Assalamualaikum w.w. Pak Abraham, Ananda Hanifah, dan para sanak sa palanta, Saya ingin sekali membaca disertasi Bambang Rustanto tersebut. Isinya mengukuhkan apa yang sudah lama kita saksikan selama ini, yaitu bahwa posisi perempuan di Minangkabau tidaklah se sentral seperti yang kita duga. Disertasi Prof Keebet von Benda-Beckmann dulu juga menyimpulkannya demikian. Saya ingin agar peran kaum Bundo Kanduang kita ini tak sekedar 'limpapeh', tapi benar-benar menjadi mama mia yang didengar pendapatnya. Saya percaya bahwa dengan posisi yang lebih kuat itulah kaum Ibu Minangkabau ini benar-benar akan membentuk kepribadian putra puterinya yang lebih andal.
Wassalam, Saafroedin Bahar (L, 71 th, Jakarta) Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED] --- On Thu, 7/10/08, Abraham Ilyas <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Abraham Ilyas <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: BAGAIMANA MENINGKATKAN PERANAN PEREMPUAN MINANG DALAM PEMBENTUKAN PRIBADI ? To: [email protected] Date: Thursday, July 10, 2008, 11:57 AM Sidang Palanta nan dihormati khususnya untuk Kmd, Hanifah Daman. Meskipun artikel ini tidak berjudul PERANAN PEREMPUAN MINANG DALAM PEMBENTUKAN PRIBADI tapi berita di bawah ini mungkin dapat menambah pengetahuan kita juga. Ambo copykan berita nan dikutip dari Kompas 4 Juli 2008 dgn ScansoftOmniPage sehingga kolomnya berubah, dgn judulnya juga diubah. Dan tidak seluruh artikel disalin, harap dimaklumi ! Peranan keterwakilan Bundo kanduang di nagari Kamang Hilia. Karena itu, menarik menyimak hasil penelitian Bambang Rustanto tentang dampak perubahan struktur pemerintahan lokal terhadap posisi perempuan dalam masyarakat di Vizhinjam Grama Panchayati Raj, Kerala, India, dan di Nagari Kamang Hilir, Sumatera Barat. Penelitian untuk disertasi doktor di Program Pascasarjana Departemen Sosiologi FISIP Universitas Indonesia itu diuji akhir Juni lalu di kampus UI Depok dengan yudisium sangat memuaskan Politik kehadiran Baik di Kamang Hilir maupun di Kerala, perubahan struktur pemerintahan yang memastikan perempuan turut serta dalam pengambilan keputusan berpengaruh positif pada akses perempuan atas keputusan desa. Suara perempuan, bahkan yang bersifat privat, menurut Bambang, dapat disuarakan di dalam majelis rakyat desa (village council/VC) di Kerala dan di Kamang Hilir. Di Kerala aturan Negara Bagian Kerala Nomor 13 Tabun 1994 menetapkan kuota 33 persen untuk perempuan di VC, sedangkan di Sumatera Barat Peraturan Daerah Nomor 9 Tabun 2000 tentang Ketentuan Pokok Pemerintahan Daerah, secara tegas menyebut 25 persen perwakilan perempuan di Badan Perwakilan Rakyat Nagari (BPRN). Aturan tersebut menjamin kehadiran fisik perempuan di ranch politik, yang disebut Bambang, dengan mengutip pandangan Anne Philips, sebagai politik kehadiran (politic of presence). Philips meyakini, masuk‑ Tokenisme Bambang menemukan, baik di Kerala maupun di Kamang Hilir, perubahan struktur pemerintahan memungkinkan kehadiran perempuan secara deskriptif dan substantif. Di Kamang Hilir, misalnya, persoalan personal, seperti hak ulayat tanah, dapat muncul ke ruang publik. Meskipun demikian, keterwakilan tersebut belum berkembang maksimal. Menurut Bambang, relasi tak seimbang antara perempuan dan laki-laki menyebabkan peran perempuan di struktur politik desa itu mengalami pembatasan. Pembatasan partisipasi itu antara lain berwujud sebagai tokenisme, yaitu perempuan hadir dalam proses pengambilan keputusan di lembaga VC atau BPRN, tetapi tujuannya hanya untuk menunjukkan kredibilitas dan eksistensi lembaga, sedangkan pusat kekuasaan lokal tetaplah laki-laki. Kehadiran itu juga masih sebatas pretence, yaitu perempuan diminta mengemukakan serta memperjuangkan kebutuhan dan permasalahan perempuan, tetapi laki-laki menganggap usulan perempuan sebagai hal biasa, kurang mendapat perhatian. Decoration, yaitu perempuan hadir dalam pengambilan keputusan lokal dan berbicara dengan berbagai pihak dalam pemerintahan lokal, tetapi di balik semua itu tetap laki-laki yang menjadi penguasa. Dan, bersifat mouthpiece, yaitu laki-lakilah yang mengarahkan dan melatih perempuan berbicara di ruang publik dan kadang kala juga mengambil alih pembicaraan perempuan. Hasil penelitian Bambang Rustanto yang dibimbing Prof Dr Paulus Wirutomo dan Ery Seda, PhD itu memperlihatkan, kehadiran fisik perempuan tidak serta akan menyelesaikan kebutuhan dan masalah perempuan yang praktis ataupun strategis, terutama ketika menyangkut otonomi perernpuan dalam pengambilan keputusan. Menurut Ery Seda dan Dr Kristi Poerwandari sebagai penguji, konsep Anne Philipis tentang politic of presence penting bagi perempuan, tetapi saat ini perempuan di DPR baru berada pada aspek deskriptif. Kehadirannya baru sebatas memenuhi kuota 30 persen, belum memberi pengaruh substansial terhadap proses dan pengambilan keputusan politik di lembaga tersebut. Dalam kasus Sumatera Barat, Ery bahkan melihat budaya lokal masih mengajarkan perempuan untuk diam dan patuh pada putusan ninik mamak yang kebanyakan laki-laki dalam sistem matriarkat, di mana pewarisan pusaka keluarga melalui garis ibu. Situasi di Kerala agak berbeda karena organisasi dan gerakan perempuannya sangat kuat. "Parpol berperan penting di sini. Perekrutan caleg bukan hanya mementingkan jumlah perempuan, melainkan juga perempuan yang mengerti dan menyuarakan masalah dan kebutuhan perempuan," kata Ery. Untuk masalah pembangunan nagari di Ranah Bundo/tempat, dimana kaum perempuan diempukan, dengan permasalahannya, ambo berwacana di: http://www.nagari.or.id/?moda=bagun&id=ag22 atau di http://www.nagari.org/url.php?http=ag22.nagari.org silakan klik. Wassalam Abraham Ilyas 63 Webmaster/admin.. --- On Wed, 7/9/08, hanifah daman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: hanifah daman <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: BAGAIMANA MENINGKATKAN PERANAN PEREMPUAN MINANG DALAM PEMBENTUKAN PRIBADI ? To: "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]> Cc: "[email protected]" <[email protected]> Date: Wednesday, July 9, 2008, 10:19 PM Waalaikum salam WR WB bapak saaf. Menurut hanifah peranan ayah dan ibulah yang sangat berpengaruh thdp anak. Mungkin bapak bisa adakan penelitian atau lokakarya dengan topik sesuai subjek bapak. Biar jawaban bisa mewakili, tentu di buat perkasus. Kasus wanita yg jd nyonya besar, kasus wanita yang jadi pejabat tenar, kasus wanita yang jadi tumpuan keluarga dll. Dari pengalaman hanifah sendiri, karena dekat kepapa, ya papa yg lebih dominan. Trus sebagai ibu, hanifah masih berjuang, hasilnya belum tau. Si uda lebih dekat ke anak2. Malah waktu anak2 bayi , si uda yang memandikan. Hanifah takut memegang bayi. Ketika anak2 berumur 4 tahun, mereka masuk TPA dan mereka aktif di RISMA. si ijul hanifah kirin kuliah di TAZKIA punya syafei antonio supayo ilmu ekomi dapek, agamono bagus, bakat nyanyi nasyid tersalur. Alhamdulillah balakangan ijul jd aktivis kampus nan malang malintang di jabotabek. Tapi namo digantino jadi fauzul rahman. Nama samaran katanya. Mungkin bapak bisa bercerita bgm anak2 bapak bisa berhasil semuanya. Seberapa besar dan bgm cara ibu mendidik ke sebelas anak2 bapak yang jadi semuanya. Maaf kalau ada yang tidak berkenan. Wass. Hanifah Dr.Saafroedin BAHAR wrote: > Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta, > Saya kirimkan karangan Prof Rahmiana Zein di bawah ini sebagai tanda setuju penuh dengan pendapat beliau tentang besarnya peranan perempuan [baca:ibu] dalam mendidik anak-anak. Pendapat beliau selaras sepenuhnya dengan ajaran islam bahwa surga ada di bawa telapak kaki Ibu. > Sehubungan dengan wacana kita tentang Ranah kita tercinta ada dua hal yang teringat oleh saya: 1) apakah demikian banyak masalah sosial yang kita hadapi di Ranah karena kita belum memberikan peranan yang selayaknya kepada kaum perempuan, selain secara administratif dalam penyusunan ranji dan secara figuratif sebagai 'limpapeh rumah nan dagang' ? 2) apakah yang harus kita lakukan agar peranan kaum perempuan Minang menjadi lebih besar lagi dalam membentuk pribadi orang Minang ? > Bagaimana jawabnya ini Nanda Hanifah, Rahimah, dan para netters lainnya dari kalangan perempuan ? > Wassalam, Saafroedin Bahar > (L, 71 th, Jakarta) > Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED] > Perempuan dan Pembentukan Keperibadian > > Padang Ekspres, Rabu, 09 Juli 2008 > Oleh : Rahmiana Zein, Guru Besar Unand, Sekarang Bertugas di Tokyo Kegelisahan seorang St Zaili Asril, tentang arah pendidikan di Sumatera Barat (Padang Ekspres, Rabu 2 Juli 2008), sesungguhnya juga mencerminkan kegelisahan kita semua, rakyat Sumatera Barat baik yang berada di daerah maupun yang sedang berada di rantau orang. Merosotnya nilai kelulusan para anak didik, jumlah pengguna narkoba yang terus meningkat, maupun perilaku tawuran yang semakin memperihatinkan sesungguhnyalah menunjukkan ada sesuatu yang tidak berjalan dengan semestinya dalam sistim pendidikan di Ranah Minang. Untuk urusan anggaran pendidikan, kita boleh berbangga hati adanya perhatian yang tinggi dari para eksekutif dan legislatif, > sehingga angka target 20 persen tidak begitu sulit dicapai. > Tetapi untuk urusan prestasi anak didik kelihatannya masih jauh dari harapan. Membentuk pribadi anak didik tidaklah bisa disulap dalam 1 atau 2 tahun, prestasi dalam bidang pendidikan tidaklah bisa diperoleh atau diburukan sebagaimana prestasi-prestasi yang amat sering diperoleh oleh para bupati dan wali kota di Sumatera Barat yang entah berapa kali setahun menerima segala macam anugerah dan segala macam tropi, namun untuk urusan pendidikan kita tertinggal jauh dibandingkan rekan-rekan mereka di pulau Jawa sana. > Dari pengamatan kami selama bertugas di Tokyo , hampir sebahagian besar para siswa SMA atau pun SMP yang datang diundang ke Jepang berasal dari Pulau Jawa. Untuk contoh dari 300 siswa SMA peserta program Jenesys yang diundang ke Jepang hanya 2 orang yang berasal dari Sumatera Barat. > Memperihatinkan memang. Dan kalau pun ada rata-rata yang diundang pun hanya dari SMA tertentu saja. Kepribadian anak didik yang cukup memprihatinkan karena kurangnya pengajaran budi pekerti atau didikan taat pada aturan sejak mereka kecil, rasa malu ketika melanggar aturan sama sekali tidak ditanamkan sedari mereka kecil. Atau dalam istilah Mahyeldi Ansharullah, Wakil Ketua DPRD Sumbar (Padang Ekspres, Sabtu 5 Juli 2008), kurang tertanamnya nilai nilai ajaran agama yang diterima oleh para anak didik. > Untuk itu diperlukan kurikulum terpadu yang memadukan antara nilai-nilai umum dengan nilai-nilai agama dalam setiap mata pelajaran. Setiap ilmu yang dipelajari dipadukan dengan ajaran agama masing-masing. Lalu untuk mendidik keperibadian anak apakah harus bergantung pada para guru saja? Ternyata untuk urusan mendidik keperibadian anak ibulah yang paling berperan besar. Untuk itu tidak ada salahnya kita melirik ke Jepang bagaimana betul para ibu berperan dalam pendidikan keribadian anak anak mereka. > Dari hasil penelitian Tony Dickensheets, seorang pendidik Amerika di Charlottesville , Virginia . Ternyata unsur kunci dari economic miracle Negara Sakura ini adalah peran kyoiku mama atau pendidikan mama. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi Jepang yang luar biasa sejak 1960, bukanlah hanya merupakan hasil kebijakan pemerintah melalui pekerja yang bersedia bekerja 16 jam per hari. Tetapi juga peran para istri yang bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak mereka. > Dalam kapasitas sebagai ibu inilah para istri membaktikan hidupnya demi kepastian keturunan mampu memasuki sekolah-sekolah bermutu. Kerja dan pengaruh perempuan Jepang dapat dilihat dalam jalannya pendidikan nasional dan stabilitas sosial, yaitu dua hal yang sangat krusial bagi keberhasilan ekonomi sesuatu bangsa. > Jadi, perempuan Jepang ternyata berperan positif dalam membina dan mempertahankan kekukuhan fondasi pendidikan dan sosial yang begitu vital bagi kinerja kebangkitan ekonomi bangsanya. Ketika saya sebagai ketua komite sekolah RI di Tokyo meninjau berbagai lembaga pendidikan dasar, menengah, dan tinggi negeri ini, saya kagum melihat kebersihan ruang laboratorium di sekolah umum dan bengkel praktik di sekolah kejuruan teknik. > Semua murid membuka sepatu sebelum memasuki ruangan dan menggantinya dengan sandal jepit atau sepatu khusus untuk dalam ruangan belajar yang sudah tersedia di rak dekat pintu, jadi lantai tetap bersih bagai kamar tidur. Ketika saya tanyakan kepada guru yang mengajar di situ bagaimana cara mendisiplinkan murid hingga bisa tertib, dia menjawab, “Saya hampir tidak berbuat apa-apa dalam hal ini. Ibu-ibu merekalah yang telah mengajar anak-anak berbuat begitu.” > Saya teringat sebuah kebiasaan di rumah tradisional Jepang, alih-alih menyapu debu di lantai, mereka masuk rumah tanpa bersepatu/bersandal agar debu tidak masuk rumah. Bagi mereka, kebersihan adalah suatu kebajikan. Sekarang mari kita coba lihat sekolah sekolah mulai dari TK , SD sampai PT, sampai pada berserakan, tidak ada kedisiplinan sama sekali, karena tidak ditanamkan rasa kebersihan sejak kecil. > Lebih daripada di negeri-negeri lain, kelihatannya sistem pendidikan dan kebudayaan Jepang mengandalkan sepenuhnya peran perempuan dalam membesarkan anak. Karena itu dipegang teguh kebijakan ryosai kentro (istri yang baik dan ibu yang arif), yang menetapkan posisi perempuan selaku manajer urusan rumah tangga dan perawat anak-anak bangsa. Sejak dulu filosofi ini merupakan bagian dari mindset Jepang dan menjadi kunci pendidikan dari generasi ke generasi. > Yang memantapkan itu adalah kesadaran para ibu Jepang sendiri. Mereka menilai diri sendiri dan, karena itu, dinilai oleh masyarakat berdasar keberhasilan anak-anaknya, baik sebagai warga, pemimpin, maupun pekerja. Banyak perempuan Jepang menganggap anak sebagai ikigai mereka, rasionale esensial dari hidup mereka. Setelah menempuh sekolah menengah, kebanyakan perempuan Jepang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. > Jika di Barat ada anggapan perempuan berpendidikan akademis yang melulu tinggal di rumah membesarkan anak sebagai wasting her talents, di Jepang orang percaya, seorang ibu seharusnya berpendidikan baik dan berpengetahuan cukup untuk bisa memenuhi tugasnya sebagai pendidik anak-anaknya. > Kalaupun ada ibu yang mencari nafkah, biasanya bekerja part time agar bisa berada di rumah saat anak-anak pulang sekolah. Tidak hanya untuk memberi makan, tetapi lebih-lebih membantu mereka menyelesaikan dan menguasai PR dan atau menemani mengikuti pelajaran privat demi penyempurnaan pendidikannya. > Jadi bagaimanapun perempuan berperan besar dalam mendidik dan membentuk kepribadian anak. Sesibuk apapun para perempuan, sebaiknyalah jangan berikan urusan pendidikan anak semua pada pembantu. Sudah seharusnya retorika atau kebanggaan dulu Sumatera Barat gudangnya para pemikir, ditinggalkan, saatnya berbuat nyata bukan hanya sekedar berwacana. Wassalam. *** > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
