Assalamualaikum w.w. Sanak Jupardi dan para sanak sa palanta,
Tarimo kasih ateh kiriman tulisan Sanak tantang Dunia Politik. Memang dunia 
politik kini macam itu nan dipraktekkan urang, yaitu politik sabagai lahan 
bisnis dan sabagai industri, tampek mancari pitih, langkok jo investasi, 
pemasaran, 'success fee', kicuah mangicuah jo nan sarupo tu. Dalam politik 
sabagai lahan bisnis dan industri ko iyo indak ado idealisme, etika, moral, 
amanah, atau hati nurani doh, pokoknyo pitih masuak. Baa akibatnyo politik 
sabagai lahan bisnis ko, kito bacolah koran tiok hari, anggota-anggora DPR, 
DPRD nan ditangkoki KPK, tapi indak ado malu lai, karano tatangkok manyogok 
alah dianggap sabagai 'risiko bisnis' sajo.Sia namo 'pengusaha politik' tu kito 
bacolah koran.
Tapi ado juo politik dalam arti lain, yaitu malaksanakan sungguah amanah urang 
nan mamiliah, mampajuangkan nasib rakyat malalui pambantuakan undang-undang dan 
anggaran negara, mamajukan nagari ko, dan kalau ado pitih, digunokan untuak 
mamajukan rakyat. Kalau ado panyelewengan indak takuik mambongka walau nan 
kanai tu kawan sapartai. Contoh nan mampraktekkan politik sarupo iko ado, 
misalnyo dahulu pak Hatta, pak M. Natsir, atau kudian-kudian ko almarhum 
Sophaan Sophian.
Jadi nan Sanak caliak di Pakanbaru tu nampaknyo 'pangusaha industri politik', 
nan pasti capek kayo sasudah pokok pulang. Bakeh Katua DPRD Surabaya dari PDI P 
-- kini alah salasai manjalani hukuman karano korupsi -- sacaro taruih tarang 
dulu mangatokan: kalau nak kayo, masuaklah partai.
Nah, kito pikiakanlah baa mako alah sapuluah tahun Reformasi, nasib rakyat 
badarai masih co itu juo sadangkan 'pengusaha industri politik' tu batambah 
kayo, dan makin bangkik saleronyonyo untuak mambantuak partai, kalau paralu jo 
mangicuahi urang banyak, nan umumnyo pasif sajo dikicuahi, paliang-paliang 
mangaluah bakapanjangan.


Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, 71 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED]


--- On Mon, 7/7/08, jupardi andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: jupardi andi <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: OOT: PEMILU 2009, URANG AWAK KA MAMILIAH PARTAI 
APO ?
To: [email protected]
Date: Monday, July 7, 2008, 9:58 PM






Pak Syaaf

Ambo mangirim tulisan sajo
nan baru angek ambo buek minggu kapatang
sekedar...manambah2 isi blog ambo
semoga berkenan..salamaik mambaco

---------------------------------------------


DUNIA POLITIK 
Oleh :  Ir. Jupardi


Saya memang cukup banyak kenal dengan teman-teman dari berbagai latar belakang 
pendidikan dan profesi yang terjun di dunia Politik khususnya di Kota 
Pekanbaru. Sejak menjamurnya partai diera Reformasi setelah tumbangnya Orde 
Baru ( Iwan Falls dalam sebuah lirik lagunya tentang Orde Reformasi ini berkata 
"Orde Paling Baru).

Bahkan teman-teman satu alumni saya di Fahutan IPB yang jumlahnya cukup banyak 
di Riau semenjak tumbangnya industri kayu (Baca; HPH) yang berakibat PHK, 
mereka mencoba beralih haluan menjadi Politikus atau minimal aktif dalam sebuah 
Partai, berbagai jabatan yang dipegangnya mulai hanya sekedar aktif di Partai, 
elemen penting organisasi kepemudaan yang merupakan onderbow partai, anggota 
dewan di tingkat pemerintahan kota, atau sekedar heboh sana sini menjelang 
Pilkada sebagai Tim Sukses.

Nah jika kita mau terjun di dunia Politik mau tidak mau kita harus masuk dalam 
jeratan idiom mereka“ Inilah dunia politik tidak ada kawan dan lawan yang abadi 
dan politik itu berubah setiap waktu, yang abadi itu adalah kepentingan”.

Pertanyaan bisakah saya seperti itu, dan harus diingat juga saya bukan 
malaikat, saya hanya seorang manusia sedikit banyak tentunya saya belum bisa 
menahan godaan di glamournya dunia Politik yang penuh gonjang ganjing, sikut 
menyikut, tohok menohok dari belakang, menggunting dalam lipatan dan lain 
sebagainya sesuai dengan Idiom di dunia  partai/politik tersebut.
 
Faktanya jika saya berkumpul dan berdiskusi dengan teman-teman saya yang terjun 
di dunia partai/politik memang begitu, saya mencoba berbaur saja atau sedikit 
sumbang saran bisa saja dalam bentuk taktik dan strategi atau tulisan-tulisan 
untuk pidato  mereka tanpa mengikuti lagak ragam dan gaya mereka dalam 
berpolitik. Hal ini disebabkan "periuk nasi" saya selama ini memang ditopang 
bekerja sesuai dengan latar belakang pendidikan saya di dunia swasta. Tentunya 
saya tidak punya waktu untuk bergerak bebas seperti mereka karena terikat 
dengan segala aturan di Perusahaan (Terutama Jam Kerja)

Paling imbas dari berteman dengan mereka,  saya suka ditraktir makan enak-enak 
disebuah restoran mewah..atau mungkin saja dia sedang mengadakan lawatan ke 
Jakarta atau  studi banding (piknik kali ya)  misalnya ke Hongkong, Singapur 
dan Malaysia biasanya pulang-pulang memberi saya oleh-oleh  berupa souvenir 
cantik semisal pulpen..yang agak mentereng (he..he..he)

Jika saya terjun kedunia politik (ada juga teman yang menyarankan bergabung) 
mau tidak mau saya selama ini  hobby musik Art Rock, Dang Dut,  Pop serta Iwan 
Falls harus membuang jauh-jauh nyanyian tersebut. Setiap hari saya harus 
bernyanyi lagu Vina Panduwinata yang liriknya sedikit dibelokan "Politik...tak 
mengenal Logika"

Seandainya diperjalanan saya menyanyikan lagu Iwan Fals (Baca: Kritik Sosial 
dll) maka saya harus berada diluar dan akan dicibir baik oleh kawan maupun 
lawan. Seandainya juga saya masih memaksakan diri tetap berteriak dengan lagu 
Iwan Falls maka ibaratnya saya berteriak ditengah gurun tandus yang ganas tak 
bertepi, saya akan kehabisan suara, tenggorokan saya perih meradang, tubuh saya 
dehidrasi dan akhirnya saya pingsan serta terkapar di gurun tandus tersebut
 

Berharapan dan berdoalah lewat seorang musafir baik hati dengan ontanya, lalu 
dia memberi seteguk air dan sebutir korma serta  membopong  keatas ontanya lalu 
membawa saya keluar dari Gurun tandus yang gersang dan panas (baca : Dunia 
Politik).

Hidup memang terkadang dihadapkan pada sebuah pilihan, dan kita dipaksa harus 
memilih, tapi semua kembali kepada diri kita mana yang harus kita pilih.
 

Begitulah sedikit ilustrasi saya tentang dunia politik, silahkan kembali pada 
diri sendiri jika kita siap ,  tidak ada salahnya terjun kedunia politik, dan 
kita juga harus siap dengan kondisi serta realitata bangsa kita dalam 
berpolitik dan berdemokrasi. Mungkin ada juga para politikus yang bertahan dan 
berteriak di gurun tandus yang ganas dan  selalu meneriakan kebenaran dan 
kepentingan rakyat tapi orang seperti ini harus  memiliki "ekstra energi" yang 
luar biasa, agar tidak pingsan dan terkapar di gurun tandus yang gersang 
tersebut, Nah ..berapa banyak orang seperti ini di Negeri ini,  entahlah saya 
tidak pernah menghitungnya.


Pku,6 Juli 2008
 
http://jupardi.multiply.com
 


--- On Mon, 7/7/08, Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Dr.Saafroedin BAHAR <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [EMAIL PROTECTED] OOT: PEMILU 2009, URANG AWAK KA MAMILIAH PARTAI APO ?
To: "Rantau Net" <[email protected]>
Date: Monday, July 7, 2008, 11:29 AM







Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
Karano kito urang Minang adolah juo warganegara Indonesia, ambo angkek topik ko 
ka palanta, partai ma nan ka kito piliah ? Ma nan madakeki ABS SBK ?
Artikel pak Salahuddin Wahid no mungkin dapek jadi pambuka ota politik. [Dulu 
kabanyo urang awak ko jago politik. Kini antah baa kolah, nampaknyo 
dingin-dingin sajo, kalau ambo indak salah liek. Wacana kito nampaknyo kini 
bakisa ka nan ketek-ketek ajo. ]
 
Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, 71 th, Jakarta)
Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED]

SUARA PEMBARUAN DAILY  7 Juli 2008.



Perkiraan Peta Politik 2009
Oleh Salahuddin Wahid 
PU belum memutuskan parpol mana yang boleh ikut Pemilu 2009, tetapi tampaknya 
akan lebih banyak jumlahnya daripada peserta Pemilu 2004, lebih dari 30 partai. 
Itu menunjukkan tingginya minat untuk mendirikan parpol di kalangan tokoh 
masyarakat. Contohnya, Wiranto mendirikan Partai Hanura, Prabowo mendirikan 
Gerindra, Sutiyoso membantu sejumlah partai, Harmoko juga. Selain itu, muncul 
beberapa partai sebagai sempalan dari partai lama yaitu Partai Matahari Bangsa 
dan PKNU. 
Tentu timbul pertanyaan sejauh mana prospek sekian banyak partai itu? Partai 
mana saja yang bisa menembus angka pemilih 2,5% dari jumlah pemilih yang 
menggunakan hak suara sehingga bisa dihitung perolehan suaranya? Partai mana 
yang bisa memperoleh kursi di atas 3% sehingga bisa membentuk fraksi di DPR. 
Tentu tidak mudah menjawab pertanyaan itu kalau tidak menguasai peta politik 
Indonesia . 
Peta politik Indonesia dimulai pada pemilu pertama tahun 1955. Saat itu empat 
partai teratas, yaitu PNI, Masyumi, NU, dan PKI, menguasai sekitar 72% kursi 
DPR. Pemilu 1971 sampai 1997 bisa kita abaikan karena pemilunya tidak bebas dan 
rahasia. Era Orde Baru berhasil memunculkan Golkar sebagai kekuatan politik 
yang berarti sampai sekarang. 
Kalau kita kaji secara sederhana, maka PNI menjelma menjadi PDI Perjuangan. 
Masyumi menjelma menjadi PAN, PKS, PBB, dan sebagian ikut PPP. Partai NU 
menjelma menjadi PKB dan sebagian ikut PPP dan Partai Golkar. Kalau pada tahun 
1998 ketika PBNU (baca: Gus Dur) mendirikan partai mengikutsertakan tokoh-tokoh 
NU di PPP dan Partai Golkar, bisa jadi partai yang dibentuk PBNU bagi warga NU 
itu akan mendapat suara terbesar. PPP akan gembos dan pemilih Partai Golkar 
akan berkurang cukup banyak. Tahun 1955 NU memperoleh 18% jumlah suara 
Pemilu 2004 menghasilkan tujuh parpol yang menguasai 85% jumlah kursi, yaitu 
Partai Golkar, PDI-P, PKB, PPP, PD, PKS, dan PAN. Dari tujuh partai itu, 
beberapa mengalami perpecahan. Dari Golkar muncul partai Hanura, dari PDI-P 
muncul PDP, dari PKB muncul PKNU, dari PAN muncul PMB. Dari peta 1955, hanya 
PNI yang relatif masih utuh, walaupun ada PDP dan partai lain dari rahim PNI 
yang sudah ada sejak 1998. 
Partai Golkar adalah tempat berhimpun pengikut Pak Harto, yang merupakan salah 
satu kekuatan politik yang amat berarti. Selain Golkar, mereka juga berhimpun 
di Demokrat, Hanura, dan sejumlah partai lainnya. Tetapi yang bisa menjadi 
fraksi di DPR selain Golkar dan Demokrat, tampaknya hanya Hanura, mungkin masih 
ada satu partai lagi. Yang lain akan rontok. 
Pewaris Masyumi yang masih dekat secara ideologis adalah PKS, yang jelas akan 
bertahan bahkan mungkin meningkat perolehan suaranya. PPP hanya menampung 
sebagian kecil pelanjut pemilih tradisional Masyumi. PAN dan PMB akan 
memperebutkan suara warga Muhammadiyah, walaupun PAN sudah mencoba memperluas 
wilayah pemilih. Tampaknya keduanya akan menembus batas 2,5% jumlah pemilih dan 
menjadi fraksi kecil atau menengah di DPR. PBB masih belum jelas apakah bisa 
menembus batas 2,5% jumlah suara. 
Pewaris suara pemilih NU adalah PKB, PKNU, PPP, serta Golkar. PKB jelas akan 
me- nurun suaranya akibat konflik internal, tetapi akan tetap bertahan sebagai 
fraksi me-nengah kalau didukung Gus Dur. Kalau Gus Dur tidak mendukung, PKB 
bisa men- jadi fraksi kecil di DPR. PKNU belum jelas prospeknya dan belum tentu 
akan menjadi fraksi di DPR. PPP akan tetap bertahan menjadi fraksi menengah di 
DPR. 
Dari keempat partai utama Pemilu 1955, masih menjadi teka-teki ke mana para pe- 
milih PKI pada Pemilu 1955 akan menyalurkan suaranya? Pada tahun 1999, mereka 
memilih PDI-P sehingga partai itu menjadi pemenang per- tama. Tampaknya dalam 
Pemilu 2004, banyak dari mereka yang tidak puas terhadap PDI-P dan menjadi 
golput, sehingga suara PDI-P merosot tajam. Ke mana mereka akan menyalurkan 
suaranya pada 2009? Mereka pasti tidak akan memilih Partai Golkar dan partai 
sempalannya. Apakah akan memilih kembali PDI-P? Tampaknya tidak karena PDI-P di 
mata mereka tidak lagi memperjuangkan kepentingan rakyat kecil. Kalau Partai 
Buruh bisa menjadi peserta pemilu, tampaknya mereka akan memilihnya. Tapi itu 
tidak berarti bahwa Partai Buruh itu identik dengan PKI, karena partai itu 
berasas Pancasila dan memperjuangkan gagasan negara kesejahteraan dan tidak 
anti-agama. 
Partai Akan Terpangkas 
Dari sekilas analisis di atas, partai yang akan bisa mempunyai fraksi di DPR RI 
tidak akan lebih dari sepuluh, bahkan mungkin kurang dari itu. Pendiri dan 
aktivis partai yang sekian banyak itu sama sekali tidak memperhatikan peta 
politik 1955, 1999, dan 2004, sehingga mereka tidak sadar bahwa kursi yang 
diperebutkan sekitar hampir 30 partai itu hanya sekitar 20% dari jumlah kursi. 
Mereka terlalu yakin bahwa pemilih akan memilih partai mereka sehingga ada yang 
tidak jera ikut dalam pemilu sejak 1999. 
Jumlah fraksi sekitar 10 juga masih terlalu banyak, karena itu harus dilakukan 
peningkatan batas perolehan suara untuk bisa menjadi fraksi. Angka 3% itu perlu 
di tingkatkan menjadi 6% dan akhirnya 15%. Dengan langkah itu, diharapkan hanya 
akan ada 4 atau 5 fraksi. Diharapkan dalam Pemilu 2019 batas minimal 15% itu 
tercapai. 
Pemilihan presiden hanya akan diikuti oleh dua peserta sehingga hanya perlu 
pilpres satu putaran. Posisi partai oposisi dan partai pemerintah juga menjadi 
jelas dan tegas, tidak seperti sekarang. Diharapkan, kehidupan politik 
Indonesia akan menjadi sehat dan partai betul-betul bekerja untuk kepentingan 
pemilih (rakyat) dan negara, bukan untuk kepentingan partai dan tokohnya. 
Bagaimana masyarakat dan media bisa mengawal upaya penyederhanaan partai 
seperti diuraikan dalam alinea di atas, bisa dijalankan? Kalau partai politik 
masih meneruskan perilakunya yang lebih mementingkan parpol dan para tokohnya, 
jangan heran kalau angka golput akan sangat tinggi. 
Penulis adalah Pengasuh Pesantren Tebuireng. 



Last modified: 7/7/08








      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke