Minyak Nilam, Mentawai. Posting ini merupakan suatu sumber berita yang penting untuk retrospeksi pandangan dunia kita.
1. Minyak Nilam. Daerah penghasil Minyak Nilam yang lebih dikenal selama ini adalah Aceh. Daerah Aceh sudah menjadi sasaran buruan pencium-pencium ekonomi asing sejak masa yang tidak diketahui sepanjang sejarah. Kia tahu Kapur Barus sudah dikenal dengan adanya kota Barus yang sudah dikenal pedagang-pedagan Arab sejak masa dan mungkin sebelum Nabi Sulaiman. Minyak Nilam adalah induk segala parfum. Saya kira juga Minyak Nilam seiring dengan itu sudah menjadi pujaan Ratu Balqis (Queen of Sheba) yang dapat merayu kasih cinta Nabi Sulaiman. Nabi Muhammad s.a.w. khabarnya senang juga dengan parfum, banyak orang-orang Arab di Mesjid baik hari Hari Jumat apalagi hari Raya mengoleskan parfum katanya mengikuti sunnah. Dalam keterangan-keterangan umum, hanya Aceh yang dianggap sebagai sumber barang-barang kecil bernilai tinggi ini. Selain itu Aceh dikenal dengan produk-produk terkenal diluar dengan Pinang dan Perca ,sekarang gas, dll. Nah, dasar, atau induk semua parfumm ini berasal dari Minyak Nilam, Pachouli Oil yang tumbuhannya bearsal dari Indonesia, yah di Aceh, sekarang rupanya juga baru diketahui tumbuh di Mentawai. 2. Mentawai. Kita, dari Sumatera Barat Daratan mudah-mudahan baru dikejutkan dengan adanya Minyak Nilam yang dihasilkan di Mentawai. Baru saja kita dikejutkan bahwa Mentgawai adalah tempat sorga surfers termashur di seluruh dunia yabngdapat diekpoitasi untuk keperlua turisme. Banyak lagi sumber-sumber alam yang tidak kita ketahui dari pandangan kita dari Sumatera Barat Daratan. Betapa kayu-kayu berharga sudah dibabat besar-besaran , tanpa atau dengan sepengetahuan diam-diam oleh "orang-orang yang tahu cari untung" di ibukota daratan kita. Kita di daratan, barangkali terlalu Minang Sentrik, ignoran, tidak mengindahkan penduduk dan kekayaan kepulauan berharga ini. Lihatlah Google Earth, terbang-terbanglah di atasnsya. Bandingkanlah areal Mentawai paralel dari sepanjang pantai Sumatera Barat dari Utara ke Selatan. Luasnya kalau dilihat sepintas lalu, kira-kira sama dengan separoh Sumatera Barat Daratan. Tetapi pernahkah kita memperhatikannya. Bahkan dalam pandangan ekstrim kita menganggap penduduk Mentawai orang terbelakang, yah maaf, dikategorikan dan barangkali diperlakukan, sebagai orang yang masih biadab, tidak perlu diperhatikan. Yang kita anggap Sumatera Barat yang dijuluki "sumbar", kata yang kurang saya senangi itu, hanyalah Sumatera Barat Daratan saja, Daerah Inti Minangkabau. Kapankah kita akan terhindar dari Minang Sentrik ini? Salam, --Inyiak Sunguik --- In [EMAIL PROTECTED], "budhi bahroelim" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Palanta RN yang terhormat, > > Artikel pendek di Kompas Minggu (dikutipkan di bawah) menarik dan mengganggu > pikiran saya hari ini. Sebelumnya saya tidak paham apa itu minyak nilam, > bagaimana aromanya, dari mana asalnya, apa gunanya, harga dan sebagainya. > Mungkin saya saja yang abai dan tak hirau akan hal ini. Jadi bagi saya > berita kecil ini memberi cukup banyak informasi. > > Iseng-iseng saya coba cari di internet informasi lebih jauh tentang minyak > nilam ini. Yang mengejutkan di sebuah website > http://www.100pureessentialoils.com/site/1562898/page/712580 saya temukan, > minyak nilam dari Indonesia dijual seharga US$ 165/250ml. Bandingkan dengan > harga dari petani yang cuma Rp 700rb/kg, itu pun rawan permainan tengkulak. > > Sungguh sebuah kekayaan alam yang sangat potensial untuk dikembangkan. Baik > dari segi budidaya tanamannya, pengolahan dan peningkatan kualitas, > pemasaran dan pengembangan produknya. Ini membuka mata saya tentang betapa > banyaknya potensi kekayaan alam kita yang tidak dikelola dan dikembangkan > untuk kemakmuran rakyat. > > Saya pikir penyulingan adalah sebuah proses yang cukup sederhana. Tentunya > lulusan sekolah analis kimia (setingkat SMU) di Padang bisa memberikan > masukan yang berarti untuk peningkatan kualitas prosesnya. Belum lagi > jurusan Kimia Unand, bila ingin menyebut lebih jauh. Atau mungkin Fakultas > Pertanian Unand untuk membantu pembudi dayaan tanamannya. Dan pikiran saya > melayang-layang membayangkan berbagai produk yang bisa dihasilkan dari bahan > baku ini - andai kita mampu mengembangkan industri lokal-nya. > > Mungkin ada anggota RN yang lebih paham mengenai masalah ini. Kalau bisa > kita diskusikan bersama, mungkin bisa jadi ide yang bisa dikembangkan lebih > lanjut untuk memajukan kampung halaman. > > Salam > Budhi St. Mangkuto Sati/35/Den Haag > > > ----------------------------------------------------------------- > Minyak Nilam, Tulang Punggung Warga Kepulauan Mentawai > Minggu, 15 Juni 2008 | 03:00 WIB > > Negeri kita tercatat sebagai penghasil minyak nilam yang populer di pasar > internasional, tetapi justru kurang akrab di telinga kita. Minyak ini > dihasilkan dari penyulingan tanaman nilam (Pogostemon patchouli). Karena > sifat aromanya yang kuat, minyak ini digunakan sebagai pewangi kertas tisu, > campuran deterjen pencuci pakaian, pewangi ruangan, kosmetik, dan parfum. > > Dusun Lakau, Desa Bulasat, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera > Barat, menghasilkan minyak nilam. Hampir seluruh penduduk menggantungkan > hidup dari perkebunan nilam, selain dari perkebunan cokelat, cengkeh, dan > kopra serta hasil perikanan tangkap. > > Tanaman nilam siap dipanen perdana setelah berumur enam bulan dan dapat > dipanen tiga bulan sekali setelahnya. Bagian yang dipanen biasanya cabang > dari tingkat dua ke atas sekitar 20 sentimeter di atas tanah. Nilam hasil > panen dicacah dan dijemur di bawah sinar matahari selama empat jam. Setelah > itu, daun nilam kering diangin-anginkan sambil dibolak-balik selama empat > hari hingga kadar airnya tinggal 15 persen. Setelah itu, nilam siap > disuling. > > Penyulingan berlangsung 12 jam dengan teknik penyulingan uap kering yang > dihasilkan mesin penghasil uap yang diteruskan ke dalam tangki reaksi. > Selanjutnya uap akan menembus bahan baku nilam kering dan uap yang > ditimbulkan diteruskan ke bagian pemisahan uap air dengan uap minyak nilam. > > Tiga karung tanaman nilam kering dapat menghasilkan 8 ons hingga 1 kilogram > minyak atsiri. Warga yang tidak memiliki sarana penyulingan biasa membayar > sepersepuluh dari hasil minyak nilam ke pemilik alat suling. Hasilnya mereka > jual ke Sikakap, ibu kota Kecamatan Pagai Utara, Kepulauan Mentawai, yang > merupakan jalur perdagangan komoditas ke Padang. Sebanyak 1 kg minyak nilam > dapat terjual sekitar Rp 700.000. Sayang, jerih payah warga Lakau menjadi > tidak menentu karena permainan tengkulak yang memonopoli harga. > > Teks dan foto-foto: Riza Fathoni ( > http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/15/01320239/minyak.nilam.tulang\ .punggung.warga.kepulauan.mentawai > ) --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
