Sanak Nofiardi
Iyo ambo anggota RN juo (sekitar 6 bulan baru)
nan acok maagiah selingan "ciloteh minang jo tulisan ringan" di RN lapau awak
ko
Terima kasih buat sanak Suryadi
yang telah banyak membantu dan memberi semangat saya dalam menulis
Juga Terima kasih buaat Pak Syaaf salah satu penggagas ABS-SBK (Tim Perumus)
yang telah memberikan wawasan terhadap ABS SBK (Via Japri)
Selamat bertugas Pak dengan Tim Perumus, semoga menghasilkan yang terbai
buat kemajuaan Ranah Minang, Kita tetap Urang Minang dengan segala
kearifan Budayanya yang telah berakar berumbi
Jangan sampai "Dilendo" oleh Globalisasi dan Modernisasi
Salam-Andi
Nofiardi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
v\:* { BEHAVIOR: url(#default#VML) } o\:* { BEHAVIOR:
url(#default#VML) } w\:* { BEHAVIOR: url(#default#VML) } .shape {
BEHAVIOR: url(#default#VML) } st1\:* { BEHAVIOR: url(#default#ieooui)
} @page Section1 {size: 21.0cm 842.0pt; margin: 3.0cm 99.25pt 3.0cm 4.0cm;
} P.MsoNormal { FONT-SIZE: 12pt; MARGIN: 0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: "Times
New Roman" } LI.MsoNormal { FONT-SIZE: 12pt; MARGIN: 0cm 0cm 0pt;
FONT-FAMILY: "Times New Roman" } DIV.MsoNormal { FONT-SIZE: 12pt; MARGIN:
0cm 0cm 0pt; FONT-FAMILY: "Times New Roman" } A:link { COLOR: blue;
TEXT-DECORATION: underline } SPAN.MsoHyperlink { COLOR: blue;
TEXT-DECORATION: underline } A:visited { COLOR: purple; TEXT-DECORATION:
underline } SPAN.MsoHyperlinkFollowed { COLOR: purple; TEXT-DECORATION:
underline } P { FONT-SIZE: 12pt; MARGIN-LEFT: 0cm; MARGIN-RIGHT: 0cm;
FONT-FAMILY: "Times New Roman"; mso-margin-top-alt: auto;
mso-margin-bottom-alt: auto }
SPAN.EmailStyle17 { COLOR: windowtext; FONT-FAMILY: Arial; mso-style-type:
personal-compose } DIV.Section1 { page: Section1 } Kalo ndak salah,
sanak Andi Jupardi ko anggota RN juo.
NRM
.................
Urun Rembuk Kompilasi ABS-SBK, (Sebuah Pendapat Setelah Membaca
Artikel Suryadi)
Jumat, 16 Mei 2008
Oleh : Andi Jupardi, Karyawan Swasta Industri Kehutanan di Pekanbaru
Saya telah membaca artikel Suryadi tentang gagasan kompilasi Adat Basandi
Syarak-Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) yang dimuat di harian ini (Padang
Ekspres, 30 April 2008). Artikel yang singkat, padat dan menarik itu sedikit
banyak memberikan masukan kepada Tim Perumus Kompilasi ABS-SBK yang sedang
bekerja. Sebagai orang awan rasanya ingin juga saya menambahkan komentar kepada
apa yang telah disampaikan Suryadi itu.
Globalisasi dengan segala kemajuaan teknologinya yang bergerak cepat, tidak
saja telah mengaburkan batas teritorial sebuah negara, tapi juga kebudayaan
sebuah (suku) bangsa, seperti kebudayaan Minangkabau. Sebagaimana ditengarai
disampaikan Suryadi, Urang Minang, baik yang di ranah (Sumatra Barat) maupun
yang di rantau, terkena imbasnya karena pengaruh hidup modern, terutama yang
berada di kota-kota besar (di perantauan).Begitulah realitasnya.
Menurut saya, para perantau Minang itu mungkin dapat disebut "golongan"
keempat, sebagai tambahan dari tiga "golongan" orang Minang dalam menyikapi
ABS-SBK yang diklasifikasikan Suryadi. Mereka adalah generasi muda yang
menempuh pendidikan dasar di ranah Minang, lalu kuliah di berbagai universitas
ternama, terutama di Jawa atau luar negeri. Setelah tamat, mereka bekerja di
kota-kota besar di Indonesia bahkan di luar negeri atau mencoba mangadu nasib
di rantau orang dengan berdagang, misalnya.
Mereka merintis karir dan usaha dari bawah, lalu sukses dan mapan secara
materi. Mereka larut dalam segala kehidupan kota yang serba modern dan bergerak
cepat. ABS-SBK yang merupakan falsafah hidup orang Minangkabau, jangankan
mereka terapkan dalam lingkungan keluarga inti sendiri, untuk sekedar
mengetahui pun mereka malah tidak peduli lagi.
Bagi mereka keluarga adalah istri dan anak-anak (para perantau Minang itu
cenderung mempraktekkan nuclear family). Misalnya, bila ia seorang mamak dalam
keluarga ibunya, maka hal-hal yang semestinya menjadi tanggung jawabnya
sebagaimana yang "diamanahkan" oleh ABS-SBK cenderung tidak mereka hiraukan
lagi. Kalaupun ada, sifatnya lebih kepada bantuan secara materi, bukan pada
nilai-nilai yang terkandung dalam ABS-SBK, misalnya dalam mendudukkan harta
pusaka, perjodohan, dan lain sebagainya.
Tepat sekali apa yang disampaikan Suryadi bahwa hasil diskusi selama ini di
[EMAIL PROTECTED], yaitu pendapat-pendapat dari "urang lapau" atau istilah yang
sering disebut di sana "Sanak sapalanta", mengenai berbagai isu yang terkait
dengan keminangkabauan, khsusnya ABS-SBK, lebih banyak "terkubur" saja di dunia
maya tersebut. (Saya belum tahu apakah ada yang sudah dibukukan).
Seharusnya mereka-mereka yang memberikan pendapat di lapau saiber orang
Minang sedunia itu mencoba menulis atau merangkumnya dalam tulisan-tulisan,
lalu menyosialisasikannya dengan mengirimkan tulisan-tulisan itu ke media atau
kepada Pemerintah. Mereka bisa juga lansung terjun ke pusat budaya yang berakar
umbi di nagari-nagari yang relatif masih mengamalkan tradisi ABS-ABK.
Kebanyakan orang rantau yang berdiskusi di dunia maya ([EMAIL PROTECTED])
tersebut, menurut saya, hanya sebuah bentuk aktualisasi diri saja."Ko Waden ha,
sato lo sakaki baciloteh tentang ABS-SBK". Apalagi sudah menjadi "hobi" orang
Minang berdebat, terlepas dari apakah itu debat kusir yang tidak berkeruncingan
atau memang ingin menuangkan pikiran dan pendapat masing-masing dengan cara
lebih tematis dan sistematis. Namun, mereka sering enggan mendengarkan atau
mencerna lebih jernih pemikiran orang yang mumpuni.
Kadang-kadang debat itu sudah melebar kemana-mana. Memang layaknya seperti
orang "maota" di lapau saja. Setelah selesai minum kopi, satu per satu angkat
kaki, lalu pergi begitu saja dengan sedikit kata-kata bergurau yang mengarah ke
"cimeeh".
Ibarat sebuah piramid, jika bagian bawah adalah hal-hal yang paling mendasar
dalam hidup (sandang, pangan, dan papan) telah terpenuhi, maka puncaknya adalah
perlu "pengakuan diri" (aktualisasi dimana komunitas dia berada atau tempat dia
menunjukkan "siapa dirinya").
Begitulah refleksi saya terhadap aktivitas diskusi urang awak di dunia maya
itu, karena rata-rata orang yang mengenal dunia ini umumnya sudah memiliki
tingkat pendidikan dan ekonomi yang cukup mapan.
Saya sependapat dengan Suryadi, bahwa rasanya sebelum Tim Perumus merumuskan
materi Kompilasi ABS-SBK, kiranya perlu diadakan diskusi (-diskusi) yang
mendalam dengan mengajak serta para tokoh yang sehari-harinya bersentuhan
lansung dengan ABS-SBK di kampung/nagari, seperti para penghulu, ulama dan
cerdik pandai. Mungkin saja mereka tidak pernah mengenyam pendidikan formal
tapi kaya pengalaman karena bersentuhan lansung dalam penerapan ABS-SBK.
Pengalaman mereka itu tentu berbeda dengan para akademisi atau orang-orang
yang selama ini hidup di kota dengan segala kemodernannya--pengusaha,
tokoh-tokoh Minang dengan berbagai latar belakang ilmu, penguasa, dan elit
politik, baik yang berada di Sumatra Barat maupun yang tinggal di rantau.
Pemikiran mereka lebih kepada masalah "teknis dan hipotesa" dengan segala teori
yang mereka baca dari buku. Dan hasilnya: ketika mereka berdiskusi terjadi
silang pendapat yang tidak tahu lagi mana ujung dan pangkalnya; masing-masing
orang akan teguh dengan pendiriannya.
Metode induksi yang di tawarkan Syaafroedin Bahar perlu kiranya
ditindaklanjuti oleh Tim Perumus. Caranya: mendata dan mengumpulkan setiap
kasus menyangkut ABS-SBK, terutama hal-hal yang terkait dengan adat yang
bertentangan dengan agama.
Masing-masing daerah atau nagari yang sudah tua (yang penduduknya bukan
dibentuk oleh perpindahan penduduk seperti transmigrasi) mempunyai berbagai
permasalahan dalam menerapkan ABS-SBK ini dalam kehidupan sehari-hari
masyaraktnya. Tambahan lagi, pengaruh modernisasi dan globalisasi yang sudah
masuk ke kampung-kampung melalui media elektronik, sedikit banyak telah memberi
dampak berupa terjadinya pergeseran penerapan ABS-SBK oleh masyarakat.
Saya juga telah mencoba menghubungi penghulu atau datuk di kampung saya,
untuk mendata semua permasalahan yang menyangkut ABS-SBK ini untuk mengetahui
apa saja perbedaan-perbedaan yang cukup tajam antara adat dan agama, jika yang
sekiranya ada.
Jika dikaji lebih jauh lagi ke belakang, menurut pendapat saya yang awam,
sebelum Islam masuk ke ranah Minang tata kehidupan masyarakat sehari-hari,
misalnya menyangkut harta pusaka, telah diatur oleh adat yang berdasarkan
(basandi) syarak (dalam konteks ini berarti konvensi hukum yang bersifat lisan
yang belum merujuk kepada Islam). Setelah Islam masuk maka terjadilah
pertentangan dalam penerapan harta pusaka tersebut.
Menurut hukum adat, seperti telah kita ketahui, orang Minang mengikuti garis
keturunan ibu (matriarchat). Menurut sistem ini, dalam pembagian harta, baik
pusaka tinggi maupun pusaka rendah, yang "lebih di untungkan" adalah pihak
anak-kemenakan dari garis Ibu. Sementara Islam lebih condong kepada garis
keturunan laki-laki/bapak (patriarchat). Inilah salah satu pertentangan yang
dilematis setelah Islam diintegrasikan ke dalam kebudayaan Minangkabau. Belum
lagi ketentuan-ketentuan adat yang lain yang cukup tajam pertentangannya dengan
ajaran Islam.
Setelah Islam masuk masalahnya menjadi bertambah rumit lagi karena adat dan
syarak itu sendiri harus berdasarkan ajaran Islam (basandi Kitabullah).
Nah, setelah didapat dan dikumpulkan data-data menyangkut penerapan ABS-SBK
di tingkat bawah (akar rumput) dengan segala permasalahannya, barulah kemudian
Tim Perumus membahas dan mengkaji lebih dalam lagi serta mencarikan solusinya
yang nantinya akan dikodifikasikan secara tertulis yang diharapkan dapat
memiliki kekuatan hukum. Terlepas dari apakah kodifikasi atau kompilasi itu
nantinya akan "dipamainkan" dan "dilendo" orang pintar dan berkuasa di daerah
ini, paling tidak sudah ada bentuk baku (standar) ABS-SBK ini yang bisa dirujuk
terutama oleh generasi muda.
Dalam tulisannya Suryadi telah memberikan "kunci" untuk menghindari dikotomi
pemikiran itu: bisa dinetralkan. Permasalahannya mau nggak mereka yang
merumuskan ini memakai "kunci" tersebut? Jangan-jangan "kunci" itu telah patah
duluan sebelum digunakan. Kelebihan (atau kekurangan?) orang Minang dalam
berdiskusi adalah: selalu seperti sebuah produk kecap terbaru, tidak pernah
mengenal nomor dua. Mungkin itu sebabnya dulu Belanda dan kemudian Orang Pusat
(baca: Pemerintahan di Jawa) sangat sulit "menaklukan" orang Minang dalam
perundingan-perundingan.
Jika ini terjadi, maka hasilnya tidak lebih tidak kurang hanyalah sebuah
bentuak aktualisasi diri seseorang dengan berbagai kepentingan. Seperti
disinyalir Suryadi, ini ditandai dengan semakin melemahnya diskusi tersebut,
dan tidak bergaungnya isu ini di tingkat bawah. Gemanya baru terasa di antara
mereka yang mempunyai akses di dunia maya.
Apakah para penghulu, orang-orang tua, cerdik pandai, dan alim ulama yang
sehari-harinya hidup di kampung sudah bermain-main juga di dunia maya? Apakah
di setiap nagari sudah tersedia warung internet (warnet) dimana mereka, dalam
istirahat sejenak setelah bekerja di sawah dan ladang, dapat mengopi sambil
membuka email untuk "berselancar" di dunia maya, membaca pendapat orang-orang
kota yang "pintar" tentang ABS-SBK?
Hasil dari Tim Perumus Kompilasi ABS-SBK ini menarik kita tunggu, agar kita
sebagai orang Minang, terlebih lagi generasi mudanya, tidak "dilendo" arus
morderenisasi dan globalisasi yang akan membenamkan sebuah kebudayaan yang tua
seperti Minangkabau ini. Kita juga berharap agar generasi muda masih peduli
dengan kebudayaannya.
Atau mungkin mereka adalah golongan keempat seperti yang saya sebut di atas,
yang menjadi "urang Minang" yang lain. Entahlah! Jarum waktulah yang akan
menjawabnya. (***)
(c) 2008 PADANG EKSPRES - Koran Nasional Dari Sumbar
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Hindari penggunaan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---