Assalamualaikum w.w. para sanak sapalanta,
Saya sangat senang memperhatikan bahwa akhir-akhir ini terdapat peningkatan
minat secara terbuka terhadap sejarah pemberontakan PRRI, khususnya dalam
kaitannya dengan sejarah daerah Sumatera Barat serta sejarah suku bangsa
Minangkabau. Di Rantau Net ini demikian banyak postings dari paranetters
mengenai aspek-aspek tertentu PRRI, baik mengenai pengalaman pribadi dari
beliau-beliau yang pernah ikut terlibat, maupun berbagai interpretasi dan
rasionalisasi terhadap pemberontakan tersebut.. Dalam rangka peluncuran dua
buah buku yang memuat himpunan tulisan wartawan Suwardi Idris tentang
pengalaman beliau mengikuti PRRI di daerah Solok, beberapa waktu yang lalu
bertempat di Studio TVRI Padang telah diadakan talkshow mengenai PRRI ini, yang
diikuti oleh beberapa tokoh Sumatera Barat, antara lain budayawan senior
Wiswan Hadi, wartawan senior Basril Djabbar, sejarawan Dr Gusti Asnan. Talkshow
tersebut ditayangkan ulang di TVRI Pusat. Dari Ibu Warni Darwis,
Wakil Sekjen Gebu Minang, saya mendapat khabar bahwa Bp Abdul Samad, seorang
tokoh pejuang PDRI dari Bukittinggi, yang juga ikut pemberontakan PRRI,
baru-baru ini tampil di TVRI Pusat menjelaskan pengalaman beliau dalam PRRI
tersebut.
Saya menganggap peningkatan minat terhadap sejarah PRRI ini baik dan wajar.
Memang sudah waktunya sejarah PRRI ini dibedah secara mendasar dan mendalam.
Saya pernah mengkuti pembahasan masalah PRRI ini -- sebagai pembicara bersama
Kolonel Pur. Ventje Sumual -- di kampus Universitas Indonesia, Depok, dan di
The Habibie Center, Jakarta. Minggu lalu, di Apartemen #2724 Pomontory Circle
di San Ramon, Cal, USA, saya berbincang-bincang semalam suntuk dengan Inyiak
Sunguik Sjamsir Syarif yang telah menjalani hampir seluruh Sumatera Barat
sewaktu mengikuti pemberontakan PRRI ini sebagai orang dekat dengan Bp Mohammad
Natsir. Saya sungguh-sungguh mendorong beliau untuk menuliskan pengalaman
beliau tersebut agar dapat dibaca oleh generasi demi generasi bangsa Indonesia
pada umumnya dan suku bangsa Minangkabau pada khususnya.
Sungguh menarik untuk diperhatikan, bahwa walaupun cakupan aksinya pada taraf
awal juga meliputi daerah-daerah Sumatera Utara dan Sumatera Selatan, serta
terkait erat dengan pemberontakan Permesta yang meliputi daerah Sulawesi Utara
– namun memang hanya di daerah Sumatera Barat dan terhadap suku bangsa
Minangkabau saja dampak kekalahan pemberontakanPRRI ini demikian mendalam.
Tidak berkelebihan kiranya jika dikatakan bahwa walaupun pemberontakan PRRI
terutama berkenaan dengan masalah politik, yaitu hubungan antara Pemerintah
Pusat dan Daerah dalam rangka proses panjang integrasi nasional di Indonesia,
namun masyarakat Minangkabau memandangnya lebih dari itu, yaitu dari perspektif
sosio kultural, dengan akibat yang lebih parah, yaitu sampai patah semangat dan
berlarut-larut sampai sekarang. . Saya tidak melihat dampak yang sama pada suku
bangsa Batak atau suku bangsa Menado yang juga terlibat dalam pemberontakan
yang sama.
Sekedar sebagai catatan dapat saya sampaikan bahwa gejala patah semangat
berlarut-larut setelah kalah perang ini sama sekali bukanlah gejala baru.
Seperti ditulis Kolonel KNIL Soegondo, komando tentara kolonial Hindia Belanda
telah mencatat gejala yang sama sewaktu menghadapi Perang Paderi , 1821-1838.
Dengan kata lain, gejala patah semangat secara berlarut setelah kalah perang
itu adalah refleksi dari masalah kultural yang lebih mendasar. Dalam pengamatan
saya secara pribadi, gejala patah semangat tersebut merupakan wujud dari
kelemahan mendasar dari tatanan sosial Minangkabau, yang kelihatannya tidak
dirancang untuk bersatu, tetapi untuk hidup dalam komunitas kecil-kecil yang
saling curiga satu sama lain. Mungkin sekali, gejala patah semangat itu timbul
karena tidak yakin akan dibela oleh sanak saudaranya yang lain. [Sangat mirip
dengan tatanan sosial dan reaksi orang Arab setelah kalah perang]. Demikianlah,
Inyiak Sunguik Syamsir Sjarief
menjelaskan bahwa yang paling kejam terhadap PRRI bukanlah ‘tentara Soekarno’
tetapi justru urang awak yang jadi ‘tukang tunjuk’ dan yang menjadi anggota
Organisasi Perlawanan Rakyat (OPR). Saya tahu bahwa yang menjadi anggota OPR
ini pada umumnya adalah para preman yang menjadi anggota Pemuda Rakyat,
onderbouw Partai Komunis Indonesia (PKI) yang digunakan oleh Kodam III/17
Agustus untuk menghadapi pemberontakan PRRI.
Sudah barang tentu secara pribadi saya merasa sangat tertarik untuk mendalami
dimensi-dimensi sosio kultural, sosial politik, serta strategi dan taktik
militer dari pemberontakan PRRI ini, bukan saja oleh karena saya ditakdirkan
lahir dan menjadi dewasa sebagai seorang warga suku bangsa Minangkabau, tetapi
juga oleh karena latar belakang pendidikan saya dalam ilmu pemerintahan di
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan karena karir saya sebagai perwira
TNI-Angkatan Darat, yang selama 16 tahun berturut-turut berdinas di daerah
Kodam III/17 Agustus, yang mencakup daerah Sumatera Barat dan Riau
(1960-1976).. Dapat saya sampaikan bahwa saya menyaksikan dari dekat betapa
besar perubahan yang dialami daerah Sumatera Barat antara suasana aman tentram
sebelum pecahnya pemberontakan PRRI, yaitu pada tahun 1957 sewaktu saya pulang
libur sebagai mahasiswa Universitas Gadjah Mada, dan suasana pasca PRRI, antara
tahun 1960-1976, sewaktu saya bertugas sebagai
perwira staf Kodam III/17 Agustus di daerah Sumatera Barat dan Riau.
Demikianlah, untuk memenuhi rasa keingintahuan saya tersebut, selama sembilan
tahun antara tahun 1987-1996 – di sela-sela kesibukan saya sebagai Tenaga Ahli
Lemhannas ( 1983-1989) dan sebagai Staf Ahli Menteri Sekretaris Negara
(1989-1999) -- saya mengadakan penelitian untuk menyusun disertasi mengenai
pemberontakan PRRI ini dan mempertahankannya di depan Rapat Terbuka Senat Guru
Besar Universitas Gadjah Mada pada tanggal 25 Agustus 1996, 12 tahun yang lalu.
Sebagai saksi sejarah dan sebagai sebuah skrup kecil dalam operasi teritorial
pada tahap pasca PRRI, saya sama sekali tidak mempunyai kesukaran dalam
mengumpulkan fakta dan data sejarah pemberontakan PRRI serta penumpasannya.
Yang jauh lebih sulit adalah mencari rujukan teori dan pendekatan ilmiah yang
tepat untuk menjelaskannya. Mengingat demikian banyaknya aspek pemberontakan
PRRI ini, adalah jelas bahwa jika kita benar-benar hendak memahami dan
memperoleh eksplanasi terhadap pemberontakan
PRRI ini, diperlukan suatu pendekatan yang bersifat holistik, bukan
pendekatan yang sepotong-sepotong.
Suatu dimensi lain yang layak untuk kita dalami mengenai pemberontakan PRRI
ini adalah dimensi hubungan internasionalnya, khususnya peranan Central
Intelligence Agency (CIA) Amerika Serikat, yang telah diungkap secara amat
jelas dalam buku Subversion as Foreign Policy oleh suami isteri George McTurnan
Kahin dan Audrey Kahin. Saya percaya bahwa bahwa penggalangan intelijen oleh
CIA ini – selain oleh karena kurangnya visi strategis oleh para tokoh KDMST --
merupakan salah satu faktor penting pecahnya pemberontakan dan kekalahan PRRI
ini. Sukar untuk dibantah, bahwa berbaliknya sikap Amerika Serikat dari
mendukung PRRI menjadi mendukung Presiden Soekarno dan TNI juga merupakan
faktor penting kekalahan PRRI, dengan segala akibat sosio kulturalnya pada
warga suku bangsa Minangkabau..
Lagi pula jangan dilupakan suatu akibat tidak langsung dari pemberontakan PRRI
ini, yaitu dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, lahirnya Demokrasi
Terpimpin, serta berkembangnya PKI, yang kemudian berujung pada rencana kudeta
Gerakan 30 September/PKI.
Dengan kata lain, pemberontakan PRRI memang layak didalami, bersisian dengan
peristiwa-peristiwa besar nasional lainnya. Juga jangan dilupakan bahwaoleh
karena terhadap rencana kudeta Gerakan 30 September/PKI saja sudah berkali-kali
didakan seminar, lokakarya, atau sekedar pertemuan, tidak ada alasan mengapa
terhadap pemberontakan PRRI ini tidak ada pengkajian serupa.
Hanya ada suatu catatan kecil yang perrlu saya sampaikan, yaitu kecenderungan
para sanak kita di Sumatera Barat yang lazim mereduksi peristiwa-peristiwa
sejarah nasional yang terjadi di Sumatera Barat menjadi sejarah Sumatera Barat
belaka. Lebih kecil lagi, sebagai sekedar sejarah pribadi-pribadi belaka. Saya
melihat gejala tersebut sewaktu mengikuti pembahasan tentang sejarah Pemerintah
Darurat Republik Indonesia (PDRI). Oleh karena itu, tidak bosan-bosannya saya
mengingatkan bahwa PDRI adalah suatu institusi nasional dan sejarah PDRI adalah
bagian dari sejarah nasional. Kali ini saya ingin mengingatkan para sanak
semua, bahwa sejarah PRRI adalah bagian dari sejarah nasional, dan dengan
merujuk pada buku suami isteri Kahin, sejarah PRRI adalah juga bagian dari
sejarah internasional Perang Dingin antara Blok Amerika Serikat dengan Blok Uni
Soviet.
Kalau begitu, sambil mendorong Inyiak Sunguik Sjamsir Sjarief dan para sanak
lainnya untuk menulis pengalaman lapangan masing-masing sewaktu pemberontakan
PRRI, apa tak perlu diselenggarakan suatu Seminar Internasional tentang
Pemberontakan PRRI ? Bagaimana kalau kita dorong Dewan Perwakilan Daerah RI,
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) , Arsip Nasional RI, Departemen
Pertahanan serta Markas Besar TNI-Angkatan Darat, Departemen Kebudayaan dan
Pariwisata, Lembaga Ketahanan Nasional, Pusat Sejarah TNI, Masyarakat
Sejarawan Indonesia (MSI), Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD),
tokoh-tokoh sejarah masyarakat Batak dan Menado, termasuk Kolonel Pur Ventje
Sumual, dan tokoh senior sejarawan Prof Dr Taufik Abdullah , Prof Dr Salim
Said, Prof. Dr RZ Leirissa, serta Dr Audrey Kahin untuk membahas pemberontakan
PRRI ini secara holistik ?
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, 71 th, kini sedang di San Ramon, California, USA)
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---