AMBISI
 
 
Ketika masih menjadi mahasiswa, saya berambisi jadi anggota senat, karena saya 
lihat mereka terhormat dapat kursi dan tanda tangannyapun mahal, di pundak dan 
di dadanya ada selempang. Jika ada acara-acara resmi fakultas duduknya di 
bagian depan pada kursi yang telah disediakan. Bermacam-macam langkah yang saya 
jalankan, hingga akhirnya bisa menjadi anggota senat.
Kemudian saya berambisi pula menjadi ketua plonco, karena sebagai ketua, 
kekuatannya besar serta kata-katanya didengar dan dituruti. Bermacam pula usaha 
saya ke arah itu, akhirnya bisa pula jadi panitia ketua perploncoan. Kemudian 
saya berambisi pula ingin jadi ketua dewan perwakilan mahasisw, akhirnya inipun 
terwujud. 
Rupanya penyakit ambisi ini tidak habis-habisnya, sampai saat-saat terakhir 
ini. Ambisi ingin terkenal, ambisi ingin dihargai, ambisi dapat menduduki 
tempat yang terhormat. Dikampung ingin menjadi ketua RT, di mesjid ingin 
menjadi ketua mesjid, supaya tenar dan ternama ingin memberi ceramah 
dimana-mana, tidak peduli siang atau malam, bahkan sering memberi ceramah itu 
di hari minggu dan hari libut, di dalam kota ataupun di luar kota.
Setiap selesai memberi ceramah ada rasa bangga, rasa puas dan bakatpun 
tersalur. Pada awalnya saya berdalih untuk masyarakat, demi masyarakat. Tapi 
setelah saya renung-renungkan, sebetulnya disamping untuk masyarakat juga 
adalah untuk kepentingan diri sendiri, ingin ternama dan ingin terkenal. Saya 
sangat banyak mempersiapkan mencari bahan yang akan diceramahkan, mencari buku 
kesana dan kesini, membaca ini dan membaca itu, kemudian pergi lagi ke tempat 
ceramah yang kadang-kadang memakan waktu berjam-jam. Waktu yang saya korbankan 
untuk mencapai satu ambisi yang sangat banyak. Akibatnya fikiran, seluruh daya 
dan upaya saya tercurah pada ambisi yang akan saya capai, konsentrasi saya 
terpusat ke sana. Sampai pada suatu hari, di hari minggu, sepulang memberi satu 
ceramah, saya tanya anak saya yang sulung, kok tidak kelihatan, lalu saya dapat 
jawaban bahwa dia pergi kamping. Tadi saya ditunggu-tunggunya minta izin pergi, 
tapi saya tak pulang-pulang, lantas
 anak saya pergi saja bersama teman-temannya. Anak saya pergi kamping, saya tak 
tahu, dia ingin minta izin tapi saya tak punya waktu dan bertemu dengannya, ooh 
demikian jauh dan demikian jarakkah saya dengannya? Saya terperangah dan 
menyesali diri, kenapa waktu saya habis melayani orang lain sedang anak yang 
mungkin minta nasehat, mungkin minta perbekalan, mungkin minta pandangan 
tentang kamping, mungkin sangat membutuhkan saya, tidak sempat bertemu dengan 
saya.
Dalam renungan, asya menghitung-hitung berapa waktu yang saya berikan untuk 
anak-anak dan keluarga, dan berapa pula waktu yang saya gunakan untuk 
kepentingan masyarakat atau kepentingan dan kepuasan saya sendiri. Saya coba 
menghitung-hitung, ternyata saya tidak adil, waktu saya banyak dihabiskan 
bersama orang lain, melayani orang, mengobati orang, mengoperasi orang, memberi 
ceramah orang. Dan sangat sedikit waktu yang saya tumpahkan untuk anak, istri 
dan famili lainnya. Setelah saya hitung-hitung lantas saya terpana, ternyata 
waktu saya banyak dihabiskan untuk memburu dan mencapai ambisi-ambisi. Memang 
yang saya idamkan dan impikan itu dapat tercapai, tetapi sesudah tercapai, what 
next? Lalu apa lagi? Korban sudah terlalu banyak dan yang menjadi korbanpun 
terkadang diri sendiri, tidak jarang orang yang paling dekat dengan kita yang 
menjadi korban ambisi-ambisi pribadi. Yang namanya manusia tetap tidak 
puas-puasnya, dapat yang satu kepingin yang lain.
 Tapi saya rasakan saya banyak rugi, anak-anak kalau mau pergi kemana, dia 
tidak minta izin lagi karena saya selalu saja sedang kerja. Pekerjaan rumah 
mereka yang biasa saya kontrol sekarang tidak lagi, karena  ketika saya 
pulang praktek mereka sudah tertidur. Di hari-hari saya di rumah, anak-anak 
pula yang pergi les. Di hari libur yang seharusnya kami bisa berkumpul, saya 
dijemput pula untuk memberi ceramah ke sana dan ke mari, lantas kapan kami bisa 
berkumpul bersama seperti dulu lagi? Ketika saya belum menjadi orang penting 
seperti sekarang, ketika ambisi saya belum mencapai seperti sekarang ini.
Saya tidak adil, saya berat sebelah, saya terlalu egois, mementingkan diri 
sendiri, sehingga sering menyendiri, berfikir, membaca dan berangan-angan ingin 
menjadi ini dan itu. Akibat saya menyisihkan diri dari anak-anak, akhirya saya 
tersisih, saya terpisah, tidak dapat mengikuti kegiatan anak-anak dan tidak 
dapat membatu memecahkan pekerjaan rumah. Anak-anak sering memberi saya gelar 
“jarum super” jarang di rumah sering pergi.
Memang saya lihat semakin penting seseorang semakin tinggi jabatannya, semakin 
besar mejanya, semakin besar kamarnya, dan semakin sendirian dia dalam kamar 
yang besar itu, serta semakin sepi dan sunyilah dia karena mulai terisolasi dan 
tersisih. Semakin susah menemukan dan semakin sedikit kawannya. Dipuncaknya, 
tinggallah lagi dia sendiri dibalut sepi. Semakin rendah seseorang, semakin 
kecil mejanya, semakin banyak temannya.
Penyakit sepi sendiri inilah yang sering dialami oleh para top manager. 
Orang-orang yang dipuncak dan orang-orang yang berada di pucuk pimpinan. Lalu 
timbul takut saya mengayunkan langkah ke puncak yang tertinggi itu. Sekarang 
saja saya sering ditinggalkan anak, dia pergi kamping tanpa sepengetahuan saya. 
Saya harus banting stir, saya harus merubah sikap, saya harus adil membagi 
waktu, waktu untuk diri sendiri, waktu untuk keluarga dan waktu untuk mencapai 
keinginan dan memenuhi ambisi-ambisi pribadi.
Apalagi artinya sebuah ketenaran kalau sampai tidak ada waktu untuk keluarga. 
Apalah arti satu jabatan kalau harus mengorbankan kepentingan dan waktu bersama 
anak-anak. Bukankah dalam mencapai satu ambisi, kita sering terisolasi, 
tersisih dan terpisah dari keluarga? Dalam memperjuangkan kepentingan diri 
sendiri kita sering ditinggal pergi?
Lalu saya cari akal, bagaimana supaya banyak waktu bisa bersama keluarga. 
Bermacam-macam acara saya adakan, antara lain, saya beli meja pimpong, kami 
main bersama, tertawa bersama dan saya sering menjadi juru kunci. Ternyata 
anak-anak jauh lebih gesit dan lebih pintar, dan merekapun bangga dapat 
mengalahkan papanya. Jam berapapun saya pulang praktek, kalau anak-anak 
mengajak makan bersama kami selalu pergi, walaupun hanya sekedar makan mieso. 
Rupanya sikap saya berubah, ingin bersama mereka selalu membuahkan hasil yang 
bukan main. Kami akrab, kami membikin teka-teki, kami bercerita kak kancil, 
saat-saat yang bahagia bersama keluarga.
Hampir saja saya terlupa, dan hampir saja saya hanyut mementingkan diri 
sendiri. Hampir saja saya tidak adil, tidak adil pada diri, tidak adil pada 
keluarga, tidak adil pada anak-anak. Untung belum terlambat, dalam hidup ini 
rupanya harus ada keseimbangan, seimbang dalam segala hal, kalau tidak akan 
jadi penyakit. Pada hakekatnya penyakit yang terjadi adalah karena 
ketidakseimbangan. Tidak seimbang antara yang masuk dan yang keluar. Tidak 
seimbang antara jasmani dan rohani, tidak seimbang dalam metabolisme, tidak 
seimbang dalam segala hal.
Adat menangpun sangat mengutamakan keseimbangan ini, suksesnya seseorang juga 
karena keseimbangan yang bisa dijaganya. Dalam mencapai dan mengejar sesuatu 
juga harus seimbang. Alangkah manisnya suatu ungkapan minang “lamak di awak 
katuju dek urang” 
Dan Alquran pun sangat mengutamakan keseimbangan, lihatlah ternyata jumlah 
kata-kata yang terdapat dalam Alquran pun sangat seimbang, menandakan Tuhan 
berpesan agar kita jangan berat sebelah, harus adil. Marilah kita simak 
keseimbangan kata dalam Alquran yang sangat unik, misalnya kata ‘panas’ dalam 
Alquran disebut empat kali, jawabannya ‘dingin’ juga disebut empat kali. Kata 
malaikat disebut 88 kali, lawannya setan juga 88 kali, kata dunia disebut 125 
kali lawannya mati juga disebut 125 kali.
Dan doa sapu jagat yang sering kita hafal ialah: Ya Allah, berilah kami 
kesenangan di dunia dan di akhirat, serta jauhilah diri kami dan keluarga kami 
dari siksaan api neraka. Ini adalah doa keseimbangan, seimbang dunia dan 
akhirat.
Untuk itu saya teringat akan sebuah firman suciNya dalam Alquran surat Al Mulk 
ayat 3: yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali 
tidak dapat melihat pada ciptaan Tuhan sesuatu yang tidak seimbang, maka 
lihatlah berulang-ulang adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang.
Dan surat Al Infithaar ayat 7: yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan 
kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang.
 
 
,Tulisan ini dapat dilihat di Website WWW.ksuheimi.blogspot.com 


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke