Pasaman Riwayatmu Doeloe  
Selasa, 24 Juni 2008  
Oleh : Undri, Pusat Dokumentasi Informasi Sejarah-Budaya BPSNT Padang 

Di  akhir abad ke 19 seorang  pejabat bangsa Belanda pernah menuliskan
laporan perjalanannya ke salah satu daerah Pasaman yakni Mapat Tunggul.
Dengan gaya bahasanya yang khas ala Belanda dia memulai tulisan laporan
tersebut dengan menyuguhkan  keadaan alamnya, Pada awalnya daerah
tersebut terdiri dari  bebukitan yang terbesar tidak ditumbuhi oleh
apapun selain ilalang, perbukitan lainnya ditumbuhi hutan. 

Orang dapat menjumpai pohon-pohon yang berat yang tumbuh pada dasar
kemerah-merahan, akar-akarnya yang lembab menjalar menghunjam dalam ke
jantung bumi, dan memanjat batu-batu kapur serta melekat ke bebatuan
yang entah dari jenis apa ; belantara yang tidak dapat ditembus, siapa
yang hidup disana, jadi tidak ada tangan manusia yang merintangi
pekerjaan alam selama berabad-abad. Lereng-lereng bukit yang
bersemak-belukar, yang menunjukkan bahwa orang -orang disana masih belum
jauh-jauh mencari makanan mereka, begitulah laporan yang ditulis oleh
J.B.Neeumann, setelah ia menjelajahi daerah tersebut. 

Mungkin sebagian kita tidak pernah mengira bahwa Pasaman khususnya Rao
pernah jadi tambang emas terbesar di daerah Sumatra Westkus pada zaman
Belanda. Dobbin menceritakan dalam karyanya Kebangkitan Islam dalam
Ekonomi Petani Yang Sedang Berubah, Sumatera Tengah 1784-1847.
Keuntungan yang menumpuk pada tua tambang dilukiskan pada tahun 1838
dalam hubungan dengan penggalian kecil dalam tanah luapan banjir di
dekat Rao di sebelah utara rantau Minangkabau. Ditempat ini keadaan para
pekerjanya jauh lebih baik dari pada pekerja tambang. 

Orang-orang yang mencari emas atau pekerja tambang juga dianggap
memiliki kekuatan istimewa. Roh-roh yang mendiami tambang emas harus
diperlakukan dengan hati hati sekali, dan para pencari emas membentuk
suatu perserikatan dan hanya anggota perserikatan yang mengetahui
tanda-tanda rahasia emas dan bisa mengucapkan jampi-jampi yang
diperlukan untuk berhasilnya upaya penambangan. 

Bendera Inggris dinaikkan di Natal pada tahun 1751 oleh para pegawai
East India Campany yang berkedudukan di Bengkulen. Dalam usaha untuk
mengalahkan pemukiman Belanda di Padang, perdagangan dinyatakan bebas
sama sekali dan perdagangan di Natal mendapat dukungan resmi dari
Madras. Pada kahir tahun 1750-an perdagangan berkembang seperti belum
pernah terjadi sebelumnya ; orang-orang Inggris bersedia membayar lebih
tinggi untuk emas Rao daripada Belanda di Padang. 

Mereka juga menjual tekstilnya dengan harga lebih murah, mereka tidak
cerewet mengenai mutu kamper dan kemenyan yang mereka beli, dan mereka
menyediakan garam, mata dagangan yang sangat penting dilembah-lembah
dipedalaman tanah Batak dengan harga yang lebih murah daripada harga
Batak. 

Ujung tombak serangan Minangkabau atas orang-orang Batak adalah Lembah
Rao, yang mengikuti Alahan Panjang menerima asas-asas Paderi. Rao
memiliki tradisi hubungan yang lama dengan dunia Minangkabau lainnya,
dan hasil alamnya membuat sejarah lembah itu berkembang mengikuti alur
yang serupa dengan perkembangan daerah-daerah lain di Minangkabau. 

Dengan mengabaikan lembah-lembah tertentu lebih selatan, Rao merupakan
daerah pertambangan emas yang paling penting di Minangkabau sesudah
Alahan Panjang. Perdagangan emas Rao sudah dikenal  oleh
pedangan-pedagang India sejak awala abad kedua sesudah Masehi. Dan
kira-kira tahun 800 sesudah masehi orang-orang India mendirikan
pemukiman, baik dilembah maupun di bagian atas sungai Kampar yang
kemudian berkembang menjadi pangkalan hulu sungai yang khas untuk
perdagangan emas dari Rao. 

Pada abad ke 18 amas Rao belum habis dan tetap melancarkan jalannya
pergadangan di Selat Malaka, karena perdagangan melalui Patapahan di
Siak. Para pengamat Inggris di selat memperkirakan bahwa yang dieksport
berjumlah besar, pada tahun 1826 Singapore Choronicle menetapkan nilai
emas Rao antara 13.000 dan 14.000 dollar Spanyol per tahun, tetapi ini
pasti berlebihan. Pedagang emas Rao juga berdagang dipantai barat,
dengan membawa emasnya ke Natal, Air Bangis, Pasaman,  bahkan sampai
jauh ke selatan ke Padang. 

Tidak mengherankan, setelah Imam Bonjol menetapkan kekuasaannya di
Lembah Alahan Panjang, dia memalingkan matanya ke utara kea rah
tetangganya yang kaya. Lembah yang panjang dan sempit disebelah lembah
menampakkan kemakmuran yang cukup besar. Pada tahun 1830-an Lembah Rao
diperkirakan berpenduduk sekitar 25.000 orang, terbagi dalam dua puluh
desa besar dengan dukuhdukuh satelitnya, semua terawat apik dan
dikelilingi oleh sawah-sawah luas. Kopi juga ditanam disitu . 

Sistem politiknya serupa dengan daerah pingiran Minangkabau lainnya,
tiap desa dihuni oleh sejumlah suku masing-masing dengan penghulunya,
tetapi berlawanan dengan di pedalaman Minangkabau sebuah desa induk
dengan anak huniannya juga membentuk semacam federasi dibawah seorang
Raja. Dibagian utara lembah, tempat-tempat tambang emas utama di
dekat-dekat Rao dan Padang Mantinggi adalah yang paling padat
penduduknya, dan disini desa-desa mengakui salah satu rajanya sebagai
Yang Dipertuan . 

Ini rupanya ,emgikuti sistem Pagaruyung, dan Yang Dipertan Rao rupanya
juga memiliki asal-usul yang serupa dan menjalankan tugas-tugas yang
sama dengan Raja Alam di Pagaruyung dalam kaitannya dengan perdagangan
emas. 

Para pemimpin masyarakat Paderi di Alahan Panjang menyadari bahwa dengan
pemilikan tambang emas Rao pasti akan memberikan dimensi ekstra pada
jaringan dagang yang sedang hendak mereka ciptakan. Sedangkan tenaga
kerja dari lembah itu akan merupakan tambahan yang sangat diharapkan.
Imam Bonjol memulai serbuannya ke Rao dengan mengawasi pembuatan jalan
yang baik ke Lubuk Sikaping, desa utama diujung selatan lembah, dan
kemudian menaklukkan dan mengalihimankan desa ini dan desa-desa lain
didekatnya. 

Pada saat inilah muncul tokoh Tuanku Rao yang kabur. Tokoh Tuanku Rao
adalah tokoh yang cukup dikenal dalam sejarah Batak, tetapi kebanyakan
yang ditulis tentang dirinya didasarkan atas tradisi lisan Batak awal
abad keduapuluh dan tidak bisa dikonformasikan dalam sumber-sumber
Belanda yang kita miliki. 

Tidak adanya informasi mengenai Tuanku Rao sebagian bisa dijelaskan
dengan kenyataan bahwa dia meninggal pada tahun 1833, tak lama sesudah
Belanda memasuki Rao, dan dengan demikian dia tidak mempunyai Jabatan
lain yang bisa mengundang penyelidikan Belanda mengenai
kegiatan-kegiatan awalnya. Dapat diterima bahwa Tuanku Rao adalah
seorang Batak yang dulunya dikenal sebagai Pongki na Ngolngolan, tetapi
tradisi lisan Batak yang menyatakan dia adalah keponakan raja Imam
Batak, Singamangaraja X, yang menguasai daerah Bangkara-Toba tidak bisa
dipastikan. 

Barangkali garis keturunan ini diciptakan untuk menjelaskan beberapa
keungulan Tuangku Rao dalam kemiliteran, dia memang memimpin
pengikut-pengikutnya melakukan serangkaian perjalanan paksaan yang luar
biasa ke utara, langsung memasuki wilayah-wilayah orang -orang Batak
Toba, dan disini ia bertemu dan membunuh Singamangaraja X. Dengan
menganggap dia sebagai kemenakan raja yang kehilangan haknya, tradisi
Batak dapat memberikan motivasi yang masuk akal untuk serangkan meliter
ini yaitu balas dendam. 

Apapun asal muasalnya, Pongki na Ngolngolan adalah seorang petualang
Batak yang pada tahap tertentu dalam kariernya tiba di Lembah Rao. Dia
menemukan seorang pelindung di sebuah desa di utara, membantu orang ini
dalam kegiatan sehari-harinya dan akhirnya pada kira-kira tahun 1808
menjadi Islam. Kemudian ia berhubungana dengan ajaran Paderi di daerah
lebih ke selatan, dan rupanya merasa bahwa dengan memperoleh
pengakuannya sebagai eksponen ajaran ini, posisinya sebagai orang luar
atau orang datang dalam masyarakat Rao akan jauh lebih baik. 

Gerombolan Padri dari Rao menyeberangi bukit-bukit yang menghadang dan
mulai menyerbu ke Lembanh Mandailing Atas yang berpenduduk sedikit,
disekitar hulu Sungai Gadis. Walaupun pasti ada motivasi agama dalam
jihad ini, pertimbangan ekonomi juga memegang peranan penting.
Tambang-tambang ini terletak Keadaan yang seperti itu saat sekarang ini
jarang kita temui, walaupun ada namun dalam skala yang sangat terbatas. 

Sekarang daerah tersebut telah ditumbuhi oleh berbagai macam tanaman,
mulai dari tanaman karet, sawah, kopi, sawit dan oleh beberapa kolom
ikan dan sebagainya. Begitu juga dengan masyarakatnya, terlihat
heterogen. Keheterogenan masyarakatnya kadang kala terjadi
benturan-benturan yang akhirnya menimbulkan konflik.  Realitas yang
demikian tidak dapat kita pungkiri lagi dalam kehidupan bermasyarakat.
Namun kita berharap kedepan dengan keheterogenan masyarakat Pasaman
dapat menciptakan Pasaman yang damai dan sejahtera masyarakatnya. (***)

(c) 2008 PADANG EKSPRES - Koran Nasional Dari Sumbar === E-MAIL:
[EMAIL PROTECTED]

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke