Opini
Penolakan PKS terhadap Inu Kencana
Syaefudin Simon, mahasiswa Program Magister Ekonomi Universitas Trisakti, 
Jakarta

Berbagai media pekan lalu memberitakan bahwa Inu Kencana Syafiie, mantan 
dosen Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), yang melamar untuk 
menjadi calon legislator ke Partai Keadilan Sejahtera (PKS), ditolak. 
Membaca penolakan lamaran PKS di berbagai media, sejumlah petinggi partai 
politik langsung menawari Inu untuk menjadi calon legislator "nomor peci" 
(dulu nomor jadi). Bahkan menurut situs berita Inilah.com, setelah ditolak 
PKS, Inu dilamar 11 partai politik. Dengan kehadiran tokoh sepopuler Inu, 
secara logika partai-partai yang mengusungnya niscaya akan populer dan, 
dampaknya, perolehan suara partai dalam Pemilu 2009 akan terdongkrak.

Logika di atas hampir 100 persen diterima oleh partai-partai 
"konvensional" yang akan berlaga dalam Pemilu 2009 nanti. Popularitas 
seseorang menjadi jaminan untuk diterima sebagai calon legislator. Bahkan 
sejumlah partai seperti PAN, PKB, dan PDIP berburu calon legislator 
populer atau selebriti, seperti dari kalangan artis, tokoh agama, penulis, 
pebisnis, intelektual, dan lembaga swadaya masyarakat. Barangkali itulah 
sebabnya Inu cukup pede melamar PKS. Tapi sayang, PKS punya pandangan yang 
berbeda dengan partai-partai lain. 

Logika partai kader

Sebagai partai kader, PKS punya logika yang berbeda dengan partai-partai 
lain, seperti PBB, PKB, dan PDIP. Bagi PKS, ketokohan dan popularitas 
seseorang bukan sesuatu yang amat penting. PKS mengandalkan jalannya mesin 
partai dari "energi kader". Karena itu, ketokohan, popularitas, dan 
kekayaan seseorang bukanlah faktor utama dalam menentukan calon legislator 
baik di DPR maupun DPRD. 

Bahkan, lebih jauh lagi, karena pengkaderan PKS berbasis Islam, justru PKS 
menghindari orang-orang yang thoma' (tidak ikhlas) dan ujub (pamer) untuk 
dipilih sebagai calon legislator. Sebab, orang-orang yang thoma' dan ujub 
dalam pandangan Islam adalah orang-orang buruk dan tidak akan bisa 
memegang amanah. 

Bagi PKS yang partai kader, suara kader jauh lebih berharga ketimbang 
popularitas dan ketokohan seseorang. Bahkan ketokohan dan popularitas 
seseorang, menurut sumber di PKS, bisa berakibat buruk terhadap "mekanisme 
sistemik dari bekerjanya mesin kader PKS”. 

Dari pandangan seperti itulah kita bisa melihat bagaimana cara berpikir 
dan berlogika orang-orang PKS. PKS, misalnya, berani menampilkan Ahmad 
Heryawan dalam pemilihan kepala daerah Jawa Barat, padahal Ahmad Heryawan 
"bukan siapa-siapa" dibanding tokoh-tokoh semacam Agum dan Danny Setiawan 
di Jawa Barat. Terpilihnya Heryawan membuktikan bahwa kendaraan bermesin 
kader PKS ternyata mampu bekerja dengan baik, siapa pun pengendaranya. Hal 
ini, misalnya, tidak hanya terbukti pada pilkada Jawa Barat, tapi juga 
NTB, Sumatera Utara, dan DKI. 

Dalam pilkada DKI, misalnya, PKS berani mengusung Adang Daradjatun, tokoh 
yang kurang dikenal massa Jakarta sebelumnya, dibanding Sarwono 
Kusumaatmadja, Rano Karno, dan lainnya yang saat itu berharap dipilih jadi 
calon gubernur oleh partai politik. Meskipun demikian, Adang, yang 
sebelumnya kurang popular, berkat energi kader PKS, perolehan suaranya 
hanya berselisih sedikit dibanding gubernur terpilih Fauzi Bowo, yang 
didukung oleh semua partai kecuali PKS. 

Dari fenomena itulah, terlihat kenapa PKS tampaknya tidak pernah tergiur 
oleh ketokohan dan popularitas seseorang untuk dijadikan calon legislator. 
Bagi PKS, yang terpenting adalah bagaimana penilaian kader terhadap 
"calon-calon"-nya, baik di lembaga legislatif maupun eksekutif. Dalam 
kaitan dengan ini, PKS punya mekanisme tersendiri untuk menempatkan 
kader-kadernya di legislatif maupun eksekutif, dan mekanisme ini dibangun 
atas kesepakatan kader dan pimpinan. PKS, kata Wahyudin Munawir, salah 
seorang anggota DPR RI dari PKS, lebih percaya kepada sistem ketimbang 
ketokohan seseorang. 


Siapa kenal Nurmahmudi Ismail, Hidayat Nurwahid, atau Tifatul Sembiring 
sebelum mereka memimpin PKS? Mereka baru dikenal dan menjadi tokoh popular 
setelah PKS mengusungnya. PKS tampaknya cenderung menghindari hal yang 
sebaliknya: mendompleng popularitas tokoh-tokoh luar untuk mempopulerkan 
partai. 


Dari gambaran di atas, bisa dipahami kenapa PKS tidak terlalu merespons 
lamaran Inu Kencana. Kader dan pimpinan PKS tentu saja mengetahui 
kepopuleran dan kebaikan nama Inu. Tapi itu tidak berarti DPP PKS bisa 
mengubah kesepakatan atau ketetapan yang telah diputuskan partai hanya 
karena lamaran Inu. Hal ini berbeda dengan partai-partai lain. 

Tak sedikit pemimpin partai yang seakan menjadi "godfather"--bisa mengatur 
penempatan calon legislator, baik di lembaga legislatif maupun eksekutif, 
sesuai dengan keinginannya atau keinginan segelintir orang tanpa perlu 
memutuskannya dalam rapat partai. Ini terbukti dari banyaknya partai yang 
dengan senang hati menerima dan menghargai "kutu loncat" dan menempatkan 
sang kutu loncat pada posisi yang terhormat di partai. Mereka, para kutu 
loncat itu, dihargai karena faktor ketokohan, popularitas, dan 
finansialnya. Hal-hal seperti inilah yang sering kadang merusak nama 
partai di kemudian hari. Sejumlah anggota legislatif yang tertangkap KPK 
karena kasus suap, misalnya, banyak di antaranya para kutu loncat.

Tentu saja sebagai partai berbasis kader, PKS punya kelemahan dibanding 
partai berbasis massa. PKS sulit menjadi partai besar seperti halnya 
Golkar dan PDIP yang berideologi pluralis dan menggunakan cara "pragmatis" 
untuk membesarkan partai. Meskipun demikian, di saat partai-partai lain 
tergerus kredibilitasnya oleh skandal korupsi dan seks, kehadiran PKS 
sebagai partai kader, memberikan nuansa baru. 

Dengan kuatnya sistem pengkaderan di PKS yang berasaskan Islam, partai ini 
sangat tajam penciumannya terhadap gelagat buruk kader-kadernya, baik di 
lembaga eksekutif maupun legislatif. Itulah yang menyebabkan PKS relatif 
bersih dari isu-isu miring, karena sistem dan mekanisme partai mampu 
mengeliminasi gejala dan indikasi buruk yang muncul pada kader-kadernya. 

Saat ini, di saat bangsa Indonesia rindu pada pembangunan sistem yang 
bersih dari korupsi, bukan tidak mungkin masyarakat, termasuk yang 
nonmuslim, cenderung bersimpati kepada PKS pada pemilu mendatang, karena 
tertarik kepada pembangunan sistem pengkaderan dan mekanisme early 
warning-nya
terhadap korupsi. Namun, jika sekali saja PKS gagal menjaga 
kredibilitasnya di masyarakat, partai kader ini pun akan ambruk dan hanya 
menjadi cemoohan orang. Semoga hal terakhir ini tidak akan terjadi!*

www.korantempo.com



---

This e-mail may contain confidential and/or privileged information. If you 
are not the intended recipient (or have received this e-mail in error) 
please notify the sender immediately and destroy this e-mail. Any 
unauthorized copying, disclosure or distribution of the material in this 
e-mail is strictly forbidden.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke