Pak Saaf ysh,
Sebelumnya terima kasih atas informasi yang diberikan. Saya ingin mengomentari 
beberapa hal saja:
 
1. Pernyataan 'patah semangat' sebagaimana disampaikan saya kira kurang tepat, 
mengingat kultur masyarakat kita tidaklah seperti itu. Dari catatan yang ada 
tidak ada disebutkan 'dikalahkan' atau 'ditaklukkan'; dan bila kita mempelajari 
secara yuridis formal, peristiwa PRRI itu bukanlah pemberontakan. Memang hanya 
'buku sejarah' saja yang menyampaikan seperti itu.
'Reaksi masyarakat' setelah itu adalah 'menjawab' dalam bentuk lain; seperti 
misalnya melakukan eksodus ke luar daerah untuk mengembangkan kehidupan. Saya 
kira eksodus atau 'merantau besar-besaran' terjadi pasca PRRI itu. Sebagai 
contoh saya mendapatkan catatan, pada tahun 1955 (sensus?) penduduk di Nagari 
Sulit Air adalah 50.000 jiwa, saya perkirakan turun drastis pasca PRRI (era 
1960-an) dan stagnan hingga tahun 2002. Untuk tahun 2002 sampai 
sekarang penduduk adalah sekitar 12.000 jiwa. Kiranya berlangsung juga di 
negeri-negeri lain.
Pada masa bapak bertugas di Sumbar, kebetulan masyarakat yang bapak hadapi 
adalah masyarakat yang memang tinggal menetap dan bertahan; namun 'dinamika' 
yang sebenarnya berlangsung di 'perantauan'. Di perantauan ini mereka 
mengibarkan panji-panji Minangkabau; dan hingga saat ini 'lambang-lambang 
Minangkabau' berdiri begitu menantangnya di seluruh persada Indonesia, dari 
Sabang sampai Merauke, dari Sangihe sampai Rote. Malah ada yang sampai ke 
negeri Belanda.
 
2. Jiwa kebangsaan hanya dapat dipahami secara multikultur, namun sebelumnya 
hendaknya 'fasih' secara monokultur. Karena itu 'semangat keIndonesiaan' 
baru sahih bila diteriakkan di 'luar kandang', sebagaimana Bung Hatta 
dan Syahrir berpikir tentang Indonesia di Negeri Belanda, Jawa, Banda, hingga 
Boven Digoel, Tan Malaka di Cina, dan sederet putera-putera kebanggaan 
Minangkabau lainnya. Proses kebangsaan bukanlah proses serta-merta, atau 
bersifat instan, terjadi begitu saja, atau tiba-tiba menjadi multikultur. Perlu 
pendalaman monokultur terlebih dahulu, untuk menghargai berbagai kultur 
lain, dan kemudian mencintai keberagaman.
Saya kira inilah keunggulan 'orang-orang Minang', dan terbukti di berbagai 
tempat dapat diterima, apalagi falsafah adat mendukungnya: "dimana bumi 
dipijak, disitu langit dijunjung, ranting dipatah, air disauk, dst."
 
3. Saya tidak melihat signifikasi suku bangsa lain pada masa itu, mengingat 
'kultur' dan 'kesadaran' yang berbeda, sehingga kurang patut dipersandingkan. 
Namun bila 'kesadaran' itu telah terbentuk, dapat dilihat euphoria-nya pada era 
Otda saat ini.
 
4. Permasalahan yang dihadapi orang Minang hingga saat ini memang kekuatan 
dan dinamika itu belum terkonsolidasi, dan merupakan tantangan bagi kita 
bersama saat ini, apakah melalui organisasi GM, RN, dsb.
 
Demikian kurang lebih komentar yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf bila ada 
hal-hal yang kurang berkenan.
 
Wassalam,
-datuk endang


--- On Wed, 6/11/08, Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Kajian Mendasar terhadap Sejarah PRRI.
To: "Rantau Net" <[email protected]>
Cc: "Sjamsir SJARIEF" <[EMAIL PROTECTED]>, "S SURYADI" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "Prof Dr Taufik ABDULLAH" <[EMAIL PROTECTED]>, "Prof Dr. 
Salim SAID" <[EMAIL PROTECTED]>, "Prof Dr Djohermansyah DJOHAN" 
<[EMAIL PROTECTED]>, "Prof. Dr Azyumardi AZRA" <[EMAIL PROTECTED]>, 
"Warni DARWIS" <[EMAIL PROTECTED]>, "Edy UTAMA" <[EMAIL 
PROTECTED]>, "Dra. Adriyetti AMIR, SU" <[EMAIL PROTECTED]>, "Gamawan 
FAUZI, SH, MM" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wednesday, June 11, 2008, 8:58 AM








Assalamualaikum w.w. para sanak sapalanta,
 
Saya sangat senang memperhatikan bahwa akhir-akhir ini terdapat peningkatan 
minat secara terbuka terhadap sejarah pemberontakan PRRI, khususnya dalam 
kaitannya dengan sejarah daerah Sumatera Barat serta sejarah suku bangsa 
Minangkabau. Di Rantau Net ini demikian banyak postings dari para netters 
mengenai aspek-aspek tertentu PRRI, baik mengenai pengalaman pribadi dari 
beliau-beliau yang pernah ikut terlibat, maupun berbagai interpretasi dan 
rasionalisasi terhadap pemberontakan tersebut.. Dalam rangka peluncuran dua 
buah buku yang memuat himpunan tulisan wartawan Suwardi Idris tentang 
pengalaman beliau mengikuti PRRI di daerah Solok, beberapa waktu yang lalu 
bertempat di Studio TVRI Padang telah diadakan talkshow mengenai PRRI ini, yang 
diikuti oleh beberapa tokoh  Sumatera Barat, antara lain budayawan senior 
Wiswan Hadi, wartawan senior Basril Djabbar, sejarawan Dr Gusti Asnan. Talkshow 
tersebut ditayangkan ulang di TVRI Pusat. Dari Ibu Warni
 Darwis, Wakil Sekjen Gebu Minang, saya mendapat khabar bahwa Bp Abdul Samad, 
seorang tokoh pejuang PDRI dari Bukittinggi, yang juga ikut pemberontakan PRRI, 
 baru-baru ini tampil di TVRI Pusat menjelaskan pengalaman beliau dalam 
PRRI tersebut.

 
Saya menganggap peningkatan minat terhadap sejarah PRRI ini baik dan wajar. 
Memang sudah waktunya sejarah PRRI ini dibedah secara mendasar dan mendalam. 
Saya pernah mengkuti pembahasan masalah PRRI ini -- sebagai pembicara bersama 
Kolonel Pur. Ventje Sumual -- di kampus Universitas Indonesia, Depok,  dan 
di  The Habibie Center, Jakarta. Minggu lalu, di Apartemen  #2724 
Pomontory Circle di San Ramon, Cal, USA, saya berbincang-bincang semalam suntuk 
dengan Inyiak Sunguik Sjamsir Syarif yang telah menjalani hampir seluruh 
Sumatera Barat sewaktu mengikuti pemberontakan PRRI ini sebagai orang dekat 
dengan Bp Mohammad Natsir.  Saya sungguh-sungguh mendorong beliau untuk 
menuliskan pengalaman beliau tersebut agar dapat dibaca oleh generasi demi 
generasi bangsa Indonesia pada umumnya dan suku bangsa Minangkabau pada 
khususnya.

 
Sungguh menarik untuk diperhatikan, bahwa walaupun cakupan aksinya pada taraf 
awal juga meliputi daerah-daerah Sumatera Utara dan Sumatera Selatan, serta 
terkait erat dengan pemberontakan Permesta yang meliputi daerah Sulawesi Utara 
– namun memang hanya di daerah Sumatera Barat dan terhadap suku bangsa 
Minangkabau saja dampak kekalahan pemberontakanPRRI ini  demikian 
mendalam. Tidak berkelebihan kiranya jika dikatakan bahwa walaupun 
pemberontakan PRRI terutama  berkenaan dengan masalah politik, yaitu 
hubungan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dalam rangka proses panjang 
integrasi nasional di Indonesia, namun masyarakat Minangkabau memandangnya 
lebih dari itu, yaitu dari perspektif sosio kultural, dengan akibat yang lebih 
parah, yaitu sampai patah semangat dan berlarut-larut sampai sekarang. . Saya 
tidak melihat dampak yang sama pada suku bangsa Batak atau suku bangsa Menado 
yang juga terlibat dalam pemberontakan yang sama. 

 
Sekedar sebagai catatan dapat saya sampaikan bahwa gejala patah semangat 
berlarut-larut setelah kalah perang ini sama sekali bukanlah gejala baru. 
Seperti ditulis Kolonel KNIL Soegondo, komando tentara kolonial Hindia Belanda 
telah mencatat gejala yang sama sewaktu menghadapi Perang Paderi , 1821-1838. 
Dengan kata lain, gejala patah semangat secara berlarut setelah kalah perang 
itu adalah refleksi dari masalah kultural yang lebih mendasar. Dalam pengamatan 
saya secara  pribadi, gejala patah semangat tersebut merupakan  wujud 
dari kelemahan mendasar dari tatanan sosial Minangkabau,  yang 
kelihatannya  tidak dirancang untuk bersatu, tetapi untuk hidup dalam 
komunitas kecil-kecil yang saling curiga satu sama lain. Mungkin sekali, gejala 
patah semangat itu timbul karena tidak yakin akan dibela oleh sanak saudaranya 
yang lain. [Sangat mirip dengan tatanan sosial dan reaksi orang Arab setelah 
kalah perang]. Demikianlah, Inyiak Sunguik
 Syamsir Sjarief menjelaskan bahwa yang paling kejam terhadap PRRI bukanlah 
‘tentara Soekarno’ tetapi justru urang awak yang jadi ‘tukang tunjuk’ dan yang 
menjadi anggota Organisasi Perlawanan Rakyat (OPR). Saya tahu bahwa yang 
menjadi anggota OPR ini pada umumnya adalah para preman yang menjadi anggota 
Pemuda Rakyat, onderbouw Partai Komunis Indonesia (PKI) yang digunakan oleh 
Kodam III/17 Agustus untuk menghadapi pemberontakan PRRI.
Sudah barang tentu secara pribadi saya merasa sangat tertarik untuk mendalami 
dimensi-dimensi  sosio kultural, sosial politik,  serta strategi dan 
taktik militer dari pemberontakan PRRI ini, bukan saja oleh karena saya 
ditakdirkan lahir dan menjadi dewasa sebagai seorang warga suku bangsa 
Minangkabau, tetapi juga oleh karena latar belakang pendidikan saya dalam ilmu 
pemerintahan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dan karena karir saya 
sebagai perwira TNI-Angkatan Darat, yang selama 16 tahun berturut-turut 
berdinas di daerah Kodam III/17 Agustus, yang mencakup daerah Sumatera Barat 
dan Riau (1960-1976). Dapat saya sampaikan bahwa saya menyaksikan dari 
dekat  betapa besar perubahan yang dialami daerah Sumatera Barat antara 
suasana aman tentram sebelum pecahnya pemberontakan  PRRI, yaitu pada 
tahun 1957 sewaktu saya pulang libur sebagai mahasiswa Universitas Gadjah Mada, 
dan suasana pasca PRRI, antara tahun 1960-1976, sewaktu saya
 bertugas sebagai perwira staf Kodam III/17 Agustus di daerah Sumatera Barat 
dan Riau.

 
Demikianlah, untuk memenuhi rasa keingintahuan saya tersebut,  selama 
sembilan tahun antara tahun 1987-1996 – di sela-sela kesibukan saya sebagai 
Tenaga Ahli Lemhannas ( 1983-1989) dan sebagai Staf Ahli Menteri Sekretaris 
Negara (1989-1999) -- saya mengadakan penelitian untuk menyusun disertasi 
mengenai pemberontakan PRRI ini dan mempertahankannya di depan Rapat Terbuka 
Senat Guru Besar Universitas Gadjah Mada pada tanggal 25 Agustus 1996, 12 tahun 
yang lalu. Sebagai saksi sejarah dan sebagai sebuah skrup  kecil dalam 
operasi teritorial pada tahap pasca PRRI, saya sama sekali tidak mempunyai 
kesukaran dalam mengumpulkan fakta dan data sejarah pemberontakan PRRI serta 
penumpasannya. Yang jauh lebih sulit adalah mencari rujukan teori dan 
pendekatan ilmiah yang tepat untuk menjelaskannya. Mengingat demikian banyaknya 
aspek pemberontakan PRRI ini, adalah jelas bahwa jika kita benar-benar hendak 
memahami dan memperoleh  eksplanasi terhadap
 pemberontakan PRRI ini, diperlukan suatu pendekatan yang bersifat  
holistik, bukan pendekatan yang sepotong-sepotong.
 

Suatu dimensi lain yang layak untuk  kita dalami mengenai pemberontakan 
PRRI ini adalah dimensi hubungan  internasionalnya, khususnya peranan 
Central Intelligence Agency (CIA) Amerika Serikat, yang telah diungkap secara 
amat jelas dalam buku Subversion as Foreign Policy oleh suami isteri George 
McTurnan Kahin dan Audrey Kahin. Saya percaya bahwa bahwa penggalangan 
intelijen oleh CIA ini – selain oleh karena kurangnya visi strategis oleh para 
tokoh KDMST -- merupakan salah satu faktor penting pecahnya pemberontakan dan 
kekalahan  PRRI ini. Sukar untuk dibantah, bahwa berbaliknya sikap Amerika 
Serikat dari mendukung PRRI menjadi mendukung Presiden Soekarno dan TNI juga 
merupakan faktor penting kekalahan PRRI, dengan segala akibat sosio kulturalnya 
pada warga suku bangsa Minangkabau.. 
 
Lagi pula jangan dilupakan suatu akibat tidak langsung dari pemberontakan PRRI 
ini, yaitu dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, lahirnya Demokrasi 
Terpimpin, serta berkembangnya PKI, yang kemudian berujung pada rencana kudeta 
Gerakan 30 September/PKI.
 

Dengan kata lain, pemberontakan PRRI memang layak didalami, bersisian dengan 
peristiwa-peristiwa besar nasional lainnya. Juga jangan dilupakan bahwaoleh 
karena terhadap rencana kudeta Gerakan 30 September/PKI saja sudah berkali-kali 
didakan seminar, lokakarya, atau sekedar pertemuan, tidak ada alasan mengapa 
terhadap pemberontakan PRRI ini tidak ada pengkajian serupa. 

 
Hanya ada suatu catatan kecil yang perrlu saya sampaikan, yaitu kecenderungan 
para sanak kita di Sumatera Barat yang lazim mereduksi peristiwa-peristiwa 
sejarah nasional yang terjadi di Sumatera Barat menjadi sejarah Sumatera Barat 
belaka. Lebih kecil lagi, sebagai sekedar sejarah pribadi-pribadi belaka. Saya 
melihat gejala tersebut sewaktu mengikuti pembahasan tentang sejarah Pemerintah 
Darurat Republik Indonesia (PDRI). Oleh karena itu, tidak bosan-bosannya saya 
mengingatkan bahwa PDRI adalah suatu institusi nasional dan sejarah PDRI adalah 
bagian dari sejarah nasional. Kali ini saya ingin mengingatkan para sanak 
semua, bahwa sejarah PRRI adalah bagian dari sejarah nasional, dan dengan 
merujuk pada buku suami isteri Kahin, sejarah PRRI adalah juga bagian dari 
sejarah internasional Perang Dingin antara Blok Amerika Serikat dengan Blok Uni 
Soviet.

 
Kalau begitu, sambil mendorong Inyiak Sunguik Sjamsir Sjarief dan para sanak 
lainnya untuk  menulis pengalaman lapangan masing-masing sewaktu 
pemberontakan PRRI,  apa tak perlu diselenggarakan suatu  Seminar 
Internasional tentang Pemberontakan PRRI ? Bagaimana kalau kita dorong Dewan 
Perwakilan Daerah RI, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) , Arsip 
Nasional RI, Departemen Pertahanan serta Markas Besar TNI-Angkatan Darat, 
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Lembaga Ketahanan Nasional,  Pusat 
Sejarah TNI, Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI), Persatuan Purnawirawan 
Angkatan Darat (PPAD),  tokoh-tokoh sejarah masyarakat Batak dan Menado, 
termasuk Kolonel Pur Ventje Sumual, dan tokoh senior sejarawan Prof Dr Taufik 
Abdullah , Prof Dr Salim Said, Prof. Dr RZ Leirissa, serta  Dr Audrey 
Kahin untuk membahas pemberontakan PRRI ini secara holistik ?
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, 71 th, kini sedang di San Ramon, California, USA)


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke