Di Sebalik Pedagang Pasar Malam di Malaysia  

Kamis, 14 Agustus 2008  

Oleh : Edi Hasymi, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universiti
Kebangsaan Malaysia

 

Bagi orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Malaysia baik sebagai
mahasiswa, pedagang maupun sebagai tenaga kerja, pasar malam bukanlah
satu hal yang asing lagi. Pasar malam mempunyai daya tarik tersendiri
karena jarang atau tidak pernah ada di tempat asal atau di kampung
mereka. Lagi pula ia bukan pasar malam yang menyajikan aneka hiburan
atau permainan tetapi benar-benar layaknya sebuah pasar yang menjual
berbagai kebutuhan sehari-hari. 

 

Di sebalik semaraknya kegiatan pasar malam di Malaysia, mungkin
pengunjung banyak yang tidak tahu, bahwa sebahagian besar dari mereka
yang berdagang itu adalah berasal dari Minangkabau atau disebut orang
Padang. Walaupun kadang-kadang mereka berbahasa Melayu tetapi logat dan
perilaku mereka tidak dapat menutupi "gaya minangnya". 

 

Cara mereka menjual dan  menarik pembeli sama dengan gaya orang Minang
yang berdagang di Tanah Abang. Dengan teriakan ; "tigo saringgik, tigo
saringgik" memberi gaya tersendiri untuk memberi semangat kepada
pembeli. Ciri khas ini hanya dimiliki orang Minang dan tidak terdapat
pada pedagang lain seperti China dan India atau orang Melayu sendiri. 

 

Latar Belakang Sejarah 

 

Pepatah  Minang mengatakan, "merantau madang ka hulu, babuah babungo
balun, merantau bujang dahulu, di rumah banguno balun". Bagi kalangan
masyarakat Minangkabau, pepatah tersebut menjadi motivasi, khususnya
bagi orang-orang muda pada masa dahulu untuk mencari kehidupan, merubah
nasib kearah yang lebih baik  dengan mencari rezeki di rantau orang. 

 

Bagi kebanyakan orang Bukittinggi, Pariaman dan Pasaman pepatah tersebut
mereka implementasikan untuk merantau, menyeberang ke tanah seberang
(Malaysia). Pada tahun 1978/1979 kebanyakan orang-orang dari ketiga
daerah tersebut telah menginjakan kaki di Semenanjung Malaysia.
Kedatangan mereka tidak semata-mata dipengaruhi oleh semangat untuk
mencari rezeki tetapi pada saat yang sama karena terbukanya kesempatan
kerja di Malaysia. 

 

Oleh karena terlihat titik cerah kehidupan di negeri orang, penghijrahan
orang-orang Minang kembali terjadi pada tahun 1980, tetapi tahun 1990
adalah yang paling banyak. Pola kedatangan mereka terjadi mengikut
daerah atau keluarga yang sebelumnya telah menetap di Malaysia, baik
melalui laut maupun udara. Mereka yang melalui laut terbagai dua, yaitu
secara sah dan secara illegal. 

 

Konsep Pasar Malam 

 

Pasar malam ala Malaysia ini tidak ubahnya seperti sebuah pasar tetapi
bukan dalam bentuk bangunan yang permanen seperti yang kita lihat di
Pasaraya Padang. Pasar malam adalah pasar yang bersifat sementara atau
sengaja dibentuk terutama di kawasan atau daerah yang berdekatan dengan
kompleks perumahan. Dari segi waktu juga terbatas karena hanya dibuka
selama lima jam saja yaitu mulai jam 5 sore sampai jam 10 malam. 

 

Diperkirakan lebih kurang 70% pasangan suami isteri di Malaysia
khususnya yang tinggal di kota adalah bekerja antara 7-8 jam sehari.
Kalau mereka masuk kerja jam 8 pagi dan pulang jam 4 atau jam 5 sore
sampai di rumah. Hal ini  jelas tidak memungkinkan untuk berbelanja ke
pasar besar. Oleh itu, pasar malam adalah solusi yang paling baik untuk
mendapatkan berbagai kebutuhan sehari-hari dengan harga yang relatif
lebih murah. Bagi mereka yang tidak sempat memasak dapat membeli
langsung makanan atau lauk pauk yang sudah dimasak yang banyak tersedia.


 

Dalam hal penataan pedagang diatur oleh pemerintah daerah dan dikelola
oleh panitia atau pengurus pasar malam. Setiap pedagang diberi lahan
tempat berjualan antara 3 x 5 meter atau menurut kebutuhan. Barang
dagangan dijejerkan di atas meja yang biasa dibongkar pasang, tenda dan
jenset (listrik). Semua peralatan tersebut di sediakan sendiri oleh
pedagang. 

 

Dengan kata lain, tanggungjawab dan peranan pemerintah hanya mengatur
tempat, memberi izin dan memungut restribusi sampah. Besarnya restribusi
yang harus dibayar oleh setiap pedagang berkisar antara RM3 - RM5
(Rp9.000 - Rp15.000) per setiap pasar malam. Kegiatan pasar malam pada
suatu tempat tidak dilaksanakan setiap malam tetapi hanya dua kali
seminggu. Meskipun begitu, sebenarnya setiap malam ada pasar malam
tetapi pada tempat yang berbeda. 

 

Pedagang Minang dan Barang Dagangan 

 

Sebagai anak rantau, perjuangan hidup yang mereka lalui penuh dengan
jalan yang berliku. Berbagai usaha dan pekerjaan dilakukan untuk
menyambung hidup. Namun, dari sekian banyak pilihan, berdagang merupakan
pilihan utama karena dianggap lebih menjanjikan dan memiliki peluang
yang cerah, khususnya di pasar malam. Mungkin itulah sebabnya, hampir
diseluruh pasar malam di Malaysia terdapat orang Minang atau lebih
kurang 25% dari seluruh pedagang dalam satu pasar malam. 

 

Di Selangor saja terdapat lebih kurang 200 orang Minang yang berjualan
di pasar malam. Belum termasuk di negeri atau propinsi-propinsi lain
seperti Johor, Negeri Sembilan dan lain-lain. Dari segi barang dagangan,
terutama pedagang sayur-sayuran dan buah-buahan, 90% adalah orang
Minang. Kebanyakan mereka yang menjual sayuran, seperti lobak, cabe,
kacang-kacangan, kangkung, pucuk ubi, jengkol, petai dan sebagainya
adalah berasal dari Rao, Pasaman dan sebahagian dari Pariaman. 

 

Sedangkan mereka yang menjual buah-buhan seperti, durian, duku,
rambutan, jeruk, mangga, pisang, apel, anggur dan sebagainya didominasi
oleh orang Pariaman. Begitu juga dengan pedagang ikan kering atau
kelontong, kebanyakan juga mereka yang berasal dari Piaman. Dengan kata
lain, ketiga komoditi tersebut memang dikuasai orang-orang yang berasal
dari kedua daerah tersebut.

 

Dinamika Kehidupan 

 

Kesejahteraan yang dinikmati oleh kalangan pedagang pasar malam
diperoleh dari keuntungan jual beli yang cukup lumayan. Bagi mereka yang
berdagang sayur-sayuran paling tidak omset penjualan semalam adalah
diatas RM 1000 (Rp2,8 juta) atau hasil bersih sekitar RM 500 (Rp1,4
juta) semalam. Kalau dikalkulasikan pendapatan bersih mereka sebulan
lebih kurang Rp42 juta.  

 

Bagi pedagang buah-buahan tingkat keuntungan sangat tergantung pada
keadaan/cuaca. Dalam keadaan baik jumlah pendapatan mereka bisa mencapai
2-3 kali lipat berbanding pedagang sayuran. 

 

Diperkirakan pendapatan semalam antara RM 500-RM 1000.  Sedangkan bagi
pedagang makanan, omset penjualan mereka tidak sebesar pedagang sayuran
atau buah-buahan. Setiap malam diperkirakan antara RM 400 (Rp1,12 juta)
sampai RM 500 (Rp1,4 juta) atau pendapatan bersih sekitar RM 150 (Rp420
ribu). 

 

Sementara itu, jenis-jenis pengeluaran yang harus dikeluarkan selain,
modal, transportasi dan lainnya ialah gaji karyawan. Untuk kelancaran
jual beli biasanya dibantu oleh 4-5 orang karyawan atau menurut
kebutuhan. Setiap karyawan digaji rata-rata RM 50 (Rp140 ribu) semalam. 

 

Adapun cara untuk mendapatkan berbagai barang dagangan tersebut adalah
dibeli dipasar borong (Kuala Lumpur, Serdang, Selayang). Khusus
buah-buahan adakalanya dibeli langsung ke ladang/kebun. 

 

Oleh karena hampir setiap hari para pedagang ini berjualan dari satu
pasar malam ke pasar malam yang lain, maka setiap hari pula mereka akan
berbelanja ke pasar borong. Pada umumnya mereka harus ke pasar borong
pada jam 3 pagi sampai jam 9 pagi. Sampai di rumah dilanjutkan dengan
berbagai kegiatan seperti menimbang, membersihkan, mengupas atau
mengikat dan sebagainya. 

 

Kegiatan ini akan selesai sekitar jam 11 atau 12 siang sehingga
persiapan akhir untuk berangkat. Jadwal berangkat dari rumah tergantung
kepada jauh dekatnya lokasi pasar malam. Jika jarak dari rumah hanya
10-20 km biasanya berangkat jam 3 sore tetapi kalau jaraknya jauh lebih
dari 50 km umumnya mereka berangkat lebih cepat. 

 

Walaupun pada mula-mulanya hanyalah sebuah kaki lima yang kemudian
menjelma menjadi sebuah wadah ekonomi masyarakat yang sudah berkembang
luas, kegiatan pasar malam di Malaysia mampu meningkatkan kehidupan
segolongan masyarakat yang merantau jauh dari seberang. Pesatnya
pembangunan dan terbukanya lapangan kerja yang banyak di Malaysia telah
mendorong sebahagian rakyat Minangkabau untuk berhijrah ke Tanah Melayu.


 

Bagi para pedagang Minang khususnya, perkembangan ini merupakan satu
lagi kesempatan untuk terus memajukan usaha mereka. Siapa tahu, suatu
saat nanti orang Minang akan menjadi seorang "toke besar" pasar malam di
Malaysia. (***) 

 

(c) 2008 PADANG EKSPRES - Koran Nasional Dari Sumbar


The above message is for the intended recipient only and may contain 
confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are 
not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, 
distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly 
prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by 
reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the 
message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank 
you.


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke