Melintasi Lembah Anai dengan Kereta Api 

PadangKini.com | Rabu, 14/5/2008, 17:05 WIB

Oleh: Yanti/PadangKini.com


LOKOMOTIF kereta berwarna merah dengan suara desis mesinnya yang khas perlahan 
mulai bergerak menyeret tiga gerbong serta satu loko bergigi menyusuri rel 
meninggalkan Stasiun Simpang Haru yang sepi, Desember 2006.

Pagi itu saya bersama rombongan 'Masyarakat Peduli Kereta Api Sumatera Barat' 
dan Indonesian Railway Preservation Society mencoba rute Kereta Api Wisata dari 
Padang ke kawasan wisata Lembah Anai yang eksotis itu. 

Ini juga untuk pertama kalinya rute ini digunakan untuk wisata, sejak zaman 
Kolonial Belanda dulunya hanya digunakan untuk rute kereta pengangkut batubara 
dari Sawahlunto ke Padang. 

"Tak ada yang lebih indah dari hari ini, saya sangat bahagia bisa melihat lagi 
kereta api lewat di Sumatera Barat, tidak hanya menjadi besi tua," kata Chaidir 
Nien Latif, 79 tahun, bekas pejabat PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api) yang 
kini menjadi "aktivis kereta api". 

Senyumnya tak henti mengembang. Semasa jadi pejabat PJKA dulunya ia sukses 
menghidupkan loko uap di Ambarawa. Obsesinya paling besar saat ini adalah 
menghidupkan kembali kereta api di Sumatera Barat yang telah mati suri sejak 
empat tahun lalu.

Bersama perantau Minang yang ada di Jakarta dan Bandung, Chaidir Latif 
membentuk komunitas pencinta kereta api yang dinamai Masyarakat Peduli Kereta 
Api Sumatera Barat.

"Ranah Minang lebih indah dari tempat lain, bayangkan di sini kita bisa 
berkeliling Danau Singkarak naik kereta api, ke Lembah Anai dan Bukittinggi 
dengan kereta api, sungguh luar biasa," ujarnya lagi. 

Dengan kecepatan hanya 40 kilometer per jam, setelah keluar dari kota Padang, 
kereta api mulai melewati pemandangan khas pedesaan. Burung-burung jalak putih 
tampak beterbangan di atas hijaunya hamparan sawah.

Kereta juga melewati ladang rambutan, durian, serta barisan pohon kelapa di 
pinggir jalan. Wah, sungguh menyejukkan mata. Rasanya kereta api wisata memang 
lebih pas di Ranah Minang, karena pemandangan alam yang indah terhampar 
sepanjang jalan.

Dua jam dari Padang, menjelang Stasius Kayutanam, kereta melewati kompleks 
Ruang Pendidik INS Kayutanam yang luas dengan pohon-pohon tuanya yang rindang. I

NS (Indonesich Nederlandsche School) adalah sekolah kreatif yang didirikan oleh 
Engku Moehammad Sjafei pada 31 Oktober 1926 yang kini menjadi SMA Plus. Salah 
satu murid INS adalah A. A. Navis, sastrawan nasional yang terkenal dengan 
cerpennya "Robohnya Surau Kami". 

Kereta api yang kami tumpangi kemudian berhenti di Stasiun Kayu Tanam untuk 
ganti lokomotif. Lokomotifnya diganti dengan loko bergigi yang dari tadi 
ditarik di gerbong paling belakang. 

Lokomotif khusus untuk rel bergigi ini diperlukan untuk rel yang menanjak tajam 
seperti melewati kawasan Lembah Anai yang tinggi dan terjal sepanjang 33,8 Km 
yang akan dilewati.  

Tak lama Lokomotif bergigi yang tetap di posisi belakang gerbong mulai 
dihidupkan untuk mendorong empat rangkaian gerbong ke Lembah Anai. Dengan 
cengkeraman gigi besinya pada tengah bantalan rel, perlahan kereta mulai 
bergerak mendaki melewati tanjakan-tanjakan yang tinggi. 

Gesekan gigi besi lokomotif dengan bantalan rel kereta membuat getarannya lebih 
terasa.

Kereta akan melewati Lembah Anai yang terkenal dengan bukit dan jurangnya yang 
terjal, serta air terjun dan sungainya yang jernih. 

Perintah Van den Bosch

Menurut Rusli Amran dalam bukunya Sumatera Barat Hingga Plakat Panjang, pada 
tahun 1833 semasa Kolonial Belanda Gubernur Jenderal Van den Bosch, sewaktu 
berkunjung ke Sumatera Barat terpesona melihat alam Lembah Anai dengan Batang 
(sungai) Anai yang berhasil menerobos Bukit Barisan. Van den Bosch orang 
pertama yang memerintahkan membuat jalan raya mengikuti alur Batang Anai 
berikut jalur kereta api. 

Jalur kereta api yang melewati Lembah Anai selesai dibangun 1881. Jalur kereta 
api ini menghubungkan Emma Haven (sekarang Pelabuhan Teluk Bayur) di Padang ke 
Sawahlunto sepanjang 155,5 km. Rel kereta ini melewati Lembah Anai, Padang 
Panjang, tepian Danau Singkarak dan terus ke Kota Sawahlunto. 

Kereta mulai masuk ke dalam hutan bukit barisan yang masih rapat. Samping kiri 
kanan pemandangannya bertukar dari sawah ke perdu dan pohon hutan tropis yang 
khas. Udara juga mulai terasa dingin dalam gerimis yang tipis. Kereta melaju 
perlahan di atas jembatan plat baja sepanjang 50 meter.

Cukup mendebarkan melihat Batang Anai jauh di bawah. Namun pemandangannya 
sungguh eksotis. Lembah, Batang Anai yang kecil namun cantik, serta air 
terjunnya yang mengucur deras dari dinding bukit yang terjal. 

Kereta berhenti di ujung jembatan di seberang air terjun Lembah Anai yang amat 
cantik. Seperti yang lain, saya langsung turun dan menikmati panorama Lembah 
Anai. Tak lupa merendam tangan dan cuci muka di air terjunnya. Duh, segarnya.

Lembah Anai dengan air terjunnya yang terkenal sudah lama dijadikan kawasan 
wisata. Udaranya dingin dengan  pohon-pohon yang menutupi Bukit Barisan yang 
tinggi di sekelilingnya.

Air terjun Lembah Anai dan air Batang Anai di bawahnya di antaranya berasal 
dari Gunung Singgalang yang terletak di bagian utara dan anak-anak sungai dari 
Gunung Merapi yang mengalir melalui Kota Padang Panjang. Airnya mererobos Bukit 
Barisan yang menjadi air terjun Lembah Anai persis di sebelah jalan raya. 

Batang Anai juga menampung hampir semua air yang datang dari lereng bagian 
barat bukit barisan. Untuk mencari jalan ke daratan rendah sebelum mencapai 
laut bebas, Batang Anai memaksakan diri di celah-celah bukit barisan dengan 
dinding yang terjal. 

Perjalanan wisata kereta api ini dilanjutkan ke Stasiun Kereta Api Padang 
Panjang. Kereta melaju melintasi jembatan Lembah Anai menyusuri tepian sungai. 
Tak berapa lama, kereta melintasi jembatan Silaing yang amat tinggi dan curam. 

Bayangkan saja, jembatan kereta api ini menghubungkan antara puncak bukit ke 
bukit satunya lagi. Panjang jembatannya 101 meter dengan ketinggian 50 meter, 
ini membuat perjalanan serasa melayang di udara. Luar biasa mendebarkan hati. 

Kereta berhenti di Stasiun Padang Panjang. Saat kembali ke Kayu Tanam, kali ini 
loko bergigi tidak lagi mendorong dari belakang, tetapi dengan gagah melaju di 
depan menyeret sambil menahan gerbong melintasi Lembah Anai. (yanti)

* Mengenang almarhum Bapak Chaidir N Latief.

Copyright © 2008 www.padangkini.com All Rights Reserved.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Hindari penggunaan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke