Betul Pak Saaf. Uda Rainal Rais juga menyarankan penggunaan kata 
"mempromosikan" dari pada "menjual". Dalam bahaso awak barek aratinyo: "Alah 
tajua waang ko mah..."

Tantangan lain buat Sol-Sel adalah kendala jarak yang 3,5 jam dari Padang dan 
jalan yang berbelok-belok. Sehingga penyediaan sarana Hotel/Penginapan yang 
memadai dan bersih sangat diperlukan utk beristirahat. Dari Cottage di Danau 
Kembar bisa dicapai kurang dari 2 jam. Istilah Nagari Seribu Rumah Gadang tsb 
diberikan oleh DR. Meutia Hatta ketika bersama rombongan dari UNESCO ke Sol-Sel 
bbrp tahun lalu...

Kalau waktunya agak panjang, nanti saya ajak Pak Saaf ke kampung saya ini. 
Thanks atas komennya.

Salam,
Nofrins
www.solok-selatan.com
www.solselkab.go.id --> Situs ini dibuat oleh dunsanak kito Ephi Lintau



----- Original Message ----
From: Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Cc: Pengurus MAPPAS <[EMAIL PROTECTED]>; Fina Casarta <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, June 15, 2008 11:03:46 AM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Solsel "Jual" Rumah-Rumah Bersejarah di Pasar 
Sejarah


Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
 
Saya ucapkan selamat kepada Bupati Syafrizal yang  secara terencana telah 
membuka kabupatennya untuk dikunjungi dunia luar dan dengan demikian telah 
mendayagunakan [ saya kok merasa kurang nyaman dengan istilah 'menjual', walau 
dalam arti figuratif sekalipun] demikian banyak asset sosial budaya daerahnya 
ini demi kesejahteraan masyarakatnya. Saya yakin bahwa banyak orang Minang 
sendiri yang belum pernah ke sana, termasuk saya. 
 
Yang selanjutnya perlu disiapkan adalah berbagai fasilitas untuk mendukung 
wisata ini, seperti souvenir, booklets dan leaflets, serta tenaga-tenaga 
pemandu lokal yang selain ramah ['muluik manih kucindan murah'] juga faham 
dengan semboyan pemilik Restoran Padang di Cipanas, yang menulis: "Kalau Anda 
puas, beri tahu orang lain, kalau Anda tidak puas, beritahu kami".
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, 71 th, kini sedang di San Ramon, California, USA)




----- Original Message ----
From: Yulnofrins Napilus <[EMAIL PROTECTED]>
To: RantauNet2 Milis <[email protected]>; MAPPAS <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, June 14, 2008 8:27:17 PM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Solsel "Jual" Rumah-Rumah Bersejarah di Pasar Sejarah




http://www.antara-sumbar.com 

Padang Aro, (ANTARA) - Pemkab Solok Selatan (Solsel) Sumbar "menjual"
rumah-rumah "tempo doeloe" di daerahnya di pasar wisata lokal dan nasional, 
karena memiliki keunikan dan bersejarah sehingga diyakini menarik minta 
wisatawan.

Ratusan rumah-rumah bersejarah tetap terjaga di Solsel dan diperkenalkan di 
pasar wisata sebagai daya tarik daerah ini, kata Bupati Solsel, Syafrizal di
Padang. Aneka gambar rumah-rumah tempo doeloe yang bersejarah itu kini 
dipamerkan pada stand Kabupaten Solsel di Pekan Budaya Sumbar 2007.
Rumah-rumah itu antara lain, "Rumah gadang (rumah adat) Durian Taruang"
berlokasi sekitar 500 meter dari ibukota Solsel Padang Aro. Rumah ini
merupakan istana raja dan Putri Intan Juri serta rumah gadang pertama yang 
dibangun di Nagari Durian Tarung, ratusan tahun lalu.

Hingga kini rumah gadang tersebut masih tetap berfungsi sebagai tempat
penyelenggaraan upacara adat dan pesta perkawinan anak keturunan Raja Intan 
Juri. 

Kemudian, rumah gadang "Datuak Rajo Disambah" 49 kilometer dari Padang Aro yang 
memiliki atap bagonjong lima, beranjungan satu dan merupakan rumah adat khas 
Sungai Pagu, Solsel. Dalam rumah ini banyak tersimpan peninggalan adat budaya 
bernilai tinggi yang hanya digunakan pada saat penyelenggaraan upaya adat.
Selanjutnya, di daerah "1000 Rumah Gadang" sebagai perkampungan tradisional 
masyarakat Alam Sarambi Sungai Pagu di Nagari Koto Baru, 33 kilometer dari 
Padang Aro. Di perkampungan ini terdapat banyak rumah gadang sehingga dinamakan 
"1000 Rumah Gadang" yang tersebar di segala penjuru kawasan dengan panorama 
ribuan atap bagonjong yang tinggi menjulang.

Rumah bersejarah lainnya, bangunan Ustano Rajo Balun di Jorong Balun, 47
kilometer dari Padang Aro yang merupakan kediaman keluarga raja adat Alam 
Serambi Sungai Pagu. Rumah gadang ini berbentuk istana serambi Aceh dengan 
posisi menghadap ke Timur dan di dalamnya menyimpan banyak peninggalan kuno 
seperti naskah Balun, perlengkapan penobatan raja, peralatan sekapur sirih dan 
peralatan makan raja.

Berikutnya, Rumah Gadang 21 ruang di Nagari Abai, 40 kilometer dari Padang Aro. 
Rumah ini memiliki 21 ruang memanjang dengan arsitektur bagonjong dan dikenal 
sebagai rumah gadang terpanjang di Sumbar.

Rumah ini difungsikan sebagai tempat penyelenggaraan acara adat dan kesenian 
batombe serta pesta perkawinan. Rumah tersebut tidak digunakan untuk tempat 
tinggal keluarga, tetapi bagi laki-laki yang belum mampu membuat rumah sendiri 
dan bisa tinggal sementara di tempat itu.

Di Solsel juga terdapat rumah perjuangan Pemerintah Darurat Republik
Indonesia (PDRI) berlokasi di Nagari Bidar Alam, 26 kilometer dari Padang
Aro. Secara historis Solsel menyimpan berbagai bukti sejarah bangsa dan Nagari 
Bidar Alam pernah menjadi pusat PDRI tahun 1949 serta di rumah tersebut 
digunakan sebagai pos keamanan dan tempat sidang-sidang kabinet PDRI.

Satu kilometer dari rumah itu terdapat tugu PDRI sebagai saksi sejarah
perjuangan Presiden PDRI saat menyelamatkan negara Indonesia dalam keadaan 
darurat tahun 1949.
Solsel juga memiliki bangunan masjid tua bersejarah yakni "Masjid Aso Kurang 
60" di Nagari Pasir Talang, 49 kilometer dari Padang Aro. Masjid dibangun 200 
tahun lalu oleh 60 orang ninik-mamak (tokoh adat).

Namun dalam perjalanan pembangunannya seorang ninik mamak meninggal dan tinggal 
59, sehingga di namakan "Masjid Aso Kurang 60". Masjid ini merupakan simbol 
masyarakat setempat karena dianggap sebagai
bangunan pertama di Alam Serambi Sungai Pagu. Pada awalnya masjid ini
beratap ijuk dengan empat tingkat sebagai lambang empat suku di Nagari itu.

Dinding masjid dari kayu penuh ukiran bungai teratai berkombinasi dengan
rebung, Mimbarnya bertingkat dan dilengkapi beduk besar. Masjid dengan
ukuran 15,5 x 14 meter itu pada bagian belakang mi'raj nya terdapat makam
Syech Maulana Sofi dengan ukuran 4 x 2,75 meter.
----- 
Lihat juga: http://www.solok-selatan.com

   




      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke