HEADLINE NEWS Jumat, 04 Juli 2008 Teroris Sempat Incar Bukittinggi Kafe Debudel Kampung Cina Jadi Target
Sample Image <http://www.padangekspres.co.id/images/stories/04_07_08_hl1.jpg> Tersangka teroris anggota Jamaah Islamiyah yang berhasil ditangkap aparat kepolisian di Palembang beberapa waktu lalu, saat dijebloskan ke tahanan Markas Brimob Kelapa Dua Depok, kemarin. Jakarta, Padek-- Inilah fakta terbaru yang terungkap dari penangkapan gembong teroris di Palembang. Dari penelusuran yang dilakukan Mabes Polri salah kelompok ini sempat mengincar dan akan mengebom Kafe Dedudel, Kampung China, Bukittinggi, Sumatera Barat. Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira dalam jumpa pers kemarin mengatakan, Hasan adalah rantai yang membuka jaringan Palembang di mana polisi telah berhasil membekuk 10 orang tersangka. Lelaki 35 tahun itu dibekuk Densus 88/Antiteror Mabes Polri pada Sabtu 28 Juni di Sekayu, Banyuasin, Sumsel. Polisi mencium posisi guru bahasa Inggris itu setelah pemerintah Singapura mengeluarkan red notice (daftar pencarian orang) atas diri Hasan yang dituduh terlibat JI. "Dia juga terkait dengan Kastari yang lari," tambah Abubakar. Kastari Menyusup Terbongkarnya jaringan teroris Palembang oleh Densus 88/Antiteror Mabes Polri menyingkap fakta baru. Polisi mendapat keterangan dari para tersangka bahwa buron nomor satu pemerintah Singapura Kastari telah menyusup masuk ke Indonesia. Kini polisi terus bergerak mengecek dan memburu Kastari yang diperkirakan telah menyeberang ke Pulau Jawa. ''Benar begitu. Dia (Kastari, Red) ada di sini," kata seorang sumber di lingkungan Mabes Polri kemarin. Namun, sumber tersebut tak merinci dari mana lelaki yang pernah memalsukan namanya menjadi Edy Hariyanto untuk mendapatkan kartu tanda penduduk (KTP) Sidoarjo itu berhasil menyusup ke Indonesia. ''Yang jelas, kami mencari dia di segala penjuru. Dia kan sudah punya pengalaman di negeri ini,'' tambahnya. Kastari yang lahir di Kendal, Jawa Tengah, 47 tahun silam pernah ditahan di Riau dan Medaeng, Surabaya, akibat memalsukan identitas. Wajah dan aksen bicaranya yang hampir tak bisa dibedakan dengan orang Indonesia kebanyakan membuat dia mudah beradaptasi di Indonesia. Sesudah menjalani masa pidana di Indonesia, Kastari diekstradisi ke Singapura pada 3 Februari 2006. Di sana dia ditahan karena keterlibatannya dengan Jamaah Islamiyah (JI) di bawah Internal Security Act tanpa proses pengadilan. Namun, pada 27 Februari 2008, Kastari yang berjalan pincang karena pernah melompat dari lantai II gedung Polda Riau berhasil melarikan diri dari penjara kelas satu Whitley Road Detention Center. Sejak itu, perburuan Kastari dimulai. Soal Kastari juga disinggung Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira dalam jumpa pers di Mabes Polri kemarin (3/6). Namun, jenderal bintang dua itu tak menyebutkan soal penyusupan Kastari ke Indonesia, melainkan soal keterlibatan Kastari dengan Hasan -sebelumnya ditulis H-, warga Singapura yang dibekuk di Sumatera Selatan (Sumsel). Selama di Indonesia Hasan mengajarkan kemampuan merakit bom kepada orang-orang di Palembang yang berasal dari segala penjuru di Indonesia, termasuk Solo. Salah satu yang mendapatkan pelatihan untuk merakit bom adalah AT alias M, 35, amir Forum Anti Pemurtadan (Fakta) Palembang. Bersama AT, Hasan menjadi pimpinan kelompok teror dan sempat berencana mengebom Kafe Dedudel, Kampung China, Bukit Tinggi, Sumatera Barat. AT juga dituduh polisi terlibat percobaan pembunuhan dan penganiyayan pendeta Joshua di Bandung pada 2005. Dalam catatan koran ini, yang dimaksud dengan pendeta Joshua adalah Joshua A., pendeta gereja ortodoks di Bandung. Modusnya, dia pura-pura dijemput untuk diundang karena ada jemaat yang perlu dikunjungi. Sampai di tengah perjalanan, dia dijerat lehernya, tapi berontak dan lari. Kejadiannya di Lembang, Bandung. Pelakunya, antar lain, Sultan Qolbi alias Asa Dullah alias Arsyad yang telah dipidana di Maluku. "Dari tangan AT kami menyita sepucuk senpi jenis SNW dan enam butir peluru,'' lanjut Abubakar. Tersangka yang lain adalah SG alias S alias R, 22, mahasiswa, dan AM alias Z, 26, seorang buruh penyadap karet. Keduanya tercatat sebagai anggota Fakta dan mendapatkan pelatihan perakitan bom oleh Hasan. Setelah dirakit, bom-bom maut itu disimpan W alias Y alias R, 35, swasta, atas perintah AT. W yang juga anggota Fakta itu terlibat dalam kasus penganiayaan pendeta Joshua. Fakta makin terseret jauh saat AG alias AT alias T, 36, yang sehari-hari berdinas sebagai PNS di Balai Pemasyarakatan Palembang terlibat kasus pendeta Joshua, penyembunyian bom, dan rencana peledakan di Bukit Tinggi. AG dibantu rekannya di Fakta yang lain, yakni Hp alias AH alias H, 25, swasta. Sedangkan AS alias UG, 42, pengasuh sebuah ponpes di Ogan Komering Ilir yang pernah mengeyam ilmu militer di Afghanistan angkatan '87, juga ikut ditangkap polisi karena menyembunyikan Hasan. Bukan hanya dia, guru ponpes tersebut, SA alias AB, 28, juga terseret dalam kasus tersebut. Tersangka yang terakhir ditangkap adalah AMT, 30, seorang guru yang juga anggota Fakta. Sembilan orang di antara sepuluh tersangka kemarin pagi ditransfer ke Rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. Mereka tiba di Rutan sekitar pukul 11.05 WIB dengan iring-iringan tujuh kendaraan, seperti Ford 4WD, dua bus unit warna cokelat, Taft, dan mobil boks. Mereka diberi penutup kepala warna hitam dan matanya dipasang kacamata gurun lensa gelap. Tak cukup, kedua tangannya pun diborgol. Kesembilan orang itu tampak mengenakan pakaian seadanya, seperti kaus dan celana panjang. Sedangkan anggota polisi yang mengawal mengenakan pakaian santai. Beberapa di antara mereka memakai baju antipeluru lengkap dengan senjata laras panjang jenis M 16-A4 dan Steyr Aug A3, serta pistol terpasang di paha. Kepalanya terbalut penutup wajah warna hitam. Usai dikeluarkan dari bus, para tahanan itu digiring ke sel bagian belakang gedung utama Mako Brimob. Polisi akan meneruskan interogasi di sana. Sebab, bahan peledak yang ditemukan di sejumlah lokasi kejadian perkara tergolong berdaya ledak tinggi. Misalnya, empat buah rangkaian elektrik bom pipa. Bukti yang lain adalah sebuah tupperware untuk casing rakitan bom, 50 butir peluru kaliber 38, dan 18 unit CPU. Yang lain adalah 16 buah bom pipa elektronik bahwa 10 di antaranya siap digunakan dan 6 tanpa isi. Selain itu, ada dua kaleng black powder masing-masing berisi 4,3 kg dan 4,8 kg. Selain itu, ada 6 kotak tupperware yang masing-masing berisi 8 detonator buatan siap pakai dan rangkaian elektronik untuk bom. Namun, rangkaian bom itu tidak di-setting untuk pengebom bunuh diri karena dilengkapi timer. Ada yang waktunya di-setting mundur 4 menit, 2,5 menit, dan 3,5 menit. Lalu, bahan penyusun bom yang ditemukan adalah sebungkus plastik yang terdiri atas aluminium powder, potasium nitrat, potasium klorat, campuran karbon dan nitrat, serta urea. Yang lain adalah buku catatan kecil berisi rangkaian elektronik dan berbagai gulungan kabel. "Mereka juga terkait jaringan Nordin M. Top di Jawa Tengah, Semarang, dan Wonosobo," imbuh Abubakar. (jpnn) --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
