Waalaikum salam WR WB bapak saaf. Menurut hanifah peranan ayah dan ibulah yang
sangat berpengaruh thdp anak. Mungkin bapak bisa adakan penelitian atau
lokakarya dengan topik sesuai subjek bapak. Biar jawaban bisa mewakili, tentu
di buat perkasus. Kasus wanita yg jd nyonya besar, kasus wanita yang jadi
pejabat tenar, kasus wanita yang jadi tumpuan keluarga dll. Dari pengalaman
hanifah sendiri, karena dekat kepapa, ya papa yg lebih dominan. Trus sebagai
ibu, hanifah masih berjuang, hasilnya belum tau. Si uda lebih dekat ke anak2.
Malah waktu anak2 bayi , si uda yang memandikan. Hanifah takut memegang bayi.
Ketika anak2 berumur 4 tahun, mereka masuk TPA dan mereka aktif di RISMA. si
ijul hanifah kirin kuliah di TAZKIA punya syafei antonio supayo ilmu ekomi
dapek, agamono bagus, bakat nyanyi nasyid tersalur. Alhamdulillah balakangan
ijul jd aktivis kampus nan malang malintang di jabotabek. Tapi namo digantino
jadi fauzul rahman. Nama samaran katanya. Mungkin
bapak bisa bercerita bgm anak2 bapak bisa berhasil semuanya. Seberapa besar
dan bgm cara ibu mendidik ke sebelas anak2 bapak yang jadi semuanya. Maaf kalau
ada yang tidak berkenan. Wass. Hanifah
Dr.Saafroedin BAHAR wrote:
> Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
> Saya kirimkan karangan Prof Rahmiana Zein di bawah ini sebagai tanda setuju
> penuh dengan pendapat beliau tentang besarnya peranan perempuan [baca:ibu]
> dalam mendidik anak-anak. Pendapat beliau selaras sepenuhnya dengan ajaran
> islam bahwa surga ada di bawa telapak kaki Ibu.
> Sehubungan dengan wacana kita tentang Ranah kita tercinta ada dua hal yang
> teringat oleh saya: 1) apakah demikian banyak masalah sosial yang kita
> hadapi di Ranah karena kita belum memberikan peranan yang selayaknya kepada
> kaum perempuan, selain secara administratif dalam penyusunan ranji dan secara
> figuratif sebagai 'limpapeh rumah nan dagang' ? 2) apakah yang harus kita
> lakukan agar peranan kaum perempuan Minang menjadi lebih besar lagi dalam
> membentuk pribadi orang Minang ?
> Bagaimana jawabnya ini Nanda Hanifah, Rahimah, dan para netters lainnya dari
> kalangan perempuan ?
> Wassalam, Saafroedin Bahar
> (L, 71 th, Jakarta)
> Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED]
> Perempuan dan Pembentukan Keperibadian
>
> Padang Ekspres, Rabu, 09 Juli 2008
> Oleh : Rahmiana Zein, Guru Besar Unand, Sekarang Bertugas di Tokyo
> Kegelisahan seorang St Zaili Asril, tentang arah pendidikan di Sumatera Barat
> (Padang Ekspres, Rabu 2 Juli 2008), sesungguhnya juga mencerminkan
> kegelisahan kita semua, rakyat Sumatera Barat baik yang berada di daerah
> maupun yang sedang berada di rantau orang. Merosotnya nilai kelulusan para
> anak didik, jumlah pengguna narkoba yang terus meningkat, maupun perilaku
> tawuran yang semakin memperihatinkan sesungguhnyalah menunjukkan ada sesuatu
> yang tidak berjalan dengan semestinya dalam sistim pendidikan di Ranah
> Minang. Untuk urusan anggaran pendidikan, kita boleh berbangga hati adanya
> perhatian yang tinggi dari para eksekutif dan legislatif,
> sehingga angka target 20 persen tidak begitu sulit dicapai.
> Tetapi untuk urusan prestasi anak didik kelihatannya masih jauh dari
> harapan. Membentuk pribadi anak didik tidaklah bisa disulap dalam 1 atau 2
> tahun, prestasi dalam bidang pendidikan tidaklah bisa diperoleh atau
> diburukan sebagaimana prestasi-prestasi yang amat sering diperoleh oleh para
> bupati dan wali kota di Sumatera Barat yang entah berapa kali setahun
> menerima segala macam anugerah dan segala macam tropi, namun untuk urusan
> pendidikan kita tertinggal jauh dibandingkan rekan-rekan mereka di pulau Jawa
> sana.
> Dari pengamatan kami selama bertugas di Tokyo , hampir sebahagian besar para
> siswa SMA atau pun SMP yang datang diundang ke Jepang berasal dari Pulau
> Jawa. Untuk contoh dari 300 siswa SMA peserta program Jenesys yang diundang
> ke Jepang hanya 2 orang yang berasal dari Sumatera Barat.
> Memperihatinkan memang. Dan kalau pun ada rata-rata yang diundang pun hanya
> dari SMA tertentu saja. Kepribadian anak didik yang cukup memprihatinkan
> karena kurangnya pengajaran budi pekerti atau didikan taat pada aturan sejak
> mereka kecil, rasa malu ketika melanggar aturan sama sekali tidak ditanamkan
> sedari mereka kecil. Atau dalam istilah Mahyeldi Ansharullah, Wakil Ketua
> DPRD Sumbar (Padang Ekspres, Sabtu 5 Juli 2008), kurang tertanamnya nilai
> nilai ajaran agama yang diterima oleh para anak didik.
> Untuk itu diperlukan kurikulum terpadu yang memadukan antara nilai-nilai
> umum dengan nilai-nilai agama dalam setiap mata pelajaran. Setiap ilmu yang
> dipelajari dipadukan dengan ajaran agama masing-masing. Lalu untuk mendidik
> keperibadian anak apakah harus bergantung pada para guru saja? Ternyata untuk
> urusan mendidik keperibadian anak ibulah yang paling berperan besar. Untuk
> itu tidak ada salahnya kita melirik ke Jepang bagaimana betul para ibu
> berperan dalam pendidikan keribadian anak anak mereka.
> Dari hasil penelitian Tony Dickensheets, seorang pendidik Amerika di
> Charlottesville , Virginia . Ternyata unsur kunci dari economic miracle
> Negara Sakura ini adalah peran kyoiku mama atau pendidikan mama. Dengan kata
> lain, pertumbuhan ekonomi Jepang yang luar biasa sejak 1960, bukanlah hanya
> merupakan hasil kebijakan pemerintah melalui pekerja yang bersedia bekerja 16
> jam per hari. Tetapi juga peran para istri yang bertanggung jawab atas
> pendidikan anak-anak mereka.
> Dalam kapasitas sebagai ibu inilah para istri membaktikan hidupnya demi
> kepastian keturunan mampu memasuki sekolah-sekolah bermutu. Kerja dan
> pengaruh perempuan Jepang dapat dilihat dalam jalannya pendidikan nasional
> dan stabilitas sosial, yaitu dua hal yang sangat krusial bagi keberhasilan
> ekonomi sesuatu bangsa.
> Jadi, perempuan Jepang ternyata berperan positif dalam membina dan
> mempertahankan kekukuhan fondasi pendidikan dan sosial yang begitu vital bagi
> kinerja kebangkitan ekonomi bangsanya. Ketika saya sebagai ketua komite
> sekolah RI di Tokyo meninjau berbagai lembaga pendidikan dasar, menengah, dan
> tinggi negeri ini, saya kagum melihat kebersihan ruang laboratorium di
> sekolah umum dan bengkel praktik di sekolah kejuruan teknik.
> Semua murid membuka sepatu sebelum memasuki ruangan dan menggantinya dengan
> sandal jepit atau sepatu khusus untuk dalam ruangan belajar yang sudah
> tersedia di rak dekat pintu, jadi lantai tetap bersih bagai kamar tidur.
> Ketika saya tanyakan kepada guru yang mengajar di situ bagaimana cara
> mendisiplinkan murid hingga bisa tertib, dia menjawab, “Saya hampir tidak
> berbuat apa-apa dalam hal ini. Ibu-ibu merekalah yang telah mengajar
> anak-anak berbuat begitu.”
> Saya teringat sebuah kebiasaan di rumah tradisional Jepang, alih-alih
> menyapu debu di lantai, mereka masuk rumah tanpa bersepatu/bersandal agar
> debu tidak masuk rumah. Bagi mereka, kebersihan adalah suatu kebajikan.
> Sekarang mari kita coba lihat sekolah sekolah mulai dari TK , SD sampai PT,
> sampai pada berserakan, tidak ada kedisiplinan sama sekali, karena tidak
> ditanamkan rasa kebersihan sejak kecil.
> Lebih daripada di negeri-negeri lain, kelihatannya sistem pendidikan dan
> kebudayaan Jepang mengandalkan sepenuhnya peran perempuan dalam membesarkan
> anak. Karena itu dipegang teguh kebijakan ryosai kentro (istri yang baik dan
> ibu yang arif), yang menetapkan posisi perempuan selaku manajer urusan rumah
> tangga dan perawat anak-anak bangsa. Sejak dulu filosofi ini merupakan bagian
> dari mindset Jepang dan menjadi kunci pendidikan dari generasi ke generasi.
> Yang memantapkan itu adalah kesadaran para ibu Jepang sendiri. Mereka
> menilai diri sendiri dan, karena itu, dinilai oleh masyarakat berdasar
> keberhasilan anak-anaknya, baik sebagai warga, pemimpin, maupun pekerja.
> Banyak perempuan Jepang menganggap anak sebagai ikigai mereka, rasionale
> esensial dari hidup mereka. Setelah menempuh sekolah menengah, kebanyakan
> perempuan Jepang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
> Jika di Barat ada anggapan perempuan berpendidikan akademis yang melulu
> tinggal di rumah membesarkan anak sebagai wasting her talents, di Jepang
> orang percaya, seorang ibu seharusnya berpendidikan baik dan berpengetahuan
> cukup untuk bisa memenuhi tugasnya sebagai pendidik anak-anaknya.
> Kalaupun ada ibu yang mencari nafkah, biasanya bekerja part time agar bisa
> berada di rumah saat anak-anak pulang sekolah. Tidak hanya untuk memberi
> makan, tetapi lebih-lebih membantu mereka menyelesaikan dan menguasai PR dan
> atau menemani mengikuti pelajaran privat demi penyempurnaan pendidikannya.
> Jadi bagaimanapun perempuan berperan besar dalam mendidik dan membentuk
> kepribadian anak. Sesibuk apapun para perempuan, sebaiknyalah jangan berikan
> urusan pendidikan anak semua pada pembantu. Sudah seharusnya retorika atau
> kebanggaan dulu Sumatera Barat gudangnya para pemikir, ditinggalkan, saatnya
> berbuat nyata bukan hanya sekedar berwacana. Wassalam. ***
>
>
>
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---