Menangkap dari apa yang dipaparkan oleh Sutan Indrajaya Piliang, nampaknya 
persoalan ini menjadi begitu encer dan clear!. Dengan segala kepiawaiannya, 
Sutan Indrajaya Piliang mampu mengupas fenomena ini sampai ke akar2nya. Tapi 
yang kemudian singgah dalam pikiran saya adalah, apabila gerakan perempuan ini 
menjadi sesuatu yang (dianggap) membahayakan bagi NKRI, adakah yang berani maju 
untuk mempelopori penolakan terhadap gerakan perempuan ini? atau barangkali 
kita  biarkan saja gerakan perempuan ini sebagai wujud demokrasi?
 
Eddy Piliang


From: [EMAIL PROTECTED]: [EMAIL PROTECTED]: [EMAIL PROTECTED] Re: Buat Aktivis 
Perempuan MinangDate: Thu, 15 May 2008 19:00:08 +0700








Nah, ini satu lagi. Feminisme memang lahir dari beragam akar dan bentuk. Ada 
feminisme radikal, marxis, liberal, moderat, atau feminisme yang menyandarkan 
diri pada hermeunitika keagamaan. Jelas tidak bisa dikatakan bahwa feminisme 
lahir dari neo-lib. Banyak feminis yang anti-neolib (yakni feminis marxis). 
 
Kemaren saya diundang oleh Kalyana Mitra. Dari 20-an peserta, hanya saya dan 
satu lagi yang laki-laki, serta satu orang juru kamera. Saya berdebat dengan 
seorang professor UI, ketika saya menjelaskan bahwa kaum perempuan secara 
politik berbeda dengan perempuan di Amerika. Bahwa sampai 70-an perempuan 
Amerika masih berada pada posisi yang kerdil secara politik, sementara pemilu 
1955 di Indonesia membolehkan perempuan memilih. Dll. Dll. Professor ini 
marah-marah dan mengatakan bahwa kaum perempuan tertindas, dllnya. Ketika saya 
katakana bahwa hak waris di Minang milik perempuan, system matrilineal 
menempatkan perempuan sebagai tokoh Utama, dllnya, dia tidak bisa menerima. 
Ketika saya katakana bahwa mitologi kekuasaan di Indonesia justru berangkat 
dari ketakutan atas perempuan dan kedigdayaan kaum perempuan, seperti Nyi Loro 
Kidul, Ken Dedes, dllnya, dia mengatakan kebalikannya. 
 
Saya dikeroyok oleh aktivis perempuan yang ada. Termasuk anggota-anggota DPR 
perempuan. Namun, bagi saya, feminisme di Indonesia mestinya beranjak dari 
nilai-nilai cultural, bukan mengadobsi sedemikian rupa dari luar negeri sana. 
Hamper semua menyatakan anti terhadap neo-lib.
 
Tetapi mengatakan bahwa semua yang berkaitan dengan feminisme adalah bagian 
dari style global (entah apa maknanya), menurut saya juga kekeliruan. Apalagi 
menyebut kaum aktivis perempuan sebagai gadungan, justru mengherankan. Teori 
konspirasi sangatlah mudah membakar masyarakat dan menghanguskan logika, tetapi 
tidak menyelesaikan apapun. Bergabunglah dengan milis theory conspiracy, maka 
setiap hari ada saja sampah-sampah informasi yang seolah nyata, tetapi 
terhubung dengan ketakutan, kebencian, ketidakpercayaan, atas apa yang disebut 
sebagai fakta. 
 
Ijp
Pernah menjadi feminis, tetapi tidak sempat menjadi feminin 
 
 
 




From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Eddy 
PiliangSent: 15 Mei 2008 14:43To: [EMAIL PROTECTED]: [EMAIL PROTECTED] Re: Buat 
Aktivis Perempuan Minang
 
Pendapat tentang gerakan perempuan seperti yang dituliskan oleh Adinda Anggun 
Gunawan ini sangat jarang terdengar, bahkan nyaris tak pernah ada. Saya ndak 
tau, apakah memang ada upaya pembungkaman atau memang sudah banyak perempuan 
Indonesia yang keracunan Style Globalism ini. Betul dan sangat tepat apa yang 
diungkapkan oleh Adinda Anggun. Bahkan kalo boleh Saya menambahkan, bahwa 
gerakan aktifis perempuan saat ini tidak semata-mata atau berhenti pada 
Justifikasi korban kapitalisme, tapi lebih dari itu, Mereka adalah antek-antek 
penjajah, Mereka menjajah melalui segala bidang dan sendi, seperti melalui 
Issue jender, KDRT, HAM, porno aksi/porno grafi dll. Selain itu, mereka juga 
melakukan penjajahan dengan melalui gaya hidup (pakaian, makanan, hobby, sikap 
prilaku), dan tidak kalah penting, menetapkan penggunaan bahasa inggris/asing 
yang dikesankan sebagai simbol modernitas dsb.Untuk semua itu, saya hanya 
melihat, bahwa dibalik semua ini adalah gerakan NEOLIB.  Indikasinya sudah 
terbaca, diantaranya seperti yang diungkapkan oleh adinda anggun, ditambah lagi 
dengan tuntutan mereka soal kawin sejenis, boleh kumpul kebo, perempuan berhak 
untuk tidak hamil/tidak menyusui, perempuan menjadi kepala rumah tangga 
dsb.Kebebasan yang sebebas-bebasnya adalah cita-cita mereka. Bebas dari hukum 
Tuhan, bebas dari etika, tata krama, budaya, nasionalisme dsb. Berangkat dari 
sini, sudah barang tentu hal ini menjadi keprihatinan tersendiri manakala 
Tokoh2 cendikiawan, ulama, kaum moralis dll hanya menutup mata dan pura2 tidak 
tau.Terakhir buat Adinda Anggun, bahwa mereka bukanlah aktifis Gadungan, mereka 
adalah asli Aktifis, mereka aktifis yang menyusup ke dalam wilayah kita. Salah 
satu Indikasinya adalah, mereka dibiayai secara berlebihan untuk operasional 
melakukan gerakannya. Wassalam Eddy Piliang> Date: Mon, 12 May 2008 07:01:23 
+0000> From: [EMAIL PROTECTED]> To: [email protected]> Subject: [EMAIL 
PROTECTED] Buat Aktivis Perempuan Minang> > > Teristimewa Bagi Aktivis 
Perempuan> > Zaman saat ini sulit untuk dicerna oleh akal sehat. Banyak 
hal-hal> yang sebenarnya aneh namun telah menjadi suatu hal yang biasa> 
dilakukan oleh masyarakat Indonesia.> Perkembangan pemikiran dewasa ini, juga 
mendaftarkan suatu pemikiran> baru yang mencoba untuk mengembalikan hak-hak 
perempuan yang selama> ini ditenggarai telah direndahkan dan diabaikan oleh 
sistem sosial> yang ada. Perlakuan diskriminatif terhadap perempuan telah 
mendapat> perhatian yang cukup besar bagi kalangan aktivis perempuan yang 
secara> ideologis terpengaruh oleh paham feminisme.> > Menarik ketika 
mencermati sepak terjang yang dilakukan oleh aktivis> perempuan ini. Mereka 
banyak mengusung wacana kesetaraan jender,> kekerasan rumah tangga, dan 
ajaran-ajaran agama yang menurut mereka> telah melegalisasi penindasan terhadap 
perempuan. Salah satu kasus> yang mendapat perhatian sangat intens dari aktivis 
ini adalah masalah> poligami. Menurut mereka poligami adalah salah satu bentuk 
perlakuan> tidak adil agama terhadap perempuan.> > Namun, ada satu hal yang 
mungkin dilupakan oleh aktivis perempuan.> Mereka cendrung menganggap budaya 
patriakhi sebagai penyebab atas> penindasan terhadap perempuan. Mereka seakan 
menutup mata atas suatu> fenomena yang saat ini luar biasa mengejala di 
masyarakat perempuan> terkait dengan masalah pakaian. Sekarang ini kita 
disungguhnya> pemandangan yang "menstimulan" syaraf penglihatan oleh> 
perempuan-perempuan yang memakai pakaian serba ketat dan serba> kekurangan. 
Sehingga kita bisa menyaksikan secara leluasa lekuk tubuh> dari seorang wanita 
meskipun oleh mengenakan pakaian. Puser yang> tampak, celana dalam yang tampak 
bukanlah suatu yang membuat mereka> risih. Malah sebaliknya, mereka begitu 
bangga memperlihatkan tubuh> mereka kepada siapapun, termasuk laki-laki. 
Kenyataan ini telah> mewabah luar biasa.> > Pada dataran yang lebih tinggi, 
kontes-kontes pemilihan putri> Indonesia, miss Word, Miss Universe, perlombaan 
cover girl dan bintang> media, yang menonjolkan aspek kecantikan seorang wanita 
menjadi> sasaran yang dijadikan sebagai jenjang pencapaian oleh para wanita.> > 
Yang menjadi pertanyaan penulis adalah kenapa para aktivis perempuan> tidak 
melihat ini sebagai bentuk pelecehan terhadap perempuan. Tidak> pernah kita 
dengar aktivis perempuan melakukan pengkutukkan dan> perlawanan terhadap 
kontes-kontes semacam ini dan tetap membiarkan> produk pakaian kapitalis dan 
hedonis terus merasuk meninabobokan> perempuan dalam jerat pamer kecantikan dan 
keindahan tubuh. Mengapa> aktivis perempuan tidak melakukan perlawanan terhadap 
praktek-praktek> prostitusi dan pacaran yang akan menjadikan perempuan sebagai> 
pelampiasan seks para pria. Mengapa aktivis perempuan tidak menyerukan> 
penutupan tempat-tempat hiburan yang menjadikan wanita sebagai daya> tarik dan 
objek eksploitasi.> > Memang mereka tidak akan bersuara untuk itu. Karena 
mereka bukanlah> aktivis perempuan sejati. Mereka hanya menginginkan 
kepopuleran bukan> sebuah perbaikan yang signifikan. Mereka menyalahkan sistem, 
tapi tak> melakukan upaya penyadaran yang serius terhadap perempuan akan harga> 
diri dan martabat mereka. Atau jangan-jangan mereka adalah bagian dari> 
kapitalis itu sendiri yang menjadikan agama sebagai musuh utama,> karena agama 
telah menghambat laju kapitalis dalam meraih keuntungan.> Karena agama membuat 
orang independen dan tidak terpengaruh oleh> tendensi ekonomi yang itu sangat 
dibenci oleh kapitalis. Oleh karena> itu, tidak salah kenapa saat seorang alim 
ulama kenamaan Indonesia> melakukan poligami, mereka menyerukan untuk menolak 
dan mencela pelaku> poligami. Sedangkan ketika kontes cantik-cantikan mereka 
diam seribu> bahasa.> > Akhirnya kita akan mengetahui siapa mereka 
sebenarnya...> Mereka hanyalah aktivis perempuan gadungan...> > Oleh: Anggun 
Gunawan (23th - male)> Filsafat UGM > http://grelovejogja.wordpress.com> > > 
</html_________________________________________________________________
Easily edit your photos like a pro with Photo Gallery.
http://get.live.com/photogallery/overview
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Hindari penggunaan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke