Muhammad Natsir Ditulis
29 Februari 2008

Rasanya tak cukup kata dan tinta untuk menuliskan lika-liku perjuangan
para  pahlawan  Islam.  Demikan juga dengan kiprah perjuangan Muhammad
Natsir.  Buya  Hamka  yang  selain  dikenal sebagai ulama juga seorang
sastrawan,  kita mengenal salah satu novelnya Dibawah Lindungan Ka bah
yang difilmkan, menulis sebuah puisi untuk pak Natsir.

Saat  itu berlangsung Sidang Konstituante (1957). Pak Natsir berpidato
di  Sidang Konstituante memaparkan kelemahan sekularisme. Dikatakannya
sekularisme  sebagai  paham  tanpa  agama  (la  diiniyah). Sekularisme
adalah suatu cara hidup yang mengandung paham, tujuan, dan sikap hanya
di dalam batas keduniaan.

   Seorang  sekularis  tidak  mengakui adanya wahyu sebagai salah satu
  sumber  kepercayaan dan pengatahuan. Ia menganggap bahwa kepercayaan
  dan   nilai-nilai   itu   ditimbulkan   oleh  sejarah  ataupun  oleh
  bekas-bekas  kehewanan  manusia  semata-mata  dan  dipusatkan kepada
  kebahagiaan manusia dalam kehidupan sekarang ini belaka .

   Jika  dibandingkan dengan sekularisme yang sebaik-baiknya pun, maka
  adalah  agama  masih lebih dalam dan lebih dapat diterima oleh akal.
  Setinggi-tinggi  tujuan  hidup bagi masyarakat dan perseorangan yang
  dapat  diberikan  oleh  sekularisme,  tidak melebihi konsep dari apa
  yang  disebut  humanity  (perikemanusiaan). Yang menjadi soal adalah
  pertanyaan,  Dimana sumber perikemanusiaan itu? 

Dalam  pidato  di Majlis Konstituante itu Muhammad Natsir dengan tegas
menawarkan  kepada  Sidang  Konstituante agar menjadikan Islam sebagai
dasar  negara  RI.  Buya  Hamka  pun terpana dengan pidato Natsir itu,
sampai menuliskan sebuah puisi khusus untuk Natsir.

   Kepada Saudaraku M. Natsir

   Meskipun bersilang keris di leher
   Berkilat pedang di hadapan matamu
   Namun yang benar kau sebut juga benar

   Cita Muhammad biarlah lahir
   Bongkar apinya sampai bertemu
   Hidangkan di atas persada nusa
   Jibril berdiri sebelah kananmu
   Mikail berdiri sebelah kiri
   Lindungan Ilahi memberimu tenaga

   Suka dan duka kita hadapi
   Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu
   Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi
   Ini berjuta kawan sepaham
   Hidup dan mati bersama-sama
   Untuk menuntut Ridha Ilahi
   Dan aku pun masukkan
   Dalam daftarmu   .!

(Ditulis  Hamka  di  Ruang  Sidang Konstituante pada 13 November 1957,
setelah mendengar pidato Moh. Natsir di Majlis Konstituante.)


- Harian Sa -

Categories: Harian Sa 



  

-- 
Best regards,
 Arnoldison                          mailto:[EMAIL PROTECTED]




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke