Mak angah yth

Kalau ingin minum kawa jo sayak. masih ado  di pasa pitalah
kalau awak makan di lapau uni ida, yo sero minum kawa angek disitu  sambia 
makan gajebo jo  dendeng batokok, serta tambusu  bataluah.

Dan ado juo di sadiokan  minum kawa di Dakek panorama tabek patah nan rancak tu
Disamping ada daun kopi nan alah bansangai juo  ambo minta   sayak.  dan istri 
ambo minta pulo  tungku tampek "Batangeh"   
Di Tabek patah ko  ado urang memproduksi pisang salek merk kiniko.. lamak dan 
bermacam kue2 untuak hadiah urang rantau
Kalau kita mampir, disediakan juga jus pinang sinawa,  bandan jadi hangat   dan 
gairah kerja serta  gairah yg lainpun meningkat

Setiap ke tabek patah tak lupo ambo singgah di   tampek pisang salek  kiniko.  
berbagai keindahan bisa kita nikmati

salam teriring do'a

K Suheimi

--- On Tue, 7/1/08, hambociek <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: hambociek <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: Galuak ... Kawa
To: [email protected]
Date: Tuesday, July 1, 2008, 1:21 PM

Adduh, main galuak, suatu permainan yang saya tidak pernah  mengalami, karena 
di daerah Agam sayak itu tidak sebanyak di  Pariaman. Mudah-mudahan permainan 
itu dihidupan kembali. Barngkali  diadakan waktu perayaan-peayaan mulai di 
sekolah sudahitu perayaan- perayaan acara umum yang lain.  Pohon baguak memang 
jarang juga di daerh Bukittinggi. Wakau saya  pulang beberapa tahun yang lalu 
rupanya ada tumbuh satu batang  baguak di halaman rumah ibu (almarhumah). Saya 
ppungut buah-buah  merah yang berjatuhan saya coba buat karupuak baguak 
sendiri. Wah  berhasil juga. Sayangnya hanya beberapa biji. Kabarnya membuat  
Kaghupua Joghiang sama halnaya dengan membuat kaghupuak baguak ini.  Kawa. Oh, 
Ondeh kawa!  Tahun 1985 saya pulang kampung sesudah 20 tahun meninggalkannya.  
Suatu hari Selasa saya pergi sendirian ke Pakan Lasi di Lereng  Gunung Merapi. 
Saya rindu kawa. Saya  tahu karena Lasi adalah pasar  sumber Daun Kawa yang 
dijual ke mana-mana dari sana. Orang
 lasi  terkenal dengan pandainya "maatua" daun kawa. Sehingga kami punya  pameo 
di kampuang kalau orang sekarang "tidak tahu aturan", kita  katakan Orang yang 
tahu aturan hanya lah Urang Lasi.  Saya kelilingi pasar beberapa kali, 
lambat-lambat sambil menikmati  kedai kedai dan cara orang berjual beli ago 
maago dsbnya di Pasar  Lasi. Namun atuaran kawa tak prnah terlihat, minuman 
kawa pun tidak  ada. Kecewa, saya bertanya pada seorang perempuan yang  menjual 
"lapiak" (tikar yang dianyam dari mansiro). Kedai beliau  sendirian, kebetulan 
tak ada tamu. Saya bertanya baik-baik.   "Kak, dimaa urang manjua daun kawa?" 
Kakak itu yang sedang bersimpuh  di "lapiak"nya tercengang-cengang melihat 
saya, menatap saya dengan  baik-baik dengan penuh keheranan seperti tidak 
percaya saya dapat  berbicara secara kampuang itu. Saya tidak pernah dia lihat 
di pasar  itu, saya juga kebetulan membawa kamera dan menyandang tas kamera,  
pakai kemeja dan celana dan sepatu seperti
 orang lain dari luar  Lasi. Mungkin saya dikira Cino Sasek. Tetapi setelah 
mendengar Logat  Balai Gurah, kakak ini bertanya untuk meyakinkan. Sambil 
berlinang  air mata terkejut mendengar bahasa saya yang tidak beliau ramalkan:  
"Ondeeh", kata beliau dengan air matanya menepi. "Dimaa kampuang?  Anto 
daunkawa nan batanyoan?"   "Di Ilia Uni", kecek ambo "rumah amak ambo di 
Kototuo" Mandanga  suara saya denganlogat asli yang tidak diejan-ejan itu, 
kakak ini  tidak ragu-ragu lagi mangeluakan tangis air matanya. "Barangkali lah 
 lamo maninggaan kampuang yo?" Kecek baliau. "Indak ado lai urang  manjaua daun 
kawa kini" kata baliau. "Indak ado urang minun kawa  bagai lai... Urang kini 
lah minun kopi jo susu." "Mandanga tu kini  ambo pun taragak lo minun kawa" 
kata baliau. "Kok indak sampik di  pasa kini ko, pulang awak, ambo ambiakan 
daun kawa kito buek kawa,  minun kawa awak di rumah," kecek baliau. "Tarimo 
kasih Uni" kecek  ambo sambia basadiah indak dapek
 daun kawa. Sudah itu kami "bapailah  batinggalah," sambia baibo hati.  Saya 
pulang, saya ceritakan kesedihan itu kepada kakak dunsanak ibu  sebelah rumah. 
Baliau langsung memetik daun kopi yang tumbuh  sebatang dipakarangan. Sudah tu 
baliau "atua" elok-elok. Sudah itu  dibuat unggun api di halaman, kami "sangai" 
aturan daun kawa itu  sambil senyum simpul. Sementara itu air panas pun sudah 
sedia. Kami  berdua manikmati lahapnya minun kawa itu. Anak-anak tacengan- 
cengang. "Alaa" teriak anak-anak dan famili lain yang melihat kami  mencangkung 
di halaman menikmati kawa hangat,  "urang gaek lapeh  taragak jo kawa!"    
Salam, --MakNgah  --- In [EMAIL PROTECTED], suheimi ksuheimi <[EMAIL 
PROTECTED]>  wrote: > > G A L U A K > Oleh : Dr.H.K.Suheimi >  > Galuaklah  
yang menyebakan saya sering pulang ke kampung  di  > Pariaman. Galuaklah 
permaian yang paling saya gemari waktu kecil.  > Kalau  sedang  bermain galuak 
saya seperti  lupa  dengan   keadaan 
 > sekeliling,  lupa pulang, lupa mandi dan lupa makan.  Kalau   saya  > hilang 
 > dari rumah, cari saja ke tempat anak-anak bermain  galuak,  > tentu  saya 
 > ada disana. Galuak, sayak atau tempurung  atau   batok  > kelapa  sangat  
 > banyak di Pariaman karena memang  Pariaman   sejak  > dula  kala  adalah 
 > penghasil kopra.   .............. >   Dulu  kami bermain dibawah kerindangan 
 > batang "Baguak"  atau   >   > malinjo, sambil memungut setiap buah baguak 
 > yang berguguran,   dan   >   > kadang-kadang  memanjat batang baguak untuk 
 > mengambil  putik   dan   >   > pucuknya sebagai sayur yang sangat lezat dan 
 > bergizi tinggi serta   >   > perlu  untuk menurunkan kadar cholesterol. Dan  
 > dalam   kerimbunan   >   > daun-daun  baguak itu pulalah kami mendengarkan 
 > nyaringnya   bunyi   >   > uir-uir  yang berterbangan antara pohon yang satu 
 > ke  pohon   yang   >   > lain. Ah masa kecil yang gembira dan bahagia, hanya 
 > bisa untuk di   >   > kenang, 
  ............... >   Galuak ini di B. Tinggi di sebut orang sayak. Dibersihkan 
di   >   > rapikan dan di jadikan barang antik dan di bikin sanduak pariuak.   
>   > Dan kalau kita makan ketupat rang kapau, maka kita di beri   minum   >   
> di  dalam sayak. "Minumlah kawa" kata amai-amai si penjual   ketu¬  >   > 
pat. Saya senang sekali minum kawa, hangat dan menyegarkan.   >   >   „ „    >  
 Kawa  dibuat  dari  daun kopi yang sudah di  sengai  dan   di   >   > 
keringkan  diatas paran tungku didapur-dapur. Berbeda dangan   air   >   > teh 
atau kopi. Air Kawa mempunyai rasa tersendiri dan   mengharum¬  >   > kan  
nafas.  Tapi semua itu hilang sudah, lenyap di  telan   masa.   >   > Masa  
kecil dulu penuh dengan kesenangan dan kenangan,  untuk   di   >   > ingat dan 
di ulang-ulang. Kalau hari ini saya di B. Tinggi   makan   >   > ketupat  lalu  
meminta air kawa, maka si  penjual  ketupat   hanya   >   >
 tersenyum-senyum.  "Bapak urang lamo, kuno ". "Sekarang  tak   ada   >   > 
lagi sayak dan juga tak ada lagi kawa. Sayak dan kawa hanya   bisa   >   > di  
peroleh  dalam mimpi". Ciloteh si  penjual.  Dan  sayup- sayup   >   >   > P a 
d a n g 2 September  1994.    

      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke