tulisan menarik dari Pak Goen dari blog beliau. 
(http://caping.wordpress.com/).selamat berjuang utk Bang IJP menuju Senayan.
salam,~postiera

La 
Police (Goenawan Mohammad) 

Syahdan, Riziq mengunjungi sebuah sekolah di Aceh, 
setahun setelah Meulaboh dihancurkan tsunami. Ia dipersilakan bicara di depan 
sebuah kelas yang baru dibangun kembali. Ia senang, sebab dulu, sebelum jadi 
anggota DPR, ia seorang dosen jurus­an sastra Inggris.
Ia pun maju. Sambil mengingat bencana yang terjadi di 
Aceh, ia menulis di papan tulis: T-R-A-G-E-D-I.

”Anak-anak,” katanya kepada murid-murid sekolah menengah 
itu, ”kalian tahu apa arti tragedi?”

”Tahu, Pak!” jawab para murid hampir serentak.
”Bagus! Coba beri contoh bagaimana sebuah tragedi 
terjadi!”

Murid A: ”Apabila seorang tua memanjat pohon mangga untuk 
memetik sebuah buat cucunya yang sakit—tapi ia terjatuh dan mati.”
Riziq: ”Oh, itu bukan tragedi. Itu 
kecelakaan.”

Murid B: ”Apabila sebuah asrama yang dihuni serombongan 
olahragawan nasional kena gelombang tsunami dan semuanya tewas.”
Riziq: ”Oh, itu bukan tragedi. Itu namanya kehilangan 
besar yang menyedihkan bangsa.

Murid C: ”Apabila Bapak dan tujuh orang anggota DPR lain 
terbang dengan sebuah helikopter, dan tiba-tiba pesawat terguncang, terbalik, 
dan bapak semua jatuh ke dalam jurang.”
Riziq: ”Nah, itu yang benar—itulah contoh tragedi. 
T-R-A-G-E-D-I! Coba kamu terangkan kepada teman-temanmu, kenapa itu bisa 
disebut 
tragedi.”

Murid C: ”Pertama, karena itu pasti bukan kecelakaan. 
Kedua, karena itu pasti bukan sebuah kehilangan besar yang menyedihkan 
bangsa.”

Satire yang mencemooh para politikus legislator ma­cam 
ini pasti kini mulai bermunculan. Mungkin lucu, mungkin pahit, atau kasar, tapi 
semuanya sebuah gejala krisis kepercayaan yang gawat: politik telah kehilangan 
makna sosialnya.

Bila beberapa orang anggota DPR ditahan karena menerima 
suap, bila partai didirikan hanya untuk mengusung pemimpinnya agar jadi 
presiden, bila mereka yang ingin jadi presiden tak jelas apa maunya selain 
mengelus-elus ego sendiri, orang Indonesia akan memandang ke pemilihan umum 
pada 
2009 dengan angkat bahu: apa gunanya ramai-ramai itu buatku?

Nila setitik memang membuat susu sebelanga rusak. Dari 
sekian ratus anggota DPR, tentu banyak yang tak terima suap. Pasti ada yang 
rajin membahas rencana undang-undang dengan serius dan tekun mengunjungi 
orang-orang yang memilih mereka, untuk tahu apa yang diinginkan agar keadaan 
bisa lebih baik.

Tapi tampaknya tak terelakkan: persoalan besar Indonesia, 
satu dasawarsa setelah kembali ke demokrasi dengan pemilihan bebas, adalah 
bagaimana merawat kepercayaan bahwa pemilihan bebas itu diperlukan.

Tanpa kepercayaan itu, apa jadinya Indonesia? Negeri ini 
sebuah bangunan dalam waktu: ia berubah, bersama penghuninya, dengan kelemahan, 
kekuatan, dan harap­an mereka. Semuanya tak bisa mandek. Bila Indonesia belum 
berniat bunuh diri, pemilihan bebas adalah satu cara yang baik untuk mengikuti 
niat hidup itu. Kalau tidak, tubuh sosial akan kaku-beku oleh usia—dan mudah 
retak, bahkan patah.

Tubuh sosial itu diwakili Parlemen. Tapi dengan itu 
Parlemen tak bisa menganggap diri identik dengan masyarakat: wakil adalah hanya 
wakil. Sementara ia tak bisa jadi tempat yang sanggup menyelesaikan tuntas soal 
keadilan, ia tak bisa mengelak dari kenyataan bahwa dalam tubuh sosial selalu 
bersembunyi apa yang disebut Rancière la police: struktur yang diam-diam 
mengatur dan menegakkan tubuh itu.

La police itu (mungkin ada hubungan kata ini dengan 
”polis” sebagai negeri dan ”polisi” sebagai penjaga keter­tiban) bersifat 
oligarkis. Tubuh sosial mengandung ke­timpangan yang tak terelakkan; selamanya 
ada yang kuat dan ada yang lemah, yang menguasai dan dikuasai.

Tapi yang kuat hanya kuat jika ia diakui demikian oleh 
yang lemah—meskipun dengan mengeluh dan marah. De­ngan kata lain, si kuat 
diam-diam mengasumsikan adanya posisi dan potensi si lemah untuk memberi 
peng­akuan. Bagi Rancière, itu berarti nun di dasar yang tak hendak diingat, 
ada 
kesetaraan di antara kedua pihak.

Di situ kita menemukan bagaimana di sebuah negeri, polis, 
hidup: ada la logique du tort. Ada sesuatu yang salah dan sengkarut tapi dengan 
begitu berlangsunglah sejarah sosial. 

Di dalam ”logika” itu, ketegangan terjadi, 
sebab hierarki yang membentuk masyarakat justru mungkin karena mengakui 
kesetaraan. Ketegangan dalam salah dan sengkarut itulah yang melahirkan 
konflik, 
guncangan pada konsensus, dan polemik yang tak henti-hentinya.

Itulah la politique: sebuah pergulatan. Ia bukan seperti 
aksi komunikasi ala Habermas: di arena itu tak ada tujuan untuk bersepakat; di 
medan itu yang hadir bukanlah sekadar usul dan argumen yang berseberangan, tapi 
tubuh dan jiwa, ”perbauran dua dunia”, ”di mana ada subyek dan obyek yang 
tampak, ada yang tidak”.

Agaknya yang tak tampak itulah yang menyebabkan la 
politique, atau politik sebagai perjuangan, mendapatkan makna sosial. Sebab, 
yang menggerakkan adalah mereka yang bukan apa-apa, yang tak punya hakikat dan 
asal-usul untuk menang. Rancière menyebut kata ”skandal demokrasi”: ia agaknya 
mau menunjukkan bahwa kehor­mat­an para tulang punggung la police pada 
gilirannya akan diguncang oleh demos, mereka yang bukan apa-apa itu.

Satire adalah usaha skandalisasi yang dicetuskan si 
lemah. Mereka cuma bisa mengejek. Tapi, bila lelucon di atas membuat kita 
prihatin, itu karena di sana tersirat sepotong harap: proses parlementer akan 
mewakili perjuangan, terutama perjuangan mereka yang bukan apa-apa.

Tapi itu ilusi yang terbentur. Pada akhirnya Parlemen 
hanyalah sebuah konsensus darurat. Ia penting. Tapi seperti dikatakan Rancière: 
”Konsensus mengacu kepada apa yang disensor.”

Ataukah lelucon di atas mencerminkan sesuatu yang lain? 
Jangan-jangan kita menghasratkan ini: mereka yang hidup nyaman dari konsensus 
dan sensor insya Allah akan jatuh ke dalam jurang.


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke