Sanak sapalanta,
Menarik membaca ulasan sanak IJP mengenai feminisme. Juga soal teori 
konspiracy. Terlalu banyak penjelasan mengenai fenomena2 yang terjadi di negeri 
ini yang dengan cepat dikaitkan dengan perbuatan konspiratif oleh unsur luar 
untuk 'menghancurkan' Indonesia. Bahkan kadang2 satu fenomena saja banyak 
interpretasinya, yang semuanya berujung pada teori konspirasi. Tapi cubo kito 
inok manuangkan: apakah ada negara asing di dunia ini yang tidak mendahulukan 
kepentingannya? Indak babaun tunjuak ambo dioh. Teori konspirasi itu tentu ada, 
tapi penjelasannya jangan arbitrer. Di satu sisi ini merefleksikan 
'ketidakberdayaan' kita; ini semacam ilusi akibat terjadinya kekalutan sosial. 
Coba baca Majalah MISTERI nan laku kareh bak kacang goreng di Jakarta dan juga 
di daerah: Membaca isi majalah itu seolah2 betapa mudah menyelesaikan banyak 
persoalan. Kuncinya: bali jimaik (macam2 jimaik nan dijua).  Sama dengan hal 
setiap ada masalah yang kita buat sendiri, lalu
 kita menuduh itu adalah cobaan Tuhan, lalu kita akan melakukan ruwatan, 
sesajian, dll sebagainya.
Kembali ke soal feminisme, itu memang rumit. Analisis2 budaya seperti yang 
dikemukakan IJP jelas "dibilasuik" oleh para feminis itu. Bisa saja IJP 
dianggap mempertahaankan dominasi budaya patriarkhi dengan berselindung di 
balik mitos2mengenai keperkasaan perempuan itu. Soal hak2 perempuan itu, ndak 
hanya terkait dengan kepeng dan tanah pusako saja. Kalau hanya sebatas itu, 
kenapa dulu terjadi 'Kasus Si Kena' di Minangkabau, seperti yang 
diceritkan almarhum HAMKA?  Menyembunyikan persoalan wanita Minang di belakang 
wacana matrilineal itu bisa juga menyesatkan.
Contoh sederhana mengenai aspek2 yang diperjuangkan gerakan feminis itu begini: 
lai lah basadio laki-laki Minang (dan tentu juga laki2 Indonesia umumnya) 
maantikan ambuang batu domino nan sadang bakucitak di lapau pabilo rang 
rumahnyo mintak tolong malengah anak sabanta sabab inyo ka pai ka pasa mambali 
panuka untuak gulai jo samba (tamsuak samba untuak lakinyo) bisuak pagi? Kalau 
lah basadio, buliah dikatokan lah berhasil tu mah perjuangan dasar feminisme; 
kalau alun lain, badantang2 juo batu domino tu, atau memang bagageh si laki 
pulang, tapi sudah tu malayang tampa lapuak lapak di muko biniyo...mako lamo tu 
mah lai perjuangan kaum feminis di nagari ko".

Kalau dilihat sepintas itu kan sepertinya mudah tu nyo. A sariknyo baranti main 
domino sabanta, lalu pulang malengah anak malakik bini baliak dari pasa.
Tapi ternyata ini sangat susah. Ini terkait dengan sistem nilai, nilai 
patriarkhi tadi. Misalnyo, laki2 nan berani melakukan itu, akan dapek "cimeeh" 
dek kawan2nyo, dek lingkungan sosial pergaualannyo: "Lah....si Polan lah 
tamakan cirik barandang pulo! Maakuak inyo kalau lah tingaran suaro rang 
rumahnyo."
Jadi singkeknyo: gerakan feminis tu mencoba mengubah beberapa nilai dalam 
masyarakat yang sebenarnya hanya merupakan social construction, bukan bawaan 
biologis, yang mengidentikkan perempuan dengan sesuatu jenis pekerjaan dan 
fungsi sosial dan laki-laki dengan yang lain. Misalnya, seperti dalam buku2 
pelajaran anak2 kito: "Ibu memasak di dapur. Ayah pergi ke warung main gaplek", 
dll. 
Contoh di ateh adolah contoh sederhana mengenai gerakan yang diperjuangkan dek 
kaum feminis. Tantu banyak hal lain lai. Memang ado kaum feminis radikal. Iko 
memang agak bedo. Mereka bahkan bisa bilang tak perlu laki-laki dalam hidupnya. 
Salam,
Suryadi 

----- Pesan Asli ----
Dari: Eddy Piliang <[EMAIL PROTECTED]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Jumat, 16 Mei, 2008 06:03:59
Topik: [EMAIL PROTECTED] Re: Buat Aktivis Perempuan Minang


Menangkap dari apa yang dipaparkan oleh Sutan Indrajaya Piliang, nampaknya 
persoalan ini menjadi begitu encer dan clear!. Dengan segala kepiawaiannya, 
Sutan Indrajaya Piliang mampu mengupas fenomena ini sampai ke akar2nya. Tapi 
yang kemudian singgah dalam pikiran saya adalah, apabila gerakan perempuan ini 
menjadi sesuatu yang (dianggap) membahayakan bagi NKRI, adakah yang berani maju 
untuk mempelopori penolakan terhadap gerakan perempuan ini? atau barangkali 
kita  biarkan saja gerakan perempuan ini sebagai wujud demokrasi?
 
Eddy Piliang



________________________________
From: [EMAIL PROTECTED]
To: [email protected]
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Buat Aktivis Perempuan Minang
Date: Thu, 15 May 2008 19:00:08 +0700


Nah, ini satu lagi. Feminisme memang lahir dari beragam akar dan bentuk. Ada 
feminisme radikal, marxis, liberal, moderat, atau feminisme yang menyandarkan 
diri pada hermeunitika keagamaan. Jelas tidak bisa dikatakan bahwa feminisme 
lahir dari neo-lib. Banyak feminis yang anti-neolib (yakni feminis marxis). 
 
Kemaren saya diundang oleh Kalyana Mitra. Dari 20-an peserta, hanya saya dan 
satu lagi yang laki-laki, serta satu orang juru kamera. Saya berdebat dengan 
seorang professor UI, ketika saya menjelaskan bahwa kaum perempuan secara 
politik berbeda dengan perempuan di Amerika. Bahwa sampai 70-an perempuan 
Amerika masih berada pada posisi yang kerdil secara politik, sementara pemilu 
1955 di Indonesia membolehkan perempuan memilih. Dll. Dll. Professor ini 
marah-marah dan mengatakan bahwa kaum perempuan tertindas, dllnya. Ketika saya 
katakana bahwa hak waris di Minang milik perempuan, system matrilineal 
menempatkan perempuan sebagai tokoh Utama, dllnya, dia tidak bisa menerima. 
Ketika saya katakana bahwa mitologi kekuasaan di Indonesia justru berangkat 
dari ketakutan atas perempuan dan kedigdayaan kaum perempuan, seperti Nyi Loro 
Kidul, Ken Dedes, dllnya, dia mengatakan kebalikannya. 
 
Saya dikeroyok oleh aktivis perempuan yang ada. Termasuk anggota-anggota DPR 
perempuan. Namun, bagi saya, feminisme di Indonesia mestinya beranjak dari 
nilai-nilai cultural, bukan mengadobsi sedemikian rupa dari luar negeri sana. 
Hamper semua menyatakan anti terhadap neo-lib.
 
Tetapi mengatakan bahwa semua yang berkaitan dengan feminisme adalah bagian 
dari style global (entah apa maknanya), menurut saya juga kekeliruan. Apalagi 
menyebut kaum aktivis perempuan sebagai gadungan, justru mengherankan. Teori 
konspirasi sangatlah mudah membakar masyarakat dan menghanguskan logika, tetapi 
tidak menyelesaikan apapun. Bergabunglah dengan milis theory conspiracy, maka 
setiap hari ada saja sampah-sampah informasi yang seolah nyata, tetapi 
terhubung dengan ketakutan, kebencian, ketidakpercayaan, atas apa yang disebut 
sebagai fakta. 
 
Ijp
Pernah menjadi feminis, tetapi tidak sempat menjadi feminin 
 
 
 

________________________________

From:[email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Eddy 
Piliang
Sent: 15 Mei 2008 14:43
To: [email protected]
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Buat Aktivis Perempuan Minang
 
Pendapat tentang gerakan perempuan seperti yang dituliskan oleh Adinda Anggun 
Gunawan ini sangat jarang terdengar, bahkan nyaris tak pernah ada. Saya ndak 
tau, apakah memang ada upaya pembungkaman atau memang sudah banyak perempuan 
Indonesia yang keracunan Style Globalism ini. 
Betul dan sangat tepat apa yang diungkapkan oleh Adinda Anggun. Bahkan kalo 
boleh Saya menambahkan, bahwa gerakan aktifis perempuan saat ini tidak 
semata-mata atau berhenti pada Justifikasi korban kapitalisme, tapi lebih dari 
itu, Mereka adalah antek-antek penjajah, Mereka menjajah melalui segala bidang 
dan sendi, seperti melalui Issue jender, KDRT, HAM, porno aksi/porno grafi dll. 
Selain itu, mereka juga melakukan penjajahan dengan melalui gaya hidup 
(pakaian, makanan, hobby, sikap prilaku), dan tidak kalah penting, menetapkan 
penggunaan bahasa inggris/asing yang dikesankan sebagai simbol modernitas dsb.
Untuk semua itu, saya hanya melihat, bahwa dibalik semua ini adalah gerakan 
NEOLIB.  Indikasinya sudah terbaca, diantaranya seperti yang diungkapkan oleh 
adinda anggun, ditambah lagi dengan tuntutan mereka soal kawin sejenis, boleh 
kumpul kebo, perempuan berhak untuk tidak hamil/tidak menyusui, perempuan 
menjadi kepala rumah tangga dsb.
Kebebasan yang sebebas-bebasnya adalah cita-cita mereka. Bebas dari hukum 
Tuhan, bebas dari etika, tata krama, budaya, nasionalisme dsb. 

Berangkat dari sini, sudah barang tentu hal ini menjadi keprihatinan tersendiri 
manakala Tokoh2 cendikiawan, ulama, kaum moralis dll hanya menutup mata 
dan pura2 tidak tau.
Terakhir buat Adinda Anggun, bahwa mereka bukanlah aktifis Gadungan, mereka 
adalah asli Aktifis, mereka aktifis yang menyusup ke dalam wilayah kita.. Salah 
satu Indikasinya adalah, mereka dibiayai secara berlebihan untuk 
operasional melakukan gerakannya.
 
Wassalam
 
Eddy Piliang
> Date: Mon, 12 May 2008 07:01:23 +0000
> From: [EMAIL PROTECTED]
> To: [email protected]
> Subject: [EMAIL PROTECTED] Buat Aktivis Perempuan Minang
> 
> 
> Teristimewa Bagi Aktivis Perempuan
> 
> Zaman saat ini sulit untuk dicerna oleh akal sehat. Banyak hal-hal
> yang sebenarnya aneh namun telah menjadi suatu hal yang biasa
> dilakukan oleh masyarakat Indonesia.
> Perkembangan pemikiran dewasa ini, juga mendaftarkan suatu pemikiran
> baru yang mencoba untuk mengembalikan hak-hak perempuan yang selama
> ini ditenggarai telah direndahkan dan diabaikan oleh sistem sosial
> yang ada. Perlakuan diskriminatif terhadap perempuan telah mendapat
> perhatian yang cukup besar bagi kalangan aktivis perempuan yang secara
> ideologis terpengaruh oleh paham feminisme.
> 
> Menarik ketika mencermati sepak terjang yang dilakukan oleh aktivis
> perempuan ini. Mereka banyak mengusung wacana kesetaraan jender,
> kekerasan rumah tangga, dan ajaran-ajaran agama yang menurut mereka
> telah melegalisasi penindasan terhadap perempuan. Salah satu kasus
> yang mendapat perhatian sangat intens dari aktivis ini adalah masalah
> poligami. Menurut mereka poligami adalah salah satu bentuk perlakuan
> tidak adil agama terhadap perempuan.
> 
> Namun, ada satu hal yang mungkin dilupakan oleh aktivis perempuan.
> Mereka cendrung menganggap budaya patriakhi sebagai penyebab atas
> penindasan terhadap perempuan. Mereka seakan menutup mata atas suatu
> fenomena yang saat ini luar biasa mengejala di masyarakat perempuan
> terkait dengan masalah pakaian. Sekarang ini kita disungguhnya
> pemandangan yang "menstimulan" syaraf penglihatan oleh
> perempuan-perempuan yang memakai pakaian serba ketat dan serba
> kekurangan. Sehingga kita bisa menyaksikan secara leluasa lekuk tubuh
> dari seorang wanita meskipun oleh mengenakan pakaian. Puser yang
> tampak, celana dalam yang tampak bukanlah suatu yang membuat mereka
> risih. Malah sebaliknya, mereka begitu bangga memperlihatkan tubuh
> mereka kepada siapapun, termasuk laki-laki. Kenyataan ini telah
> mewabah luar biasa.
> 
> Pada dataran yang lebih tinggi, kontes-kontes pemilihan putri
> Indonesia, miss Word, Miss Universe, perlombaan cover girl dan bintang
> media, yang menonjolkan aspek kecantikan seorang wanita menjadi
> sasaran yang dijadikan sebagai jenjang pencapaian oleh para wanita.
> 
> Yang menjadi pertanyaan penulis adalah kenapa para aktivis perempuan
> tidak melihat ini sebagai bentuk pelecehan terhadap perempuan. Tidak
> pernah kita dengar aktivis perempuan melakukan pengkutukkan dan
> perlawanan terhadap kontes-kontes semacam ini dan tetap membiarkan
> produk pakaian kapitalis dan hedonis terus merasuk meninabobokan
> perempuan dalam jerat pamer kecantikan dan keindahan tubuh. Mengapa
> aktivis perempuan tidak melakukan perlawanan terhadap praktek-praktek
> prostitusi dan pacaran yang akan menjadikan perempuan sebagai
> pelampiasan seks para pria. Mengapa aktivis perempuan tidak menyerukan
> penutupan tempat-tempat hiburan yang menjadikan wanita sebagai daya
> tarik dan objek eksploitasi.
> 
> Memang mereka tidak akan bersuara untuk itu. Karena mereka bukanlah
> aktivis perempuan sejati. Mereka hanya menginginkan kepopuleran bukan
> sebuah perbaikan yang signifikan. Mereka menyalahkan sistem, tapi tak
> melakukan upaya penyadaran yang serius terhadap perempuan akan harga
> diri dan martabat mereka. Atau jangan-jangan mereka adalah bagian dari
> kapitalis itu sendiri yang menjadikan agama sebagai musuh utama,
> karena agama telah menghambat laju kapitalis dalam meraih keuntungan.
> Karena agama membuat orang independen dan tidak terpengaruh oleh
> tendensi ekonomi yang itu sangat dibenci oleh kapitalis. Oleh karena
> itu, tidak salah kenapa saat seorang alim ulama kenamaan Indonesia
> melakukan poligami, mereka menyerukan untuk menolak dan mencela pelaku
> poligami. Sedangkan ketika kontes cantik-cantikan mereka diam seribu
> bahasa.
> 
> Akhirnya kita akan mengetahui siapa mereka sebenarnya...
> Mereka hanyalah aktivis perempuan gadungan...
> 
> Oleh: Anggun Gunawan (23th - male)
> Filsafat UGM 
> http://grelovejogja.wordpress.com
> 
> 
> </html




      Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download sekarang 
juga.
http://id.toolbar.yahoo.com/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Hindari penggunaan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke