Adduh, main galuak, suatu permainan yang saya tidak pernah 
mengalami, karena di daerah Agam sayak itu tidak sebanyak di 
Pariaman. Mudah-mudahan permainan itu dihidupan kembali. Barngkali 
diadakan waktu perayaan-peayaan mulai di sekolah sudahitu perayaan-
perayaan acara umum yang lain.

Pohon baguak memang jarang juga di daerh Bukittinggi. Wakau saya 
pulang beberapa tahun yang lalu rupanya ada tumbuh satu batang 
baguak di halaman rumah ibu (almarhumah). Saya ppungut buah-buah 
merah yang berjatuhan saya coba buat karupuak baguak sendiri. Wah 
berhasil juga. Sayangnya hanya beberapa biji. Kabarnya membuat 
Kaghupua Joghiang sama halnaya dengan membuat kaghupuak baguak ini.

Kawa. Oh, Ondeh kawa!

Tahun 1985 saya pulang kampung sesudah 20 tahun meninggalkannya. 
Suatu hari Selasa saya pergi sendirian ke Pakan Lasi di Lereng 
Gunung Merapi. Saya rindu kawa. Saya  tahu karena Lasi adalah pasar 
sumber Daun Kawa yang dijual ke mana-mana dari sana. Orang lasi 
terkenal dengan pandainya "maatua" daun kawa. Sehingga kami punya 
pameo di kampuang kalau orang sekarang "tidak tahu aturan", kita 
katakan Orang yang tahu aturan hanya lah Urang Lasi.

Saya kelilingi pasar beberapa kali, lambat-lambat sambil menikmati 
kedai kedai dan cara orang berjual beli ago maago dsbnya di Pasar 
Lasi. Namun atuaran kawa tak prnah terlihat, minuman kawa pun tidak 
ada. Kecewa, saya bertanya pada seorang perempuan yang 
menjual "lapiak" (tikar yang dianyam dari mansiro). Kedai beliau 
sendirian, kebetulan tak ada tamu. Saya bertanya baik-baik. 

"Kak, dimaa urang manjua daun kawa?" Kakak itu yang sedang bersimpuh 
di "lapiak"nya tercengang-cengang melihat saya, menatap saya dengan 
baik-baik dengan penuh keheranan seperti tidak percaya saya dapat 
berbicara secara kampuang itu. Saya tidak pernah dia lihat di pasar 
itu, saya juga kebetulan membawa kamera dan menyandang tas kamera, 
pakai kemeja dan celana dan sepatu seperti orang lain dari luar 
Lasi. Mungkin saya dikira Cino Sasek. Tetapi setelah mendengar Logat 
Balai Gurah, kakak ini bertanya untuk meyakinkan. Sambil berlinang 
air mata terkejut mendengar bahasa saya yang tidak beliau ramalkan:

"Ondeeh", kata beliau dengan air matanya menepi. "Dimaa kampuang? 
Anto daunkawa nan batanyoan?" 

"Di Ilia Uni", kecek ambo "rumah amak ambo di Kototuo" Mandanga 
suara saya denganlogat asli yang tidak diejan-ejan itu, kakak ini 
tidak ragu-ragu lagi mangeluakan tangis air matanya. "Barangkali lah 
lamo maninggaan kampuang yo?" Kecek baliau. "Indak ado lai urang 
manjaua daun kawa kini" kata baliau. "Indak ado urang minun kawa 
bagai lai... Urang kini lah minun kopi jo susu." "Mandanga tu kini 
ambo pun taragak lo minun kawa" kata baliau. "Kok indak sampik di 
pasa kini ko, pulang awak, ambo ambiakan daun kawa kito buek kawa, 
minun kawa awak di rumah," kecek baliau. "Tarimo kasih Uni" kecek 
ambo sambia basadiah indak dapek daun kawa. Sudah itu kami "bapailah 
batinggalah," sambia baibo hati.

Saya pulang, saya ceritakan kesedihan itu kepada kakak dunsanak ibu 
sebelah rumah. Baliau langsung memetik daun kopi yang tumbuh 
sebatang dipakarangan. Sudah tu baliau "atua" elok-elok. Sudah itu 
dibuat unggun api di halaman, kami "sangai" aturan daun kawa itu 
sambil senyum simpul. Sementara itu air panas pun sudah sedia. Kami 
berdua manikmati lahapnya minun kawa itu. Anak-anak tacengan-
cengang. "Alaa" teriak anak-anak dan famili lain yang melihat kami 
mencangkung di halaman menikmati kawa hangat,  "urang gaek lapeh 
taragak jo kawa!" 


Salam,
--MakNgah

--- In [EMAIL PROTECTED], suheimi ksuheimi <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> G A L U A K
> Oleh : Dr.H.K.Suheimi
> 
> Galuaklah  yang menyebakan saya sering pulang ke kampung  di 
> Pariaman. Galuaklah permaian yang paling saya gemari waktu kecil. 
> Kalau  sedang  bermain galuak saya seperti  lupa  dengan  
keadaan 
> sekeliling,  lupa pulang, lupa mandi dan lupa makan.  Kalau  
saya 
> hilang dari rumah, cari saja ke tempat anak-anak bermain  galuak, 
> tentu  saya ada disana. Galuak, sayak atau tempurung  atau  
batok 
> kelapa  sangat  banyak di Pariaman karena memang  Pariaman  
sejak 
> dula  kala  adalah penghasil kopra.  
..............
>   Dulu  kami bermain dibawah kerindangan batang "Baguak"  atau  
>  
> malinjo, sambil memungut setiap buah baguak yang berguguran,  
dan  
>  
> kadang-kadang  memanjat batang baguak untuk mengambil  putik  
dan  
>  
> pucuknya sebagai sayur yang sangat lezat dan bergizi tinggi serta  
>  
> perlu  untuk menurunkan kadar cholesterol. Dan  dalam  
kerimbunan  
>  
> daun-daun  baguak itu pulalah kami mendengarkan nyaringnya  
bunyi  
>  
> uir-uir  yang berterbangan antara pohon yang satu ke  pohon  
yang  
>  
> lain. Ah masa kecil yang gembira dan bahagia, hanya bisa untuk di  
>  
> kenang, 

...............
>   Galuak ini di B. Tinggi di sebut orang sayak. Dibersihkan di  
>  
> rapikan dan di jadikan barang antik dan di bikin sanduak pariuak.  
>  
> Dan kalau kita makan ketupat rang kapau, maka kita di beri  
minum  
>  
> di  dalam sayak. "Minumlah kawa" kata amai-amai si penjual  
ketu¬ 
>  
> pat. Saya senang sekali minum kawa, hangat dan menyegarkan.  
>  
>   „ „   
>   Kawa  dibuat  dari  daun kopi yang sudah di  sengai  dan  
di  
>  
> keringkan  diatas paran tungku didapur-dapur. Berbeda dangan  
air  
>  
> teh atau kopi. Air Kawa mempunyai rasa tersendiri dan  
mengharum¬ 
>  
> kan  nafas.  Tapi semua itu hilang sudah, lenyap di  telan  
masa.  
>  
> Masa  kecil dulu penuh dengan kesenangan dan kenangan,  untuk  
di  
>  
> ingat dan di ulang-ulang. Kalau hari ini saya di B. Tinggi  
makan  
>  
> ketupat  lalu  meminta air kawa, maka si  penjual  ketupat  
hanya  
>  
> tersenyum-senyum.  "Bapak urang lamo, kuno ". "Sekarang  tak  
ada  
>  
> lagi sayak dan juga tak ada lagi kawa. Sayak dan kawa hanya  
bisa  
>  
> di  peroleh  dalam mimpi". Ciloteh si  penjual.  Dan  sayup-
sayup  
>  
>  
> P a d a n g 2 September  1994.



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke