Untuak dunsanak sapalanta,

 

Suatu hal nan paralu diranungi. Tantu juo harus dibantu. Kok ado nan tapacik di langan, tolong gunoan langantu. Kok ado nan tapacik di kaki, gunoan kaki tu. Tapi jaan pulo lupo bahaso tanah awak di kampuangtu, walaupun banyak tanah ulayat, tapi kalau bagotong royong awak mampagunokannyo, tantu indak akan rusak atau pun ilang. Banyak teknologi nan bisa dipagunoan. Di tanah Jawa umumnyo mereka bapunyo lahan rato-rato hanyo 0,2 ha/KK, tapi inyo bisa mambuek lahannyo inggo baharago (bandiangkan nan di awak, nyo Gub GF hanyo 1/3 hektare per-KK). Yo, diefisienkan manggunokannyo. Baitu sanak. Antah kalau ado cito-cito nan lain, nan indak baangan-angan tantunyo.

 

Wassalam,

Tan Lembang (52)

Lembang-Bandung. 

--- On Wed, 6/18/08, Nofiardi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Nofiardi <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Menyambut Gagasan Gubernur GF (1)
To: [email protected]
Date: Wednesday, June 18, 2008, 4:28 AM

Menyambut Gagasan Gubernur GF (1)

 

Rabu, 18 Juni 2008

Active ImageOleh : Shofwan Karim, Rektor Universitas Muhammadiyah Sumbar.


 

 Mereka yang tiba-tiba punya nama di fora lokal, nasional, regional bahkan internasional kita beri label atau cap “Tokoh  Minang” yang hebat. Mereka kebanggaan kita. 

 “kalau kita mau jujur, apa saham kita terhadap tokoh yang berhasil menjadi tokoh puncak di bidangnya pada berbagai fora itu?”.

Mereka sekolah di berbagai tempat di dunia, atau hidup dan menjadi orang ternama di berbagai profesi, tetapi adakah bantuan langsung dari Komunitas Minang dalam suka-duka pendidikan dan karir yang mereka tempuh sebelum sampai ke puncak prestasi itu? Sejalan dengan itu, Gub GF mengajak para rektor merenungkan wacana “industri otak” yang pada awalnya didengungkan Emil Salim 25 tahun lalu dalam suatu acara di Bukittinggi.

Bagaimana kerangka konseptualnya? Selama ini menjadikan Minangkabau sebagai subkultur bangsa dan Sumbar sebagai wilayah administratif, sosial dan pemerintahan menjadi lahan industri otak sudah bersipongang ke mana-mana.

1) Kita mengeluh, bahwa lahan pertanian produktif di Sumbar hanya 35  persen, dengan kepemilikan hanya 1/3 (sepertiga) hektare per-KK.

2) tidak ada alternatif lain kecuali menjadikan Sumbar sebagai wilayah pencetak sumber daya manusia berkualitas. Terutama tujuan pendidikan, treatment kesehatan, wisata dan kewirausahaan lainnya.

3) mana konsepsi pencetak sumber manusia berkualitas itu?

4) secara finansial anggaran pendidikan dalam APBD Sumbar tiap tahun terus meningkat.

Maka untuk menjawabnya, Gub GF meminta para rektor bersama-sama menjabarkan gagasan “industri otak” yang selama ini didengung-dengungkan, bahkan sudah masuk ke dalam RPJP Sumbar 2005-2025. (bersambung)

© 2008 PADANG EKSPRES - Koran Nasional Dari Sumbar === E-MAIL: [EMAIL PROTECTED]

 


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---



Kirim email ke