Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Senang sekali saya membaca posting ini walaupun subyeknya BANGKAI HALAL
suatu contradictio in termini. Namun kalau saya lupakan istilah
"bangkai"nya yang merupakan konotasi yang mengerikan dan konssentrasikan
kepada "Ikan"nya yang halal itu, perasaan saya merasa lega seperti Tuhan
menganugerahkan kita rasa sorga di dunia.

Pengalaman-pengalaman yang Angku Dr. Suheimi ketengahkan memberikan
kenangan saya dan keinginan untuk mengunjungi tempat-tempat itu. Memang,
di Ujung Pandang saya menikmati ikan bakar dan udangnya. Apakah Eka Sari
yang di Sicincin itu suatu Rumah Makan yang dikellilingi kolam (tebat)
di mana ikan-ikannya kita ber makan juga sambil kita menikmati
teman-temannya yang sudah di bakar. Saya sering ke sana setiap pulang
dari Padang menuju kampuang di Bukittinggi. Cerita tentang Rumah Maan
Keluarga di Painan dan Rumah makan Pauh di Pariaman menyebabkan saya
harus mengingatnya; suatu kali saya ingin ke sana kalau disampaikan
Ilahi Rabbi.

Tetapi apa artinya kepala ikan "baracuang"? Walaupun saya tidak doyan
dengan kepala ikan, namun istilah kepala ikan "baracuang" ini
meggatalkan kepala saya untuk ingin tahu arti istilahnya.

Saya baru saja kembali memusatkan perhatian mendisiplinkan diri untuk
makan ikan. Karena koleswtoral tinggi doktor saya sudah mengingatkan
saya untuk tidak makan daging. Setiap kali saya pergike Pasar Ikan di
Asian Stores atau di Wharf di panggir pantai Santa Cruz, California,
saya kagum melihat variasi ikan yang ada terkumpul dari segala penjuru
dunia. Denganbantuan resep-resep makanan dari keluarga di Kampung via
sms dan email seperti dari Bundo Nismah dan Murai Kukuban (Rita
Desfitri) saya sudah bangga pula sebagai "ahli" gulai Ikan Asampadeh dan
Gulai Pangek (setidak-tidaknya untuk konsumsi pribadi).

Tahun 1965 ketika di Sibolga, sebelum kami menyeberang ke Gunung Sitoli,
Nias, Syahbandar Sibolga mengundang kami makan di salahsatu Resotran
Cina pilihan dan kesenangan dia. Ya Alalah, seumur hidup sampai sekarang
saya masih ingat gulai ikannya yang sangat unik yang tidak pernah saya
temukan di mana-mana. Seandainya saya sempat ke Sibolga nanti, saya akan
cari masakan ikan itu kembali.Saya juga sarankan kepada adidusnanaka di
Lapau ini untuk mencarinya, mudah-mudahan berjumpa.

Bicara tentang ikan teri atau yang di darek (Bukittinggi) kami namakan
"maco bulek" saya ingat Natal dimana saya anggap ditemukan ikan teri
terbaik. Impressi ini  saya dapatkan dalam kunjungansaya ke Natal tahun
1958. Sekarang, setiap saya membeli ikan teri di AsianStores di
California, saya selalu ingat pantai Natal dan pantai-pantai kita di
Sumatera dan menganggap ikan-ikan teri yang saya beli mahal di
California ini adalah "hasil curian" kapal-kapal penangkap ikan asing
yang berkeliaran di off shores kita...

Agak lain dari makan ikan, saya juga senang melihat ikan bermain-main
dan pacaran. Di kantor-kantor dokter di Santa Cruz, saya sering
menikmati aquarium berisikan ikan piaraan berwarna warni bernenang
seenaknya menyejukkan hati nurani. Tetapi dari posting Angku Dr. Suheimi
saya tersentak dengan untkapan "senang melihat ikan yang lagi pacaran" 
Saya juga, bukan ikan saja, tetapi binatang-binatang lain. Tetapi suatu
ironi dalam benak saya bertanya, kenapa kalau manusia-manusia di Kampung
kita berpacaran mereka menjadi obyek dan perlakuan yang kurang baik?
Bahkan kopiah mereka bisa jadi sempit dipukul spektator?

Salam,

--MakNgah

Sjamsir Sjarif

Di Pinggir Pantai Teluk Monterey

Santa Cruz, California

ogroups.com, suheimi ksuheimi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> :
> BANGKAI HALAL
>
>
>
> "Semua bangkai haram" kata guru saya ketika duduk di kelas IV
SD, "kecuali bangkai ikan" ulas guru saya sambil mengatakan
hanya bangkai ikan saja yang halal, boleh dimakan. Maka saya tak pernah
ragu memakan bangkai ikan yang sudah mati, bahkan ikan yang sudah kering
dan mersik karena sudah lama jadi bangkaipun saya makan.
> Ikan siam, maco kukai dan sepat, pokoknya semua ikan asin mulai dari
ikan teri sampai ikan gabus yang besar enak dan lezat, selalu jadi
santapan saya setiap hari. Makanan terasa kurang lengkap kalau tak
disertai ikan asin, sehingga kalau selera patah, saya cari ikan asin,
nafsu makanpun terbuka karenanya. Memang dari kecil saya suka makan
ikan, dan saya dijuluki `palauak', suka makan lauk, senang makan
ikan. Dari kecil kebiasaan dan kesukaan makan ikan itu sampai saat
sekarang tak pernah kendur-kendurnya. Setiap kali lewat di Sicincin saya
usahakan singgah di Eka Sari untuk menikmati panggang ikan. Kalau ke
Painan, singgah sebentar di Rumah Makan Keluarga untuk melahap kepala
ikan baracuang, begitupun kalau ke Pariaman, tak lupa mampir di rumah
makan Pauh, lagi-lagi yang dicari ikan. Apalagi kalau ikannya baru
ditangkap, menggelepar gelepar, alangkah gurih dan lezatnya. Setiap
makan ikan itu saya sering ingat petuah guru saya bahwa bangkai ikan itu
> halal. Ketika saya duduk di bangku SD lagu yang saya senangi;
> Saya hendak ke pekan, mau beli ikan
> Ku masal dengan santan, untuk ayah makan
>             Tak pernah saya bosan dan tak pernah saya menolak jika
disuguhi ikan. Tidak ada doa penolak rezeki. Maka kemana pergi dan
dimanapun saya berada selalu saja dalam ingatan saya ini ikan, ikan
sekali lagi ikan. Waktu di Ujung Pandang, yang paling enak itu justru
ikan bakarnya dan udang, apalagi kalau kembali berlayar dari pulai
Lai-Lai dan pulau Kahyang di laut di depan Ujung Pandang, dulu namanya
Makasar, dan saya menginap di Makasar Golden Hotel, di depan pantai
Ujung Pandang.
> Saya senang sekali melihat ikan yang berenang dan bermain, saya senang
melihat ikan yang lagi pacaran. Saya senang melihat ikan yang melahirkan
sambil memelihara dan menyelamatkan anaknya di dalam mulutnya. Saya
senang menyaksikan semua ikan hias yang sangat indah dan menarik hati,
mereka selalu bergerak sambil mengibas-ngibaskan sirip dan ekornya yang
berjumbai-jumbai dan berwarna-warni. Baik siang maupun malam mereka
terus bergerak, seakan-akan tak pernah tidur, menimbulkan keasyikan.
>             Asyik memandang ikan-ikan ini membuat kita terlupa akan
persoalan hidup yang kadang-kadang ruwet. Kalau fikiran sedang kacau
saya pergi ke pinggir kolam. Disana segala kekacauan dan keruwetan
fikiran saya curahkan ke dalam kolam dengan menikmati
akorbatik-akrobatik ikan. Selepas memandang ikan, biasanya fikiran kacau
dan perasaan risau itupun terasa berkurang. Entahlah, kalau berbicara
tentang ikan dan ikan seakan-akan tak mau habis-habisnya. Tapi yang saya
tak habis fikir kenapa ada kekecualian bahwa bangkai ikan itu halal?
Kenapa Tuhan memberi kekecualian pada bangkai ikan? Pasti ada
apa-apanya, pasti dalam ikan itu banyak keistimewaan dan kelebihan,
kalau tidak mengapa Tuhan memberikan kekecualian?
>             Akhir-akhir ini saya baru sedikit mengerti setalh saya
membaca orang Jepang adalah manusia yang paling doyan melahap ikan.
Dibandingkan dengan orang Indonesia kita sangat jauh ketinggalan.
Penyelidikan berkata, ternyata orang Jepang memakan ikan setiap orangnya
sebanyak 24 kg per minggu, sedangkan orang Indonesia memakan ikan hanya
sebanyak 16 kg per tahun. Pantaslah orang Jepang daya kerja dan semangat
kerjanya tinggi, mereka berjalan cepat, bekerja cepat dan tepat dari
pagi sampai malam tiada hari tanpa kerja.
> Bagi mereka tidak ada istilah bermenung dan membuang-buang waktu.
Waktu adalah uang, waktu adalah kerja. Daya pikirnya tinggi, IQ nya
baik, kualitas manusianya pun luar biasa. Kulitnya halus bercahaya. Saya
tidak tahu, apakah karena mereka selalu melahap ikan? Padahal di Jepang
harga ikan sangat mahal. Bayangkan, kabarnya ikan tuna harganya 36
dollar satu kilo atau 75 ribu, udangpun 23 dollar satu kilo. Walaupun
mahal, mereka tetap membelinya.
> Memang di negara-negara maju kita lihat harga ikan rata-rata 4-6 kali
lebih mahal dari harga daging, tapi tetap di beli dan dicari, kenapa?
Tak lain dan tak bukan karena mereka mengerti dan paham bahwa ikan
sangat besar faedah dan manfaatnya. Seratnya jauh lebih halus, asam
amino esensialnya jauh lebih lengkap di dalam daging ikan. Kadar
kholesterolnya sangat rendah. Apalagi di zaman sekarang kholesterol
merupakan sumber bermacam-macam penyakti, di dalam ikanpun banyak kadar
phospor dan kalsium yang sangat baik untuk metabolisme otak sehingga
orangnya jadi pintar dan untuk pertumbuhan tulang.
> Mungkin karena manfaatnya yang sangat banyak, dari semulah Tuhan etlah
memberi isyarat `bangkai ikan halal'. Tentu ikan itu banyak
kelebihan dan manfaatnya. Sekaranglah orang baru mengerti manfaat dan
keunggulan ikan, sehingga walaupun mahal orang tetap berebut mencarinya.
Padahal ikan yang sampai di Jepang sudah lama jadi bangkai,
berhari-hari, tentu sebaik-baik bangkai, akan jauh lebih baik yang segar
dan yang menggelepar gelepar.
> Saya teringat ikan garing dari lembah Anai, alangkah lezatnya,
sampai-sampai sisiknyapun enak digoreng. Kenapa ikan yang hidup di
sungai-sungai Sumatera Barat lezat, gurih, bermutu dan bergizi tinggi?
Agaknya karena sungai-sungai di Sumbar selalu mengalir dan berair deras,
sehingga nafsu makan ikan semakin bertambah. Apalagi bukit dan gunung di
Sumbar banyak mengandung mineral dan zat kaput. Akibatnya ikan-ikannya
pun mempunyai serat daging yang enak dan lezat serta banyak mineralnya.
Makanya ikan dari Sumbar sangat laku di Riau dan Jambi.
> Tapi yang saya tak habis mengerti kenapa orang kita tidak begitu doyan
makan ikan? Baik ikan air tawar maupun ikan laut. Padahal ikan-ikan
disini dengan mutu yang baik dan harganya jauh lebih murah dari daging.
Saya kira sudah masanya kita merubah pola laku dan kebiasaan dari
pemakan daging dan lemak serta isi perut atau jeroan, hati, limpa,
tambusu dan otak, diubah menjadi kebiasaan makan ikan. Semoga
semangatnya bisa pula seperti ikan yang bergerak dan bekerja terus
walaupun siang maupun malam sehingga terlahir manusia-manusia seperti
orang jepang.
> Jangan sampai kita seperti yang diungkapkan oleh sebuah pepatah
`ayam mati kelaparan di atas padi'. Di tanah kita, di tempat
kita hidup, di tempat udara kita hirup bertebaran zat-zat dan ikan-ikan
yang sangat bermanfaat, tapi kita biarkan begitu saja. Lalu, ikan-ikan
ini dicuri oleh bangsa asing, sehingga bangsa asing semakin kuat dan
semakin sehat, sedangkan kita?
> Marilah kita syukuri nikmat yang diturunkan Tuhan dengan memanfaatkan
dan memaksimalkan penggunaan apa-apa yang diturunkanNya. Untuk itu semua
saya teringat akan sebuah firman suciNya dalam Alquran surat An Nahl
ayat 14:
> "Dan Dia Allah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat
memakan daripadanya daging yang segar (Ikan) dan kamu mengeluarkan dari
lautan itu perhiasan yang kamu pakai dan kamu melihat bahtera berlayar
padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) daru karuniaNya dan supaya
kamu bersyukur.



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke