Dunsanak, Manusia....tetap manusia. Suatu waktu punya batas. Ingat.....kita lahir.......akhirnya maut memanggil. Tan Lembang (52) Lembang-Bandung.
--- On Mon, 6/16/08, suheimi ksuheimi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: suheimi ksuheimi <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [EMAIL PROTECTED] AMBISI To: [EMAIL PROTECTED], [email protected] Cc: [EMAIL PROTECTED] Date: Monday, June 16, 2008, 12:45 PM AMBISI Ketika masih menjadi mahasiswa, saya berambisi jadi anggota senat, karena saya lihat mereka terhormat dapat kursi dan tanda tangannyapun mahal, di pundak dan di dadanya ada selempang. Jika ada acara-acara resmi fakultas duduknya di bagian depan pada kursi yang telah disediakan. Bermacam-macam langkah yang saya jalankan, hingga akhirnya bisa menjadi anggota senat. Kemudian saya berambisi pula menjadi ketua plonco, karena sebagai ketua, kekuatannya besar serta kata-katanya didengar dan dituruti. Bermacam pula usaha saya ke arah itu, akhirnya bisa pula jadi panitia ketua perploncoan. Kemudian saya berambisi pula ingin jadi ketua dewan perwakilan mahasisw, akhirnya inipun terwujud. Rupanya penyakit ambisi ini tidak habis-habisnya, sampai saat-saat terakhir ini. Ambisi ingin terkenal, ambisi ingin dihargai, ambisi dapat menduduki tempat yang terhormat. Dikampung ingin menjadi ketua RT, di mesjid ingin menjadi ketua mesjid, supaya tenar dan ternama ingin memberi ceramah dimana-mana, tidak peduli siang atau malam, bahkan sering memberi ceramah itu di hari minggu dan hari libut, di dalam kota ataupun di luar kota. Setiap selesai memberi ceramah ada rasa bangga, rasa puas dan bakatpun tersalur. Pada awalnya saya berdalih untuk masyarakat, demi masyarakat. Tapi setelah saya renung-renungkan, sebetulnya disamping untuk masyarakat juga adalah untuk kepentingan diri sendiri, ingin ternama dan ingin terkenal. Saya sangat banyak mempersiapkan mencari bahan yang akan diceramahkan, mencari buku kesana dan kesini, membaca ini dan membaca itu, kemudian pergi lagi ke tempat ceramah yang kadang-kadang memakan waktu berjam-jam. Waktu yang saya korbankan untuk mencapai satu ambisi yang sangat banyak. Akibatnya fikiran, seluruh daya dan upaya saya tercurah pada ambisi yang akan saya capai, konsentrasi saya terpusat ke sana. Sampai pada suatu hari, di hari minggu, sepulang memberi satu ceramah, saya tanya anak saya yang sulung, kok tidak kelihatan, lalu saya dapat jawaban bahwa dia pergi kamping. Tadi saya ditunggu-tunggunya minta izin pergi, tapi saya tak pulang-pulang, lantas anak saya pergi saja bersama teman-temannya. Anak saya pergi kamping, saya tak tahu, dia ingin minta izin tapi saya tak punya waktu dan bertemu dengannya, ooh demikian jauh dan demikian jarakkah saya dengannya? Saya terperangah dan menyesali diri, kenapa waktu saya habis melayani orang lain sedang anak yang mungkin minta nasehat, mungkin minta perbekalan, mungkin minta pandangan tentang kamping, mungkin sangat membutuhkan saya, tidak sempat bertemu dengan saya. Dalam renungan, asya menghitung-hitung berapa waktu yang saya berikan untuk anak-anak dan keluarga, dan berapa pula waktu yang saya gunakan untuk kepentingan masyarakat atau kepentingan dan kepuasan saya sendiri. Saya coba menghitung-hitung, ternyata saya tidak adil, waktu saya banyak dihabiskan bersama orang lain, melayani orang, mengobati orang, mengoperasi orang, memberi ceramah orang. Dan sangat sedikit waktu yang saya tumpahkan untuk anak, istri dan famili lainnya. Setelah saya hitung-hitung lantas saya terpana, ternyata waktu saya banyak dihabiskan untuk memburu dan mencapai ambisi-ambisi. Memang yang saya idamkan dan impikan itu dapat tercapai, tetapi sesudah tercapai, what next? Lalu apa lagi? Korban sudah terlalu banyak dan yang menjadi korbanpun terkadang diri sendiri, tidak jarang orang yang paling dekat dengan kita yang menjadi korban ambisi-ambisi pribadi. Yang namanya manusia tetap tidak puas-puasnya, dapat yang satu kepingin yang lain. Tapi saya rasakan saya banyak rugi, anak-anak kalau mau pergi kemana, dia tidak minta izin lagi karena saya selalu saja sedang kerja. Pekerjaan rumah mereka yang biasa saya kontrol sekarang tidak lagi, karena ketika saya pulang praktek mereka sudah tertidur. Di hari-hari saya di rumah, anak-anak pula yang pergi les. Di hari libur yang seharusnya kami bisa berkumpul, saya dijemput pula untuk memberi ceramah ke sana dan ke mari, lantas kapan kami bisa berkumpul bersama seperti dulu lagi? Ketika saya belum menjadi orang penting seperti sekarang, ketika ambisi saya belum mencapai seperti sekarang ini. Saya tidak adil, saya berat sebelah, saya terlalu egois, mementingkan diri sendiri, sehingga sering menyendiri, berfikir, membaca dan berangan-angan ingin menjadi ini dan itu. Akibat saya menyisihkan diri dari anak-anak, akhirya saya tersisih, saya terpisah, tidak dapat mengikuti kegiatan anak-anak dan tidak dapat membatu memecahkan pekerjaan rumah. Anak-anak sering memberi saya gelar “jarum super” jarang di rumah sering pergi. Memang saya lihat semakin penting seseorang semakin tinggi jabatannya, semakin besar mejanya, semakin besar kamarnya, dan semakin sendirian dia dalam kamar yang besar itu, serta semakin sepi dan sunyilah dia karena mulai terisolasi dan tersisih. Semakin susah menemukan dan semakin sedikit kawannya. Dipuncaknya, tinggallah lagi dia sendiri dibalut sepi. Semakin rendah seseorang, semakin kecil mejanya, semakin banyak temannya. Penyakit sepi sendiri inilah yang sering dialami oleh para top manager. Orang-orang yang dipuncak dan orang-orang yang berada di pucuk pimpinan. Lalu timbul takut saya mengayunkan langkah ke puncak yang tertinggi itu. Sekarang saja saya sering ditinggalkan anak, dia pergi kamping tanpa sepengetahuan saya. Saya harus banting stir, saya harus merubah sikap, saya harus adil membagi waktu, waktu untuk diri sendiri, waktu untuk keluarga dan waktu untuk mencapai keinginan dan memenuhi ambisi-ambisi pribadi. Apalagi artinya sebuah ketenaran kalau sampai tidak ada waktu untuk keluarga. Apalah arti satu jabatan kalau harus mengorbankan kepentingan dan waktu bersama anak-anak. Bukankah dalam mencapai satu ambisi, kita sering terisolasi, tersisih dan terpisah dari keluarga? Dalam memperjuangkan kepentingan diri sendiri kita sering ditinggal pergi? Lalu saya cari akal, bagaimana supaya banyak waktu bisa bersama keluarga. Bermacam-macam acara saya adakan, antara lain, saya beli meja pimpong, kami main bersama, tertawa bersama dan saya sering menjadi juru kunci. Ternyata anak-anak jauh lebih gesit dan lebih pintar, dan merekapun bangga dapat mengalahkan papanya. Jam berapapun saya pulang praktek, kalau anak-anak mengajak makan bersama kami selalu pergi, walaupun hanya sekedar makan mieso. Rupanya sikap saya berubah, ingin bersama mereka selalu membuahkan hasil yang bukan main. Kami akrab, kami membikin teka-teki, kami bercerita kak kancil, saat-saat yang bahagia bersama keluarga. Hampir saja saya terlupa, dan hampir saja saya hanyut mementingkan diri sendiri. Hampir saja saya tidak adil, tidak adil pada diri, tidak adil pada keluarga, tidak adil pada anak-anak. Untung belum terlambat, dalam hidup ini rupanya harus ada keseimbangan, seimbang dalam segala hal, kalau tidak akan jadi penyakit. Pada hakekatnya penyakit yang terjadi adalah karena ketidakseimbangan. Tidak seimbang antara yang masuk dan yang keluar. Tidak seimbang antara jasmani dan rohani, tidak seimbang dalam metabolisme, tidak seimbang dalam segala hal. Adat menangpun sangat mengutamakan keseimbangan ini, suksesnya seseorang juga karena keseimbangan yang bisa dijaganya. Dalam mencapai dan mengejar sesuatu juga harus seimbang. Alangkah manisnya suatu ungkapan minang “lamak di awak katuju dek urang” Dan Alquran pun sangat mengutamakan keseimbangan, lihatlah ternyata jumlah kata-kata yang terdapat dalam Alquran pun sangat seimbang, menandakan Tuhan berpesan agar kita jangan berat sebelah, harus adil. Marilah kita simak keseimbangan kata dalam Alquran yang sangat unik, misalnya kata ‘panas’ dalam Alquran disebut empat kali, jawabannya ‘dingin’ juga disebut empat kali. Kata malaikat disebut 88 kali, lawannya setan juga 88 kali, kata dunia disebut 125 kali lawannya mati juga disebut 125 kali. Dan doa sapu jagat yang sering kita hafal ialah: Ya Allah, berilah kami kesenangan di dunia dan di akhirat, serta jauhilah diri kami dan keluarga kami dari siksaan api neraka. Ini adalah doa keseimbangan, seimbang dunia dan akhirat. Untuk itu saya teringat akan sebuah firman suciNya dalam Alquran surat Al Mulk ayat 3: yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak dapat melihat pada ciptaan Tuhan sesuatu yang tidak seimbang, maka lihatlah berulang-ulang adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang. Dan surat Al Infithaar ayat 7: yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang. ,Tulisan ini dapat dilihat di Website WWW.ksuheimi.blogspot.com --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
