Ini adalah nama nagari-nagari di kecamatan X Koto di Atas, Kabupaten Solok.
Ketika Sawahlunto melakukan perluasan wilayah, Lumindai dan Kajai masuk ke Kota
Sawahlunto. Kecamatan X Koto di Atas ini, kantor kecamatannya terletak di
Tanjung Balit. Sementara nagari terbesarnya adalah Sulit Air. Sebuah nagari
yang sangat terkenal di Sumatera Barat. Nagarinya maju, perantaunya tersebar
dimana-mana. Mereka bisa membangun masjid dan puskesmas megah di tahun 1970an
di kampungnya.
Akses ke wilayah ini bisa ditempuh bermacam cara. Mulai dari tepian danau di
nagari Singkarak. Melewati Tanjung Alai, kita akan tiba di Sulik Aia.
Melewati Aripan, berawal dari Solok atau Singkarak, kita melewati Paninjauan
lalu Tanjung Balik. Sulik Aia adalah tempat simpang jalan ke Pasilihan dan
Bukik Kanduang, terusan jalan ini akan membawa kita ke daerah tanah datar.
Daerah sekitar Ombilin. Di Tanjung Balit, kita akan bertemu simpang ke
Sibarambang, Kajai, Lumindai, Talago Gunuang. Jalan ini akan berlanjut ke
Sawahlunto. Melewati nagari Kubang atau Talago Gunuang/Santua.
Batang Katialo adalah pusat kosmik daerah ini. Terminum air katialo akan
menyebabkan kenangan kita selalu ingin kembali ke wilayah ini. Dalam benak
saya, daerah ini sangat mewakili tipikal nagari jalur bukit barisan. Hijau
dimana-mana, bukit bertebing curam. Sungai kecil berbatu ukuran sedang sampai
besarmemenuhi alirannya.
Sedikit berbeda dengan kawasan di bawahnya (Daerah selingkar Danau Singkarak),
daerah ini lebih friendly. Ego nagari cenderung kecil. Orang Paninjauan masih
bisa naik mobil Tanjung Harapan (Tanjung Balik punya), ketika Paninjauan Jaya
yang mereka nanti-nantikan tak kunjung tiba. Jadi sedikit mengherankan, mereka
gampang sekali tersulut emosi. Tapi kalau cuma cakak anak mudo, karena
pengaruh tuak, ya biasa lah. Asal para niniak mamak dan tetua kampung masih
bisa menyejukkan, dendam bisa diminimalisir. Setiap zaman selalu punya tukang
cakak, cap mau istilah mamak saya. Senggol bacok caro kininyo. Pareman tuak
juga akan selalu ada. Menjadi masalah adalah ketika yang seperti ini menjadi
bagian terbesar sebaran masyarakat dimana orang baik hanyalah pencilan.
Ditambah sulitnya dapur berasap di kampung, yang muda kebanyakan hanya pamadek
labuah. Bautak ka pangka langan jadinyo.
Mudah-mudahan Lumindai dan Sibarambang kembali damai dan tenang. Tetap menjadi
rangkaian nagari indah dalam apitan bukit barisan. Mudah-mudahan gemercik
dinginnya air Batang Katialo bisa medinginkan mereka semua. Semoga.......
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---