Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Yah, bukan saja Pandam Gadang / Ikan Banyak yang perlu dimasukkan 
dalam Peta Sejarah (seperti saya singgung dalam posting sebelum ini, 
Ikan Bilih jo Dakak-dakak), tetapi secepatnya tempat yang tadinya 
tidak dikenal itu sabagai "Kuburan Sementara" Alm Tan Malaka harus 
ditandai sebagai titik Kenangan Sejarah, supaya dikenang oleh 
Angkatan Kemudian. Saya ingin menyarankan supaya tempat itu diberi 
tanda dengan kata-kata kenangan, ditabur bunga untuk renungan para 
pengunjung di hari nanti.

Sebagai orang pejalan/pengembara,  saya telah melihat dan tafakkur 
di mana tempat Presiden John F. Kenedy ditembak di Dallas. Tempat 
itu ditandai dengan baik. Saya pun telah berziarah ke kuburan beliau 
dua saudara di Arlington, Virgina. Waktu saya di Memphis, Tennessee, 
saya sengaja mencari dan mampir tafakkur di tempat di mana Martin 
Luther King Junior ditembak. Waktu saya di Stockholm, Swedia sayapun 
tafaakkur di tempat PM Olaaf Palmer dibunuh dipinggir jalan. Tempat 
itu saya dapati diberi tanda dan ditabur bunga. Jadi, saya ingin 
menyarankan kepada siapapun yang mengurus persejarahan Pahlawan Tan 
Malaka itu nanti supaya "Kuburan Sementara" di mana beliau terhilang 
itu diberi tanda dengan kata-kata Kenangan Sejarah supaya diketahui 
oleh dunia Angkatan Kemudian.

Salam,
-- Sjamsir Sjarif

--- In [EMAIL PROTECTED], "Dr.Saafroedin BAHAR" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
> Langsung saja. Kita perlu berterima kasih kepada Dr Harry Poeze 
yang dengan kegigihannya telah berhasil menemukan makam Ibrahim 
Datuk Tan Malaka di Selopanggung, Kediri. 
>           Secara khusus saya himbau pengurus Gebu Minang Jawa 
Timur untuk mengambil prakarsa ke arah itu, dan kepada Angku Asral 
SH Dt Putih yang banyak menerbitkan buku-buku Tan Malaka.
>           Dalam hubungan ini saya ajak kita semua untuk meminta 
keterangan lebih lanjut kepada Dr Harry Poeze dimana persisnya letak 
makam tersebut, dan meminta Pemerintah cq Departemen Sosial yang 
mengurus Taman Makam Pahlawan untuk memakamkan sisa-sisa jenazah 
beliau di Taman Makam Pahlawan Kediri dengan upacara kenegaraan, 
karena beliau adalah Pahlawan Nasional sejak tahun 1964. Menurut 
Mohammad yamin Tan Malaka bahkan adalah Bapak Republik Indonesia, 
karena dalam tahun 1924 beliau menulis sebuah booklet 
berjudul" "Naar de Repoebliek Indonesia" yang artinya Ke Arah 
Republik Indonesia, sebelum siapapun juga berfikir ke arah itu.
>  
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar
> (L, 71 th, Jakarta)
> Alternate e-mail address: [EMAIL PROTECTED]
> 
> 
> Kematian Tan Malaka dan Darurat Perang Jenderal Sudirman
> Kompas, Sabtu, 26 Juli 2008 | 01:29 WIB 
> ZULHASRIL NASIR
> Membaca artikel Sabam Siagian, "Tentang Tan Malaka" (Kompas, 12/7) 
yang menanggapi tulisan saya, "Tan Malaka dan Kebangkitan Nasional" 
(Kompas, 7/07), ada hal-hal yang ingin dikesankan mantan Dubes RI 
untuk Australia itu.
> Pertama, politik diplomasi Syahrir seolah tak bermasalah bagi TNI 
dan pejuang sehingga kombinasi politik diplomasi dan pertahanan 
disimpulkan telah melahirkan Indonesia merdeka.
> Kedua, negara memiliki legitimasi mengeksekusi Tan Malaka atas 
nama keadaan darurat perang guna "memikul wibawa penuh Panglima 
Besar Letjen Sudirman".
> Dwitunggal
> Adam Malik dalam buku Mengabdi Republik menyatakan, dwitunggal 
tidak hanya satu pasang—Soekarno-Hatta—tetapi ada dua pasang lagi: 
Sjahrir-Amir Sjarifuddin dan Tan Malaka-Sudirman. Saya ulas pasangan 
ketiga, Tan Malaka-Sudirman.
> Bagi Tan Malaka, proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah 
harga mati. Kompromi para pemimpin politik menghadapi Belanda adalah 
naif dan melelahkan. Maka, Tan Malaka bersama 139 organisasi 
(Masyumi, PNI, Parindra, PSI, PKI, Front Rakyat, PSII, tentara, dan 
unsur laskar) menggelar Kongres Persatuan Perjuangan di Purwokerto, 
4-5 Januari 1946. Sudirman hadir sebagai unsur tentara.
> Setelah mempelajari gagasan Tan Malaka, kongres yang dilanjutkan 
di Solo, 15-16 Januari, dengan 141 organisasi mengesahkan rancangan 
Tan Malaka yang disebut "Minimum Program".
> Program itu untuk mengatasi aneka masalah, seperti pertentangan 
antara pimpinan negara dan pemuda/rakyat, konflik antarpejuang, dan 
sikap Inggris yang mengakui kedaulatan Belanda di Indonesia. 
Sebutlah itu konsolidasi para pejuang. Kehadiran Sudirman dalam 
kongres itu adalah poin utama hubungan politik Tan Malaka-Sudirman. 
Tan Malaka mencatat ucapan Sudirman saat itu, "Lebih baik kita di 
atom daripada merdeka kurang dari 100 persen."
> Sudirman dikenal tegas, melindungi anak buah, dan tidak kenal 
kompromi. Ketidaksetujuannya pada diplomasi tergambar pada sikap 
tetap bergerilya daripada menyerah meski kesehatan Sudirman sakit 
parah. Sikap menyerah Soekarno dan Hatta kepada Belanda oleh 
sebagian orang dinilai cara taktis menghadapi diplomasi 
internasional. Namun, itulah yang membedakan kedua pasang pemimpin 
itu. Bagi Tan Malaka, kemerdekaan adalah 100 persen dan bagi 
Sudirman "tentara tidak kenal menyerah".
> Bagi keduanya, tidak ada lagi penjajahan Belanda dengan segala 
siasatnya. Perundingan adalah siasat Belanda seperti terjadi dalam 
hasil Perjanjian Linggarjati dan Renville. Dan Belanda tetap menekan 
pemerintah dengan Agresi Militer I (13 Juli 1947) dan II (18 
Desember 1948). Akibatnya, TNI harus hijrah dari satu tempat ke 
tempat lain, meninggalkan kantong pertahanan, yang amat 
menjengkelkan Sudirman.
> Saat di pemerintahan pengungsian Yogyakarta muncul kemelut 
antarpemimpin, saat itu juga terjadi penangkapan terhadap kelompok 
Persatuan Perjuangan dan Barisan Banteng yang dilakukan Pesindo 
(kelompok Syahrir) pada 17 Maret dan 16 Mei 1946. Hubungan 
dwitunggal itu berlanjut saat Sudirman menugaskan Mayjen Sudarsono 
membebaskan tokoh-tokoh Persatuan Perjuangan dan Barisan Banteng: 
Tan Malaka, Adam Malik, Chairul Saleh, Muwardi, Abikusno, M Yamin, 
Sukarni, dan lainnya. Semua dibebaskan. Atas perintah lisan 
Sudirman, Mayjen Sudarsono menangkap Sutan Sjahrir dan dilepaskan 1 
Juli 1946 karena campur tangan Soekarno.
> Tuduhan kudeta lalu diarahkan ke kelompok Tan Malaka saat terjadi 
peristiwa 3 Juli 1946, di mana Mayjen Sudarsono mendatangi Soekarno-
Hatta di Yogya, mendesak agar memecat Syahrir. Soekarno-Hatta 
menolak dan Amir Syarifuddin (Menteri Pertahanan) menangkap Tan 
Malaka/Persatuan Perjuangan termasuk Mayjen Sudarsono.
> Meski tuduhan kudeta tidak terbukti di Mahkamah Agung Militer, dan 
Jenderal Sudirman ikut bersaksi. Tidak adanya pembelaan Sudirman 
kepada Tan Malaka dan kawan-kawan merupakan tanda tanya. Namun, ini 
tidak dapat ditafsirkan Sudirman meninggalkan teman-temannya. 
Kemungkinan, Sudirman tunduk kepada sumpah prajurit, patuh kepada 
Panglima Tertinggi APRI Soekarno dan pengaruh intelektual Hatta.
> Tak sekeji itu
> Saya tidak percaya uraian Sabam bahwa karena pengumuman Darurat 
Perang Panglima Besar Sudirman, maka Surachman dan Sukotjo 
mengeksekusi Tan Malaka (21 Februari 1949). Sudirman tidak sekeji 
itu. Juga tidak diyakini, Hatta bagian komplotan itu. Diyakini, yang 
terjadi adalah panafsiran berbeda di antara faksi-faksi tentara di 
lapangan. Juga penafsiran legalisme Sabam tentang kegiatan Tan 
Malaka yang menjadikan dirinya Pemimpin Revolusi Indonesia setelah 
Soekarno-Hatta ditangkap dan dibuang ke Sumatera. Dikesankan, Tan 
Malaka seolah mengesampingkan peran Pemerintahan Darurat RI (PDRI).
> Saya tidak yakin semua pemimpin pejuang di lapangan tahu telah 
dibentuk PDRI begitu Soekarno-Hatta ditangkap. Adalah masuk akal 
jika inisiatif Tan Malaka mengambil alih pimpinan (jika Sabam benar) 
untuk menghindari kekosongan kekuasaan berdasar Testamen Politik 
Soekarno, Oktober 1945 ("...jika saya tiada berdaya lagi, saya akan 
menyerahkan pimpinan revolusi kepada seorang yang telah mahir dalam 
gerakan revolusioner, Tan Malaka…."), tindakan Tan Malaka sah 
menurut logika hukum.
> Bung Sabam perlu tahu, TB Simatupang dan dr J Leimena sempat 
tergugah mengisi kekosongan kekuasaan itu karena tidak tahu bahwa 
sudah terbentuk PDRI di Sumatera. Komunikasi radio RI saat itu amat 
terbatas.
> Catatan lain adalah pemerintahan Hatta tidak menunjukkan tanggung 
jawabnya jika benar itu sebuah eksekusi terhadap Tan Malaka. Tan 
Malaka bukan hewan, dia pemimpin dan pejuang mendahului Hatta dan 
Soekarno. Rezim bahkan sengaja menutupi kematian Tan Malaka. Ada 
yang menyebut Tan Malaka dibunuh di pinggir kali lalu dihanyutkan, 
dan sebagainya. Hingga kini, negara tampak tak ingin mengungkap 
temuan Harry Poeze tentang kuburan Tan Malaka di Selopanggung, 
Kediri. Jika negara tidak bertanggung jawab bukankah itu sebuah 
pembunuhan?
> Setelah terjadi pembunuhan terhadap Tan Malaka, Hatta 
memberhentikan Sungkono sebagai Panglima Divisi Jawa Timur dan 
Surachmat sebagai Komandan Brigade karena kesembronoan mengatasi 
kelompok Tan Malaka. Agaknya, fakta ini pula yang mendorong Soekarno 
mengangkat Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional, 28 Maret 1963.
> ZULHASRIL NASIR Penulis Guru Besar UI
> 



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke