Assalamualaikum,wr,wb. Saudara2 sekalian, apakah kita bisa seperti Pak Fulan dibawah ini?.
Semoga tulisan ini bisa memotivasi kita hidup seperti beliau terutama dimulai dari diri kita dulu. Wassalam, Mulyadi (51+) --- Zulfikri <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > To: <[EMAIL PROTECTED]> > From: "Zulfikri" <[EMAIL PROTECTED]> > Date: Mon, 19 May 2008 19:46:14 +0700 > Subject: [pakguruonline] Filsafat Kamar Mandi > > > Filsafat Kamar Mandi > Ahmad Tohari > > Suatu kali, ketika menghadiri suatu pertemuan, saya > diinapkan selama beberapa malam berdua dengan Pak > Fulan, seorang tokoh masyarakat. Orangnya tenang, > usianya lima puluhan. Selama sekian hari bersama > dia, saya mendapat pengalaman yang menarik. Bukan > dalam kaitan dengan pertemuan itu, melainkan dalam > hal penggunaan kamar mandi. > > Saya perhatikan, Pak Fulan selalu meninggalkan kamar > mandi dalam keadaan amat rapi, seperti belum > dipakai. Lantai kering seperti habis dipel dan > peralatan mandi tertata rapi. Bahkan, kaca sudah > bersih dari uap air panas yang mengembun. Jelas, Pak > Fulan telah mengelap kaca cermin itu. Karena > beberapa kali menemukan hal seperti ini, saya > bertanya kepada Pak Fulan. > > ''Bapak selalu meninggalkan kamar mandi dalam > keadaan prima. Bukankah itu urusan room boy? Lalu, > kenapa Bapak mau repot?'' > > Pertanyaan itu hanya ditanggapi dengan senyum dan > baru dijawab setelah saya mengulangnya dua kali. > > ''Tidak apa-apa. Saya hanya ingin menghormati > pemakai di belakang saya.'' > ''Tapi, tidak selayaknya Bapak menghormati saya, > kan?'' > > ''Ah, siapa bilang? Kita hidup bersama, jadi harus > saling hormat. Lagi pula, kita hidup dalam tatanan > yang berkelanjutan. Maka, hak-hak mereka yang berada > di belakang kita harus kita hargai pula.'' > > Saya mengangguk-angguk. Dan, pembicaraan putus > sampai di situ. Namun, kata-kata Pak Fulan terus > terngiang dalam telinga saya, bahkan sampai jauh > hari setelah pertemuan itu usai. ''Kita hidup > bersama dan berkelanjutan. Maka, hargai hak-hak > mereka yang datang sesudah kita.'' > > Ucapan Pak Fulan ini amat mengesankan. Ini ucapan > seorang yang selalu meninggalkan kamar mandi dalam > keadaan prima karena dia mau memberi kemudahan dan > mengenakkan mereka yang datang sesudahnya. Menurut > kata-katanya sendiri, Pak Fulan bermaksud > menghormati hak-hak mereka. > > Saya membayangkan, jika menggunakan fasilitas umum, > Pak Fulan akan bersikap sama; penuh tanggung jawab > dan bila sudah selesai akan meninggalkannya dalam > keadaan seperti semula atau malah lebih baik lagi. > Bila dia seorang pegawai negeri, bila pensiun akan > meninggalkan kantor dalam keadaan dan suasana yang > kondusif sehingga penggantinya akan bekerja dengan > enak. Dan, bila Pak Fulan seorang kepala desa, > ketika masa tugasnya habis, dia akan lengser dengan > anggun. Ditinggalkan jabatan dan desanya > aman-tertib, siap jadi lahan berkembangnya geneasi > berikut. > > Bila Pak Fulan kelak meninggal? Saya percaya Pak > Fulan akan meninggalkan kehidupan yang nyaman bagi > perkembangan anak-cucunya. Juga, nilai-nilai dan > tatanan yang mendukung kesadaran bahwa hidup adalah > hadir bersama-sama dan berkelanjutan. Dan, dengan > kesadaran seperti itu, Pak Fulan akan meninggalkan > rumah-pekarangan yang terjaga, lingkungan yang > diperhatikan kelestariannya. > > Sayangnya, dalam kehidupan nyata, amat sedikit orang > yang punya falsafah seperti Pak Fulan, yang amat > sadar bahwa hidup adalah kehadiran bersama dan > berkelanjutan. Kesadaran ini menuntut setiap orang > tidak boleh terlalu egoistis. Juga tidak boleh > serakah dengan ruang dan waktu serta sumber daya > alam yang menjadi jatah generasi mendatang. > Kehadiran bersama dan berkelanjutan juga membutuhkan > tatanan hidup dan nilai-nilai yang terus-menerus > dibangun dan ditaati. Tapi, dalam hal ini pun kita > masih amat kedodoran. > > Alangkah sering kita mendengar oknum pemimpin, baik > sipil, polisi, maupun militer, yang menjual hutan, > laut, atau gunung emas secara ilegal sehingga amat > merugikan masyarakat dan generasi mendatang. Dalam > skala pribadi, alangkah banyak orang yang begitu > kemaruk menikmati kehidupan dengan mengabaikan etika > dan moral. Bahkan, melupakan kepentingan anak-cucu > mereka sendiri. Maka, jadilah kita masyarakat yang > mungkin akan gagal membangun hidup sebagai sebuah > kehadiran bersama dan berkelanjutan. Menyedihkan, > memang. > > Ah, ini sudah waktunya mandi pagi. Saya akan meniru > Pak Fulan. Bila selesai, saya akan tinggalkan kamar > mandi dalam keadaan prima. Dengan demikian, istri > atau anak saya yang akan masuk kemudian bisa > menikmati kemudahan dan hak-haknya sebagai orang > yang datang kemudian terjamin sepenuhnya. > > Sumber : Republika Online, 18 Mei 2008 > http://www.republika.co.id/Cetak_detail.asp?id=334405&kat_id=19 > . > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Hindari penggunaan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
