Suatu pelajaran dari "episode" yang termahal. Cara mamotivasi yang bagus bagi:
1. penggali dan pengguna bahasa,
2. penggali dan pengguna sejarah, dan
3. penentu masa depan.
Begitu cerdiknya penulis dalam memainkan bahasa, begitu pula dengan 
lemah-gemulai penulis mengajak pembaca untuk menyertai kata demi kata, bahkan 
sangat sistematis. Akhirnya dengan rasa puas kita menemukan arti dan makna 
tulisan. (maaf untuk lemah gemulai saya tafsirkan tidak untuk tarian saja). 
Selamat bernostalgia.
 
Wassalam,
 
 
Tan Lembang (52)
Lembang-Bandung
 
 
--- On Mon, 6/16/08, Rudi Antono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Rudi Antono <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: AIR MANCUR
To: [email protected]
Date: Monday, June 16, 2008, 1:08 AM

Alhamdulillah,
Pagi2 ambo lah dapek ilmu nan barago dari carito nanko.
Tarimo kasih banyak angku.

Wassalam

St Pamenan - Batam



--- On Sun, 6/15/08, Muhammad Dafiq Saib <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

> From: Muhammad Dafiq Saib <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [EMAIL PROTECTED] AIR MANCUR
> To: [email protected]
> Date: Sunday, June 15, 2008, 3:39 AM
> Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu
>  Carito nan lain lo ciek lai.......
>  
> AIR MANCUR
>  
> Aku dalam perjalanan menuju Bukit Tinggi, untuk mengikuti
> sebuah seminar yang dilangsungkan di kotaitu. Dari kantor
> kami ada dua orang utusan, aku dan Suprapto. Kami berangkat
> bersama-sama dari Jakarta. Suprapto berharap akan lebih
> menikmati kunjungan ke Bukit Tinggi karena berangkat
> bersamaku. 
>  
> Dari bandara kami langsung menuju Bukit Tinggi dengan
> sebuah taksi. Prapto sudah untuk ketiga kalinya berkunjung
> ke Sumatera Barat. Dia sangat mengagumi keelokan
> pemandangan di negeri ini seperti yang diceritakannya
> kepadaku. Kami berbincang-bincang santai.
>  
> Tak terasa, kami sudah memasuki lembah Anai, dengan jalan
> berliku di bawah tebing terjal berbatu. Aku mengingatkan
> sopir taksi agar nanti berhenti di Air Mancur. Prapto yang
> sedikit mengerti bahasa Minang menoleh kepadaku sambil
> tersenyum.
>  
> ‘Pasti kau mengingatkan pak sopir untuk berhenti di air
> terjun lembah Anai,’ katanya.
>  
> ‘Benar. Rupanya kau mengerti bahasa Minang,’ jawabku.
>  
> ‘Aku mengerti ketika kau menyebutkan nama dengan istilah
> yang salah kaprah itu. Kalian menyebut air terjun itu air
> mancur. Bukankah itu keliru ?’ Prapto berkomentar agak
> sedikit berlebihan.
>  
> ‘He.. he..he.. kau yakin itu salah kaprah?’ tanyaku.
>  
> ‘Ya, iyalah. Kau tentu mengerti arti kata memancur. Air
> yang menyembur ke atas. Menyembur ke atas itu yang disebut
> memancur. Masak kau tidak pernah melihat air mancur di
> depan Hotel Indonesia?’ dia semakin sok tahu.
>  
> ‘Bagaimana dengan air mata?’ aku memancing dengan
> sebuah pertanyaan.
>  
> ‘Maksudmu? Apakah air mata juga sama dengan air macur,
> begitu?’
>  
> ‘Bukan. Apa istilahnya ketika air mata keluar? Ketika
> kita menangis?’ tanyaku lagi.
>  
> ‘Ya mengeluarkan air mata. Aku tidak mengerti
> maksudmu,’ jawabnya agak sedikit bingung
>  
> ‘Pernah mendengar istilah mencucurkan air mata?’
> tanyaku.
>  
> ‘Ya, pernah. Mencucurkan air mata. Artinya mengeluarkan
> air mata. Artinya menangis. Apa hubungannya?’
>  
> ‘Begini, den Mas. Mencucur  itu artinya keluar dari
> suatu tempat, lalu setelah itu jatuh. Mencucurkan air mata,
> artinya mengeluarkan air dari mata dan akhirnya air mata itu
> jatuh ke bawah. Ke pipi, ke sisi hidung. Itu artinya
> mencucur. Ketika yang mengeluarkan air itu adalah mata,
> kita menyebut mencucurkan air mata. Nah, sebentar lagi kau
> akan melihat air mencucur. Air jatuh dari sela batu di atas
> bukit yang ketinggian. Dalam bahasa Minang disebut ayia
> mancucua, yang oleh karena pengucapan secara cepat berubah
> menjadi ayia mancua. Nah! Apakah kau masih menyangka kami
> sala kaprah?’ 
>  
> ‘Oo. Jadi begitu ceritanya. Lalu apa bahasa Minangnya air
> mancur ?’
>  
> ‘Air mancur sebenarnya juga bukan bahasa Indonesia yang
> benar. Yang benar adalah air memancur. Dalam bahasa Minang
> disebut ayia manyambua. Atau air menyembur dalam bahasa
> Indonesia.’
>  
> ‘Tapi, sebentar. Bukankah orang Minang juga mengenal kata
> pancuran? Apakah ini juga seharusnya pancucuran?’
>  
> ‘Awalan pan atau pen dalam bahasa Indonesia menunjukkan
> tempat. Akhiran an menunjukkan kejadian yang berulang atau
> berketerusan. Nah, lalu apa kata dasarnya? Pasti bukan cur.
> Cur tidak ada maknanya. Yang ada makna adalah cucur. Jadi
> yang benar, adalah pencucuran atau dalam bahasa Minang 
> pancucuran. Dalam pengucapan terjadi penyederhanaan menjadi
> pancuran. Dalam bahasa Indonesiadisebut secara salah kaprah
> lagi, seperti istilahmu, pancuran. Orang Jakartamenyebutnya
> pancoran.’’
>  
> ‘Hebat juga analisamu.’
>  
> ‘Aku bukan ahli bahasa. Aku bahkan tidak tahu istilah
> yang tepat untuk pemendekan ucapan seperti mancucua menjadi
> mancua tadi.’
>  
> ‘Baiklah. Aku ralat dan aku cabut pernyataanku bahwa
> orang Minang salah kaprah ketika menyebut Ayia Mancua di
> Lembah Anai,’ ujar Prapto tersenyum.
>  
> Taksi kami terus melaju. Di sebelah kanan, terlihat sungai
> dengan batu-batu besar di dasarnya. Lebih jauh lagi adalah
> tebing yang ditumbuhi pohon kayu yang cukup rapat. Di bawah
> pohon-pohon kayu itu adalah semak belukar. Taksi ini
> berhenti di pelataran parkir sekitar 50 meter dari Ayia
> Mancua. Aku dan Prapto turun dari mobil. Kami berjalan
> mendekati kolam di dasar air terjun. Prapto membasuh
> mukanya dengan air dingin yang sejuk itu. 
>  
> Kami berjalan-jalan  di sekitar tempat itu. Melihat ke
> arah lembah dengan batang air di bawah. Dengan rel kereta
> yang bagaikan tergantung di atas lembah. 
>  
> Kami kembali ke taksi untuk meneruskan perjalanan. 
>  
> ‘Tempat ini sebenarnya mempunyai makna tersendiri
> bagiku,’ ucap Prapto seolah-olah kepada dirinya sendiri,
> ketika kami mulai melanjutkan perjalanan.
>  
> ‘Tempat ini? Ayia mancua atau Lembah Anai ini?’
> tanyaku.
>  
> ‘Aku tidak tahu tempatnya yang pasti. Tapi ayahku dulu
> terkorban disini,’ tambahnya.
>  
> ‘Maksudmu korban lalu lintas?’
>  
> ‘Bukan. Beliau gugur sebagai anggota TNI yang dikirim
> memerangi PRRI di tahun 1958. Aku belum lahir ketika
> itu.’
>  
> Aku terdiam mendengar ceritanya. Kami sama-sama terdiam
> untuk beberapa saat. 
>  
> ‘Tahun 1958?’ tanyaku memecah kesunyian.
>  
> ‘Ya di sekitar bulan Mai 1958. Begitu menurut cerita yang
> aku dengar. Rombongan ayahku dihadang pasukan PRRI di Lembah
> Anai ini. Beliau terkorban bersama beberapa orang tentara
> lainnya. Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di
> Padang,’ Prapto menambahkan.
>  
> Kami kembali terdiam.
>  
> ‘Perang itu meninggalkan banyak sekali luka,’ aku
> berkomentar asal-asalan.
>  
> ‘Aku tahu. Perang itu tidak seharusnya terjadi.’
>  
> ‘Tapi toh dia sudah terjadi,’ komentarku, sekali lagi
> asal-asalan.
>  
> ‘Adakah anggota keluargamu yang jadi korban?’ tanya
> Prapto.
>  
> ‘Kemenakan ayahku. Dia bukan tentara. Seorang murid SMA.
> Waktu tentara APRI datang ke kampung kami, anak-anak muda
> seumurnya lari ketakutan. Mereka lari ke daerah persawahan.
> Mungkin mereka bermaksud untuk bersembunyi di sawah, di
> dalam kerimbunan padi. Tapi mereka dipergoki oleh tentara
> APRI dan ditembaki tanpa ampun. Pada hari yang sama ada
> limaorang anak muda mati tertembak di kampung kami.‘
>  
> ‘Sebuah perang yang sangat kejam....,’ Prapto menarik
> nafas, mendesah lirih.
>  
> ‘Begitu adanya,’ aku menambahkan. 
>  
> ‘Kau tentu juga belum lahir kala itu ?’ dia bertanya.
>  
> ‘Belum. Tapi cerita itu aku dengar dari ayahku
> sendiri.’
>  
> ‘Ayahmu ikut jadi tentara PRRI ?’
>  
> ‘Tidak. Ayahku seorang petani.’
>  
> ‘Sebagai petani beliau tidak mendapat kesulitan dari
> tentara APRI?’
>  
> ‘Boleh dikatakan tidak. Beliau disuruh ikut latihan
> ketentaraan bersama-sama orang kampung lain. Yang memenuhi
> persyaratan diangkat menjadi OPR, tentara lokal bentukan
> APRI. Ayahku yang tidak menyukai ketentaraan dinyatakan
> gagal dalam latihan itu. Bahkan sejak latihan baris
> berbaris. Ayah sengaja menampilkan diri beliau seperti
> orang bodoh. Tidak satupun perintah pelatih tentara itu
> yang beliau turuti secara benar.’
>  
> ‘Pelatihnya tidak marah?’
>  
> ‘Tentu marah. Ayah ditempelengnya. Tapi sesudah itu
> dilarang mengikuti latihan. Justru itu yang beliau
> harapkan.’
>  
> ‘Aku sangat membenci yang namanya perang,’ ucap Prapto.
>  
> ‘Karena ayahmu terbunuh di dalam peperangan?’ tanyaku
> sedikit menyelidik.
>  
> ‘Entahlah. Tapi aku benci karena perang pada umumnya
> sangat bengis. Tidak beradab. Korban yang paling banyak
> adalah rakyat yang tidak ikut berperang,’ ujar Prapto
> bersungguh-sungguh.
>  
> ‘Aku setuju dengan yang kau katakan. Perang itu bengis
> dan biadab. Lihatlah apa yang terjadi di Aceh beberapa
> tahun yang lalu. Bukankah kita mengikuti beritanya?’ aku
> mengingatkan.
>  
> ‘Betul sekali yang kau katakan. Perang seperti di Aceh
> itu sangat mengenaskan. Perang yang mengambil korban di
> kalangan rakyat yang tidak terlibat tapi dicurigai. Jadi
> korban dari kedua belah pihak yang berperang.’ 
>  
> ‘Dan kau lihat lagi perang di Irak. Di Afghanistan,’
> aku menambahkan.
>  
> ‘Betul. Perang akibat nafsu angkara murka.
> Pemimpin-pemimpin negara yang menyulut peperangan. Yang
> menggiring rakyatnya masuk ke dalam kancah peperangan.
> Akibatnya selalu sangat memilukan. Kehancuran dimana-mana.
> Tapi.... Syukurlah Sumatera Barat tidak hancur ketika
> terjadi perang PRRI.’
>  
> ‘Tidak hancur secara fisik, tapi moral masyarakat cukup
> hancur,’ jawabku.
>  
> ‘Aku mendengar tentang itu. Masyarakat Minangkabau
> berbondong-bondong meninggalkan kampung halaman mereka,
> pergi merantau sesudah perang PRRI.’
>  
> ‘Kecuali sebagian. Termasuk ayahku yang tetap bertahan
> sebagai petani di kampung sampai usia tuanya,’ jawabku.
>  
> ‘Ayahmu masih ada kan?’
>  
> ‘Beliau berpulang dua tahun yang lalu.’ 
>  
> ‘Huh, jadi kemana-mana cerita kita. Hanya karena aku
> mengingat Lembah Anai.’
>  
> ‘Tadi kau bilang, kau belum lahir ketika ayahmu
> meninggal. Tentulah ibumu sangat sedih ditinggal ayahmu.’
>  
> ‘Tentu saja. Tapi begitulah kehidupan. Ibuku berjodoh
> dengan seorang laki-laki dari Minang. Seorang duda. Beliau
> menikah waktu aku masih berumur empat tahun. Laki-laki
> suami ibuku itu sangat baik. Aku memanggilnya ayah, dan
> beliau benar-benar seperti ayah kandungku. Ibuku melahirkan
> tiga orang adik-adikku. Ayahku itu yang pertama kali membawa
> kami mengunjungi negeri ini ketika aku masih murid SMA.’
>  
> ‘Beliau masih hidup?’
>  
> ‘Masih. Ayah dan ibuku tinggal di Bogor.’ 
>  
> Taksi kami merangkak mengikuti iringan bus dan truk yang
> terampun-ampun mendaki di Silaing Kariang. Ayia Mancua dan
> Lembah Anai sudah kami tinggalkan di belakang kami. Kami
> masih melanjutkan obrolan ke hilir ke mudik.
>  
>  
>
                                                                       
> *****
>   
> di http://lembangalam.multiply.com dan
> www.palantalembangalam.blogspot.com 
> 
> 
>       
> 

      



      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke