak 
berbicara) bahkan ketika Sultan Iskandar Muda masih remaja, beliau datang 
mengaji ke tempat Tengku Di Bitay.
 
Aku ditawari untuk melihat musium mini di komplek itu yang tentu saja aku 
terima. Di dalam musium itu ada lukisan Sultan Selim, lukisan kapal perang 
kesultanan Ottoman yang datang mebantu Aceh dilengkapi dengan catatan sejarah. 
Semua ini benar-benar merupakan informasi baru bagiku karena belum pernah aku 
mendengar sebelumnya.
 
Ketika Aceh berperang melawan Belanda di tahun 1873, sangat boleh jadi mereka 
kembali meminta bantuan Turki Ottoman. Hanya saja, kondisi kesultanan Ottoman 
pada tahun-tahun itu sudah tidak lagi perkasa. 
 
Kami tinggalkan komplek pemakaman Bitay ketika hari sudah menjelang maghrib. 
 
Malam itu kami berbincang-bincang di bawah pesawat Seulawah, yang sekarang 
menghiasi lapangan besar. Seulawah adalah pesawat pertama yang dimiliki 
pemerintah Indonesia, sumbangan masyarakat Aceh di awal kemerdekaan. Kami 
berdiskusi dalam cerita panjang tentang peperangan demi peperangan yang dilalui 
Aceh secara nyaris bekerkesinambungan dalam jangka waktu lebih dari seratus 
tahun. Semoga saja tidak ada lagi perang dan pertumpahan darah di bumi Serambi 
Mekah ini untuk masa mendatang.
 
Hari Sabtu tanggal 3 Mai, pagi kami bersiap-siap untuk meninggalkan Banda Aceh. 
Sempat juga kami dibawa berkeliling kota sebelum berangkat menuju Bandara, 
termasuk mengunjungi toko oleh-oleh, sebuah tempat wajib untuk dikunjungi 
istriku.
 
Jam satu siang kami sudah berada di Bandara. Pesawat Sriwijaya Air tepat waktu 
kali ini. Kami berangkat dari Bandara Sultan Iskandar Muda jam 13.40 menuju 
Jakarta melalui Medan.
 
                                                                        *****
 
 
di http://lembangalam.multiply.com dan www.palantalembangalam.blogspot.com 


 


      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke