Transformasi Nilai-nilai Budaya Minangkabau 

 

Minggu, 15 Juni 2008 

Setuju atau tidak, proses transformasi nilai dan budaya itu dilakukan
melalui proses pendidikan. Pendidikan merupakan sarana dalam
pengembangan dan pemeliharaan kebudayaan. Melalui pendidikan dilakukan
suatu aktifitas pentransformasian atau penurunan kebudayaan. Dengan
sendirinya akan meretas segala bentuk ketidaktahuan terhadap nilai-nilai
budaya. Masyarakat yang terdidik akan melahirkan masyarakat yang
berbudi. 

Bebicara tentang budaya, di Minangkabau tidak akan bisa lepas dari
membicarakan adat, syarak dan seni. Pada kata adat mengandung kearifan,
terkait habbluminannas. Karena adat merupakan strata yang menata hidup
dan kehidupan suatu masyarakat dalam bingkai humanisasi atau
kemanusiaan. Dengan adat masyarakat Minangkabau menjadi masyarakat yang
memiliki landasan dan pijakan dalam mengeksisitensikan diri di tengah
kehidupan bersosial. 

Strata-strata adat manata dan memanajemen baik secara pribadi maupun
secara kolektif di tengah kehidupan bermasyarakat. Sehingga adanya suatu
rasa untuk menghargai keberadaan orang lain. Pengaplikasian ini salah
satunya dengan menjalankan suatu aturan dalam berkomunukasi dan
berinteraksi yang sopan. Dengan menggunakan kata yang empat: 

Satu,  kata mendatar yaitu bahasa yang dipilih dan digunakan untuk
berkomunikasi dengan seusia. Dua,  kata mendaki, merupakan pilihan kata
yang digunakan dalam berkomunikasi dengan orang yang usianya lebih
tinggi atau orang dihargai seperti kepada seorang guru. Tiga, kata
menurun, penggunaan bahasa yang sopan dan penuh kasih sayang kepada
seseorang yang usianya lebih kecil. Empat, kata melereng, digunakan
dalam berkomunikasi antara orang yang saling menghargai. Seperti pilihan
kata yang digunakan seorang mertua kepada menantunya. 

Jika transformasi nilai-nilai ini berlaku dengan baik dalam masyarakat
Minangkabau, diharap mampu teraplikasi dengan ideal. Tentunya tidak akan
ada kesenjangan dan ketidakarifan dalam kehidupan masyarakat. Maka
transformasi adat yang dilakukan oleh golongan tua (baca: guru) kepada
generasi muda bisa dikatakan berhasil. 

Sementara itu syarak menekankan kepada pengimplementasian hubungan yang
bersifat vertikal habblumminallah. Syarak menata menusia dalam
menjalankan agama. Sebagai bentuk suatu proses menuju jalan kebenaran
yaitu jalan Allah. Kebenaran-kebenaran syarak ditarik dari kitabullah
dan sunatullah. Pada proses pengaktualisasian nilai-nilai dari syarak
pada dasarnya tidak ada kekuasaan manusia untuk melakukan suatu
perubahan. Karena kebenaran dari syarak itu bersifat mutlak karena
diturunkan lansung oleh Allah SWT. 

Namun yang akan menjadi perhatian bagi masyarakat Minangkabau yaitu yang
terkait dengan suatu aktifitas syarak yang sifatnya berjamaah. Seperi
shalat berjamaah, penyelanggaraan jenazah dll. Tetapi syarak yang
terkait dengan ritual keagaan yang bersifat pribadi, itu merupakan
kewajiban dan tanggung jawab pribadi pula terhadap Ilahirobbi. 

Di dalam melakukan proses transpormasi adat dan syarak di Minangkabau
lebih banyak dilakukan di surau. Surau sebagai salah satu tempat yang
menjadi pusat pendidikan di Minangkabau, memiliki suatu sistem yang
tidak kaku. Sehingga di surau tidak hanya mempelajari agama (syarak) dan
adat. Lebih dari itu, surau juga merupakan salah satu sarana tempat
berkesenian. Para guru di surau tidak hanya menjadi seorang pengajar,
namun ia adalah seorang pendidik. 

Generasi muda di bentuk menjadi generasi islami yang sopan dan tangguh.
Keislamian seorang murid diperoleh melalui proses dari pemerolehan
pengetahuan tentang agama yang kemudian mampu di jiwanya dan
diimplementasikan dalam keseharian. 

Terkait dengan kata dan makna "tangguh" di atas, lahir dari pemikiran
bahwa sebagai generasi Minangkabau terutama laki-laki dituntut mampu
menguasai seni tradisi silat. Pemilihan kata tangguh bukan hanya karena
silat merupakan suatu seni bela diri yang bersifat pertarungan fisik.
Namun pada silat menyimpan suatu kearifan roh kelektif. Karena silat
tidak hanya terkait tentang pergulatan realitas fisikli. Sebagai roh
kolektif, silat merupakan seni bela diri yang mengutamakan pertahanan,
perlindungan diri. Ia sebagai sarana dalam berhubungan dengan orang
lain. Silat sangat menjunjung tinggi falsafah sosiokultural dan kolektif
dalam bersopan santun. 

Generasi muda (baca: murid) tidak hanya dilatih  untuk mampu bersilat
secara fisikli. Namun ia juga dibekali dengan dua silat lainnya yaitu
bersilat lidah dan bersilat batin. Pada dasarnya katiga silat ini
merupakan satu kesatuan yang utuh, ia merupakan lingkaran setan yang
seharusnya tidak terputus. Dengan penguasaan dari ketiga silat inilah
yang akan melahirkan adanya silaturrahmi dan saling menghargai di tengah
masyarakat. 

Dengan berfungsinya surau sebagai salah satu sarana transpormasi syarak
dan seni di Minangkabau tradisional telah melahirkan generasi islami,
berbudi dan tangguh. Hal ini tentunya merupakan suatu bentuk dari
keberhasilan proses transpormasi pendidikan di Minangkabau tradisional.
Keberhasilan yang ideal itu ternyata telah tertinggalkan jauh. Adanya
perubahan-perubahan yang bersifat adopsi dan adaptif telah memudarkan
pemahaman masyarakat terhadap adat, syarak dan seninya sendiri. Kondisi
ini telah menggiring masyarakat untuk menghindar dari jati dirinya
sendiri. 

Memahami kondisi seperti ini, arifnya tentu tidak menyalahkan apa siapa.
Karena di tengah masyarakat kita telah mengenal dengan adigium: "sakali
aia gadang, sakali tapian barubah, nan aia ka hilia juo. Sakali balega
gadang, sakali aturan batuka, nan adaik baitu juo." Maksudnya adalah
bahwa kita tidak boleh menutup mata atas akan terjadinya
perubahan-perubahan dalam menjalankan kehidupan. 

Karena banyaknya pengaruh-pengaruh dari luar. Namun betapapun besarnya
pengaruh itu dan betapapun besarnya akibat yang ditimbulkan pengaruh
itu. Seperti adanya perubahan dalam menjalankan suatu sistem. Namun jati
diri Minangkabau tidak akan pernah pudar apalagi hilang. 

Kondisi inilah sebenarnya yang sedang dihadapi masyarakat Minangkabau
saat ini. Di mana adanya pergeseran-pergeseran pemahaman dari
nilai-nilai kebudayaan yang berdampak kepada pergeseran aktualisasi
kebudayaan. Tetapi adat Miangkabau yang ideal tidak akan pernah berubah
"nan adaik Baitu juo". Jadi, bagaimanapun kondisi keberbudayaannya
masyarakat Minangkabau saat ini itu merupakan kesenjangan masyarakat
dalam mengaplikasikan hidup berbudaya. Bukan karena adanya perubahan di
dalam adat. Tetapi perubahan dalam menjalankannya. 

Sebagai manusia yang berfikir, masyarakat Minangkabau tentu tidak akan
bisa menghindar dari segala bentuk perubahan, karena manusia dan
kebudayaan itu bersifat dinamis. Ketidak mampuan manyaring budaya
(filterisasi kultural) yang ditawarkan oleh budaya luar lah yang
menimbulkan degradasi dan kepudaran implementasi adat, syarak dan seni
di Minangkabau. 

Satu wacana yang sangat positif  tentunya atas kegencaran masyarakat
Minangkabau dalam mempertanyakan, mendiskusikan dalam seminar-seminar,
mengkritik, bahkan mencaci (barangkali) dari keeksistensian budaya
Minangkabau saat ini. Semua bentuk ekspresi dari gejolak-gejolak ini
merupakan suatu bentuk adanya perhatian dan kepedulian atas kehidupan
budaya Minangkabau tersebut dari masyarakatnya saat ini. Semakin banyak
masyarakat yang memperhatikan keeksistensian budaya ini berati semakin
adanya kegamangan masyarakat atas ketertimbunan budaya Minangkabau
(syarak, adar, seni) atas moral modernisme yang negatif. 

Dengan meminjam bahasanya Musa Ismail saya mencoba mengangkat batang
tarandam dengan "memartabatkan" budaya Minangkabau. Kata dan makna
"memertabatkan"  bukan berarti selama ini budaya Minangkabau itu tidak
bermartabat. Yang namanya konsep budaya Miangkabau akan tetap seperti
apa adanya. Namun yang menjadi pemikiran di sini adalah sebagian besar
masyarakat Minangkabau saat ini tidak lagi mengeksistensikan diri
sepenuhnya dalam kancah budaya. Sehingga melahirkan suatu budaya baru
yang merupakan hasil dari kolaborasi budaya yang tendensius dengan
budaya modern. 

Pada dasarnya kolaborasi ini kemudian melahirkan budaya kontemporer akan
menjadi perfek bila masyarakat Minangkabau mampu memilih nilai-nilai
yang positif tanpa menyingkirkan " memarjinalkan" budaya sendiri. Dahan
boleh berganti, asal akar tetap menghujam bumi. Maka itulah yang di
sebut dengan jati diri.(Novi Yulia) 

 

(c) 2008 PADANG EKSPRES - Koran Nasional Dari Sumbar


The above message is for the intended recipient only and may contain 
confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are 
not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, 
distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly 
prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by 
reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the 
message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank 
you.


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke