Ambo copy pastekan mak Suryadi!

 
Nagari- Rantaunet

Oleh Suryadi

PadangKini.com; Kamis, 15/5/2008, 9:09 WIB

  <http://www.padangkini.com/foto/kolom/KOLOM-Suryadi.jpg> 

'Nagari-Rantaunet' adalah istilah yang dimunculkan oleh perantau Minang Darul 
M. St. Parapatiah (Jakarta) dalam postingnya di milis orang Minang sedunia, 
[EMAIL PROTECTED] (4 Mei 2008).

Sudah sejak tiga minggu belakangan ini perbincangan mengenai topik klasik 
tentang hubungan rantau-ranah (kampung halaman) dan kemungkinan 'sumbangan' 
(moral dan material) yang dapat diberikan oleh yang pertama kepada yang kedua, 
menghangat lagi di lapau saiber orang Minang sedunia itu.

Istilah itu sendiri merupakan singakatan dari 'Nagari-Rantau Networking' yang 
muncul sebelumnya dalam posting budayawan Edy Utama yang dalam hal ini boleh 
dianggap mewakili suara ranah karena beliau tinggal di Padang ( [EMAIL 
PROTECTED],  4 Mei 2008) --sebuah istilah yang menurut pengakuan Edy Utama 
sendiri pertama kali dikemukakan oleh dosen Universitas Andalas, Profesor 
Syafruddin Karimi.

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menyadari potensi besar yang dimiliki oleh 
perantau Minang untuk membangun ranah. Gubernur Gamawan Fauzi dan juga 
gubernur-gubernur Sumatera Barat sebelumnya, telah berkali-kali mengadakan 
silaturahmi dengan berbagai komunitas perantau Minang di Indonesia dan juga di 
luar negeri dalam rangka mengimbau mereka untuk 'sato sakaki' membangun ranah.

Namun selama itu pula kita mendengar -dalam berbagai forum dan media (cetak, 
elektronik, dan saiber)- bahwa sering terjadi miskomunikasi antara rantau dan 
ranah. Akibatnya, potensi itu belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Kritikan-kritikan subjektif yang seolah-olah mewakili suara perantau mengatakan 
bahwa mereka yang di ranah tidak responsif terhadap program-program yang 
dirancang dan ditawarkan dari rantau. Orang di ranah dinilai tidak open minded 
dan terlalu lamban bergerak. Mereka juga menilai banyak perilaku budaya yang 
dipraktekkan di ranah tidak kondusif bagi masuknya aliran modal dari luar, 
termasuk dari para perantau.

Sebaliknya, kritikan-kritikan itu dibalas oleh orang ranah dengan mengatakan 
bahwa program-program rancangan dari rantau itu sering memakai 'ukuran luar', 
sehingga akibatnya tidak applicable di ranah.

Edy Utama (ibid.) dengan mengutip sejarawan Taufik Abdullah, mengatakan bahwa 
"[o]rang Minangkabau telah menggunakan ukuran 'orang luar' (Pusat) untuk 
menakar keberhasilannya dan tidak lagi mendasarinya pada dinamika dan sistem 
nilai yang ada di dalam kebudayaan Minangkabau itu sendiri (baju urang nan 
bapakai). Segala sesuatu yang bersifat 'PUSAT' [dianggap] baik, dan harus 
didukung sepenuhnya oleh daerah."

Dalam esai-esainya yang bernada sinisme yang terbit di koran-koran Padang, 
budayawan Wisran Hadi sering mengeritik sifat orang rantau yang sering merasa 
lebih pintar dan dengan kepeng-nya yang banyak seperti memaksakan kehendak 
mereka kepada orang-orang di ranah. 

Lepas dari soal siapa yang paling benar, menurut hemat saya tidak efektifnya 
program-program sosial-ekonomi rantau untuk ranah itu selama ini antara lain 
juga disebabkan oleh lemahnya networking (jejaring) orang Minangkabau.

Harus kita akui bahwa networking etnisitas orang Minangkabau memang cukup 
lemah, padahal di era modern ini justru networking itulah faktor yang sangat 
penting dan amat menentukan dalam keberhasilan suatu program. Walau 
bagaimanapun kekhasan (baca: kelemahan) networking etnisitas orang Minang itu 
terkait dengan konsep 'den' dan sifat 'merdeka' orang Minangkabau yang memang 
punya akar tunjang dalam kebudayaannya.

Dalam realitas sederhana sosiolog Mochtar Naim pernah menggambarkan keunikan 
-untuk tidak mengatakan kelemahan- networking orang Minang itu dalam sistem 
perdagangan mereka yang bersifat sentrifugal (bergerak menjauhi pusat).

Bila seorang keponakan sudah merasa pintar manggaleh, misalnya, maka ia akan 
berusaha 'keluar' dari toko mamak-nya untuk kemudian mencoba berjualan sendiri 
dan cenderung tidak mau mengambil barang dari toko mamaknya itu, tapi dari 
orang lain. Si mamak sedapat mungkin juga tidak ingin 'diusik' lagi oleh 
kemenakannya.

Ini berbeda dengan sistem perdagangan orang Cina, misalnya, yang bersifat 
sentripetal (bergerak mendekati pusat) dimana hubungan famili dalam satu 
networking yang kuat sangat menonjol. Sehingga, seperti kita lihat, jarang 
seorang pedagang Cina yang setelah menjadi pengecer tidak menjadi distributor.

Karakter dagang yang dianut orang Minang itu cenderung kontra produktif 
terhadap upaya pengakumulasian modal dan tenaga, selain sangat tidak mendukung 
pembangunan networking yang besar dan kuat.

Hal sebaliknya sangat mungkin terjadi dalam sistem perdagangan yang bersifat 
sentripetal seperti yang dipraktekkan orang Cina. Kemajuan ekonomi yang 
dinikmati Cina sekarang ini antara lain juga karena aliran modal ke dalam 
negeri dari para diaspora Cina di seluruh dunia yang terkenal memiliki 
networking yang kuat dan mengglobal, seperti saya saksikan sendiri di banyak 
restoran Cina dan distributor produk-produk hasil bumi dan industri Cina yang 
dikelola oleh Cina diaspora di pecinan-pecinan kota-kota besar Eropa seperti 
Amsterdam, Paris, dan London.

Sesungguhnya sifat networking orang Minang yang bersifat sentrifugal itu 
termanifestasi dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Ia merupakan salah satu 
dari sejumlah sistem nilai inti etnisitas keminangkabauan. Dengan memakai 
pendekatan kebudayaan, maka menurut hemat saya, apapun program untuk ranah yang 
dirancang dari rantau seyogiayanya mempertimbangkan hal ini.

Sampai sekarang nagari tetap menjadi simpul penting yang mempengaruhi 
networking orang Minang di rantau, walaupun secara fisik nagari-nagari sudah 
'dihancurkan' oleh rezim Orde Baru. Banyak organisasi perantau dan 
program-program yang mereka buat merefleksikan unifikasi dan kerjasama 
orang-orang senagari ketimbang sekecamatan, sekabupaten, seluhak, atau 
seprovinsi.

Bukti historis dan kontemporer menunjukkan bahwa kesuksesan (ekonomi, sosial, 
dan politik) perantau-perantau dari sebuah nagari tak banyak berdampak kepada 
nagari-nagari lainnya, sebut saja contohnya Koto Gadang, Sulik Aia, dan 
Silungkang. Nagari adalah konsep geografis yang paling jelas dalam pikiran 
seorang Minangkabau, dimanapun dia berada.

Edy Utama mengatakan bahwa "Nagari-Rantau Networking" lebih merupakan sebuah 
gerakan sosio-kultural yang bersifat nonpemerintah yang berupaya menjalin 
sinergi yang bersifat langsung antar rantau dan masing-masing nagari.

Bertolak dari analisis kultural di atas, konsep 'Nagari-Rantaunet' ini sangat 
mungkin untuk diimplementasikan dalam bentuk berbagai program yang direncanakan 
dengan baik.

Pengalaman empiris menunjukkan bahwa program-program yang melibatkan perantau 
dengan membawa nama nagari sering jalan dan jadi. Dalam bentuk yang sederhana 
misalnya, hal itu dapat dilihat dari sumbangan pembangunan sarana umum di satu 
nagari yang diedarkan kepada urang nagari itu yang ada di rantau. Biasanya 
mereka antusias mendukung dan memberi sumbangan.

Sebaliknya, tak banyak perantau dari suatu nagari yang antusias memberikan 
sumbangan bagi pembangunan sarana umum di nagari lain, meskipun nagari 
tetangganya sendiri.

Ini tidak berarti bahwa program-program besar yang bersifat supra nagari yang 
melibatkan birokrasi pemerintah daerah, seperti antara lain dikemukakan Indra 
Jaya Piliang (IJP) ( [EMAIL PROTECTED], 2 Mei 2008), juga tidak bisa 
dilaksanakan. Program-program seperti itu bisa saja dilaksanakan, tetapi 
menurut saya ia menghendaki perubahan mendasar mindset orang Minang, baik 
perantau pemilik modal maupun para calon pelaksananya di ranah sendiri.

Tambahan lagi, setidaknya dengan melihat situasi ekonomi, konstelasi politik, 
karakter birokrasi daerah, dan nasional, diperlukan kerja keras untuk 
merealisasikan program-program besar yang bersifat supra nagari seperti usulan 
IJP itu. Sebaliknya konsep 'Nagari-Rantau Networking' ini, seperti saya uraikan 
di atas, sudah memiliki basis kultural, oleh karenanya mungkin relatif lebih 
aplikatif dan dapat direspon oleh masyarakat awam di ranah.

Di dalam diri para pengusaha Minang yang sukses setiap kehendak untuk membangun 
Sumatera Barat secara keseluruhan selalu mendapat 'teguran' oleh kekuatan 
primordial bernagari.

Sadar atau tidak, diakui atau tidak, keengganan banyak perantau Minang yang 
sukses untuk membangun ranah didorong oleh kekuatan primordial bernagari itu di 
satu pihak dan 'kecairan' konsep Minangkabau sendiri di lain pihak. Jelasnya, 
penanda yang jelas begi seorang perantau Minang di rantau adalah 
ke-nagarian-nya, bukan keminangkabauan itu sendiri.

Se-diasporic apapun seorang Minang, primordialisme (ber)nagari itu tetap 
terinternalisasi dalam dirinya, walaupun mungkin hanya setipis kulit bawang. 
Kalau begitu mengapa simpul networking nagari ini tidak dimaanfaatkan secara 
terencana untuk mentransfer balik potensi sosial-ekonomi rantau ke ranah? 

*Penulis putra Sunur, Pariaman, dosen dan peneliti pada Opleiding Talen en 
Culturen van Indonesiƫ, Universiteit Leiden, Belanda.

-----Original Message-----
From: Lies Suryadi [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, May 16, 2008 10:59 AM
To: Nofiardi
Subject: 


Sanak Andi Jupardi ko iyo anggota RN juo Sanak Nofiardi.
Liek pulo www.padangkini.com . Ado pulo snek ambo tulih tentang nagari rantau 
networking nan kito pabincangkan kiro 3 minggu nan lapeh.
 
Salam arek,
Suryadi 
Leiden

  _____  

Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download  
<http://sg.rd.yahoo.com/id/search/toolbar/mail/signature/*http://id.toolbar.yahoo.com/>
 sekarang juga.




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Hindari penggunaan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke