Sebelum ini perjalanan kereta api terjauh saya adalah Jakarta - Surabaya di
tahun 2000. Saya masih ingat, kala itu saya naik Kereta Api Argo Bromo
Anggrek. Sebuah kereta api eksekutif yang pernah jaya di masa tiket pesawat
terbang belum semurah saat ini. Kali kedua adalah naik kereta api taksaka pagi
dari Jogja menuju Jakarta pada tahun 2005. Sisanya adalah naik kereta api
listrik jabotabek. Kalau yang ini, hitungannya cukup banyak. Mulai dari
Pakuan Express sampai yang kelas ekonomi sudah saya coba. Ke Rangkasbitung
juga pernah saya coba naik kereta api. Dan bagi saya, naik kereta api tetap
adalah sebuah perjalanan yang sarat cerita dan sebuah romantika indah. Kalau
di ranah, saya pernah naik kereta api dari Sawahlunto-Solok-Batu Taba. Tapi
saya sudah tidak terlalu ingat ceritanya. Yang masih saya ingat hanyalah
perjalanan "fear factor" di sela gerbong batubara dari Sawahlunto menuju Solok.
Kalau mengingat itu, saya suka tidak percaya
ternyata saya dulu senekat itu.
Tahun ini saya mencoba naik kereta yang lumayan jauh, bahkan sampai melintasi
negara segala. Saya mencoba naik kereta api trans Thailand - Malaysia.
Naiknya di stasiun Hua Lamphong, Bangkok turunnya di Stasiun Butterworth,
Penang. Perjalanan ini berdurasi 24 jam, melewati 9 stasiun. Sempat ada
keraguan untuk menjalani, karena seorang kawan orang Thailand tidak
merekomendasikan dengan alasan keamanan di Selatan Thailand. Tapi dengan
Bismillah, saya tidak sampai mengurungkan niat. Ketakutan ini sedikit sirna
ketika di ruang tunggu (tepatnya Hall) stasiun Hua Lamphong, saya tidak
menyaksikan rautan ragu dari para calon penumpang. Hati ini bertambah tenang
setelah saya lihat banyak ibu-ibu dan para gadis berkerudung ikut menunggu.
Saya yakin, saya cukup aman dalam rombongan ini. Syahadat akan bisa
menyelamatkan saya kelak jika ada apa-apa. Walaupun sebenarnya tanpa atau
dengan syahadat, tak ada alasan untuk mencelakai orang lain.
Perjalanan dimulai tepat pukul dua siang. Kereta yang saya naiki adalah kereta
kelas II. Di Thailand, kereta kelas I, tidak melayani jalur ke selatan.
Walaupun kelas II, masih jauh lebih baik daripada Argo Bromo dan Taksaka yang
pernah saya naiki. Kereta kelas I disana adalah kereta berkompartemen, kelas
II adalah kereta yang bertempat tidur double deck ketika malam. Ketika siang,
kita duduk berhadap-hadapan. Tapi satu tempat duduk hanya satu orang. Dua jam
pertama perjalanan, masih disuguhi pemandangan metropolitan Bangkok. Lengkap
dengan segala kejorokan masyarakat yang tinggal di sempadan rel. Selanjutnya
perjalanan disuguhi pemandangan pedesaan, antara dua kota besar Thailand.
Ditandai dengan hamparan sawah di sisi kiri dan kanan rel. Selanjutnya
perjalanan dalam malam. Kadang ada banyak cahaya lampu di luar, dan kadang
bersela gelap.
Tepat jam sepuluh malam, petugas kereta api memasang kasur untuk tidur para
penumpang. Saya kebagian deck bawah. Sementara perempuan muda thailand di
seberang saya kebagian tempat di atas. fyi, selama perjalanan siang hari saya
sempat berkenalan dengan seorang Bapak Thailand pensiunan guru bahasa Inggris.
Ia berasal dari Pattani, selatan Thailand. Bisa bercakap dengan bahasa inggris
dan melayu. Agamanya islam. Dengan perempuan yang duduk persis di hadapan,
tentu saja saya berkenalan. Tapi kami hanya berkomunikasi dengan senyum. Ia
hanya bisa berdialog dengan bahasa Thailand. Ia naik ke atas untuk tidur. Dan
saya pun mulai merebahkan badan untuk tidur juga. Tempat tidurnya cukup nyaman
dan lega. Bahkan si bule yang tinggi pun bisa leluasa merebahkan diri. Saya
tahu ini ketika jalan ke kamar kecil, saya lihat seorang bule sangat nyaman di
rebahan di kabinnya.
Singkat cerita. Pagi menjelang. Saya pun bangun, lalu cuci muka dan sikat
gigi. Mencoba menyantap bekal, lalu diteruskan ngebul sampoerna mild. Tak
lama kereta berhenti di sebuah stasiun di Kota Hat Yai. Masih di thailand.
Seorang ibu muda naik ke gerbong. Ia membawa dagangan. Lalu berteriak dengan
bahasa thai menjajakan dagangannya. Tak ada yang saya mengerti kata-katanya,
selain kata kalamai. Saya ulang mendengar lebih seksama. Kembali ia menyebut
kalamai. Jangan-jangan nama dagangannya memang kalamai. Bentuknya memang
mirip kalamai payakumbuh yang saya kenal. Saya tanya pada si penjual, saya
tunjuk dagangannya, dan ia teriak kalamai. Saya tanya pada Bapak yang guru
bahasa inggris tadi, ia mengatakan namanya dagangan si ibu adalah kalamai.
Saya beli. Saya makan. Dan memang berasa sama dengan kalamai yang saya kenal
sebelum ini. Akhirnya saya sedikit berteori, mungkin nenek moyang pembuat
kalamai di kampung saya berasal dari sini. Atau
ada dulu pembuat kalamai dari kampung saya merantau kesini, dan mempopularkan
kalamai di selatan Thailand.
Sekitar jam sembilan, kereta api berhenti di stasiun Padang Besar. Kota
perbatasan Thailand dan Malaysia. Stasiunnya terletak di perbatasan kedua
negara. Kami harus turun untuk urusan imigrasi. Lengkap dengan seluruh barang
bawaan. Pemeriksaan berlangsung cepat, dan tidak bertele-tele. Saya juga
tidak diinterogasi macam-macam. Mungkin karena petugas yang memeriksa bernama
Kartini, ditambah stempel di passport saya yang lumayan banyak. Jadi prasangka
mereka, saya adalah "indon" yang sedang mencari peruntungan di negeri mereka
tidak terbukti. Selesai proses ini, semua penumpang naik kereta. Satu yang
berubah, gerbong kami tinggal dua. Loko penariknya sudah berbeda. Kalau
sebelumnya State Railway of Thailand, kali ini adalah KTM punya malaysia.
Setelah itu perjalanan dimulai di tanah malaya. Sepertinya saat ini mereka
sedang dalam proses pembangunan double track sampai ke perbatasan Thailand.
Tapi belum seratus persen selesai. Setelah berhenti di beberapa stasiun,
kereta pun tiba di stasiun Butterworth. Saya pun turun, lalu berjalan kaki ke
terminal ferry untuk menyeberang ke Pulau Pinang. Stasiun kereta api
Butterworth berada satu kompleks dengan terminal bis dan pelabuhan ferry. Satu
lamunan ketika berjalan dari stasiun kereta ke pelabuhan ferry. Kapan saya
bisa mencoba perjalanan seperti ini di Indonesia. Naik kereta api dari kampung
halaman di jantung sumatera menuju pelabuhan ferry bakauheni, menyeberang selat
sunda, lalu berkereta api lanjutan ke Gambir, Jakarta.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---