Tulisan yg bagus  dan saya ingin menyimpannya\terima kasih
K Suheimi


----- Original Message ----
From: Nofiardi <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, August 13, 2008 8:09:04 AM
Subject: [EMAIL PROTECTED] Mayor Makinuddin HS dan Peristiwa Situjuah


Mayor Makinuddin HS dan Peristiwa Situjuah  
 
Senin, 11 Agustus 2008  
Jika dapat diibaratkan sebuah film kolosal, Peristiwa Situjuah 15 Januari 1949 
yang memiliki kaitan dengan keberadaan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia 
(PDRI), memiliki sederet pemeran utama, pemeran pendukung, pemeran pilihan, 
penyusun skenario, serta sutradara. Jika tokoh utama diperankan Khatib 
Sulaiman, Arisun Sutan Alamsyah, Dahlan Ibrahim, Kamaluddin Tambiluak, Syofyan 
Ibrahim, Munir Latief, dan Kapten Zainuddin Tembak. Untuk aksi pemeran pilihan 
tentu dimainkan oleh tokoh-tokoh sekelas Mayor A. Thalib, Kapten Syafei, Sidi 
Abu Bakar, Kapten Thantowi, dan sebagiannya. 
Sedangkan untuk pemeran pembantu, diperagakan dengan semangat tinggi oleh 
ratusan anggota BPNK, opsir, rakyat dan tentu saja serdadu dari negeri Kincir 
Angin Belanda, yang menggempur Lurah Kincia.
Kalau sudah begitu, siapakah yang layak disebut sebagai penulis skenario serta 
sutradara di balik peristiwa Situjuah itu? Jawabannya, kemungkinan besar adalah 
Gubernur Militer Sumatra Tengah, Mr. Sutan Muhammad Rasyid, dan Wedana Militer 
Payakumbuh Selatan Mayor Makinuddin HS.
Karena Sutan Muhammad Rasyid adalah tokoh yang meminta diadakan rapat penting 
di Situjuah. Rapat tersebut bertujuan untuk mencari solusi upaya perjuangan 
bangsa dalam mempertahankan Pemerintahan Darurat Republik Indinesia (PDRI), 
dari gempuran Belanda.
“Setelah ‘skenario’ ditulis Sutan Muhammad Rasyid, tentu saja dengan 
sepengetahuan sang “produser” bernama Mr. Syafruddin Prawiranegara (Presiden 
PDRI). Maka, ditunjuklah seorang sutradara untuk mengatur. Sutradara itu 
bernama Mayor Makinuddin HS. Dialah yang mempersiapkan segala sesuatu untuk 
kebutuhan rapat di Situjuah,” ujar Fajar Rillah Vesky, wartawan yang tengah 
menggarap Buku “Tambiluak: Secuil Tentang PDRI dan Peristiwa Situjuah”. 
Mayor Makinuddin pulalah yang meyakinkan Dahlan Ibrahim, kalau rapat di Lurah 
Kincia aman, karena di sekeliling ada banyak pembantu sekuriti yang menjadi 
pengawas. Walau kemudian, mujur tak dapat diraih, malang sekejap mata, Lurah 
Kincia justru diserang serdadu Belanda dari Padang Panjang dan Bukittingi.
Perjuangan Makinuddin
Ketika pulang kampung, setelah merantau ke Singapura, Makinuddin kembali ke 
tanah air. Dia menjadi guru agama di Lubuak Jambi, dalam wilayah Riau. Tak lama 
kemudian, dia meninggalkan bumi Lancang Kuning dengan menjadi guru agama di 
Situjuah Batua (1942).
Makinuddin melihat perjuangan pergerakan bangsa waktu itu sedang 
hangat-hangatnya. Sebagai seorang berpendidikan, cinta bangsa, keras, suka 
tantangan dan berani, hatinya kecilnya ikut terpanggil untuk bergabung dengan 
pergerakan di Payakumbuh/Limapuluh Kota .
Panggilan hati itu kemudian dibuktikan Makinuddin dengan masuk menjadi anggota 
Gyu Gun di Payakumbuh. Selama di Gyu Gun bentukan Jepang ini, dia mulai ditempa 
jiwa mileter. Rasa sebangsa dan setanah air, makin bergelora di jiwanya. 
Makinudin pun makin aktif di berbagai kegiatan perjuangan.
Ketika Indonesia telah Merdeka, Makinuddin dipercaya sebagai Komandan Batalyon 
III/Singa Harau. Dialah Komandan Batalyon pertama di wilayah 
Payakumbuh/Limapuluh Kota setelah NKRI ada dan menikmati alam merdeka.
Dua tahun Indonesia merdeka atau sekitar tahun 1947, Makinuddin mengalami 
perpindahan tugas. Dia dipercaya memimpin Batalyon Istimewa Galanggang di 
Payakumbuh. Namun jabatan tersebut tidak bertahan lama di tangannya, karena 
ibukota RI di Jogyakarta pada tahun 1948 mulai digempur Agresi Militer II 
Belanda. Gempuran serupa juga dirasakan di Bukittingi dan daerah lainnya dalam 
wilayah Sumatra Tengah.
Karena agresi Belanda semakin mengancam, para pejabat militer dan pemerintah RI 
ambil ancang-ancang. Mayor Makinuddin yang sedang menjabat sebagai Danyon 
Istimewa Galanggang, ditujujuk menjadi Komandemen Kepala Perlengkapan Sumatra 
Tengah pada tahun 1948-1949. 
Semasa bertugas di sini, Makinuddin pernah dua kali pindah kantor. Pertama, di 
gedung Gudang Garam kampung Cina Payakumbuh. Kedua, ke lantai dua Toko Tokra 
Jalan Kampung Cina. Diantara anak buahnya waktu itu adalah Syamsul Bahri, 
Junahar, Amiruddin KR dan Kamaluddin Tambiluak.
Saat Divisi III mengalami perubahan menjadi Divisi IX Banteng, jabatan Kepala P 
& P diserahterimakan dari Mayor Makinuddin HS kepada Kapten Chatib Salim. 
Sedangkan Makinuddin diangkat menjadi Wedana Militer Payakumbuh Selatan.
Ketika menjadi Wedana Militer inilah, Makinuddin dipercaya untuk mempersiapkan 
rapat penting pejuang pemerintahan dan militer Sumatra Tengah di Lurah Kincia, 
Situjuah Batua, 15 Januari 1949. Namun apalah daya, tidak lama setelah rapat 
tersebut ditutup sekiatr pukul 04.30 dini hari, Belanda datang menyerang. 
Akibatnya, para pahlawan berguguran satu persatu. Mereka yang meninggal pada 
hari itu diperkirakan mencapai 69 orang. Namun masih bersyukur, Makinuddin HS 
dapat selamat.
Namun setidaknya, usaha dan kerja keras Makinuddin HS, layak untuk dihargai, 
diapresiasi, sekaligus dijadikan keteladanan bagi generasi muda sekarang dan 
masa mendatang. Wedana militer itu telah memperlihatkan kalau seorang ‘anak 
kampung’ dari lereng Gunung Sago juga mampu memberi sumbangsih besar untuk 
negeri bernama Indonesia !
Tiap tahun Peristiwa Situjuah diperingati. Mayor Makinuddin HS, memiliki 
peranan penting dalam peristiwa tersebut. Makinuddin HS wafat di Jakarta tahun 
1974 dan dimakamkan TPU Karet. oJeffrey Ricardo Magno
Copyright © 2007 - 2008 Harian Singgalang 
 The above message is for the intended recipient only and may contain 
confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are 
not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, 
distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly 
prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by 
reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the 
message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank 
you. 


      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke