:
BANGKAI HALAL
“Semua bangkai haram” kata guru saya ketika duduk di kelas IV SD, “kecuali
bangkai ikan” ulas guru saya sambil mengatakan hanya bangkai ikan saja yang
halal, boleh dimakan. Maka saya tak pernah ragu memakan bangkai ikan yang sudah
mati, bahkan ikan yang sudah kering dan mersik karena sudah lama jadi
bangkaipun saya makan.
Ikan siam, maco kukai dan sepat, pokoknya semua ikan asin mulai dari ikan teri
sampai ikan gabus yang besar enak dan lezat, selalu jadi santapan saya setiap
hari. Makanan terasa kurang lengkap kalau tak disertai ikan asin, sehingga
kalau selera patah, saya cari ikan asin, nafsu makanpun terbuka karenanya.
Memang dari kecil saya suka makan ikan, dan saya dijuluki ‘palauak’, suka makan
lauk, senang makan ikan. Dari kecil kebiasaan dan kesukaan makan ikan itu
sampai saat sekarang tak pernah kendur-kendurnya. Setiap kali lewat di Sicincin
saya usahakan singgah di Eka Sari untuk menikmati panggang ikan. Kalau ke
Painan, singgah sebentar di Rumah Makan Keluarga untuk melahap kepala ikan
baracuang, begitupun kalau ke Pariaman, tak lupa mampir di rumah makan Pauh,
lagi-lagi yang dicari ikan. Apalagi kalau ikannya baru ditangkap, menggelepar
gelepar, alangkah gurih dan lezatnya. Setiap makan ikan itu saya sering ingat
petuah guru saya bahwa bangkai ikan itu
halal. Ketika saya duduk di bangku SD lagu yang saya senangi;
Saya hendak ke pekan, mau beli ikan
Ku masal dengan santan, untuk ayah makan
Tak pernah saya bosan dan tak pernah saya menolak jika disuguhi
ikan. Tidak ada doa penolak rezeki. Maka kemana pergi dan dimanapun saya berada
selalu saja dalam ingatan saya ini ikan, ikan sekali lagi ikan. Waktu di Ujung
Pandang, yang paling enak itu justru ikan bakarnya dan udang, apalagi kalau
kembali berlayar dari pulai Lai-Lai dan pulau Kahyang di laut di depan Ujung
Pandang, dulu namanya Makasar, dan saya menginap di Makasar Golden Hotel, di
depan pantai Ujung Pandang.
Saya senang sekali melihat ikan yang berenang dan bermain, saya senang melihat
ikan yang lagi pacaran. Saya senang melihat ikan yang melahirkan sambil
memelihara dan menyelamatkan anaknya di dalam mulutnya. Saya senang menyaksikan
semua ikan hias yang sangat indah dan menarik hati, mereka selalu bergerak
sambil mengibas-ngibaskan sirip dan ekornya yang berjumbai-jumbai dan
berwarna-warni. Baik siang maupun malam mereka terus bergerak, seakan-akan tak
pernah tidur, menimbulkan keasyikan.
Asyik memandang ikan-ikan ini membuat kita terlupa akan persoalan
hidup yang kadang-kadang ruwet. Kalau fikiran sedang kacau saya pergi ke
pinggir kolam. Disana segala kekacauan dan keruwetan fikiran saya curahkan ke
dalam kolam dengan menikmati akorbatik-akrobatik ikan. Selepas memandang ikan,
biasanya fikiran kacau dan perasaan risau itupun terasa berkurang. Entahlah,
kalau berbicara tentang ikan dan ikan seakan-akan tak mau habis-habisnya. Tapi
yang saya tak habis fikir kenapa ada kekecualian bahwa bangkai ikan itu halal?
Kenapa Tuhan memberi kekecualian pada bangkai ikan? Pasti ada apa-apanya, pasti
dalam ikan itu banyak keistimewaan dan kelebihan, kalau tidak mengapa Tuhan
memberikan kekecualian?
Akhir-akhir ini saya baru sedikit mengerti setalh saya membaca
orang Jepang adalah manusia yang paling doyan melahap ikan. Dibandingkan dengan
orang Indonesia kita sangat jauh ketinggalan. Penyelidikan berkata, ternyata
orang Jepang memakan ikan setiap orangnya sebanyak 24 kg per minggu, sedangkan
orang Indonesia memakan ikan hanya sebanyak 16 kg per tahun. Pantaslah orang
Jepang daya kerja dan semangat kerjanya tinggi, mereka berjalan cepat, bekerja
cepat dan tepat dari pagi sampai malam tiada hari tanpa kerja.
Bagi mereka tidak ada istilah bermenung dan membuang-buang waktu. Waktu adalah
uang, waktu adalah kerja. Daya pikirnya tinggi, IQ nya baik, kualitas
manusianya pun luar biasa. Kulitnya halus bercahaya. Saya tidak tahu, apakah
karena mereka selalu melahap ikan? Padahal di Jepang harga ikan sangat mahal.
Bayangkan, kabarnya ikan tuna harganya 36 dollar satu kilo atau 75 ribu,
udangpun 23 dollar satu kilo. Walaupun mahal, mereka tetap membelinya.
Memang di negara-negara maju kita lihat harga ikan rata-rata 4-6 kali lebih
mahal dari harga daging, tapi tetap di beli dan dicari, kenapa? Tak lain dan
tak bukan karena mereka mengerti dan paham bahwa ikan sangat besar faedah dan
manfaatnya. Seratnya jauh lebih halus, asam amino esensialnya jauh lebih
lengkap di dalam daging ikan. Kadar kholesterolnya sangat rendah. Apalagi di
zaman sekarang kholesterol merupakan sumber bermacam-macam penyakti, di dalam
ikanpun banyak kadar phospor dan kalsium yang sangat baik untuk metabolisme
otak sehingga orangnya jadi pintar dan untuk pertumbuhan tulang.
Mungkin karena manfaatnya yang sangat banyak, dari semulah Tuhan etlah memberi
isyarat ‘bangkai ikan halal’. Tentu ikan itu banyak kelebihan dan manfaatnya.
Sekaranglah orang baru mengerti manfaat dan keunggulan ikan, sehingga walaupun
mahal orang tetap berebut mencarinya. Padahal ikan yang sampai di Jepang sudah
lama jadi bangkai, berhari-hari, tentu sebaik-baik bangkai, akan jauh lebih
baik yang segar dan yang menggelepar gelepar.
Saya teringat ikan garing dari lembah Anai, alangkah lezatnya, sampai-sampai
sisiknyapun enak digoreng. Kenapa ikan yang hidup di sungai-sungai Sumatera
Barat lezat, gurih, bermutu dan bergizi tinggi? Agaknya karena sungai-sungai di
Sumbar selalu mengalir dan berair deras, sehingga nafsu makan ikan semakin
bertambah. Apalagi bukit dan gunung di Sumbar banyak mengandung mineral dan zat
kaput. Akibatnya ikan-ikannya pun mempunyai serat daging yang enak dan lezat
serta banyak mineralnya. Makanya ikan dari Sumbar sangat laku di Riau dan Jambi.
Tapi yang saya tak habis mengerti kenapa orang kita tidak begitu doyan makan
ikan? Baik ikan air tawar maupun ikan laut. Padahal ikan-ikan disini dengan
mutu yang baik dan harganya jauh lebih murah dari daging. Saya kira sudah
masanya kita merubah pola laku dan kebiasaan dari pemakan daging dan lemak
serta isi perut atau jeroan, hati, limpa, tambusu dan otak, diubah menjadi
kebiasaan makan ikan. Semoga semangatnya bisa pula seperti ikan yang bergerak
dan bekerja terus walaupun siang maupun malam sehingga terlahir manusia-manusia
seperti orang jepang.
Jangan sampai kita seperti yang diungkapkan oleh sebuah pepatah ‘ayam mati
kelaparan di atas padi’. Di tanah kita, di tempat kita hidup, di tempat udara
kita hirup bertebaran zat-zat dan ikan-ikan yang sangat bermanfaat, tapi kita
biarkan begitu saja. Lalu, ikan-ikan ini dicuri oleh bangsa asing, sehingga
bangsa asing semakin kuat dan semakin sehat, sedangkan kita?
Marilah kita syukuri nikmat yang diturunkan Tuhan dengan memanfaatkan dan
memaksimalkan penggunaan apa-apa yang diturunkanNya. Untuk itu semua saya
teringat akan sebuah firman suciNya dalam Alquran surat An Nahl ayat 14:
“Dan Dia Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan
daripadanya daging yang segar (Ikan) dan kamu mengeluarkan dari lautan itu
perhiasan yang kamu pakai dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya
kamu mencari (keuntungan) daru karuniaNya dan supaya kamu bersyukur.
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---