Sangat menarik untuk membacanya di saat 100 tahun Harkitnas ini :
Salam
Ardian Hamdani
TIADA BAHASA, HILANGLAH BANGSA! IA LAHIR dari kesadaran. Sadar
bergerak, sadar berjuang, dan sadar mengejar ketertinggalan dari saudara tuanya
yang lebih dulu bersadar diri: Jawa. Harap maklum, nasionalisme Jawa berlari
lebih cepat sepuluh tahun daripada Sumatera. Meski sempat menuai komentar
pesimis, kaum intelektual Sumatera tetap bersepakat mengikat hati dalam sebuah
wadah perjuangan yang terbentuk pada 1916: Jong Sumatranen Bond atawa JSB.
“Soematra beloem mateng bagi seboeah politik dan oemeoem,” tukas Said Ali,
redaktur suratkabar Tjaja Sumatra, dengan nada sinis. Tak hiraukan suara-suara
miring itu, anak-anak Sumatera jalan terus, tancap gas menuju pencerahan. Dua
warsa setelahnya, tahun 1918, JSB bergegas menerbitkan suratkabar Jong Sumatra.
Sementara itu, kelahiran JSB ternyata masih memantik polemik. Kaum tua
menganggap gerakan modern JSB sebagai ancaman bagi adat Minang. Beda persepsi
antara dua generasi yang berbeda ini menjadi sorotan Bahder Johan, aktivis JSB,
yang dimuat di edisi perdana Jong Sumatra, Januari 1918:
“Lahirnja J.S.B kedoenia tentoelah pikiran orang akan menambah lagi besarnja
pertjeraian antara kedoea pihak itoe karena diwaktoe itulah pendoedoek Sumatera
jang berhaloean kaoem muda, artinja jang berhaloean akan kemadjoean berjabat
tangan tanda persaudaraan akan bekerdja bersama-sama mentjapai jang moeda itoe:
jaitoe akan meninggikan deradjat poelau Sumatera dan memberikan tempat kepada
bangsa Sumatera didalam doenia peradaban. Besar dan tinggi maksoed dan
pengharapan Jong Sumatranen Bond, toeloes dan ichlas tjita-tjita pemoeda
Sumatra akan mengharoemkan nama Sumatra dimoeka bumi ini akan memimpin
bangsanja sepandjang tangga ketjerdasan menudju gedoeng kesempoernaan, dan
terpikoellah kewadjiban diatas batoe kepala bangsa Sumatra besar dan ketjil,
toea dan moeda akan memberi djiwa yang tegoeh dan koeat kepada Jong Sumatranen
Bond!”
Suratkabar Jong Sumatra memainkan peranan penting sebagai media yang
menjembatani segala bentuk reaksi atas konflik yang terjadi. Dalam Jong Sumatra
edisi 12, th 1, Desember 1918, seseorang berinisial Lematang meneriakkan
seruannya, dengan maksud memertanyakan kepentingan kaum adat. “Bagaimana Hindia
akan madjoe, kalau kiranja masih banjak orang jang enggan melihat bangsakoe
mendapat martabat jang lebih tinggi!” Sambutan positif juga datang dari Mohamad
Anas, sekretaris JSB. Anas berkata lantang di Jong Sumatra, “Bangsa Sumatra
soedah moelai bangkit dari ketidoerannja, dan soedah moelai memandang
keperloean oemoem.”
Jong Sumatra terbit pertamakali pada Januari 1918. Berkala tidak tetap: kadang
bulanan, kadang triwulan, bahkan pernah terbit setahun sekali. Bahasa Belanda
merupakan bahasa mayoritas yang digunakan kendati ada juga artikel yang memakai
bahasa Melayu. Jong Sumatra dicetak di Weltervreden, Batavia-kota. Di situ pula
kantor redaksi dan administrasi suratkabar yang berjargon “Organ van Den Jong
Sumatranen Bond” ini.
Mulanya, redaksi Jong Sumatra adalah juga para pengurus alias Centraal
Hoofbestuur JSB. Mereka itu adalah Tengkoe Mansyur (ketua), A Munir Nasution
(wakil ketua), Mohamad Anas (sekretaris I), Amir (sekretaris II), dan Marzoeki
(bendahara), serta dibantu beberapa nama lain. Keredaksian Jong Sumatra
dipegang oleh Amir, sedangkan administrasi ditangani Roeslie. Mereka ini
rata-rata adalah siswa atau alumni STOVIA serta sekolah pendidikan Belanda
lainnya. Setelah beberapa edisi, keredaksian Jong Sumatra dipisahkan dari
kepengurusan JSB meski tetap ada garis koordinasi. Pemimpin redaksi pertama
adalah Amir dan pemimpin perusahaan dijabat Bahder Johan.
Sumatera memang dikenal banyak menghasilkan jago-jago pergerakan, dan banyak di
antaranya yang mengawali karir organisasinya melalui JSB, sebut saja Mohammad
Hatta dan Mohammad Yamin. Hatta adalah bendahara JSB di Padang 1916-1918.
Kemudian ia menjadi pengurus JSB Batavia pada 1919 dan mulai mengurusi Jong
Sumatra sejak 1920 hingga 1921. Selama di Jong Sumatra inilah Hatta banyak
menuangkan segenap alam pikirannya, salah satunya lewat karangan berjudul
“Hindiana” yang dimuat di Jong Sumatra no 5, th 3, 1920.
Sedangkan Mohammad Yamin adalah salahsatu putera Sumatera yang paling
dibanggakan. Karya-karyanya yang berupa esai ataupun sajak sempat merajai Jong
Sumatra. Ia memimpin JSB pada 1926-1928 dan dengan aktif mendorong pemikiran
tentang perlunya bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa persatuan. Kepekaan
Yamin meraba pentingnya bahasa identitas sudah mulai terlihat dalam tulisannya
di Jong Sumatra no 4, th 3, 1920:
“Sesoenggohnja tiadalah kami hendak melebih-lebihkan atau mempertinggi bahasa
Melajoe itoe setara dengan bahasa Sangsekarta atau Joenani, tidak, haram
sedemikian maksoed kami. Hanjalah kami memperingatkan bahwa bahasa kita makin
lama, makin tidak dioesahakan dan dipeladjari, ja, sampai ada jang tiada hendak
tahoe menahoe lagi. Nafsoe ini tersesat, tersalah dan berdosa. Kepada ia kami
pekikkkan dengan soeara jang terang dan kami katakan dengan kalimat jang
djelas: TIADA BAHASA, HILANGLAH BANGSA!”
Yamin inilah salahsatu aktor yang membawa JSB ke gelanggang nasional, Kongres
Pemuda I pada 1923, di mana Yamin melontarkan pemikiran mengenai kemungkinan
bahasa Melayu akan berkembang menjadi bahasa kebangsaan. Pada Kongres Pemuda ke
II, 28 Oktober 1928, Yamin adalah salahseorang yang berperan penting dalam
penyusunan teks Sumpah Pemuda, di mana konsepnya tentang bahasa persatuan
akhirnya disepakati oleh para perintis embrio Indonesia. Majalah Jong Sumatra
berperan penting dalam memerjuangkan pemakaian bahasa nasional ini dengan
menjadi media yang pertamakali mempublikasikan gagasan Yamin, ide cemerlang
tentang bahasa kebangsaan. (Iswara NR/Indonesiabuku)
sumber : jemaridewa.blogspot.com
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
Answers
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Hindari penggunaan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---