Sanak Ronald ambo tanggapi saketek opini Simon ko.

Ado nan kurang dalam tulisan ko, Adang Darajatun tu pastinyo sabalun
dicalonkan untuak gubernur DKI tu alun jadi kader PKS lai. Nan jaleh anyo
bakeh Wakapolri pangkaiknyo Komjen. Jadi alah jaleh se Adang Darajatun tu
alah urang nan terkenal sabalun jadi calon gubernur dari PKS. Kalo ndak
salah ambo pernah baco majalah tempo sabalun pilkada DKI inyo diwawancara
majalah tempo tentang visi jo misinyo ka jadi gubernur DKI. Wakatu tu inyo
difoto masih pakai sarawa di ateh lutuik (ndak tatutuik auratnyo) wakatu
main tenis, jadi ndak mungkin inyo ko alah kader PKS. Mungkin kini alah jadi
kader inyo ka jadi caleg nomor jadi di DKI. Kalo dibanding Sarwono jo Rano
Karno tantu inyo kurang terkenal karano jarang masuak tipi jo inyo ndak
sempat di posisi POLRI 1. Antah kok ado lo dana nan dibaoknyo ka PKS karano
pandangan urang jaleh se, bakeh pejabat tinggi namonyo tantu banyak
pitihnyo.

Wassalam


Khairul Amri St Sati, -35
Di Banda Aceh kini

2008/7/29 Ronald P Putra <[EMAIL PROTECTED]>

>
> Opini
> Penolakan PKS terhadap Inu Kencana
> Syaefudin Simon, mahasiswa Program Magister Ekonomi Universitas Trisakti,
> Jakarta
>
> Berbagai media pekan lalu memberitakan bahwa Inu Kencana Syafiie, mantan
> dosen Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), yang melamar untuk menjadi
> calon legislator ke Partai Keadilan Sejahtera (PKS), ditolak. Membaca
> penolakan lamaran PKS di berbagai media, sejumlah petinggi partai politik
> langsung menawari Inu untuk menjadi calon legislator "nomor peci" (dulu
> nomor jadi). Bahkan menurut situs berita Inilah.com, setelah ditolak PKS,
> Inu dilamar 11 partai politik. Dengan kehadiran tokoh sepopuler Inu, secara
> logika partai-partai yang mengusungnya niscaya akan populer dan, dampaknya,
> perolehan suara partai dalam Pemilu 2009 akan terdongkrak.
>
> Logika di atas hampir 100 persen diterima oleh partai-partai "konvensional"
> yang akan berlaga dalam Pemilu 2009 nanti. Popularitas seseorang menjadi
> jaminan untuk diterima sebagai calon legislator. Bahkan sejumlah partai
> seperti PAN, PKB, dan PDIP berburu calon legislator populer atau selebriti,
> seperti dari kalangan artis, tokoh agama, penulis, pebisnis, intelektual,
> dan lembaga swadaya masyarakat. Barangkali itulah sebabnya Inu cukup pede
> melamar PKS. Tapi sayang, PKS punya pandangan yang berbeda dengan
> partai-partai lain.
>
> Logika partai kader
>
> Sebagai partai kader, PKS punya logika yang berbeda dengan partai-partai
> lain, seperti PBB, PKB, dan PDIP. Bagi PKS, ketokohan dan popularitas
> seseorang bukan sesuatu yang amat penting. PKS mengandalkan jalannya mesin
> partai dari "energi kader". Karena itu, ketokohan, popularitas, dan kekayaan
> seseorang bukanlah faktor utama dalam menentukan calon legislator baik di
> DPR maupun DPRD.
>
> Bahkan, lebih jauh lagi, karena pengkaderan PKS berbasis Islam, justru PKS
> menghindari orang-orang yang thoma' (tidak ikhlas) dan ujub (pamer) untuk
> dipilih sebagai calon legislator. Sebab, orang-orang yang thoma' dan ujub
> dalam pandangan Islam adalah orang-orang buruk dan tidak akan bisa memegang
> amanah.
>
> Bagi PKS yang partai kader, suara kader jauh lebih berharga ketimbang
> popularitas dan ketokohan seseorang. Bahkan ketokohan dan popularitas
> seseorang, menurut sumber di PKS, bisa berakibat buruk terhadap "mekanisme
> sistemik dari bekerjanya mesin kader PKS".
>
> Dari pandangan seperti itulah kita bisa melihat bagaimana cara berpikir dan
> berlogika orang-orang PKS. PKS, misalnya, berani menampilkan Ahmad Heryawan
> dalam pemilihan kepala daerah Jawa Barat, padahal Ahmad Heryawan "bukan
> siapa-siapa" dibanding tokoh-tokoh semacam Agum dan Danny Setiawan di Jawa
> Barat. Terpilihnya Heryawan membuktikan bahwa kendaraan bermesin kader PKS
> ternyata mampu bekerja dengan baik, siapa pun pengendaranya. Hal ini,
> misalnya, tidak hanya terbukti pada pilkada Jawa Barat, tapi juga NTB,
> Sumatera Utara, dan DKI.
>
> Dalam pilkada DKI, misalnya, PKS berani mengusung Adang Daradjatun, tokoh
> yang kurang dikenal massa Jakarta sebelumnya, dibanding Sarwono
> Kusumaatmadja, Rano Karno, dan lainnya yang saat itu berharap dipilih jadi
> calon gubernur oleh partai politik. Meskipun demikian, Adang, yang
> sebelumnya kurang popular, berkat energi kader PKS, perolehan suaranya hanya
> berselisih sedikit dibanding gubernur terpilih Fauzi Bowo, yang didukung
> oleh semua partai kecuali PKS.
>
> Dari fenomena itulah, terlihat kenapa PKS tampaknya tidak pernah tergiur
> oleh ketokohan dan popularitas seseorang untuk dijadikan calon legislator.
> Bagi PKS, yang terpenting adalah bagaimana penilaian kader terhadap
> "calon-calon"-nya, baik di lembaga legislatif maupun eksekutif. Dalam kaitan
> dengan ini, PKS punya mekanisme tersendiri untuk menempatkan kader-kadernya
> di legislatif maupun eksekutif, dan mekanisme ini dibangun atas kesepakatan
> kader dan pimpinan. PKS, kata Wahyudin Munawir, salah seorang anggota DPR RI
> dari PKS, lebih percaya kepada sistem ketimbang ketokohan seseorang.
>
>
> Siapa kenal Nurmahmudi Ismail, Hidayat Nurwahid, atau Tifatul Sembiring
> sebelum mereka memimpin PKS? Mereka baru dikenal dan menjadi tokoh popular
> setelah PKS mengusungnya. PKS tampaknya cenderung menghindari hal yang
> sebaliknya: mendompleng popularitas tokoh-tokoh luar untuk mempopulerkan
> partai.
>
>
> Dari gambaran di atas, bisa dipahami kenapa PKS tidak terlalu merespons
> lamaran Inu Kencana. Kader dan pimpinan PKS tentu saja mengetahui
> kepopuleran dan kebaikan nama Inu. Tapi itu tidak berarti DPP PKS bisa
> mengubah kesepakatan atau ketetapan yang telah diputuskan partai hanya
> karena lamaran Inu. Hal ini berbeda dengan partai-partai lain.
>
> Tak sedikit pemimpin partai yang seakan menjadi "godfather"--bisa mengatur
> penempatan calon legislator, baik di lembaga legislatif maupun eksekutif,
> sesuai dengan keinginannya atau keinginan segelintir orang tanpa perlu
> memutuskannya dalam rapat partai. Ini terbukti dari banyaknya partai yang
> dengan senang hati menerima dan menghargai "kutu loncat" dan menempatkan
> sang kutu loncat pada posisi yang terhormat di partai. Mereka, para kutu
> loncat itu, dihargai karena faktor ketokohan, popularitas, dan finansialnya.
> Hal-hal seperti inilah yang sering kadang merusak nama partai di kemudian
> hari. Sejumlah anggota legislatif yang tertangkap KPK karena kasus suap,
> misalnya, banyak di antaranya para kutu loncat.
>
> Tentu saja sebagai partai berbasis kader, PKS punya kelemahan dibanding
> partai berbasis massa. PKS sulit menjadi partai besar seperti halnya Golkar
> dan PDIP yang berideologi pluralis dan menggunakan cara "pragmatis" untuk
> membesarkan partai. Meskipun demikian, di saat partai-partai lain tergerus
> kredibilitasnya oleh skandal korupsi dan seks, kehadiran PKS sebagai partai
> kader, memberikan nuansa baru.
>
> Dengan kuatnya sistem pengkaderan di PKS yang berasaskan Islam, partai ini
> sangat tajam penciumannya terhadap gelagat buruk kader-kadernya, baik di
> lembaga eksekutif maupun legislatif. Itulah yang menyebabkan PKS relatif
> bersih dari isu-isu miring, karena sistem dan mekanisme partai mampu
> mengeliminasi gejala dan indikasi buruk yang muncul pada kader-kadernya.
>
> Saat ini, di saat bangsa Indonesia rindu pada pembangunan sistem yang
> bersih dari korupsi, bukan tidak mungkin masyarakat, termasuk yang
> nonmuslim, cenderung bersimpati kepada PKS pada pemilu mendatang, karena
> tertarik kepada pembangunan sistem pengkaderan dan mekanisme early
> warning-nya
> terhadap korupsi. Namun, jika sekali saja PKS gagal menjaga kredibilitasnya
> di masyarakat, partai kader ini pun akan ambruk dan hanya menjadi cemoohan
> orang. Semoga hal terakhir ini tidak akan terjadi!*
>
> www.korantempo.com
>
>
> ---
>
> This e-mail may contain confidential and/or privileged information. If you
> are not the intended recipient (or have received this e-mail in error)
> please notify the sender immediately and destroy this e-mail. Any
> unauthorized copying, disclosure or distribution of the material in this
> e-mail is strictly forbidden.
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke